
ddddrrrrr......dddrrrr.....
Ponsel Alif bergetar dalam kantongnya , Alif meraih ponsel yang ada di dalam kantong celana.
Alif memeriksa siapa sudah menghubunginya.
" ma, aki keluar mau angkat telpon dulu ya" pamit Alif ke Tante cindi , dan di jawab Tante cindi dengan anggukkan kepalanya.
Alif lalu keluar dari kamar Zahra
" halo , bagaimana..."? setelah di luar Alif langsung mengakat ponselnya.
Alif terlihat berbicara serius dengan orang yang menghubunginya dari seberang sana
" apa ada kendala dengan sampelnya "? tanya Alif kepada orang tersebut
" berapa lama aku tahu hasilnya "? tanya Surya lagi.
" ok , aku tunggu kabar dari kamu ya " setelah itu Alif langsung memutuskan sambungan telpon itu, Alif tersenyum bahagia
" sebentar lagi Ra semua akan terungkap , kamu sabar ya Ra, Abang janji tidak akan ada lagi yang akan menindas kamu nantinya Ra " gumam Alif pelan.
kemudian Alif kembali masuk ke kamar rawat Zahra, sementara itu di dalam kamar rawat inap Zahra semua orang terlihat panik melihat Zahra tiba - tiba tubung nya menggigil hebat. Tante Zahra dan nenek terlihat sangat panik sementara kakek memencet tombol panggilan darurat.
" ada apa ini " tanya Alif kaget
" lif Zahra tiba - tiba menggigil dan badannya panas lif " ujar Tante cindi memberi tahukan kondisi indah ke Alif
Alif memeriksa indah, Alif meraba dahi indah terasa sangat panas " indah demam ma " ujar Alif pada mama nya, tak lama kemudian dokter dan perawat masuk kedalam kamar rawat indah, " permisi ,dokter ingin periksa pasien dulu ,jadi kami harap keluarga. bisa tunggu di luar dulu ," perawat meminta keluarga untuk menunggu di luar selama dokter memeriksa Zahra, kakek ,nenek dan yang lainya menuruti perintah perawat tersebut.
Alif tidak ikut keluar ,alif ikut memeriksa indah bersama dokter tersebut.
Profesi Alif yang sebagai dokter gigi, makanya Alif tidak bisa merawat Zahra dan menyerahkan perawatan Zahra di rawat oleh ahlinya.
Setengah jam kemudian dokter keluar dari kamar rawatan Zahra
" bagai mana kondisi cucu saya dokter " kakek langsung bertanya ke pasar dokter yang merawat Zahra
dokter itu tersenyum ke arah kakek, " pasien mengalami demam tinggi , ini lah yang kami khawatirkan tadi yang akan terjadi pada pasien.tapi Alhamdulillah demamnya sudah mulai turun, tadi sudah kita berikan obat diamnya "
" kapan anak saya bakal bangun dokter " kini giliran sandi yang bertanya
__ADS_1
" saya belum bisa memastikan pak, karena pasien mengalami syok yang sangat berat, bisa jadi baru besok pasien akan bangun " ujar dokter itu lagi
" apa kah sekarang kami sudah bisa melihat Zahra dokter "? tanya kakek lagi
" sudah pak, silahkan masuk , kalau begitu saya permisi dulu "
" baik dokter, terima kasih dokter " ujar Alif sambil menjabat tangan dokter tersebut
" sama - sama dokter Alif " jawab dokter tersebut . Dokter dan perawat berlalu meninggalkan ruangan rawatan Zahra.
Nenek mendekati Zahra yang masih belum sadarkan diri tapi sudah mulai tenang tidak seperti tadi lagi.Nenek membelai kepala Zahra lembut." cepat lah bangun nak, jangan buat kami cemas seperti ini " ujar nenek sambil menangis ,kakek mengusap punggung nenek lembut " sabar ma, cucu kita kuat, Zahra pasti sembuh seperti sedia kala, tadi dokter kan sudah bilang demam Zahra sudah mulai turun.kita berdoa semoga Zahra cepat sembuh ya " hibur kakek dan membawa tubuh renta itu kedalam pelukannya.
Sandi menatap Zahra khawatir , entah apa yang ada dalam pikiran pria paru baya itu sekarang ,hanya ia sendiri yang tahu.
" hari sudah larut malam, sebaiknya kakek,nenek ,mama papa dan om pulang aja untuk istirahat ,Zahra biar Alif yang jaga malam ini * ujar Alif meminta keluarganya untuk pulang agar bisa istirahat.
" biar mam saja yang jaga Zahra lif, ku pulang aja barengan kakek dan nenek" tolak Tante cindi " lagian besok pagi kamu kerja kan" kata Tante cindi lagi pada Alif
" nggak apa - apa ma,biar Alif saja, mama besok pagi kesini lagi gantikan Alif buat jaga Zahra," tolak Alif pada mama nya," dan besok Alif juga titip tolong mama bawakan baju kerja Alif sekalian " ujar Alif lagi .
" baik lah kalau begitu kami pulang dulu, besok pagi mama ke sini lagi jaga Zahra sekalian bawa titipan kamu dan sarapan buat kamu" akhirnya Tante cindi mengalah, lagi pula Tante cindi juga merasa sangat lelah sekali hari ini,mungkin jika ia pulang dan istirahat di rumah bisa memulihkan tenaganya untuk menjaga Zahra besok pagi pikir Tante cindi.
sandi terdiam melihat keluarganya satu - satu, sandi merasa sangat malu dengan diri nya, ia ayah nya Zahra tapi tidak ada berbuat apa - apa, tapi keluarganya begitu sangat perhatian dengan Zahra .
