CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 198


__ADS_3

Zahra sudah selesai berdandan, dan sudah terlihat rapi saat pak Dadang datang menjemputnya, siang ini sesuai dengan rencana nya dengan aziz tadi malam, Zahra dan aziz akan menemui Naira di rumah rehab, setelah aziz menceritakan semua musibah yang menerimanya beberapa bulan yang lalu dan memberitahukan kondisi Naira saat ini, Zahra tidak mau lagi menunda Nunda waktu untuk bisa bertemu dengan Naira. Zahra langsung meminta Aziz untuk bisa menemaninya menemui Zahra hari ini, dan aziz menyanggupinya.


Dan siang ini setelah selesai meeting dengan klien nya, aziz langsung meminta pak dadang untuk menjemput Zahra dan mengantarnya ke kantor, Aziz berencana akan mengajak Zahra makan siang dulu baru menemani Zahra menemui Naira di tempat Naira menjalani perawatan nya saat ini.


" Non pak Dadang sudah datang dan menunggu di depan " seorang art datang memberi tahu Naira dari balik pintu kamar yang tertutup.


" Iya bi, tolong bilang pak Dadang tunggu sebentar ya bi " jawab Zahra dari dalam kamar.


"Baik non " setelah itu art pun berlalu kembali ke depan menyampaikan pesan zahra pada pak Dadang.


Zahra masuk ke kamar ketiga putra,.dan ternyata ke tiga putranya sedang tidur di temani oleh ketiga baby sitter mereka.


" Kak, Zahra titip anak - anak ya, asi untuk mereka seperti biasa sudah Zahra siapkan dalam kulkas, nanti ambil yang di sana aja ya kak, kalau ada apa - apa dengan mereka cepat kabari Zahra atau bang aziz ya kak " pesan Zahra pada ketiga baby sitter itu, ini pertama kali nya Zahra meninggalkan putranya setelah Mereka lahir, dan jujur terasa sangat berat untuk Zahra meninggalkan ke tiga putranya di rumah sementara ia dan suaminya sedang berada di luar.


" Baik bu, ibu tenang aja, si kembar pasti aman kok Bu " jawab salah satu baby sitter itu menghibur Zahra, mereka tahu Zahra sendang bimbang meninggalkan ke tiga anak - anak nya di rumah, kalau pun di bawa itu tidak lah mungkin, karena umur mereka yang masih sangat kecil tidak baik berada di luar rumah jika tidak penting - penting sekali seperti pergi imunisasi contoh nya.


Zahra menatap baby sitter itu dan tersenyum pada mereka, " O ya, di rumah juga ada mami dan papi, nanti Kakak juga bisa minta tolong mami dan papi kalau ada apa - apa dengan mereka ya kak, Zahra pamit dulu ya kak " sahut Zahra lagi dan berlalu menuju teras di mana pak Dadang menunggu nya.


Ketika melewati ruang keluarga, Zahra melihat kedua mertuanya sedang duduk bersantai di depan tv sambil menonton acara televisi,.Zahra lalu menghampiri kedua mertuanya sekalian pamit keluar sebentar.


" Mi, Pi, Zahra izin pergi ke kantor Abang dulu ya, Zahra titip anak - anak ya mi, mereka sedang tidur habis minum susu di kamar nya " sahut Zahra setelah dekat dengan mertuanya itu.


" Aziz sudah jemput sayang ?" tanya Bu Susan, Bu Susan dan pak Widodo memang sudah tahu bahwa siang ini Aziz akan membawa Zahra menemui Naira, karena aziz sudah memberi tahu mereka di saat sarapan pagi tadi.


" Bukan Abang yang jemput mi, tapi pak Dadang yang jemput, karena Abang masih ada meeting di kantor katanya "


" Iya udah, kamu hati - hati di jalannya ya sayang " pesan Bu Susan pada Zahra


" Iya mi, Zahra titip anak - anak ya mi "


" Kalau itu kalian tenang aja, mereka aman, ada mami dan papi yang akan jaga mereka, gunakan lah waktu kalian berdua sebaik - baiknya ya " jawab Bu Susan sambil mengedipkan sebelah matanya pada menantunya itu untuk menggoda zahra .

__ADS_1


" Ah mami ada - ada aja, Zahra kan pergi menemui kak Naira mi, bukan nya pergi kencan " jawab Zahra malu - malu


" Gak apa - apa sayang dan gak usah malu juga kali, sambil menyelam minum air iya gak Pi ?" jawab Bu Susan meminta dukungan dari suaminya, pak Widodo yang di tanya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Lagian , semenjak si kembar lahir, kalian belum pernah menghabiskan waktu berdua kan ?" ujar Bu Susan lagi yang di benarkan oleh Zahra, tapi hanya di dalam hati, Zahra hanya tersipu malu mendengar ucapan mertuanya itu.


" Udah nak, Jagan dengarkan mami mu, tapi mami memang benar sih, sekarang kamu pergi aja, urusan anak - anak aman,.kasihan pak Dadang sudah lama menunggu " sahut pak Widodo menengahi istrinya yang terus menggoda menantunya itu.


" Iya pi, Zahra pamit dulu ya mi, Pi " Zahra pun akhirnya merasa lega, karena bu Susan tidak menggodanya lagi, tak lupa Zahra bersalaman dan mencium punggung tangan mertuanya sebelum pergi.


" Zahra, ingat jika sudah bertemu dengan mereka nantinya, ikuti lah kata hati mu nak, kami semua mendukung mu,.papi yakin keputusan mu tidak akan membuat suami mu dan kami kecewa " pesan pak Widodo sebelum Zahra berlalu dari ruang keluarga itu.


