
Tiga tahun berlalu, kehidupan keluarga kecil aziz dan Zahra terlihat semakin bahagia bersama ketiga jagoannya. Hari - hari Aziz Kembali di sibukkan dengan pekerjaannya yang bisa di katakan tidak pernah habis - habisnya, baik di perusahaan mau pun di rumah sakit, walau demikian, sesibuk apa pun dirinya, Aziz tetap meluangkan waktunya untuk keluarga kecilnya, bagi Aziz keluarga adalah tetap prioritas utama nya dan segala - galanya dalam hidupnya, walau sesibuk apa pun dia saat itu.
Aziz bersyukur, selama ini Zahra tidak proses dengan segala kesibukkan aziz, Zahra malahan selalu mensuport Aziz dalam setiap pekerjaan, Aziz juga tidak pernah mendengar Zahra mengeluh dengan semua ke sibukkan nya, atau pun merengek pada Aziz untuk meminta waktu agar bisa meluangkan waktunya untuk dirinya.
Tidak hanya itu, aziz juga salut dengan Zahra, di saat Aziz sibuk dengan pekerjaannya dan tidak bisa di ganggu sama sekali, maka Zahra mampu mengganti kan peran ayah untuk ketiga putra mereka , sehingga si kembar juga tidak pernah rewel dan menuntut waktunya untuk berasa mereka.
Dan sebagai istri dari seorang dokter sekaligus CEO yang paling di hormati, Zahra sama sekali tidak pernah sedikit pun sombong, Zahra selalu ramah pada seluruh karyawan Aziz baik di kantor maupun di rumah sakit, makanya tidak salah jika semua karyawan banyak yang memuji dan menghormati zahra.
Zahra yang ramah, baik hati dan suka menolong, sangat di sukai oleh para karyawan. sehingga setiap Zahra berkunjung ke kantor Aziz Zahra selalu di sambut baik oleh para karyawan.
Begitu pun dengan Zahra, Semenjak kelahiran si kembar, Zahra yang dulu nya sangat ingin bekerja menjadi wanita karir akhirnya memutuskan untuk tetap di rumah mengurus suami dan anak - anaknya, Zahra mengubur jauh - jauh keinginannya yang ingin bekerja kembali setelah si kembar besar dan bisa di tinggalkan, bukan tanpa alasan, selain tidak bisa jauh - jauh dari ketiga putranya, Zahra juga ingin menyaksikan sendiri tumbuh kembang ke tiga putranya. Zahra mengambil keputusan itu atas kemauannya sendiri, tanpa ada paksaan dari suami dan keluarganya.
Aziz memang tidak pernah melarang istrinya untuk bekerja, asalkan Zahra tidak melupakan kewajibannya sebagai istri dan ibu untuk ketiga anak - anak mereka, tapi Aziz tidak bisa bohong, ketika Zahra mengatakan akan tetap di rumah saja agar lebih fokus dalam mengasuh ketiga anak - anak mereka, aziz tidak berhenti - hentinya mengucapkan syukur dan terima kasih pada istrinya itu, aziz bangga dengan istirnya, Aziz tidak menyangka Zahra akan bisa mengambil keputusan yang se besar itu, karena melihat dari sikap Zahra dahulu, rasanya itu tidak lah mungkin, karena Zahra yang aziz kenal dulu sangat energik dan pekerja keras.
Sementara itu, Si kembar akhdan, Fauzan dan Rasyid tumbuh sehat dan pintar, ketiga anak kembar itu walau pun mempunyai wajah yang mirip tapi tidak dengan sikap mereka, Fauzan tumbuh menjadi anak yang kalem dan pendiam serta penyabar , Fauzan ceria dan namun tetap berwibawa, sedangkan si kecil Rasyid tegas dan manja. Walau pun demikian ketiga anak - anak itu tetap menggemaskan khususnya di mata Zahra dan aziz.
" Bunda kak Fauzan usilin adek " rengek Rasyid mengadu pada Zahra karena Fauzan mengganggu nya saat makan. walau pun usia si kembar baru tiba tahun, tapi ke tiga putra aziz dan Zahra sudah pintar bicara dan tidak telo dalam berbicara.
