
Serangakaian prosesi acara sudah selesai dilaksanakan , satu per satu para undangan sudah mulai naik ke panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin yang baru saja sah sebagai sepasang suami istri itu.
Begitu jugal hal nya dengan Zahra, Alif dan altaf.merkea juga ikut dalam antrian tersebut untuk mengucapkan ucapan selamat kepada sepasang pengantin itu.
Alif dan Altaf kompak dan sepakat untuk tetap berada di sisi Zahra, Meraka tidak mau jauh sedikit pun Zahra. menurut mereka sat ini yang penting bukanlah acara pernikahan Naira, tapi menjaga hati Zahra adalah hal yang paling penting apa lagi saat ini berada diantara keluarga toxit walaupun itu keluarga kandungnya sendiri .
Zahra ,Alif dan Altaf sudah mulai maju mendekati pengantin. mereka terlebih dahulu menyalami orang tua Rio.
" selamat ya Bu ,pak atas pernikahan kak Rio dan kak Naira, " ujar naira memberikan ucapan selamat terlebih dahulu,karena posisinya saat ini Zahra yang berada paling depan sementara Alif dan Altaf di belakangnya
Ibu Rio hanya diam dan dengan malas menyambut uluran tangan Zahra dengan acuh dan senyum mengejek dari bibirnya.
Zahra tidak menanggapi sikap orang tua Rio yang cuek seperti itu kepadanya ,bagi Zahra itu sudah biasa ia terima dari ibu Rio setiap Zahra di bawa Rio berkunjung ke rumahnya dahulu .
Alif dan Altaf menahan amarahnya melihat Zahra di perlakukan seperti itu oleh orang tua Rio,namun Alif dan Altaf memilih diam karena tidak mau membuat keributan di acara pernikahan tersebut
Zahra melanjutkan langkahnya ke arah Sepang suami istri itu, Rio menatap Zahra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, ada sedih ,rindu dan tidak percaya klau Zahra baik - baik saja tanpa ada kesedihan sedikit pun " apakah hanya aku yang mencintai kamu selama ini Ra" kata suara hati Rio. dan itu tak luput dari perhatian Zahra yang dari tadi memperhatikan Rio yang selalu menatap Zahra Naira mulai merasa kesal terhadap Rio yang seperti masih mendamba Zahra dan terlihat jelas dari cara Rio menatap Zahra saat ini
" selamat ya kak, semoga menjadi keluarga samawa ya " Zahra mengulurkan tangannya ke arah Rio untuk mengucapkan selamat sambil tersenyum manis
Rio menatap tangan Zahra bimbang, kemudian kembali menatap netra mata Zahra dalam , ingin rasanya Rio memeluk Zahra saat ini, tapi Rio masih sadar dan masih menggunakan logikanya bahwa ia tidak mungkin melakukan itu, selain ia harus menjaga hati Naira yang sudah sah jadi istrinya, Rio juga tidak mau membuat malu keluarganya.
__ADS_1
Rio menyambut ukuran tangan Zahra " makasih Ra " hanya kata itu yang sanggup Rio ucapkan
Zahra lalu beralih ke hadapan naira yang juga sedang menatapnya dengan tatapan kebencian
" selamat ya kak, semoga bagia Sampai tua " ucap Naira mengulurkan tangannya, dan di sambut malas oleh Naira
" pasti dong , aku dan Rio tidak akan terpisahkan Sampai maut memisahkan kami, aku dan Rio kan saling mencintai ,iya kan sayang " ucap Naira yakin dan hanya di balas senyum tak rela oleh Rio.
Zahra hanya tersenyum mendengar ucapan Naira tersebut .
Alif dan Altaf serasa mau muntah mendengarkan ucapan Naira yang menurut mereka sangat narsis tersebut .
