
Seorang perempuan duduk termenung menatap ke arah luar jendela, pandangannya kosong ke depan, penampilan perempuan itu terlihat sangat kurus dan seperti tidak terurus, wajah cantik dan penampilan sempurna yang selalu di tampilkan nya selama ini entah hilang kemana.
Zahra menatap perempuan itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, Aziz mengelus pundak Zahra lembut, merasakan elusan lembut di bahunya, Zahra mengangkat kepalanya menatap ke arah suaminya itu.
Dua orang perawat menghampiri perempuan itu yang tidak lain adalah Naira dan berbicara pada Naira, entah apa yang mereka bicarakan yang pasti, dari tempat mereka berdiri saat ini mereka bisa melihat Naira melirik ke arah mereka yang di tunjuk oleh salah satu perawat itu.
Naira menatap orang - orang yang berada di sana satu - persatu, saat tatapan matanya tertuju ke arah orang yang sangat di kenal dan sangat ingin ia temui saat ini, Naira menatap orang itu lama tanpa berkedip ingin memastikan pandangannya, setelah yakin Zahra yang berdiri di sana, Naira pun tersenyum senang.
Dengan pelan, Naira berdiri dari duduk nya dan berjalan perlahan mendekati Zahra, Aziz dan dokter yang merawatnya serta Anton dan Mirna berada. Di iringi oleh dua perawat tadi yang menghampiri nya.
" Zahra " Naira meraih tangan Zahra dan menggenggam tangan itu cukup kuat, Zahra seketika menjadi ragu dan takut ketika di dekati oleh Naira.
Zahra menatap Aziz dengan tatapan ragu, seakan tahu apa yang di rasakan oleh Zahra, aziz pun mendekati Zahra dan melingkarkan tangannya di bahu sang istri, seolah - oleh mengatakan semua akan baik - baik saja.
Zahra melihat Aziz menganggukkan kepalanya, Zahra kembali menguatkan hatinya untuk tujuan awalnya datang menemui Naira, Zahra ingin memastikan kondisi Naira apa benar seperti yang apa yang di katakan orang - orang selama ini, atau hanya pura - kura saja.
" Zahra maaf kan kakak Zahra, maaf Kakak sudah banyak berbuat salah pada kamu " Naira menatap Zahra sendu dengan mata yang berlinang sambil menggenggam tangan Zahra dengan kuat.
Zahra hanya diam, saat ini Zahra masih belum bisa berkata apa - apa, bayang - bayang kecelakaan yang menimpa diri nya hingga membahayakan nyawa ketiga anak nya yang masih belum lahir ke dunia kembali berputar - putar salam ingatannya.
__ADS_1
Zahra teringat kembali cerita Aziz mengenai kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan yang lalu, Zahra hanya bisa diam setelah Aziz menceritakan semua itu. Marah, benci , kecewa dan entah apa lagi yang Zahra rasakan saat itu.
Zahra tidak habis pikir dan tidak percaya , bisa - bisa nya orang yang selama ini di anggapnya sebagai saudara, tega - teganya melakukan dan merencanakan semua itu pada nya tanpa alasan yang tidak jelas.
Zahra menarik nafas dengan kasar, ia berusaha untuk tetap tenang, satu ke inginannya saat ini, Zahra ingin tahu langsung dari mulut Naira alasan Naira ingin menghabisi nyawanya dan ketiga putra yang sedang di kandungnya.
" Zahra kakak minta maaf Ra, Kakak tahun kakak sudah banyak melukai kamu selama ini, kakak belum tenang sebelum kamu memaafkan kakak Ra, kakak mohon maaf " Naira menangis cukup keras dan bersujud di kaki Zahra memohon maaf pada zahra.
Melihat Naira bersujud di kaki Zahra, Miran merasa geram dan kesal, untung nya Anton yang dari tadi memperhatikan dan selalu waspada terhadap Mirna dengan sigap menahan Mirna ketika hendak menghampiri Naira untuk menarik Naira agar berdiri.
" Jangan ikut campur, cukup berdiri di sini dan diam " bisik Anton pelan dan tegas, Mirna seketika terdiam dan dengan terpaksa mengikuti perintah Anton walau pun Mirna tidak ikhlas melihat Naira bersujud seperti itu di kaki Zahra.
" Mengapa kakak tega melakukan itu semua pada ku kak ?" tanya Zahra dingin.
" Kilaf ?! " beo Zahra " Kakak bilang kilaf ?" tanya Zahra lagi tidak habis pikir dengan ucapan Naira.