Zahra yang sedang sibuk membuatkan kan kopi buat Aziz memalingkan wajahnya pada Fauzan dan Rasyid. " kak Fauzan, jangan ganggu adek " teriak Zahra yang berjalan ke meja makan sambil membawa secangkir kopi buat Aziz. Dan meletakkannya di atas meja.
" Kak gak ganggu bunda .... " jawab Fauzan yang tidak mau di salahkan oleh sang adik.
__ADS_1
". iya bunda, kak Fauzan bohong, tadi kak Fauzan mengambil sosis di piring adek bunda " sahut Rasyid lagi yang tidak rela makanannya diambil oleh sang kakak
" Gak Bun, Ozan cuma minta Bun " bantah Fauzan lagi.
" Kak Fauzan, mengapa punya adek dia ambil ? bunda kan udah kasih rata semuanya " tegur Zahra pada Fauzan lembut
" Maaf bunda, habisnya enak Bun, Ozan suka, karena sosis adek masih banyak makanya Ozan bantu buat ngabisin Bun " jawab Fauzan menundukkan kepalanya merasa bersalah dan meminta maaf.
" Ayo Kakak minta maaf sama adek " Zahra menatap Fauzan dan meminta Fauzan untuk meminta maaf pada Rasyid. dari kecil Zahra dan aziz selalu mengajarkan anak - anak nya untuk selalu meminta maaf jika berbuat salah.
" Adek kakak minta maaf ya, karena sudah mengganggu makan adek " ujar Fauzan meminta maaf pada Rasyid, bukanya memaafkan, Rasyid yang sudah terlanjur kesal pada Fauzan hanya diam saja sambil menatap ke arah makan yang ada dalam piring nya.
" Me maaf kan " jawab Rasyid pelan.
" Jadi sekarang Abang sudah minta maaf jadi adek maafin Abang dong " ujar Zahra lagi.
" Iya " jawab Rasyid menganggukkan kepala pelan. kemudian dua bocah itu pun saling bersalaman meminta maaf , Zahra tersenyum senang melihat tingkah anak - anak nya .
" Tapi kok wajah nya masih cemberut ?" tanya Zahra pada Rasid yang masih cemberut.
" Sosis adek udah gak ada bun, " Rasyid sedih
__ADS_1
" udah ini punya Abang, Abang sudah kenyang sosis abang buat adek aja " akhdan yang dari tadi diam menyaksikan keributan kedua saudara kembarnya memberikan sosis milik nya pada Rasyid.
" Makasih abang " sahut Rasyd senang.
Zahra menatap haru melihat ketiga putranya yang saling menyayangi satu sama lain, ' Teruslah seperti ini nak, bunda bangga pada kalian " gumam Zahra di dalam hati.
" Loh ini ada apa ?" Aziz yang baru sampai di meja makan bertanya heran mendapat ketiga putra saling berpelukkan sambil menatap Zahra yang juga sedang menatap ke arah nya.
" Kami tidak ngapa - ngapain kok yah " jawab Fauzan polos. dan di jawab Zahra dengan senyuman dan mengedipkan matanya meminta aziz untuk tidak bertanya lagi.
" Ya udah, kalau gitu ayok.kita sarapan, ayah sudah lapar " mengerti dengan kode yang di berikan Zahra, Aziz pun mengajak istri dan anak - anak nya untuk segera sarapan.
*****
Selama masa tiga tahun ini juga, semenjak pertemuan Zahra dan Naira waktu itu sampai sekarang, Zahra tidak pernah lagi terlihat sedih, Zahra selalu terlihat bahagia dan tersenyum ceria.
Zahra selalu mengingat nasehat Aziz dan keluarga besarnya untuk mengiklankan semua yang sudah terjadi.
Selama tiga tahun ini juga Zahra tidak pernah lagi menemui Naira dan Mirna, pertemuan dengan Naira tiga tahun lalu adalah pertemuan terakhir mereka, bukannya Zahra membenci pada mereka, tapi Zahra hanya berusaha menjaga hatinya dari Naira dan mirna agar tidak terluka lagi, Zahra berpikir, dengan menghindari pertemuan dengan dua orang itu akan lebih baik untuk kewarasannya.
Dan selama tiga tahun ini juga, Zahra tidak pernah ingin mencari tahu kabar tentang mantan kakak dan ibunya itu, Zahra sudah menutup hatinya untuk kedua perempuan itu.
__ADS_1