CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 129


__ADS_3

Aziz berlari kencang tanpa memperdulikan sapaan dari rekan - rekan kerja nya yang berpapasan di sepanjang koridor rumah sakit,


raut wajahnya terlihat sangat tegang, cemas dan khawatir,


Se sampainya di depan IGD Aziz tanpa permisi langsung menerobos masuk kedalam ruangan IGD tersebut.


Mata Aziz liar mencari - cari keberadaan seseorang di sana, dokter dan perawat yang menyapa tidak di hiraukan, Aziz terus mencari seseorang yang di kenalnya di sana


" Dokter Aziz, Pasien nya ada di sebelah sana dok " Seorang perawat yang tahu dan mengerti mengapa Aziz berada di UGD langsung memberitahukan di mana orang yang di cari oleh dokter sekaligus anak atasan nya itu.


Tanpa menghiraukan perawat tersebut, Aziz langsung menuju ke tempat yang di tunjuk oleh perawat tersebut.


Ternyata di sana sudah ada pak Widodo dan bu Susan bersama seorang dokter dan tidak ketinggalan prof rayyan beserta istrinya.


Aziz menatap tubuh bersimbah darah yang tampak tak berdaya di atas brankar rumah sakit tersebut, pandangannya nanar menatap wajah wanita yang sangat di cintainya itu, matanya terpejam, wanita nya tersebut tidak bergerak sama sekali, sementara dokter masih melakukan pemeriksaan terhadap pasien tersebut.


Aziz menatap nanar sosok yang tertidur di atas berangkar itu, tanpa disadarinya air matanya luruh membasahi kedua pipinya, Aziz mendekati berangkat itu pelan, kakinya terasa lemah dan tidak berdaya untuk menopang tubuh tegapnya, rasanya seperti mimpi.


Aziz baru saja menyelesaikan operasinya ketika ia mendapat telpon dari sang mami yang mengabari jika saat ini Zahra mengalami kecelakaan dan sekarang sedang menjalani pemeriksaan di ruang IGD.


Tanpa pikir panjang dan tanpa mengganti baju operasinya, Aziz langsung berlari ke IGD untuk melihat sendiri kondisi istrinya , dan sekarang Aziz sungguh tidak berdaya melihat wanita yang di cintainya itu tergeletak tak berdaya di atas brankar rumah sakit itu.

__ADS_1


Baru pagi tadi mereka saling menggoda dan dan bercanda serta saling tertawa bersama , pagi tadi mata itu masih terbuka dan memancarkan sinar kebahagiaan, bibir itu masih tersenyum dan mengoceh tiada henti, tapi kini wajah yang selalu di hiasi senyum itu menutup rapat mata indahnya, tidak ada tawa dan candaan yang keluar dari bibir tipisnya, yang ada hanya diam seribu bahasa.


Aziz tetap berusaha untuk sadar dan berpikiran normal, walaupun saat ini hatinya hancur melihat sang istri yang tengah terluka dan tak berdaya .


" Bagai mana ke adaan istri saya dok " tanya Aziz pada dokter yang memeriksa Zahra tanpa mengalihkan tatapannya pada tubuh Zahra yang masih tergeletak lemah di atas brankar itu.


" Pasien mengalami cidera berat dokter, dan dari hasil pemeriksaan CT-scan dan ronsen yang telah dilakukan di jumpai perdarahan lebih kurang empat puluh lima sese di kepala pasien dan adanya patah tulang yang cukup parah pada lengan sebelah kiri pasien dokter dan kita harus segara melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa pasien." ujar dokter yang merawat Zahra memberi penjelasan dari hasil pemeriksaannya.


Aziz merasakan tubuhnya melayang ketika dokter mengatakan akan melakukan operasi segera pada Zahra, tidak pernah terbayang kan oleh Aziz jika hal ini akan terjadi pada istrinya, jika ia lebih peka lagi akan perasaanya yang mulai tidak enak tadi pagi, mungkin Aziz akan melarang Zahra datang ke kampus hari ini sehingga ke kecelakaan itu bisa di hindari.


Tapi kuasa tuhan siapa yang bisa menolak, karena Aziz yang tidak tahu akan kegelisahannya pagi tadi sehingga kecelakaan itu tidak bisa di hindari.


