CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 205


__ADS_3

Di saat Anton dan Mirna ribut demi memikirkan nasib putrinya, lain hal nya yang terjadi dengan Naira.


Gadis itu, semenjak pertemuan dengan Zahra siang tadi terus diam tidak berbicara sama sekali, entah sudah berapa lama Naira duduk di tepi jendela kamar kamarnya, makan malam yang sudah diantar oleh perawat belum ada di sentuhnya sama sekali, kamar rawatannya begitu sepi dan tenang, tidak ada lagi terdengar teriakan - teriakkan seperti sebelumnya, naira seolah - olah tengah mengunci bibirnya untuk berbicara.


Naira duduk termenung di depan jendela kamar nya yang menghadap ketaman, cantik nya taman di tengah malam yang di terangi oleh cahaya lampu tidak mengusik nya sama sekali.


Bayang - bayang kejadian siang tadi dimana tanpa ia duga Zahra datang menemuinya, padahal Naira sudah memohon pada Anton dari beberapa bulan yang lalu untuk dapat bertemu dengan zahra tidak pernah terlaksana, berbagai alasan sudah di sampaikan Anton padanya, sehingga Naira merasa frustasi karena rasa bersalah dan permohonan maaf nya belum tersampaikan. Namun momen yang sudah di tunggu - tunggunya itu telah di rusak oleh ibunya sendiri dengan memakai - maki dan menginjak Zahra sehingga Zahra pergi tanpa menoleh lagi padanya, Naira kesal dan ingin marah pada ibunya, tapi apa daya sang ibu sedang tidak bisa di ajak bicara saat itu, Naira tidak mau ambil pusing masalah ibu nya, saat ini fokus Naira bukan pada ibunya, tapi pada Zahra, melihat Zahra pergi tanpa menoleh lagi padanya, Naira tahu Zahra tidak baik - baik aja, kejadian itu terus menari - nari di pelupuk mata Naira silih berganti dengan sikap dan perbuatan nya yang telah menyakiti Zahra selama ini, padahal Zahra selalu baik pada Naira dan ibunya, Zahra tidak pernah sekalipun membalas kan sakit hatinya pada mereka.


Naira merasa begitu kecil dan hina di depan Zahra, jika mau jujur, sebenarnya Naira malu bertemu dengan Zahra, tapi rasa bersalah yang selalu menghantuinya selama ini lebih kuat hingga Naira menyingkirkan rasa malu hanya untuk dapat bertemu dengan Zahra dan meminta maaf pada Zahra.


Menyesal, ya jujur ada penyesalan yang terdalam yang Naira rasakan, tapi apa yang dapat dilakukannya, Naira merasa semua sudah terlambat. Naira merasa Zahra begitu sangat membenci dirinya, walau zahra tidak mengungkapkannya dengan kata - kata tapi Naira dapat melihat dari pancaran mata Zahra ketika menatapnya dan dapat merasakan dari sikap dingin Zahra padanya.


Naira juga tidak dapat membohongi dirinya, ia begitu merasa sedih melihat api kebencian itu terpancar nyata dari mata Zahra untuk dirinya.


" Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan, mengapa aku tidak pernah mendengarkan ucapan bang Alif selama ini, maaf kan aku zahra, bukannya berterima kasih pada mu Karena kamu sudah memaaf kan aku, tapi ibu kembali membuat mu sedih dan terluka karena ucapan mu " Mirna meraup mukanya dan menelungkupkan wajahnya bertumpu pada kedua lutut kakinya yang di tekuknya dari tadi, Naira kembali menangis menyesali semua yang sudah terjadi, dia begitu bodoh dan selalu menuruti nafsu nya yang selalu menganggap Zahra saingannya sehingga ia dengan mudah terhasut ucapan ibunya tanpa mau mendengarkan ucapan Alif selama ini, padahal Alif sudah sering mengingatkan naira seperti apa ibunya itu, tapi Naira selalu di butakan akan kasih sayang ibunya, sehingga seberapa baik pun Zahra padanya, Naira tetap memaki dan menghina Zahra dahulu. Dan lebih parahnya, karena cemburu yang tidak beralasan, Naira tega mencelakakan Zahra dan bayinya, padahal Rio sudah berulang - ulang kali mengatakan akan berubah dan menjalani rumah tangga bersama nya, dan Rio sudah berkali - kali juga mengatakan akan belajar mencintai nya dan melupakan Zahra.


