
Aziz dan Zahra sama - sama merasa grogi saat berada dalam satu ruangan berdua apa lagi dalam kamar yang di anggap ruangan pribadi setiap orang.
" Dokter mau istirahat dulu apa langsung mandi dok?" akhirnya Zahra bersuara duluan setelah sekian lama mereka sama - sama diam dan sibuk dengan pikirannya masing - masing .
" Kamu duluan aja ya, saya setelahnya, saya mau istirahat sebentar sambil menunggu koper saya di yang masih di mobil dan akan di antar ke sini." jawab Aziz lalu berjalan menuju sofa yang ada di kamar itu Aziz berniat untuk istirahat sebentar sambil menunggu kopernya datang, tadi sebelum mengikuti Zahra masuk kekamar Zahra, Alif sudah meminta tolong pada asisten untuk mengantarkan kopernya ke kamar Zahra di lantai dua rumah itu.
Zahra menganggukkan kepalanya, lalu Zahra masuk ke kamar mandi sambil membawa baju gantinya yang sudah di ambil sebelumnya..Aziz memperhatikan Zahra yang masuk ke kamar mandi.
' kok jadi deg - degan gini ya ' batin Aziz dalam hati.
Aziz menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya. Badannya terasa sangat lelah, dari pagi ia Sampai di kota ini sampai saat ini, Aziz hampir belum ada mengistirahatkan badannya. Aziz teringat lagi akan kejadian satu hari ini, Aziz tidak menyangka akan secepat ini menikah dengan Zahra.Ini berasa mimpi bagi Aziz, baru dua hari lalu Aziz mendapatkan laporan data - data hasil pencarian tentang Zahra ia dapatkan , malah hari ini ia dan Zahra sudah sah menjadi suami istri.
Memori Aziz kembali berkelana ke kejadian dua hari yang lalu , dimana saat itu setelah ia selesai melakukan visite pasien aziz kedatangan asisten pribadi nya di ruangan prakteknya .
" Bagai mana ,apa yang kamu dapatkan " setelah asistennya masuk dan duduk di depan meja kerja Aziz tanpa basa basi Aziz langsung menanyakan hasil kerja asisten pribadinya itu,
gio sang Austen sudah paham dengan apa yang di minta Aziz, lima tahun bekerja dengan aziz, gio sudah paham dengan sifat dingin dan cara kerja serta cara bicara aziz yang tanpa basa basi. Gio memberikan hasil kerjanya yang terdapat dalam amplop coklat itu ke hadapan Aziz .
" Semua yang bapak minta ada di sini pak " kata gio pada Aziz.
Aziz melihat amplop yang di berikan Rio, tanpa suara mengambil amplop tersebut dari hadapannya. Aziz mengambil isi amplop tersebut dan membaca isinya dengan serius.
Semburat senyum samar terukir di bibir tipis dan seksi milik Aziz, lalu Aziz menatap gio " kamu yakin akan valid nya data ini" tanya Aziz lagi bertanya pada gio untuk lebih meyakinkan , dan di jawab dengan anggukkan kepala yakin oleh gio.
" Saya yakin data itu valid pak " jawab gio tegas.
" ok, kamu boleh kembali ke kantor " jawab Aziz singkat dan menyuruh gio kembali ke kantornya.
Gio mengerti, langsung berdiri dan pamit pada Aziz. Setelah kepergian gio, Aziz tersenyum senang, ' aku akan segera mendapatkan kamu , aku tak menyangka kamu sudah menyembunyikannya dari ku Alif ' gumam Aziz tersenyum penuh misteri.
Aziz ketika melihat pertengkaran Zahra dengan salah satu karyawan pria yang beda unit dengannya di kantin rumah sakit waktu itu jadi penasaran dengan Zahra, dan itu adalah pertengkaran Zahra yang kedua dengan orang yang sama, pertama kali aziz melihatnya sewaktu ia sedang makan siang di restoran sebuah mall ,bedanya waktu itu pria yang berselisih dengan Zahra waktu itu bersama perempuan yang entah siapa Aziz tidak kenal.
