
Setelah selesai mengurus izin pelaksanaan pernikahan untuk Zahra kepada pihak rumah sakit, Alif kembali ke ruangan ICU tempat kakek di rawat , di luar semua keluarga dari pihak Alif dan Aziz sudah menunggu ke datangnya menunggu kabar yang akan di bawa oleh Alif.
Sementara nenek masih menemani kakek di dalam, nenek tidak mau meninggalkan kakek semenjak ia datang tadi dan mendapati suaminya sudah siuman bangun
" Gimana lif, udah dapat izinnya ?" tanya sandi dan Adam pada Alif yang baru masuk ke ruangan itu.
Alif menatap sandi dan Adam gantian " sudah pa, dan Alif juga meminta bantuan kepada beberapa dokter dan perawat untuk menjadi saksi pa, om " jawab Alif, sandi dan adam mengangguk - anggukkan kepalanya mengerti.
Mirna yang baru datang bingung melihat tidak mengerti apa yang di bahas oleh keluarga nya, kenapa harus ada izin rumah sakit dan saksi segala.
Memang sedari mirna datang, sandi tidak ada mengatakan apa pun pada Mirna , saat ini sandi hanya terfokus pada kondisi papanya dan permintaan papanya yang mendadak. Sandi dan Adam dan cindi dari tadi berembuk bagai mana cara menjelaskan ini semua pada Zahra, Apalagi tadi orang tua aziz mengabari jika Zahra sudah Sampai di bandara, dan siap untuk berangkat dari sana.
Sandi tidak mengacuhkan kedatangan Mirna, karena sandi sibuk bicara dengan Adam dan cindi.
Mirna mendekati sandi dan menanyakan apa maksud yang di katakan Alif dengan izin dan saksi.
Mirna juga bertanya - Tanaya siapa orang asing yang berada di di sana yang sama sekali tidak di kenalnya, dan Mirna juga merasa kesal dengan sandi dari tadi ia datang tidak di acuh kan oleh sandi
Mirna menarik sandi sedikit menjauh dari keluarganya , " Bang, ini ramai - ramai ada apa ya bang ?" tanya Mirna pada sandi, sandi yang di tarik paksa oleh Mirna merasa kurang suka dengan sikap Mirna tersebut " Dan tadi apa maksud Alif mengatakan izin dan saksi bang ?" tanya Mirna lagi .
" papa meminta Zahra menikah sebelum beliau pergi " jawab sandi menatap Mirna kesal karena sudah di tarik paksa.
"Hah..... kok bisa bang, Zahra aja nggak ada di sini, lagian siapa yang mau menikah dengan anak pembawa sial itu " ujar Mirna kaget .
Sandi menatap Mirna tajam " tutup mulut kamu mir, Zahra bukanlah anak pembawa sial." ujar sandi geram dengan nada suara pelan , bagai mana pun sandi tidak ingin keluarganya dan keluarga Aziz mengetahui keributannya bersama Mirna saat ini.
__ADS_1
" Itu kan kenyataannya bang, anak yang jelas asal usulnya dan selalu membawa sial " Mirna bukannya berhenti mengata - ngatai Zahra, malah makin menjadi.
Sandi makin geram melihat Mirna yang tidak berhenti menghina Zahra, malah makin menjadi " kamu kalau tidak bisa menutup mulut mu saat ini, lebih baik kamu pulang, lagi pula kamu juga tidak di butuh kan berada di sini " ujar sandi metal Mirna tajam dan dingin, lalu berlalu dari sana tanpa menghiraukan Mirna lagi.
Sandi menari nafas dalam mencoba menetralkan hatinya lagi, dan kembali bergabung dengan keluarganya.
Mirna yang di tinggalkan sandi begitu saja menjadi kesal pada sandi.bukannya pergi dari sana sesuai perintah sandi, Mirna malah mendekat kembali ke sana dengan sedikit cemberut karena di tegur sandi .
Nenek keluar dari kamar kakek, semua menatap kearah nenek. Wajah Tua itu terlihat begitu sedih dan lelah, tapi masih berusaha untuk tegar di hadapan suami dan anak - anaknya.
" kakek meminta acaranya di lakukan sekarang " ujar nenek sambil menatap semua orang yang ada di rumahan itu.
