
Dua hari berlalu, belum ada kabar baik yang dapat melegakan hati keluarga besar Zahra dan Aziz saat ini, kondisi Zahra masih sama dengan dua hari yang lalu, belum ada perubahan sama sekali. Hidup Zahra masih bergantung pada obat - obatan dan mesin medis yang menempel di tubuh nya.
Sandi terus berada di dekat sang putri, sudah dua hari sandi berada di rumah sakit menjaga putrinya, sedikitpun sandi tidak mau meninggalkan Zahra walau hanya sebentar.
Begitu juga dengan Aziz, semenjak kecelakaan itu, Aziz pun tidak mau jauh dari Zahra, hari - harinya hanya di habiskan mendampingi dan merawat Zahra di rumah sakit, sementara semua pekerjaan nya untuk sementara di handle oleh pak widodo dan Aldo sang asisten andalannya. penampilan.aziz saat ini sangat kusut dan tidak terawat, jauh dari penampilannya sehari hari yang biasa rapi dan bersih.
" San..., mama kondisi nya drop, sekarang sudah di UGD " Adam masuk tergesa - gesa ke kamar Zahra menghampiri sandi yang sedang duduk di tepi tempat tidur Zahra.
" Mama kenapa dam ?!" tanya sandi kaget, ketika adam masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dengan kondisi panik.
" Mama di temui sudah tidak sadar kan diri di kamar mandi pagi tadi, dan sekarang masih di IGD ditangani oleh dokter " ujar Adam menjelaskan.
Aziz yang baru saja keluar kamar mandi tidak sengaja mendengar pembicaraan Adam dan ayah mertuanya, Aziz mendekati Adam dan sandi dan menanyakan apa yang di dengarnya tadi " Nenek kenapa om ?" tanya Aziz menatap Adam yang terlihat panik.
" Nenek di temukan tidak sadar dikamar mandi ziz, sepertinya nenek jatuh di kamar mandi tadi pagi " jawab Adam menjelaskan, Aziz yang mengetahui kondisi nenek yang tidak baik - baik saja ketika sampai kemaren seketika ikut kaget dan cemas.
" Sekarang kondisi nenek gimana om ?" tanya Adam lagi rasa khawatirnya terhadap kondisi sang nenek tidka dapat disembunyikan nya lagi
" Om belum tahu ziz, nenek masih di periksa dokter di IGD sewaktu om kesini " ujar Adam yang masih belum mengetahui kondisi mertuanya setelah ia bawa ke IGD tadi pagi.
Sebenarnya Adam sudah coba menghubungi sandi lewat ponselnya, tapi no ponsel sandi tidak bisa di hubungi, karena panik, akhirnya Adam meminta izin pada cindi untuk menemui sandi di ruangan rawat Zahra.
" Sekarang mama sama siapa di IGD dam ?" tanya sandi ikut khawatir, sebenarnya ketika pak Widodo mengabari Zahra mengalami kecelakaan, sandi dan Adam yang ingin menemui Zahra di kota X sudah melarang sang mama untuk ikut bersama mereka, mengingat kondisi mama nya yang tidak baik -baik saja akhir - akhir ini, tapi sang mama tetap bersikeras ingin ikut karena ia sangat mengkhawatirkan kondisi cucu kesayangannya itu, setelah melalui rembukkan yang cukup panjang, akhirnya sandi dan Adam pun membawa ikut serta mama nya dan cindi ke kota X.
Apa yang Adam dan sandi khawatirkan terjadi, setelah melihat kondisi Zahra, sang mama langsung drop, penyakit darah tingginya kambuh, Adam dan sandi tidak mau mengambil resiko, mereka yang memutuskan menginap di rumah Zahra dan Aziz, akhirnya meminta sang mama untuk tinggal di rumah saja bersama cindi dan Adam.
" Mama tadi aku tinggal bersama cindi di IGD, tadi aku berusaha menghubungi kamu San, tapi ponsel kamu tidak aktif " jawab Adam memberi tahu sandi.
" Oya, ponsel ku kehabisan daya, dam itu lagi sedang dicas " jawab sandi menunjukkan ponselnya yang sedang di charger untuk mengisi daya.
" Sebaiknya kita ke IGD sekarang yah, kasihan Tante cindi sendirian di IGD, Tante cindi pasti cemas dan panik saat ini " ujar Aziz mengajak ayah dan oom mertuanya untuk ke IGD.
__ADS_1
" Sebaiknya kamu di sini saja ziz, temani Zahra, biar ayah dan Adam yang ke IGD " kata sandi yang tidak mau Zahra di tinggal sendiri sementara mereka ke IGD
" Tapi yah...."
" Udah gak apa - apa, kalau kita semua nya ke IGD siapa yang jaga Zahra di sini nanti ?" ucap sandi memotong ucapan Aziz yang terlihat ragu - ragu.
" Betul apa kata mertua mu ziz, sebaiknya kamu disini saja temani Zahra, untuk urusan di IGD biar om dan ayah mertua mu saja yang kesana " ujar Adam menengahi perdebatan ayah mertua dan menantu itu.
" Baik lah yah, om, tapi kalau ada apa - apa cepat kabari Aziz ya " jawab Aziz akhirnya menyetujui ucapan sandi dan Adam.
" Kamu juga sama ya ziz, kalau ada apa - apa dengan Zahra cepat kabari kami ya " sahut sandi yang meminta Aziz untuk mengabari mereka jika terjadi apa - apa pada Zahra.