" Iya aku kilaf Ra, aku marah dan kesal saat itu, Karena Rio selalu menyebut - nyebut nama kamu dan membanding - bandingkan aku sama kamu, belum lagi demi kamu ayah tega - teganya menyiksa ibu dan menjadikan ibu babu di rumahnya sendiri." jawab Naira tersedu - sedu
" Sudah berapa kali aku bilang ke kalian, semenjak penghianatan yang kalian lakukan pada aku, aku sudah tegaskan tidak ada cinta lagi di hatiku untuk pria itu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah kembali padanya, apa kurang ucapan aku waktu itu, dan jika dia membandingkan aku dan kakak, apa kah itu salah ku?, kenapa harus aku yang kakak salahkan !!" ujar Zahra dengan suara sedikit di tinggi kan
__ADS_1
" Malah ayah yang menghukum ibu, di mana salah aku kak, aku aja tidak tahu menahu tentang semua itu " sahut Zahra lagi.
Naira hanya diam dan terus menangis sambil bersujud di kaki Zahra, Naira tidak tahu lagi bagaimana cara membela diri nya lagi, semua yang di katakan Zahra benar adanya.
" Dari kecil kak, kalian menindas aku, menghina aku, dan mencaci maki aku, aku hanya diam, aku gak pernah membalas semua perbuatan kalian ke aku kak, baik itu kakak mau pun ibu, tapi mengapa kalian masih menganggu hidup ku, aku tidak ingin kita bertengkar kak, bagai mana pun kamu kakak aku, saudari aku, tapi apa, apa yang sudah kakak lakukan, demi rasa benci kakak pada aku, kakak tega mencelakakan aku bahkan juga mencelakakan bayi yang aku kandung kak, apa salah aku dan anak aku sampai kakak tega menghabisikan nyawa mereka juga." dada Zahra naik turun menahan marah, Aziz yang berada di sampingnya berusaha menenangkan Zahra yang emosinya sedang meletup - letub meluapkan amarah.
Aziz tahu, saat ini zahra sedang meluapkan semua amarahnya yang selama ini di pendamnya, Aziz membiarkan Zahra mengungkapkan semua isi hati nya, Aziz berharap dengan cara demikian Zahra bisa tenang setelah itu.
" Maaf, maaf Zahra , aku tahu aku salah , maaf kan aku " hanya kata minta maaf yang terlontar dari bibir Naira, Naira sadar semua ucapan Naira tidak ada yang salah, untuk itu lah ia tidak mau membantah sedikitpun, kesalahannya terlalu besar pada wanita yang ada di depannya saat ini. Naira merasa malu menatap mata Zahra.
Zahra menarik nafas dengan kasar, tanpa menatap Naira Zahra berkata " Aku maaf kan kakak " Zahra menjeda ucapannya sejenak sambil kembali menarik nafas dalam dengan mata terpejam. Setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya, cukup lama Zahra terdiam.
Aziz yang berada di samping Zahra menatap istrinya menunggu kata - kata selanjutnya yang akan di ucapkan oleh istrinya itu. Aziz cemas Zahra akan mengambil keputusan yang akan mengecewakan dirinya nantinya.
" Aku maaf kan kakak " ujar Zahra lagi, " tapi maaf aku tidak bisa membantu Kakak meringankan masa hukuman Kakak, jalani masa hukuman Kakak dengan baik karena itu pantas kakak dapatkan setelah apa yang kakak lakukan , setelah ini hidup lah lebih baik ke depannya kak," sahut Zahra lagi,.
" Ra, terimakasih sudah memaafkan kakak " Jawab Naira tersenyum rasa bahagia mendapatkan kata maaf dari Naira tidak dapat ia sembunyikan, Naira sangat bersyukur Zahra mau memaafkan kesalahannya, .benar yang di katakan Zahra, ia harus menerima dan menjalani hukuman ini, karena ia memang pantas mendapatkan nya.
Zahra menatap Naira sekilas, entah mengapa hati nya masih sakit menatap Naira walau pun ia sudah me maafkan wanita itu.
__ADS_1
Zahra meraih tangan Aziz dan menggenggam tangan kuat erat, " Ayo bang, kita pergi, anak - anak Susan lama di tinggal kan " Zahra menatap Aziz dan mengajak aziz pagi, aziz pun menganggukkan kepalanya setuju.
Tanpa pamit pada Anton dan Mirna, Zahra langsung menarik tangan aziz untuk segera menjauh dari sana.