" bang aku nggak salah dengar kan "? tanya Tante cindi pada suaminya sambil berbisik pelan dan mata nya tetap memandang sandi heran, " mimpi apa sandi semalam ya bang " ujar Tante cindi lagi
" hus ... diam, nanti dia dengar jadi nggak enak dek " jawab om Adam pelan seakan + akan hanya mereka yang mendengar.
Tante cindi langsung diam.
" eehm......" kakek medehem mencairkan suasana yang sempat terasa canggung " baik lah kalau begitu ,paling tidak jika ada apa - apa dengan Zahra Alif ada yang bantu nantinya " ujar kakek memecah keheningan dan di setujui
oleh yang lain.
setelah kakek,nenek , Tante cindi dan om Adam pulang sekarang tinggal lah Alif dan sandi ayah Zahra di ruangan tersebut.
sandi mendekati Zahra dan memandang wajah Zahra yang masih nyaman dengan tidurnya dan wajah yang terlihat pucat itu dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak saat ini. yang dapat Alif lihat tangkap adalah perasaan bersalah dan menyesal
Alif dari tadi memperhatikan sandi tanpa ada niat untuk mengganggunya,Alif membiarkan sandi mendekati Zahra dan memandang Zahra sedemikian rupa.
" Zahra cantik ya om" tanya Alif, ingin memancing respon sandi tersebut dan ingin tahun isi hati pria renta tersebut.
__ADS_1
" ya cantik seperti ibunya " jawab sandi tanpa sadar.alif tersenyum mendengar ucapan jujur dari bibir pria renta itu
sadar dengan apa yang di ucapkan nya, sandi langsung bungkam dan serba salah.
lagi - lagi Alif tersenyum melihat sandi yang salah tingkah itu, " di hatimu ada rasa. cinta dan sayang seorang ayah untuk putri mu om, tapi mengapa mau memperlakukannya secara tidak adil dan tak mau tau seperti itu kepada putri mu om " kata Alif dalam hati.
" apa Alif boleh bertanya om ?" tanya sandi lagi
" apa " jawab sandi singkat dan beranjak duduk di sofa dekat sandi duduk saat ini.
" kenapa om selalu menolak keberadaan Zahra dan tidak mengacuhkan Zahra selama ini om"? tanya Alif pada sandi sambil menatap Andi serius " apa om sadar ,karena sikap om dan Tante seperti itu sudah menoreh kan luka yang begitu dalam di hati Zahra om" ujar Alif lagi
Sandi menundukkan kepalanya , air mata nya luruh seketika
" apa salah Zahra om, kok bisa tega kalian memperlakukannya seperti itu" tanya Alif lagi dengan into nasi yang sedikit ditekan.
" karena ibunya sudah mengkhianati pernikahan kami " jawab sandi marah
" apa om melihat ibu Zahra selingkuh, bukannya yang selingkuh itu om sendiri "? lagi - lagi Alif menyerang sandi dengan pertanyaan yang menyudutkan sandi.
Sandi menatap Alif tajam, " om tidak selingkuh lif, om di jebak." jawab sandi membela diri
" apa om punya bukti jual memang ibu Zahra selingkuh " tanya sandi lagi, yang di jawab gelengan kepala eh sandi
" bagai mana om bisa seyakin itu mengatakan ibu Zahra selingkuh ,sementara om sendiri tidak pernah melihatnya dan tidak mempunyai bukti perselingkuhannya " lagi - lagi Alif memojokkan sandi dengan ucapannya
Sandi terdiam dan mencerna apa yang telah di ucapkan Alif tadi
" jika pun itu terbukti, kenapa Zahra yang jadi sasarannya om, Zahra tidak tahu apa - apa, siapa ibunya saja zahra tidak tahu sampai sekarang, karena om selalu melarang kami untuk memberitahu Zahra." ujar Alif lagi yang membuat sandi tidak bisa berkutik.
" karena Zahra anak selingkuhan itu, dan karena keinginan ibunya yang tetap ingin mempertahan Zahra aku kehilangan orang yang aku cintai lif " jawab sandi marah
" om yakin Zahra bukan anak kandung om ?" tanya Alif lagi sambil memandang tajam kearah sandi , sandi hanya diam tak tau harus bicara apa
" coba tanya hati om paling dalam om, apakah betul - betul tidak ada cinta dan sayang om buat Zahra" sandi tetap bungkam sandi makin menundukkan kepalanya .
" andai aku bisa menunjukkan Zahra adalah anak om, anak kandung om apakah om bisa mencintai Zahra layaknya cinta seorang ayah kepada anaknya om "? tanya Alif lagi, sandi menatap Alif kaget
" apa maksud kamu lif "? tanya Andi pada Alif
" om tinggu aja, aku akan buktikan pada om, bahwa Zahra adalah anak om, bulan anak selingkuhan yang om tiduh kan selama ini" jawab sandi yakin.
__ADS_1
" jika aku sudah mendapatkan bukti itu nanti, aku harap om bisa memperlakukan Zahra sebagai mana mestinya perlakuan seorang ayah kandung pada anak nya nanti om" kataalif lagi lebih harap.
kemudian keduanya terdiam, keduanya larut dalam pikiran masing - masing