Tapi apa yang dia lakukan, Naira sadar akibat ke kebodohannya ia malah harus membayar semua dengan hal pahit yang sedang di jalani nya sekarang, berpisah dari suami dan anak nya, dan mendekam di penjara dalam kurun waktu yang lama.


Awalnya Naira punya harapan pada Anton yang baru ia tahu Anton adalah ayah kandungnya, Naira berharap Anton yang juga seorang pengusaha bisa membantunya terbebas dari jeratan hukum yang di terimanya, namun Naira lagi - lagi sadar, tidak semua bisa di selesaikan dengan uang dan kekuasaan. Buktinya Anton ayah kandungnya tidak bisa mengeluarkannya dari penjara ini, dan sandi orang yang sangat di sayangi nya selama ini, orang yang sudah dianggap nya sebagai seorang ayah selama ini juga membencinya dan menjauhinya apa lagi sebabnya kalau bukan karena kebodohannya yang telah Naira lakukan pada Zahra putri kandung sandi.


Di balik penyesalan dan deritanya, Naira masih bersyukur, di sini ia bertemu dengan perempuan yang sangat baik dan tidak pernah sedikitpun menyalahkannya setiap kali Naira bercerita pada perempuan itu, dia adalah kepala penjaga penjara tempat Naira di tahan, perempuan baik dan Sholeha itu sudah menjadi orang ternyaman bagi Naira untuk bercerita, Aisah sangat berperan penting dalam hidup Naira dan sudah banyak membantu Naira dalam menyadarkan Naira atas kesalahan dan dosa - dosanya selama ini.


Kepala penjara yang bernama Aisah itu selalu mengingatkan naira untuk ibadah dan selalu berdoa pada Tuhan, serta meminta ampunan dan taubat pada tuhan.dengan perlahan - lahan Naira yang tidak pernah sholat sekarang sudah rutin melaksanakan ibadah sholat,.dan selama dalam penjara, Naira juga banyak belajar agama dan mengaji pada Aisah.


Setelah mengikuti saran Aisah untuk meminta maaf pada Zahra, sekarang Naira merasa sangat lega, beban nya terasa berkurang, dan Naira juga merasa lebih tenang.

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan Naira, berbeda dengan apa yang terjadi dengan Zahra saat ini, Zahra yang sedih dan kecewa dengan kenyataan yang terjadi memilih lebih banyak diam dan merenungi apa yang sudah terjadi, dalam hati, Zahra selalu bertanya - tanya apa yang salah dari dirinya, sehingga Naira dan ibu nya begitu sangat membenci dirinya..


Zahra terbangun ketika suara azan magrib berkumandang, Zahra menatap sekeliling ruangan yang terasa asing bagi Zahra saat ini, ruangan itu begitu seperti sebuah kamar yang besar dan mewah , tapi Zahra tahu ini bukan lah kamar nya, Zahra menatap sekeliling kamar dengan kening yang berkerut dan bingung, tidak ada seorang pun di dalam kamar itu kecuali dirinya,


Zahra mencoba mengingat - ingat apa yang sudah di alaminya tadi mulai tadi siang sampai ia berakhir di tempat ini sekarang. Seingat Zahra siang tadi ia datang ke rumah sakit bersama Aziz suaminya untuk menemui Naira, setelah itu Aziz membawa nya pergi setelah Mirna mencaci maki dan menghinanya, dalam perjalanan ke rumah, karena lelah, tidak hanya lelah badan tapi juga pikiran nya, Zahra pun memutuskan untuk tidur di dalam mobil, dan setelah itu zahra tidak tahu lagi entah apa yang sudah terjadi hingga ia bisa berada di sini.