" Iya pi, insyaallah, Zahra tidak akan mengecewakan kalian semua yang sudah menyayangi Zahra selama ini , apa lagi Abang yang begitu sangat perhatian pada zahra " pak Widodo tersenyum senang mendengar jawaban Zahra


" Pergilah, hati - hati di jalan ya nak, bilang pak Dadang bawa mobilnya jangan kencang - kencang ya " pesan pak Widodo lagi.


" Iya pi, Zahra pamit dulu ya Pi, mi " pamit Zahra lagi pada kedua mertuanya itu, pak Widodo dan bu Susan pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


********


Zahra tidak dapat membayangkan sekaya apa suaminya itu, dan bagai mana sibuknya aziz yang menjalani pekerjaan tidak hanya satu bidang, tapi ada beberapa pekerjaan sekaligus, tapi Zahra merasa bersyukur, di antara banyak nya kesibukkan suaminya itu, Aziz masih meluangkan waktunya untuk keluarga terutama untuk dirinya dan anak - anak sehingga Zahra tidak merasa kesepian.


Jika sedang berada diluar, aziz selalu menyempatkan diri untuk menghubungi nya dan anak - anak lewat telpon, dan seringnya lewat vidio call, walau cuma hanya menanyakan kabar atau sudah makan apa belum,.namun perhatian kecil dari suaminya itulah membuat Zahra merasa selalu dekat dan sekian sayang pada suaminya itu.


" Kita sudah sampai non,.mari saya antar ke ruangan bapak non " Zahra kaget dari lamunannya ketika mendengar pak Dadang memberitahu nya jika mereka sudah sampai.


" Eh, i..iya kak " jawab Zahra gugup.


Pak Dadang membuka kan pintu penumpang bagian belakang untuk Zahra, Zahra keluar dari dalam mobil,.tidak di pungkiri, dirinya sangat gugup saat ini.


" Ayo Bu, saya antar ke ruangan bapak " ujar pak Dadang mempersilahkan Zahra berjalan terlebih dahulu, Zahra menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ruangan aziz dengan bantuan petunjuk dari pak Dadang.

__ADS_1


Sesuai perintah Aziz , pak Dadang mengantarkan Zahra ke ruangan aziz dengan selamat, sepanjang perjalanan ke ruangan aziz, banyak karyawan yang memperhatikan Zahra, walau pun Zahra tidak pernah datang ke perusahaan sebelum nya dan ini kunjungan pertama Zahra keperusahaan itu, semua karyawan di perusahaan itu sudah tahu jika zahra adalah istri dari bos mereka, ada yang menatap Zahra takjub dan ada juga dengan tatapan iri.


Sejujurnya lagi - lagi Zahra merasa risih, tapi Zahra ingat siapa suaminya di perusahaan itu mencoba untuk biasa - biasa saja dan menyapa karyawan suaminya dengan ramah , pastinya dengan gaya yang elegan dan bisa disegani oleh karyawan perusahan tersebut, Zahra tidak ingin sikapnya akan membuat malu suaminya nanti di mata karyawannya.


Setelah lima belas menit berlalu,.akhirnya Zahra sampai juga di lantai dua belas dimana ruangan Aziz berada, Aldo yang melihat kedatangan Zahra bersama pak Dadang langsung berdiri menyambut kedatangan Zahra dan pak Dadang.


" Siang Bu zahra, mau bertemu pak bos ya Bu ?" tanya Aldo sopan.


" Siang pak Aldo " sapa Zahra balik


" Iya Pak Aldo, saat datang ingin menemui suami saya, pak aziz nya ada pak Aldo ?" tanya Zahra tidak kalah rumah dengan senyum yang tidak lepas dari bibir merah meronanya.


" O pak bos ada Bu, ibu masuk aja " ujar Aldo sambil menunjukkan ruangan aziz.


" Makasih pak Aldo, saya izin masuk dulu ya pak " jawab Zahra sopan


" Silahkan Bu."


" Maaf Bu, karena ibu sudah sampai di ruangan bapak, saya izin pamit kembali ke pos dulu ya Bu " pamit pak Dadang sebelum Zahra berlalu masuk keruangan aziz.


" O ya pak Dadang, makasih ya kak sudah repot - repot mengantarkan Zahra "


" Tidak repot kok Bu, sesuai pesan bapak,.saya harus mengantarkan ibu dengan selamat " jawab pak Dadang bercanda.


" Sekali lagi makasih ya pak " sahut Zahra lagi. sebelum pak Dadang berlalu kembali ke pos nya.


Tok...tok...tok.


Setelah kepergian pak Dadang, Zahra pun mengetuk pintu ruangan Aziz perlahan - lahan,.setelah mendengar sahutan dari dalam yang memintanya masuk Zahra baru mendorong pintu itu pelan dan hati - hati


Zahra melihat Aziz sendang fokus pada tumpukkan kertas di atas mejanya, Zahra terpukau melihat ketampanan aziz siang ini, ternyata penampilan suaminya terlihat lebih tampan dan gagah dengan pakaian kerja jas yang di pakai nya saat ini, dan suaminya itu semakin memukau ketika sedang serius bekerja saat ini, berbeda dengan Aziz yang ia temui sebagai dokter sehari - hari nya.

__ADS_1


Aziz yang tetap fokus dengan pekerjaannya di tahu siapa yang sudah mengetuk pintu ruangannya, karena tidak mendengarkan ada nya suara setelah ia mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangan masuk, Aziz pun mengangkat kepalanya melihat siapa yang sudah datang ke kantornya.


" Sayang...."


__ADS_2