Dengan ragu - ragu Zahra menghampiri orang tuanya,
" ayah ...." Zahra menyalami ayahnya dan mencium tangan itu, ada kerinduan di hati Zahra terhadap orang tuanya
ayah Zahra menyambut uluran tangan Zahra dengan wajah datarnya, tapi Alif melihat ada tatapan yang berbeda yang di rasakan Alif saat melihat ayah Zahra memandang Zahra saat Zahra mencium tangan ayah nya.entah apa tapi Alif tidak tahu, Alif hanya bisa berharap ini bakal menjadi pertanda baik ke depannya
Zahra lalu beralih ke ibunya ,ini Zahra menatap sinis kepada Zahra " dasar anak durhaka , datang bukannya pulang ke rumah sendiri malah ke rumah yang lain" omelnya pelan
ayah Zahra menatap istrinya dengan tatapan dingin dan nyalang, " kamu bisa nggak untuk tidak bikin keributan " ujar ayah Zahra terkesan dingin.
__ADS_1
ibu Zahra langsung diam mendengar teguran dari suaminya, tapi mulutnya masih komat - Kamit tidak jelas.
Zahra karena malas ribut memilih untuk pergi dari sana di ikuti oleh Alif dan Altaf.
Zahra pergi menjauh dari sana, ia tidak mau ada yang melihat nya menangis saat ini,Zahra tidak habis pikir tiga tahun setelah kepergiannya dari rumah bahkan dari kampung halaman kelahirannya berharap akan ada perubahan dari sikap ibu dan ayahnya ,tapi itu tidak akan pernah terjadi, ayah dan ibu nya masih sama seperti dulu selalu tidak menganggap keberadaan
Terkadang Zahra sering bertanya - tanya di dalam hati, apa kah dia bulan anak ayah dan ibunya ? lalu anak siapa dia? ,pertanyaan itu sering di tanya kan Zahra pada dirinya tapi , suatu ketika pernah Zahra menanyakan itu pada ayah nya, tapi bukan jawaban yang ia dapat malah makian yang ia dapat yang berakibat luka yang sangat dalam dan berbekas di hatinya sampai saat ini. semenjak kejadian itu Zahra tidak pernah lagi menanyakan hal itu pada ayah dan ibunya.
Zahra merasakan belaian lembut di kepalanya, Zahra mengangkat kepalanya siapa yang sudah mengelus kepalanya, Zahra tak mampu lagi berkata - kata, air mata itu kembali menetes di pipinya , bukan air mata sakit di tinggal Rio menikah, tapi sakit yang ia rasakan dari perlakuan orang tuanya yang masih menganggap ia tidak ada.
Alif membawa kepala Zahra ke dalam dadanya dan memeluk Zahra erat , Alif tahu betul perasaan Zahra saat ini. Alif juga sadar hari ini adalah hari yang sangat berat bagi Zahra dari hari - hari biasanya.
saat ini hanya kata sabar yang bisa Alif berikan pada Zahra, Alif juga tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membuka mata hati orang tuanya agar tidak memperlakukan Zahra seperti ini lagi. sudah banyak cara di lakukan oleh nenek,kakek ,mama dan papanya untuk membuka hati orang tua Zahra terutama ayah Zahra tapi semuanya belum ada hasilnya .
melihat Zahra yang begitu terluka dan terpuruk hari ini ,Alif berjanji akan menemui ayah Zahra lagi nantinya, dan mencoba lagi untuk membuka mata hati ayah Zahra itu.
tidak mau melihat Zahra makin terluka ,Alif memutuskan untuk membawa Zahra pulang,
Alif menghubungi orang tuanya dan menyampaikan niat nya untuk membawa Zahra pulang lebih awal ,awalnya tente cindi melarangnya, tapi setelah mendengar penjelasan dari Alif akhir nya Tante cindi mengizinkan Alif untuk membawa Zahra pulang.
Alif dengan segera menuntun Zahra ke mobil dan membawa Zahra pulang ke rumah,setelah mendapat izin dari mama nya.alif dan Zahra pulang tanpa minta izin kepada Ayah dan ibu Zahra ,karena Alif tidak mau lagi Zahra mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari ke dua orang tua tersebut.
__ADS_1