Dengan gerakkan yang pelan Zahra mencoba untuk bangun dari tempat tidur, Zahra ingin mencari keberadaan Aziz yang tadi bersama dirinya di dalam mobil hendak mau pulang, tapi kenapa Aziz tidak terlihat sama sekali ?


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Aziz masuk dengan membawa dua paperbag yang entah apa isinya.


" Sayang, adek sudah bangun ?" tanya aziz sambil meletakkan paperbag yang di bawa nya ke atas meja dan menghampiri Zahra yang sendang bersandar pada tempat tidur dan menatapnya bingung.


" Adek mau sesuatu ?" tanya aziz lembut mengelus kepala zahra lembut


" Kita sedang di hotel xxx sayang " jawab Aziz lembut


Zahra mengerutkan kening nya bingung, lalu menatap keluar jendela, di luar sudah terkuat gelap, artinya hari sudah malam.


" Mengapa kita ke sini bang ?" tanya Zahra bingung," Trus anak - anak gimana?" kita harus pulang bang, anak - anak sudah terlalu lama di tinggal " ujar Zahra panik dan bergegas ingin turun dari tepat tidur mengajak Aziz pulang


" sayang, hei sayang dengar Abang dulu " aziz dengan cepat menarik tangan Zahra sehingga Zahra kembali duduk di tempat nya semula.


" Adek jangan panik begitu, Abang sengaja membawa adek ke sini supaya adek lebih tenang dan terhibur, jika adek tenang dan rileks itu juga baik untuk kesehatan adek dan baik juga untuk anak - anak kita sayang," ujar Aziz menjelaskan mengapa Aziz membawa Zahra ke sana

__ADS_1


" Dan masalah anak - anak adek tidka udah khawatir, mereka baik - baik saja, Abang sudah menitip kan mereka pada mami dan papi, Oma dan opa nya anak - anak tidak keberatan dan mereka malah senang , jadi sekarang adek tenang ya, nikmatilah hari ini dengan baik " sahut Aziz lagi " hitung - hitung ini hanimun kita yang tertunda." goda Aziz menatap Zahra genit.


Zahra tertunduk malu mendengar kata - kata hanimun yang keluar dari bibir Aziz, memang semenjak menikah mereka belum pernah berlibur berdua apa lagi hanimun karena ke sibukkan mereka masing - masing.


" Tapi hanimun nya tidak di waktu yang tepat bang " jawab Zahra cemberut


" Maksudnya ?" tanya aziz bingung.


" Abang bawa Zahra hanimun, tapi Zahra masih dalam masa nifas bang " jawab Zahra masih cemberut


hahahaha


Aziz tertawa lebar mendengar keluhan istrinya, yang di bilang Zahra memang benar adanya, tapi saat ini fokus Aziz hanya lah untuk menghibur istrinya bukan hanimun seperti kebanyakan orang - orang lakukan.


" Yang penting Abang bisa menghabiskan waktu bersama adek berdua, dan memeluk adek seharian tanpa ada gangguan " jawab Aziz sambil melabuhkan kecupan singkat di bibir seksi istrinya.


" Jadi Abang menganggap anak - anak kita pengganggu ?!" tanya Zahra menatap Aziz dengan tatapan kesal.


" Bukan - bukan begitu maksud Abang sayang " ujar aziz gugup karena sudah salah bicara


" Maksud Abang, selama beberapa hari ini kan Abang sibuk kerja dan adek sibuk mengurus anak - anak, sehingga waktu kita berdua juga sedikit, saat ini Abang hanya ingin menghabiskan waktu kita berdua tanpa ada nya gangguan, dan yang pasti Abang sangat merindukan istri Abang yang cantik ini " jawab Aziz dan memeluk zahra erat.


Zahra tersenyum bahagia, serta memeluk suaminya itu erat.


" Adek mandi dulu ya, baju gantinya sudah Abang bawakkan di atas meja, nanti setelah mandi kita makan ya " Aziz melonggarkan pelukkan nya di tubuh Zahra dan menatap Zahra sambil tersenyum.

__ADS_1


Zahra menganggukkan kepalanya, lalu turun dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi sambil membawa paperbag yang berisi baju ganti untuk nya yang di bawakan Aziz tadi


__ADS_2