" Tapi nek, Zahra belum datang, Zahra sudah dalam perjalanan ke sini nek " ujar Alif pada neneknya.
" kakek bilang waktunya sudah tidak lama lagi, kakek sudah tidak bisa menunggu lebih lama " jawab nenek lagi. Semua orang saling menatap satu sama lain dalam diam.
" apa tidak bisa menunggu Zahra datang dulu nek, paling tidak sekitar satu jam lagi Alif yakin Zahra sampai" Ujar Alif lagi.
Adam menepuk pundak Alif pelan dan menggelengkan kepalanya., Alif menatap Adam yang menggelengkan kepalanya seolah - olah jangan membatah lagi.
" Kita lakukan sekarang, jangan sampai kakek menunggu lama lif " ujar Adam pelan .
Semua meta menatap Alif dan Adam. kemudian mereka juga setuju dengan yang di ucapkan Adam.
" Tidak masalah kita laksanakan sekarang dokter Alif , mengingat kondisi kakek yang makin menurun " ucap pak penghulu " Dan siapa yang akan menjadi wali nikahnya" tanya penghulu lagi.
__ADS_1
" Saya pak " semua orang menatap sandi yang dengan berkata dengan yakin. Alif tersenyum pada sandi, berbeda dengan nenek, Adam dan cindi yang merasa kaget, dan tak kalah kagetnya Mirna.
" ya nggak bisa gitu dong bang, kamu kan bukan ayahnya." ujar Mirna protes.
" Aku ayah nya, aku punya hak untuk menikahkan putri ku " jawab sandi tegas tanpa menatap Mirna sama sekali.
Semua keluarga sandi menarik nafas lega , akhirnya sandi mengakui Zahra putrinya.
" udah jangan ribut lagi, mari kita laksanakan ijab Kabul nya sekarang " ujar nenek melerai keributan yang di buat oleh Mirna .
Semua yang ada di sana menganggukkan kepalanya dan masuk keruangan kakek termasuk dokter dan perawat yang sudah datang yang di tunjuk sebagai saksi.
Sementara itu Zahra sedang berjalan terburu - buru keluar dari bandara.perjalanan yang di tempuh seharusnya delapan belas jam menjadi singkat empat puluh menit dengan menggunakan pesawat.
" Maaf dengan nona Zahra ?" seseorang menegur Zahra begitu Zahra keluar bandara.zahra menatap orang yang sudah menegurnya barusan.
" iya betul, bapak siapa ya ?" tanya Zahra heran ,karena Zahra tidak mengenal orang tersebut tiba - tiba orang itu menegur Zahra dengan nama nya.
" saya Budi non, saya di perintahkan untuk menjemput non Zahra dan mengantarkan non ke rumah sakit tempat kakek non di rawat " kata pria yang mengaku nama Budi tersebut.
" Siapa yang menyuruh bapak menjemput saya ?" tanya Zahra lagi, Zahra bingung antara mau ikut atau tidak, Karena Zahra merasa tidak mengenal orang tersebut .Tapi jika ia menunggu taxi itu akan memakan waktu lagi, sedang kan saat ini Zahra sangat ingin cepat sampai di rumah sakit.
" Nanti nona akan tahu sendiri siapa yang sudah menyuruh saya untuk menjemput nona " jawab Budi ramah sambil tersenyum sopan " non Zahra tidak usah takut , saya bisa jamin non Zahra aman Sampai tujuan " ujar Budi lagi.
Namun Zahra masih ragu untuk ikut dengan orang yang mengaku bernama Budi itu, pria menatap penuh selidik pria yang di perkirakan berusia empat puluh tahun itu.Setelah berpikir sejenak Zahra akhirnya memutuskan untuk mengikuti pria itu untuk mengantar dirinya ke rumah sakit sesuai dengan yang di katakan pria itu tadi.
__ADS_1
Dalam perjalanan Zahra tidak banyak bertanya lagi, Karena Zahra berpikir akan percuma saja bertanya , jika ujung - ujungnya bikin Zahra makan penasaran saja. dengan yang di alaminya hari ini. Saat ini Zahra lebih memilih fokus untuk menjumpai sang kakek yang ia sayangi yang sedang dirawat di rumah sakit.