
cklek....
pintu IGD terbuka ,Alif dan seorang dokter keluar dari IGD , nenek, kakek ,Tante cindi dan om Adam langsung berdiri dan mendekat menghampiri dokter dan Alif
" bagai mana keadaan cucu saya dok" nenek langsung bertanya pada dokter tersebut
" pasien sudah melewati masa kritisnya dan untuk sekarang sudah mulai stabil , karena terlalu lama berendam di air, hingga pasien mengalami hipotermia , untuk sementara pasien masih perlu perawatan lanjutan dan tetap dalam observasi ketat " jawab dokter tersebut menjelaskan .
" apakah kami sudah bisa menemui Zahra dok " tanya Tante cindi kemudian
" sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang ranap, keluarga bisa nanti menemui pasien di sana, tapi saya sarankan biarkan pasien istirahat dulu " jawab dokter yang merawat Zahra
" baik dokter, terima kasih banyak atas bantuannya dok" jawab kakek dan mengucapakan terima kasih ke dokter tersebut dan menjabat tangan dokter tersebut
semua keluarga merasa sedikit lega setelah mendengarkan penjelasan dari dokter tadi yang mengatakan bahwa Zahra sudah melewati masa kritis nya.
" sebenarnya kerja saya tidak banyak lagi pak, berkat pertolongan pertama yang di berikan oleh dokter Alif maka pasien dapat di tangani dengan cepat " ujar dokter tersebut sambil menepuk bahu Alif pelan dan di balas oleh senyuman oleh Alif, " baik lah karena tidak ada lagi yang mau di tanyakan saya permisi dulu bapak ibu untuk memeriksa pasien yang lain nya, " ujar dokter tersebut dan berlalu dari sana kembali ke IGD untuk memeriksa pasien yang lain.
" klau gitu Alif urus ranap inap Zahra ke administrasi dulu ma, pa " kata Alif pamit ke papa dan mamanya dan di anggukkan oleh mereka .
Alif pun berlaku ke administrasi untuk menyelesaikan rawat inap Zahra sekalian mengurus administrasi nya.
Tak lama dokter dan Alif pergi, sandi ayah Zahra beserta ibunya sampai di IGD ,tidak ketinggalan Naira dan Rio juga datang bersama mereka
" bagai mana ke adaan Zahra pa " tanya sandi pada kakek,
" Zahra sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang sudah mulai stabil, tapi tadi dokter bilang masih membutuhkan perawatan dan observasi ketat " Alhamdulillah " ujar sandi lega
__ADS_1
Tak lama kakek bicara seperti itu Zahra keluar dari ruangan IGD di dorong oleh perawat pkai berangkat menuju ruang rawat inapnya.
kakek,nenek ,Tante cindi ,om Adam dan yang lainnya mengikuti brankar tersebut dari belakang, Naira dan ibunya terlihat uring - uringan mengikuti keluarganya ke ruang rawatan Zahra.
Zahra yang masih belum sadar, di dorong ke ruangan VIP , sesampainya di ruangan perawat memindah Zahra ke bed pasien perawat merapikan dan memeriksa ulang kondisi Zahra sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah perawat keluar ,nenek dan yang lainnya mendekati Zahra yang masih belum sadarkan diri . nenek menggenggam tangan Zahra, " kamu kenapa sih nak, kok bisa seperti ini " ujar nenek sedih dan kembali menangis melihat kondisi cucunya yang belum sadarkan diri
" pa , Zahra kok belum bangun juga ya " tanya nenek melihat ke kakek yang berdiri di sampingnya.kakek mengelus pundak nenek " sabar ma, biar Zahra istirahat dulu, dokter tadi kan sudah jelaskan tadi bahwa Zahra masih Perlu istirahat " jawab kakek berusaha menenangkan nenek.
cklek .....
pintu kamar Zahra terbuka , Alif masuk sambil membawa kantong kresek yang berisi makanan.
" Zahra masih belum sadar ya ma " tanya Alif sambil meletakkan kantong tersebut di atas brankas yang ada di samping bed pasien.
Alif memeriksa ulang kondisi Zahra , kita biarkan Zahra istirahat dulu ma, semoga sebentar lagi Zahra bangun " ujar Alif sambil membawa keluarganya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut .
" ayah dan ibu sudah lihat Zahra kan dan Zahra baik - baik saja ,sekarang kita pulang yuk, aku masih capek ini ,siap pesta bukannya istirahat malah kerumah sakit seperti ini " kata Naira kesal dan mengajak ayah dan ibunya pulang
semua mata menatap Naira termasuk Rio yang sedari tadi hanya diam menatap zahra.rii tidak tega melihat Zahra yang lemas dan pucat seperti itu, ingin Rio lebih mendekat ke Zahra dan menggenggam tangan nya, tapi Rio sadar sekarang ia sudah menikah dengan Naira, posisinya sebagai suami Naira membuat Rio hanya bisa menahan ke inginannya itu karena tidak mau terjadi keributan dan salah paham nantinya dari istri dan keluarga istri nya.