" Lalu bagaimana dengan kandungannya dokter " Aziz teringat akan calon bayi kembarnya yang masih berada dalam rahim istrinya, dan menanyakan kondisi anak - anak nya pada dokter yang merawat Zahra , karena dari tadi dokter sebut tidak ada mengabari kondisi kehamilan Zahra.


" Mungkin saat kecelakaan terjadi, Bu Zahra berusaha menyelamatkan kandungannya, sehingga beliau mengalami luka yang cukup berat dan parah pada daerah kepala dan lengannya." jawab dokter lagi melanjutkan penjelasannya


" Lalu tindakan apa yang harus di lakukan saat ini dokter " Tanya pak Widodo pada dokter tersebut.


" Pasien harus segera di operasi untuk mencegah bertambahnya perdarahan , sekalian memperbaiki lengan pasien yang mengalami patah tulang dokter " jawab dokter tersebut


" Berhubung pasien juga banyak kekurangan darah akibat dari perdarahan yang di alaminya, jadi pasien juga akan mendapatkan transfusi darah untuk mengganti darah yang hilang dokter, kebetulan golongan darah pasien O positif dan kita masih punya stok darah golongan O yang cukup untuk pasien, jadi kita tidak perlu lagi khawatir dan mencari darah pendonor lagi dokter " ujar dokter itu lagi menjelaskan.

__ADS_1


" Kalau begitu tolong lakukan yang terbaik dokter untuk istri saya " sahut Aziz tanpa pikir panjang lagi, karena bagi Aziz saat ini yang penting adalah


menyelamatkan nyawa istri dan anak - anak nya.


" Baiklah dokter Aziz, kamu akan berusaha semaksimal mungkin " jawab dokter itu meyakinkan Aziz.


" Bagai mana dokter ayu, apakah bisa operasi kami lakukan?" tanya dokter itu pada dokter ayu meminta persetujuan karena dokter ayu adalah dokter yang merawat kehamilan Zahra.


" Lakukan dengan sebaik - baiknya dokter, usahakan tindakan dokter tidak mempengaruhi janin dalam kandungan.pasien " sahut dokter ayu pada dokter tesebut.


" Baik lah kalau begitu, kita akan melakukan tindakan operasi segera, dokter Aziz silahkan isi dan tandatangan formulir ini terlebih dahulu," dokter tesebut menyerahkan selembar kertas pada aziz dan meminta Aziz untuk menandatangani formulirnya .


Setelah kertas tersebut di tandatangani oleh Aziz, dokter tesebut dan team dokter yang terlibat dalam tindakan operasi Zahra berlalu dan bersiap - siap untuk melakukan tindakan operasi pada Zahra, sebelum berlalu dokter yang dipercaya menjadi pimpinan dalam operasi tersebut terlebih dulu meminta perawat untuk membawa Zahra ke ruang operasi.


" Dokter apa kah saya bisa masuk mendampingi istri saya Selama operasi " Aziz meraih tangan dokter tersebut sebelum dokter itu sempat berlalu .


Dokter bedah syaraf yang sering di panggil dokter Bima itu menatap pak Widodo, dokter Bima takut jika dokter Aziz masuk ke ruangan operasi akan menggangu jalannya operasi.


" Biar papi yang mendampingi Zahra ziz, kamu tunggu di depan kamar operasi saja bersama mami ya dan yang lain ya." pak Widodo yang berprofesi sebagai dokter syaraf memilih untuk mendampingi Zahra di dalam, sebagai dokter syaraf paling tidak pak Widodo tahu sedikit banyaknya tindakan yang akan dilakukan pada Zahra.


pak Widodo sengaja meminta Aziz tetap berada di luar, Karena sama hal nya dengan dokter Bima, pak Widodo takut Aziz akan mengganggu jalannya operasi.

__ADS_1


Dokter Bima menyetujui usulan pak Widodo, itu akan lebih baik menurut dokter Bima dari pada Aziz yang masuk keruangan opersi.


Mau tak mau Aziz yang semula kekeh mau masuk ke dalam ruangan operasi akhirnya memilih mengalah setelah Bu Susan meyakinkannya bahwa Zahra akan baik - baik saja


__ADS_2