
Zahra terbaring tenang di atas tempat tidur pasien dengan berbagai macam alat medis yang sudah terpasang di tubuhnya, setelah merasa semuanya sudah rapi dan memastikan kondisi Zahra baik - baik saja dengan alat yang terpasang saat ini, dokter trisan dan dokter Dedi meminta perawat untuk tetap memeriksa dan mengobservasi Zahra dengan ketat dan jika ada apa - apa terjadi pada zahra, kedua dokter tersebut juga berpesan agar perawat tersebut segera menghubungi mereka, setelah kedua perawat tersebut menganggukkan kepala nya tanda paham dengan instruksi yang mereka berikan, dokter trisan dan dokter Dedi izin pamit pada pak Widodo dan Aziz untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan rawatan Zahra.
Kedua dokter itu kembali keruangan masing - masing dan melanjutkan pekerjaan yang masih harus mereka selesaikan
Di Tunjuk sebagai dokter yang merawat keluarga pemilik rumah sakit, merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi dokter trisan dan dokter dedi , apa lagi keluarga pak Widodo merupakan delapan puluh persen berprofesi sebagai dokter hal ini merupakan beban yang sangat berat mereka rasakan selama mereka berkecimpung di dunia medis, dokter trisan dan dokter Dedi tidak menyangka akan dipercaya oleh pak Widodo untuk merawat menantunya itu, tapi mereka juga harus siap siaga akan kondisi tertentu yang kemungkinan terjadi, sebenarnya kedua dokter tersebut juga merasa was was dan takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi nantinya pada pasien, tapi mereka terlanjur sudah mengambil tanggung jawab tersebut, jadi mereka harus menjalankan tugas mereka sebaik - baiknya.
****
Aziz mendekati tempat tidur Zahra dengan langkah berat, pandangannya yang kabur karena air mata yang terus mengalir menatap Zahra tanpa berniat memalingkan pandangannya pada wajah cantik namun pucat itu.
Aziz mengabaikan dua orang perawat yang telah di tugaskan untuk merawat Zahra yang sedang sibuk melakukan pekerjaannya, dua perawat itu sedang sibuk memasangkan kantong darah dan menyambung kan kantong darah itu ke infus yang terpasang ditangan kanan Zahra sehingga darah yang berada di kantong darah tersebut berpindah ke dalam tubuh zahra.
Zahra masih tetap melanjutkan transfusinya karena HB nya belum mencukupi nilai normal yang seharusnya.
Aziz berdiri di sebelah kiri Zahra, karena saat ini hanya sebelah kiri Zahra yang masih bebas dari hilir mudik perawat yang bekerja, itu di sebab kan tangan sebelah kiri Zahra bebas dari infus.
Aziz menggenggam tangan Zahra erat dan membelai kepala Zahra lembut, tidak hanya itu Aziz juga tidak henti - hentinya mencium tangan Zahra dan kening Zahra, dua perawat yang merawat Zahra turut merasakan kesedihan yang tengah di rasakan oleh Aziz dan keluarganya saat ini, tidak hanya itu, kesedihan yang mereka rasakan juga karena mereka tidak tega melihat kondisi Zahra saat ini, Zahra terkenal sebagai perawat yang sangat baik dan ramah, Zahra periang dan suka membantu sesama rekan kerjanya, mereka sangat mengenal Zahra karena sama - sama berada di unit intensif Walau pun berbeda ruangan, Zahra yang mempunyai sertifikasi perawatan icu anak makanya Zahra di tugaskan di ICU anak.
walaupun berbeda ruangan, tapi mereka sangat mengenal baik Zahra. dalam hati mereka selalu mendoakan yang terbaik untuk teman sejawatnya itu.
Pak Widodo, dokter ayu dan Bu Susan mendekati Aziz yang terus menangis sambil menggenggam tangan Zahra, Aziz masih terus memanggil istri cantiknya dengan harapan istrinya akan membuka matanya, Bu Zahra mengelus pundak Aziz memberikan kekuatan pada anak laki - lakinya itu, merasakan elusan lembut di pundaknya, Aziz mengangkat kepalanya dan menatap Bu Susan dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya.
__ADS_1
Aziz membenamkan kepalanya dalam dekapan Bu Susan, Aziz menumpahkan semua kesedihan dan kepedihannya dalam pelukkan Bu Susan.
Bu Susan, pak Widodo dan dokter ayu hanya membiarkan Aziz menangis dalam pelukkan nya, pak Widodo tahu, saat ini tempat ternyaman Aziz selain Zahra adalah ibunya.
Sementara Ayu tidak henti - hentinya mengusap air matanya, dokter ayu begitu sangat menyayangi Aziz keponakannya itu merasa tidak tega melihat keponakan kesayangan nya terpuruk seperti itu, walaupun bukan keponakan dari pihak dirinya, melainkan dari pihak suaminya prof rayyan tapi dokter ayu sudah menganggap Aziz sebagai putra kandungnya, karena mereka hanya mempunyai satu anak saja yaitu Mia putri tunggal mereka.
" Sabar lah nak, Zahra sangat kuat ,mami yakin Zahra bisa kembali ke kita lagi seperti dulu, jangan seperti ini, kamu lihat lah, anak kalian aja sangat kuat seperti ibunya, masa kamu ayahnya lemah seperti ini, sebaiknya kamu banyak berdoa untuk istri dan anak kamu, mereka membutuhkan doa kamu sebagai suami dan ayah mereka " hibur bu Susan sambil mengelus bahu Aziz.