Aziz yang sudah mulai merasa tertarik pada Zahra waktu pertama jumpa di Restoran itu , semakin tertarik dan penasaran dengan Zahra apa lagi saat ia tahu Wanita yang sudah mencuri hatinya pertama kali bertemu itu merupakan karyawan di rumah sakit yang di miliki keluarganya . Aziz ingin mendekati Zahra, saat melihat Zahra yang berdebat dengan seseorang di kantin rumah sakit itu, Aziz meminta asistennya untuk mencari tahu siapa Zahra.
Aziz tersenyum menatap data - data yang di berikan asistennya , Aziz tidak menyangka ternyata wanita yang mencuri hatinya tersebut merupakan adik sepupu dari sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Dan saat ini, wanita yang baru saja akan di dekatinya, sudah tanpa susah payah berusaha sudah menjadi istrinya, buka lagi gebetan , tapi sudah menjadi istri sah dan halal baginya.
Aziz bisa mengungkapkan kebahagian nya dengan kata - kata saat ini, ia sangat bahagia, namun Aziz tetap lah harus menutupi rasa bahagianya, karena Aziz sadar, di balik bahagianya saat ini, ada hati yang perlu di jaganya, yaitu hati sang istri yang sedang berduka setelah kehilangan orang yang sangat di sayangi oleh istrinya saat ini.
Aziz kembali teringat akan kesediaan Zahra yang mau menerima pernikahan ini, Aziz berpikir dan bertanya - tanya dalam hati, kenapa Zahra begitu mudah menerima pernikahan mereka yang tidak Zahra ketahui sebelumnya?, apakah Zahra juga punya perasaan yang sama dengan nya.
Aziz membuka matanya dan menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat karena sang istri masih berada di dalamnya untuk membersihkan diri..Aziz mendengar suara gemericik air dari dalam kamar yang menandakan Zahra yang sedang di dalam dan mandi.
Aziz menghembuskan nafas beratnya, Aziz memutus kan akan bertanya langsung nanti pada Zahra, Aziz tidak mau menduga - duga saat ini, Aziz berfikir jika akan lebih baik ia bertanya langsung akan hal itu pada Zahra nanti setelah ada waktu yang pas.
Aziz kembali memejamkan matanya, tak lama Zahra pun keluar dari dalam kamar mandi, Zahra terlihat lebih segar dari pada tadi, walaupun matanya masih bengkak akibat menangis terlalu lama.
Zahra menatap Aziz yang terlelap di sofa. Zahra ragu untuk mendekat , apakah ia akan membiarkan Aziz tidur sejenak atau membangunkan aziz Karana waktu magrib bentar lagi mau habis.
Zahra mondar mandir di depan kamar mandi, mau tak mau Zahra harus membangunkan aziz untuk bersih - bersih dan sholat magrib.
Dengan langkah kaki pelan, Zahra mendekati aziz yang masih betah duduk di sofa dengan mata yang tertutup, aziz menyadari kehadiran Zahra di depannya, Aziz memang memejamkan matanya, tapi ia tidak tidur. Walaupun begitu, Aziz tetap memejamkan matanya ,aziz ingin tahu apa yang akan di lakukan Zahra melihat nya tidur saat ini, apa kah Zahra akan membiarkan nya tidur atau akan membangunkannya .
" Dokter, waktu magrib sebentar lagi udah mau habis, sebaiknya dokter mandi dan lanjut sholat magrib" Zahra berusaha membangunkan aziz yang masih betah duduk dengan mata yang terpejam.
" Dok...." tiga kali panggilan , aziz tidak meresponnya , dengan ragu Zahra memegang bahu aziz dan menggoyangkannya pelan.
Sebenarnya Aziz sangat senang dalam hati, Zahra memilih membangunkannya dari pada membiarkan dirinya tidur saat ini .
Perlahan Aziz membuka matanya," sudah selesai mandinya ?" Aziz pura - pura bangun tidur, dan bertanya apakah Zahra sudah selesai mandi apa. belum. Zahra menganggukkan kepalanya.
" Sebaiknya dokter mandi sekarang, karena waktu magrib sudah mau habis, " ujar Zahra pada Aziz.
" Kamu udah sholat ?" bukannya berdiri mandi, aziz malah bertanya Zahra sudah sholat apa belum. Zahra menggelengkan kepalanya.