" iya benar ,yuk bang kita pulang " ibu Zahra juga mengajak suaminya pulang, dari awal ibu Zahra memang malas untuk datang ke rumah sakit, klau Saja suaminya tidak memaksanya tadi.
" kita baru saja sampai buk, kita tunggu sampai Zahra bangun dulu " tolak sandi pada ajakan istrinya
Alif yang dari mendongakkan kepalanya menatap om sandi, sandi merasa kaget dengan respon pamannya yang menolak ajakan anak dan istrinya untuk pulang,Alif merasa ada yang aneh dengan om sandi ,tapi Alif belum mau berasumsi macam - macam dulu ,yang pasti melihat perubahan pada diri sandi Alif merasa sedikit lega," semoga ini perubahan ini bukan hanya sementara " doa Alif dalam hati
__ADS_1
" udah Lang bang, mau tunggu apa lagi sih, tuh lihat sendiri yang mau di lihat aja nggak sadar kita sudah datang " ujar ibu Zahra sambil menunjuk Zahra dengan mulutnya kesal.
" kalau kamu dan Naira mau pulang ,pulang aja duluan dek, aku nanti nyusul setelah Zahra bangun " jawab ayam Zahra lagi menolak ajakan istri untuk pulang ,malah menyarankan istri san anaknya pulang duluan.
" yah udah klau gitu , yuk nai kita pulang ,ngapain disini ,badan ibu capek banget mau istirahat di rumah " ujar ibu Zahra mengajak Naira pulang, dan di anggukkan oleh Naira
" iya Bu, aku juga masih capek seharian menjalani pesta pernikahan, bukannya istirahat malah di suruh ke sini yang nggak penting banget " jawab Naira ketus.
" yuk kak kita pulang " ajak Naira pada Rio yang dari tadi hanya diam memperhatikan istri dan mertua nya berselisih , Rio tidak memperdulikan istri dan mertuanya yang berselisih, Rio malah lebih memperhatikan Zahra dan tidak ada yang menyadari itu semua karena yang lainnya sedang fokus pada perdebatan mertua dan istri nya,hanya Alif yang menyadari sikap Rio
dari tadi Alif dapat melihat bagai mana cemasnya Rio dan seringnya Rio mencuri - ciri pandang kearah Zahra yang masih terbaring di atas tempat tidurnya yang masih menutup matanya seolah tidak peduli dengan keributan antara ayah ,ibu dan Naira dalam ruangannya saat ini .
" kamu pulang aja duluan , aku nanti nyusul bareng ayah, kasihan ayah kalau pulang sendiri " jawab Rio yang makin membuat Naira meradang melihat Rio menolak ajakannya untuk pulang
" kamu apa - apaan sih kak , ayah nanti kan bisa pulang sendiri " jawab Naira kesal kepada suaminya itu " jangan nyari - nyari alasan untuk bisa menjaga Zahra disini kamu ya kak " ujar Naira lagi
sebenarnya Rio memang malas untuk pulang, Rio ingin menunggu Zahra bangun dulu dan ingin memastikan Zahra baik - baik saja baru ia pulang ,karena Rio tidak akan tenang sebelum memastikan sendiri kalau Zahra baik - baik saja
" bukan begitu maksud aku nai ....."
" sudah - sudah jangan ribut disini " kakek menyela ucapan Rio sehingga Rio tidak jadi menyelesaikan ucapannya
" Zahra butuh ketenangan ,jika kamu dan ibu kami mau pulang ,pulang aja nai " ujar kakek menatap Naira dan ibunya ," dan kami Rio ,sebaiknya kamu ikut istri dan mertua mu pulang, kakek tahu kamu pasti capek seharian menghadapi tamu di pesta tadi " ujar kakek menatap Rio
Rio merasa keberatan dengan keputusan kakek, dan terlihat jelas dari raut muka nya, " baik lah kek " jawab Rio pelan, bagai mana pun Rio harus menurut dengan keputusan kakek, Rio sadar ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya saat ini, apa lagi Zahra bukanlah siapa - siapa nya sekarang.
akhirnya Naira ,Rio dan ibunya pamit pulang duluan. karena menurut kakek dan yang lainnya itu akan lebih baik dari pada mereka membuat ribut di rumah rawatan Zahra yang masih membutuhkan perawatan.
__ADS_1