" Kenapa harus Zahra mi, tadi pagi Zahra masih baik - baik saja mi, tapi coba mami lihat sekarang, Zahra tidak mau membuka matanya mi, Zahra gak mau bicara sama Aziz lagi mi, Zahra....." Aziz tidak sanggup lagi melanjutkan kata - katanya, tenggorokannya terasa tercekat sehingga semua kata - kata yang ingin di ucapkannya menyangkut di tenggorokannya saat ini
" Kamu tidak boleh berbicara begitu nak, semua ini musibah, musibah tidak ada yang tahu, seharusnya kita masih bersyukur, Zahra dan calon anak kamu masih di sini, calon anak - anak kamu masih bersama ibu nya, dan mereka baik - baik saja bersama ibu mereka " hibur bu Susan lagi.
" Sebaiknya kamu sekarang bersihkan diri kamu, lalu makan, mami tahu kamu belum makan dari tadi siang kan " ujar Bu Susan lagi setelah merasakan tangis Aziz sedikit mulai reda.
Zahra memang di rawat di ruangan intensif, tapi Zahra tidak berada di ruangan intensif biasanya, pak Widodo sudah memerintahkan pada karyawannya untuk mengubah kamar VVIP menjadi kamar rawatan khusus untuk menantunya itu, di kamar itu mempunyai fasilitas yang sangat lengkap , selain kamar pasien juga ada kamar khusus untuk penunggu pasien.
pak widodo sengaja meminta kamar tersebut di sulap menjadi kamar rawatan intensif untuk Zahra, karena pak Widodo sangat tahu sifat anak laki - laki nya itu, Aziz pasti akan bersikeras ingin menunggui dan merawat Zahra sendiri.
jika Zahra di rawat di ruangan intensif biasa maka Aziz tidak akan bisa leluasa merawat istrinya di sana.
" Tapi kamu juga harus menjaga kesehatan kamu ziz, jika kamu seperti ini mami yakin Zahra akan marah jika ia tau." sahut Bu susan dan di anggukkan kepala oleh pak Widodo dan dokter ayu.
__ADS_1
" Tapi Aziz gak tega meninggalkan Zahra sendiri mi, nanti kalau Zahra bangun dan mencari Aziz gimana ?!" sahut Aziz masih tidak mau menerima saran pak Widodo dan bu Susan
" Kamu jangan khawatir, bukan kah tadi dokter Tristan sudah menjelaskan jika Zahra akan tertidur untuk sementara dan belum tahu kapan bisa bangun, lagi pula disini sudah ada perawat yang menjaga Zahra, dan selaman kamu pergi, biar Tante di sini yang akan menunggu Zahra sampai kamu datang " kali ini dokter ayu berusaha ikut membujuk Aziz agar mau pergi membersihkan tubuhnya dan makan terlebih dahulu, karena dari tadi siang Aziz memang belum makan sedikit pun.
Aziz menatap Zahra sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya menyetujui saran dari keluarganya, setelah di pikir ulang oleh aziz, saran keluarganya ada benarnya juga, bagai mana bisa ia menjaga Zahra jika tubuhnya tidak dalam keadaan bersih sementara Zahra di rawat harus dalam keadaan bersih dan steril.
" Nanti jika ada apa - apa dengan Zahra dan bayi Aziz tente cepat kabari Aziz ya " pesan Aziz pada dokter ayu.
" Baik lah, kamu jangan khawatir." jawab ayu
" Mami dan papi juga akan menunggu Zahra di sini, jadi kamu pergilah bersihkan diri kamu terlebih dahulu terus makan ya, biar kamu kuat menjaga Zahra dan anak - anak kamu di sini nantinya. " ujar Bu Susan dan di pertegas dengan anggukkan kepala dari pak widodo.
" Oya ziz, mengenai kecelakaan yang menimpa Zahra papi sudah minta Lukman asisten papi untuk menyelidikinya, jadi kamu jangan khawatir lagi ya " ujar pak Widodo memberi tahu Aziz jika ia sudah meminta asistennya untuk mencari tahu penyebab Zahra kecelakaan dan siapa pelaku tabrak lari itu.
" Makasih Pi, Aziz juga sudah meminta Aldo untuk menyelidikinya, Aziz tidak akan melepaskan orang yang sudah menabrak Zahra sehingga membahayakan istri dan anak - anak Aziz Pi " jawab Aziz dingin
" Bagus lah kalau begitu, semakin banyak yang mencari tahu, maka semakin banyak info yang kita dapat kan, kita akan hukum orang itu dengan hukuman yang berat, papi juga gak akan melepaskan si pelaku begitu saja, karena dia sudah membuat menantu dan calon cucu papi celaka " sahut pak Widodo setuju dengan Aziz.
" Apa keluarga Zahra sudah kamu kabari ziz ?!" pak widodo ingat besan nya yang belum ia kabari perihal kecelakaan yang menimpa Zahra
".Sudah pi, ayah dan om Adam sedang dalam perjalanan ke sini pi " jawab Aziz, pak Widodo mengangguk - anggukkan kepalanya mengerti.
__ADS_1
" baik lah Pi, Aziz ke ruangan Aziz dulu, Aziz mau bersih - bersih dulu , Zahra harus tetap steril jadi Aziz bersihkan diri dulu Pi " Aziz pamit pada pak Widodo untuk pergi mandi dan ganti baju di ruangannya.
Setalah pak Widodo menganggukkan kepalanya, Aziz pun berlalu dari sana menuju ruangannya untuk mandi dan ganti baju.