" Baru mau sholat " jawab Zahra singkat.
" kalau begitu tinggu saya, kita sholat berjamaah " ujar Aziz sambil berdiri dan menuju kamar mandi.
Tak lama terdengar ketukkan di pintu kamar Zahra, Zahra membuka pintu kamar nya yang di ketuk dari luar, ketika pintu kamar terbuka Zahra melihat pria asing yang tidak di kenalnya berdiri di depan kamarnya sambil membawa sebuah koper kecil di tangannya.
__ADS_1
" Maaf Bu,saya mau mengantarkan kopernya dokter aziz, tadi beliau minta tolong di antar ke sini Bu " belum sempat Zahra bertanya,pria itu sudah menyampaikan maksud kedatangannya pada Zahra dengan sopan.
" Oya, makasih ya pak " jawab Zahra dan mengambil koper yang di berikan pria itu.
" kalau begitu saya izin pamit dulu Bu " jawab pria itu sambil menundukkan tubuhnya sopan pada Zahra. yang di jawab anggukkan kepala oleh Zahra.
Setelah pria itu pergi , Zahra menutup pintu kamarnya lagi, dan ketika berbalik, bertepatan dengan Aziz yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebagai penutup bagian tubuhnya bagian pinggang ke bawah sehingga menampakkan roti sobek Aziz yang begitu menggoda iman, Zahra kaget dengan cepat Zahra kembali membalikkan tubuhnya membelakangi aziz.
" Itu koper aku Ra " tanya Aziz berjalan santai ke arah Zahra, karena Aziz melihat Zahra memegang kopernya dan berniat untuk mengambil koper itu dari tangan Zahra dan mengambil pakaiannya yang ada di dalam koper itu.
" iiiiya dokter " jawab Zahra gugup,Zahra sedang berperang dengan jantungnya yang tiba - tiba berdetak cepat .saat ini
' ih ini dokter Aziz kenapa pula mendekat kesini sih , bikin jantung aku tidak aman aja ' ujar Zahra dalam hati.
" boleh saya minta kopernya " ujar Aziz setalah dekat dengan Zahra, Zahra hanya menganggukkan kepalanya , dengan posisi masih belakangi Aziz Zahra memberikan koper itu pada Aziz, Aziz bingung dengan sikap Zahra yang seperti itu
" kamu kenapa Ra ?" tanya Aziz heran sambil mengambil koper di tanah zahra
" Nggak ada apa - apa dok " jawab Zahra yang masih membelakangi aziz.
" Dokter lanjut lah pakai pakaian saya siapkan tempat sholat dulu ujar Zahra lagi sambil berlalu dari hadapan aziz dengan buru - buru dan masih dengan mata yang tidak mau menatap Aziz.
Aziz dengan santai membawa kopernya ke dan meletakkannya di sofa, setalah mengambil pakaian yang di butuhkan ya yang sesuai untuk acar tahlilan nanti, Aziz lalu berlalu ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Tak lama kemudian aziz keluar dengan pakaian koko nya , aziz dan Zahra pun melaksanakan sholat berjamaah untuk pertama kalinya.
Setelah selesai sholat Zahra meraih tangan aziz dan mencium punggung tangan aziz untuk pertama kali nya, rasanya aneh bagi zahra yang tiba - tiba sholat nya di imami oleh imam yang halal bagi nya, Zahra berpikir apakah ini rasanya di imami oleh suami sendiri.
Beda hal nya dengan Aziz, Aziz merasa sangat senang bisa sholat berjamaah dengan zahra.
Ketika Zahra mencium punggung tangannya, Aziz menyentuh kepala Zahra dan membacakan doa untuk istrinya itu, kemudian Aziz mencium puncak kepala Zahra.
Zahra yang di perlakukan seperti itu seketika merasa malu , Zahra menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang memerah seketika ,aziz tersenyum melihat Zahra yang malu - malu tersebut
" kita ke bawah sekarang ya, sebentar lagi tahlilan untuk kakek akan di mulai " ujar aziz pada Zahra. dan di jawab anggukkan kepala oleh Zahra.
__ADS_1