
Seorang pria paruh baya sedang mengamuk dan marah - marah pada seorang perempuan yang penampilan nya jauh dari kata modis dan glamour seperti penampilannya di hari - hari biasanya, wajah wanita itu terlihat lelah sehingga menampakkan garis - garis ketuaan sesuai dengan umurnya yang sudah tidak muda lagi, tidak ada perhiasan mewah dan pakaian mahal yang menempel di tubuhnya, yang ada hanya lah baju tahan biasa layaknya seorang tahanan yang bertuliskan no tahanan di punggungnya. Padahal belum satu hari wanita itu berada di sana, tapi kondisinya sudah sangat menyedihkan
Wanita itu hanya diam ketika di maki - maki oleh pria di depannya itu, tidka ada terlihat rasa penyesalan di raut wajah wanita itu, yang ada raut kepuasan dari kabar yang ia dapat dari pria itu.
Sementara pria yang bernama Anton itu terlihat sangat gusar marah dan kesal menatap wanita di depan nya yang tak lain Mirna istrinya sendiri , Anton yang masih berada di luar kota langsung segera datang dan menuju kantor polisi di mana Mirna di tahan setelah mendapat telpon dari pihak kepolisian.
" Sudah berapa kali aku bilang sama kamu mir, tolong jauhi keluarga itu, cukup Naira saja yang berada di sini akibat perbuatannya yang bodoh itu, tapi kamu tidak mengindahkan permintaan aku mir, sekarang coba lihat, apa yang kamu dapatkan, setelah kamu mencelakakan anak itu, kamu malah ikut mendekam di sini, kamu sangat bo**h mir, kamu naif !!!" teriak Anton kesal pada Mirna.
" Sekarang puas kamu, akibat tingkah bodoh mu itu, Zahra harus berjuang antara hidup dan mati mir, dan kamu tahu apa artinya itu hah !!!" seru Anton lagi
" Bagus lah, aku harap mati aja dia sekalian "
" Mirna !! " Anton menatap Mirna kecewa sambil mengeleng - gelengkan kepalanya.
" Kamu tahu apa akibatnya dari perbuatan kamu itu " tanya Anton geram menatap Mirna tajam, sementara Mirna hanya diam duduk santai bersandar pada sandaran kursi dengan tangan yang di lipat di depan dada. Seakan - akan tidak pernah terjadi apa - apa.
" Aku takut pak Widodo dan aziz akan membuktikan ucapannya, mereka akan menarik semua saham mereka di perusahaan, dan kamu tahu itu artinya apa ?" tanya Anton menyapa mirna tajam, minta membalas tatapan Anton dengan tatapan biasa, " Artinya aku bangkrut mir " ujar Anton dingin.
Mirna yang tadinya memalingkan tatapan nya dari Anton kembali menatap Anton kaget, Mirna manarik tubuhnya kedepan, dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, " kamu bercanda kan Anton ? " tanya Mirna tidak percaya
Anton menggelengkan kepalanya pelan " Itu bisa saja terjadi mir, dan akibat ke perbuatan kamu, kita bakal jatuh miskin Mir, aku tidak punya apa - apa selain perusahaan itu "
" Bohong, kamu pasti bohong kan ?" tanya Mirna lagi meraih tangan Anton dan menggoyangkan tangan Anton berharap laki - laki itu berkata bohong, jujur saja, Mirna belum siap untuk hidup miskin, dengan susah payah dia bisa berada di posisi ini, hidup mewah bergelimang harta dan bergabung dengan komunitas sosialitanya. Mau di bawa kemana muka nya jika teman - teman arisan dan sosialitanya tahu kehidupannya yang jatuh miskin seperti dikatakan Anton.
" Tidak, tidak itu tidak boleh terjadi Anton " ujar Mirna panik, " Kamu harus bantu aku untuk keluar dari sini Anton, aku gak mau berada di sini " kata Mirna panik sambil menggoyang - goyangkan tangan Anton.
__ADS_1
Anton tersenyum mengejek menatap Miran yang panik meminta untuk segera di bebaskan setelah Anton mengatakan mereka akan jatuh miskin.
" Kenapa, kamu takut miskin ?!" tanya Anton mengejek Mirna, " Harus nya kamu bisa berpikir dua kali sebelum melakukan hal bodoh itu mir, dan lihat lah sekarang, lihat lah diri mu mir, gak ada lagi Mirna yang selalu berpenampilan mewah dan glamour, yang ada sekarang hanya baju tahan itu yang melekat di tubuh kamu mir, itu lah hasil yang kamu dapatkan dari perbuatan kamu itu, dan sekarang kamu meminta aku untuk membebaskan kamu, kamu pikir itu mudah !!" kata Anton lagi.
Mirna menatap dirinya dari pantulan cermin di ruangan itu, apa yang di katakan Anton benar, dia terlihat bukan lah seperti dirinya yang selalu ia banggakan selama ini. Mirna yang awalnya berpikir Anton bisa membantu nya bebas dari sana kembali menatap Anton penuh harap. Air mata ketakutan mulai mengalir di kedua pipinya
" Aku mohon Anton, tolong bantu aku keluar dari sini, aku gak mau di sini Anton, di sini begitu dingin dan lembab, juga banyak nyamuk, tidak baik untuk tubuh aku yang sudah mulai tua ini " rengek Mirna pada Anton.