" Ya ayah,.om " jawab Aziz menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian sandi dan Adam, Aziz langsung mengambil ponselnya dan menghubungi kedua orang tuanya untuk mengabari kondisi nenek Zahra yang tidak baik - baik saja dan sekarang sedang ditangani di IGD.
Setelah menghubungi ke dua orang tuanya, Aziz sedikit merasa lega, karena papi dan mami nya langsung menuju rumah sakit setelah Aziz mengabari kondisi nenek Zahra, paling tidak dengan ada nya mami dan papi nya di sana nenek akan cepat di tangani nantinya di sana. Mami dan papinya pasti akan meminta pihak rumah sakit untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk nenek istrinya itu.
Aziz yang panik langsung menekan tombol darurat untuk memanggil petugas medis yang bekerja hari itu. Aziz terus menekan tombol darurat tersebut karena petugas medis yang di panggil - panggilnya tidak kunjung datang.
" Sayang, kamu kenapa sayang ..." Aziz terus memanggil - manggil Zahra, sambil memeriksa tubuh Zahra, Aziz yang panik tidak tahu harus berbuat apa untuk menangani kondisi Zahra yang tiba - tiba seperti itu, padahal ia seorang dokter yang handal dan selalu sigap jika berada dalam kondisi darurat seperti ini, tapi entah kenapa ketika di hadapkan langsung dengan kondisi istrinya yang seperti ini Aziz merasa sangat bodoh, entah kemana ilmu kedokteran yang selama ini dipelajarinya.
Dari luar Aziz mendengar suara langkah kaki segerombolan orang - orang menuju ke ruangan Zahra, dan benar saja, beberapa team dokter dan perawat langsung masuk menghampiri Zahra, dengan sigap team dokter dan perawat langsung bekerja sesuai bagian mereka masing - masing untuk membantu menangani Zahra.
Aziz hanya berdiri mematung menyaksikan semua orang mengerubungi Zahra dan memeriksa tubuh Zahra yang tiba - tiba kejang dan sulit bernafas.
Seorang perawat mendekati Aziz dan dengan sopan meminta Aziz untuk menunggu di luar sementara team dokter dan perawat akan melakukan pemeriksaan pada Zahra.
Awalnya Aziz menolak, tapi setelah perawat menjelaskan dengan sopan dan sabar akhirnya Aziz menuruti permintaan perawat tersebut.
Dan Sekarang di sini Aziz duduk termenung menatap ke arah pintu kamar rawatan Zahra,.pikirannya berkecamuk, kekhawatirannya terhadap kondisi sang istri mendominasi pikirannya saat ini, Aziz menyadari sesuatu, ia harus memberi tahukan kedua orang tuanya dan mertuanya mengenai kondisi Zahra saat ini.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, dengan tangan gemetar Aziz meraih ponselnya dan mencari kontak sang mami di ponselnya itu, setelah menemukan kontak ponsel sang mami Aziz langsung menekan tombol hijau untuk memanggil, tidka butuh waktu yang lama, panggilannya telponnya pun langsung di jawab oleh sang mami.
" Halo..."
" Mi, Zahra tiba - tiba kritis mi, sekarang Zahra sedang di tangani team medis di dalam kamar nya " tanpa basa basi lagi, Aziz langsung memberitahukan kondisi Zahra pada Bu Susan yang langsung mengangkat panggilan telpon dari Aziz ketika dirinya baru saja sampai di rumah sakit bersama sang suami.
" Hah, kok bisa ziz ?!" tanya Bu Susan kaget dari seberang telpon
" Semua terjadi begitu tiba - tiba mi......" jawab Aziz sambil menangis.
" mami segera kesana " ujar Bu Susan lagi kemudian langsung memutuskan panggilan ponsel itu.
Setelah panggilan telpon dengan sang mami berakhir, Aziz kembali mengotak Atik ponselnya mencari no sandi, Aziz menghubungi ponsel sandi berkali - kali tapi tidak tersambung.
Aziz terus mencoba, karena beberapa panggilan tidak tersambung, akhirnya Aziz memutuskan untuk menghubungi Adam, dan memberitahukan kondisi Zahra yang kritis.
Sementara itu, pak Widodo dan bu Susan yang baru saja sampai di rumah sakit dan masih berada di parkiran ketika Aziz menghubungi mereka, bertanya pada Bu Susan siapa yang sudah menelponnya.
" Siapa mi ?"
" Aziz Pi,.Aziz mengatakan Zahra kritis dan sekarang tengah di tangani oleh team medis " jawab Bu Susan panik.
" Jadi gimana nih Pi, kita kemana dulu Pi ?" tanya Bu Susan terlihat panik meminta pendapat suaminya, karena sebenarnya tujuan mereka datang tadi untuk menghampiri besan mereka yang kritis di IGD, tapi sekarang malah menjadi kacau karena kondisi menantu kesayangan nya juga kritis di ruangan lain.
" Begini saja mi,.mami langsung temui Aziz, papi rasa Aziz pasti sangat panik saat ini mi, untuk ke IGD biar papi yang kesana, kalau urusan IGD sudah selesai papi langsung ke kamar rawatan Zahra " usul pak Widodo membagi tugas dengan Bu Susan.
" Baik lah Pi, cara itu mungkin lebih baik saat ini ".jawab Bu Susan setuju.
" Kalau ada apa - apa dengan Zahra cepat kabari papi ya mi " sahut pak Widodo sebelum mereka berpisah di lobi rumah sakit
" Ya Pi " jawab Bu Susan kemudian berlalu menuju kamar rawatan Zahra dan pak Widodo menuju IGD dimana besan mereka di rawat
__ADS_1