" hahahahaha..." Anton tertawa menatap Mirna dengan tatapan sinis." Baru nyadar kalau kamu sudah tidak muda lagi mir ?" tanya Anton menatap Mirna sinis, " jika kamu sadar, harusnya kamu tidak akan melakukan hal yang akan merugikan diri kamu seperti sekarang mir, tapi apa?!, tanpa pikir panjang kamu sudah menghancurkan hidup kamu sendir, kamu tidak pernah mendengarkan omongan aku mir " kata Anton lagi yang Kembali memaki Mirna dengan nada suara yang tinggi.
" Kamu......"
Ddrrrr.....dddrrr.....dddrrrr....
Anton tidak jadi melanjutkan ucapannya ketika ponsel yang ia letakkan di atas meja berdering, Anton meraih ponselnya dan melihat panggilan dari siapa.
" Hallo..., ada apa dim ?" tanya Anton tanpa basa basi
" Sore pak, maaf saya menganggu waktu bapak ....."
" langsung ke pokok pembicaraan aja Dimas, ada apa ?" tanya Anton memotong ucapan Dimas sekretarisnya dan meminta langsung bicara pada pokok permasalahannya aja, walau pun apa yang akan di sampaikan oleh Dimas Anton sudah dapat menebaknya.
" Iya pak, pak Widodo dan pak aziz sudah memutuskan kerja samanya dengan perusahan kita secara sepihak pak dan pak Widodo serta pak Aziz juga menarik saham mereka yang ada di perusahaan pak dan itu mengakibatkan perubahan mengalami kerugian yang cukup sangat besar pak " ujar Dimas dari seberang sana memberi tahu dan menjelaskan pada Anton kondisi perusahan saat ini
Anton meraup wajahnya kasar, tidak ada kata yang dapat ia ucapkan lagi, apa yang di takutkan nya akhirnya terjadi juga, semua akibat perbuatan bodoh Mirna wanita yang ia nikahi tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
" Halo pak, pak apa kah anda masih di sana pak ?" Dimas yang tidak mendengar suara Anton memanggil - manggil Anton berkali - kali, bagai mana pun dimas khawatir Anton syok setelah mendengar kabar yang baru saja ia sampaikan.
Jujur saja Dimas yang belum mengetahui berita tentang Mirna, juga heran mengapa tiba - tiba pak Widodo dan Aziz memutuskan kerjasama dengan perusahaan mereka secara sepihak dan tidak hanya itu ayah dan anak itu juga telah manarik saham mereka sehingga dalam hitungan detik perusahan tempat ia berkerja langsung terancam bangkrut.
" Halo pak Anton ..." Dimas kembali memanggil Anton dari sebrang sana karena tidak kunjung mendengar suara Anton.
" Bagai mana dengan investor yang lain dim ?" tanya Anton lemah
" Ada beberapa orang yang juga sudah memutuskan kerjasama sepihak dan menarik investasi nya pak, dan ini saya masih dapat telpon dari para investor yang lain dan mencoba nego dan menjelaskan ke adaan nya pak " jawab Dimas yang sedikit lega setelah mendengar suara Anton.
" Lakukan apa yang bisa kamu lakukan semampu kamu dim, nanti saya nyusul ke kantor " ujar Anton akhirnya
" Maaf pak, kalau boleh tahu ada masalah apa ya pak, kok bisa pak Widodo dan pak aziz menarik saham mereka dan memutuskan kontrak kerja sama secara sepihak pak ?" tanya Dimas khawatir
" Ceritanya panjang dim, sekarang tolong kamu hendel dulu semua pekerjaaan di sana, sebentar lagi saya ke sana " jawab Anton tanpa berniat mejelaskan permasalahan yang sebenarnya pada Dimas.
" Baik pak " jawab Dimas singkat. Lalu Anton pun memutuskan panggilan telponnya setelah pembicaraan nya dengan Dimas selesai.
Anton menatap Mirna kecewa, " apa yang aku takutkan akhirnya terjadi mir, pak Widodo dan aziz sudah memutuskan kerjasama nya dan menarik saham mereka di perusahan, dan kamu tahu ?, sekarang perusahaan terancam bangkrut mir " kata Anton lemas.
" Anton...."
" Jangan berkata apa - apa lagi mir, tenangkan lah dirimu di sini, aku tidak bisa jamin bisa membantu kamu bebas dari sini, belajarlah dari kasus Naira, kamu lihat, Naira walau sudah mendapatkan maaf dari Zahra, apa kah bisa keluar dari sini, tidak mir, Naira tetap menjalani masa hukumannya, " ujar Anton lagi, ketika Anton mau melanjutkan ucapannya tapi tidak jadi karena penjaga tahanan datang menghampiri mereka dan mengatakan jam kunjungan sudah selesai.
" Pergi lah mir, jangan terlalu berharap untuk bisa bebas dari sini dalam waktu dekat, karena aku juga belum tentu bisa melakukannya dengan kondisi perusahaan yang seperti ini mir " kata anton sebelum berlalu meninggalkan Mirna.
__ADS_1
" Tidak Anton, kamu harus bebaskan aku dari sini Anton, aku tidak mau disini " teriak Mirna memanggil - manggil nama Anton, sementara Anton terus berjalan keluar tanpa memperdulikan teriakkan Mirna lagi, yang ada di pikirannya saat ini adalah kondisi perusahaan yang tidak baik - baik saja.