CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 82


__ADS_3

Zahra dan Aziz sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua aziz.zahra merasa sedikit cemas, bagai mana pun ini adalah kunjungan pertama Zahra kerumah mertuanya .


Aziz dari tadi memperhatikan zahra yang terlihat gelisah.


" ada apa sayang ?" aziz bertanya mengapa Zahra gelisah.


" Bang Zahra kok jadi cemas gini ya " Tanaya Zahra sambil menatap Aziz yang berada di sampingnya sedang membawa mobil.


" camas kenapa hmm?" tanya Aziz yang masih belum paham apa maksud Zahra.


" Bang kira - kira keluarga Abang nanti terima Zahra gak ya bang " tanya Zahra sedikit ragu pada Aziz.


Aziz tersenyum merasa lucu dengan istrinya itu. " jadi kamu dari tadi gelisah karena memikirkan itu ya " ujar Aziz sambil mengusap kepala Zahra.


Zahra yang di ejek oleh Aziz menjadi kesal dan cemberut .


" ini Zahra serius loh bang " sahut Zahra kesal melihat Aziz yang masih mengolok - olok dirinya.


" hahaha ....iya - iya ,Abang percaya kok, lagian ini pertama kamu kerumah mertua kan ?" ujar Aziz yang kembali tersenyum menyebut kata mertua.


Zahra yang sudah kesal makin kesal " udah tahu masih juga di ejek " sahut Zahra kesal.


Aziz berusaha menahan tawanya ketika melihat Zahra makin kesal dan merajuk.


Aziz meraih tangan Zahra dengan satu tangannya, sedang kan tangan yang satu lagi masih memegang stir mobil.


" Kamu tenang ya sayang, g usah cemas begitu, percaya lah, tidak ada yang perlu kamu khawatir, dan ada Abang kok di samping kamu." sahut Aziz mencoba menenangkan istrinya itu.


" Zahra takut keluarga Abang nanti ada yang tidak menyukai Zahra dan menolak Zahra jadi istri Abang " jawab Zahra akhirnya menyampaikan alasan kecemasannya .


" Tidak ada yang bisa menolak gadis sebaik kamu sayang, percaya deh sama Abang, lagi pula mereka tidak ada menolak kamu, kenyataannya kamu sudah jadi istri Abang kan " ujar Aziz lagi,


Zahra tersenyum sambil menatap Aziz, mendengar ucapan Aziz padanya, walau masih ada rasa cemas tapi Zahra sudah mulai lebih tenang dari pada tadi .


" eh bang, papi sama mami Suka makan apa ya bang ?" tanya Zahra yang tiba - tiba ingin membelikan sesuatu untuk kedua mertuanya itu.


" papi dan mami sama - sama menyukai brownis, kenapa sayang ?" tanya Aziz setelah memberi tahu makanan kesukaan orang tuanya.


" bang, nanti kalau jumpa toko kue, kita mampir dulu ya bang, Zahra ingin membelikan brownies untuk mami dan papi." pinta Zahra, Aziz pun menganggukkan kepalanya setuju.


Tak jauh dari kompleks perumahan orang tuanya, ada toko kue , Aziz pun menghentikan mobilnya di sana.


" Abang tunggu di sini aja, biar Zahra sendiri yang masuk kedalam, Zahra gak lama kok bang " ujar Zahra ketika Aziz akan ikut keluar dari mobil.

__ADS_1


" Yakin kamu sendirian aja ?" tanya Aziz ragu


" Iya, gak apa - apa kok bang, kan cuma beli kue aja " jawab Zahra yakin


" Baik lah " jawab Aziz.


Aziz meraih dompet yang ada di kantong celananya, Aziz mengambil salah satu kartu miliknya dan menyerahkannya pada Zahra.


" Apa ini bang " tanya Zahra bingung ketika Aziz memberikan kartu berwarna hitam itu pada dirinya.


" Bayar pakai ini ya " jawab Aziz pada Zahra serta merah tangan Zahra dan meletakkan kartu itu ke dalam genggaman tangan Zahra.


" Gak usah bang, Zahra ada yang kok " jawab Zahra sungkan.


Aziz menghela nafas berat, ia tidak mengerti dengan istrinya ini, di saat perempuan lain merasa senang di belanjakan atau dikasih kartu yang di berikan kepada Zahra saat ini, istrinya itu malah menolaknya .


" Sayang, sekarang kamu itu adalah istri Abang, jadi Abang punya tanggung jawab untuk hidup kamu termasuk tanggung jawab juga terhadap menafkahi kamu, Abang tahu kamu punya uang, tapi itu uang kamu, sementara ini nafkah dari Abang buat kamu, kamu bisa gunakan kartu itu untuk memenuhi semua kebutuhan kamu, jadi Abang minta, mulai sekarang apa pun yang Abang berikan pada kamu jangan pernah kamu tolak, karena itu semua adalah hak abang untuk membahagiakan kamu, dan kamu punya kewajiban untuk menerimanya." jawab Aziz menjelaskan panjang lebar pada Zahra.


Zahra menatap kartu di tangannya , Zahra sangat tahu kartu apa yang telah di berikan Aziz pada nya , kartu itu hanya orang - orang tertentu saja yang bisa memilikinya, Zahra tidak pernah bermimpi bisa memiliki kartu itu, namun saat ini kartu itu ada dalam genggaman tangannya.


" Apa ini tidak berlebihan bang ?" tanya Zahra merasa tidak enak menatap Aziz dan kartu di tangannya gantian .


" Maksudnya " tanya aziz tidak mengerti


Aziz tersenyum lucu melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu, Aziz kira Zahra tetap menolak nafkah dari dirinya tidak tahunya meminta kartu yang lain yang di milikinya.


" Tidak sayang, itu nafkah Abang buat kamu, dan itu hak kamu. Abang memang punya kartu lain, tapi Abang tidak mau memberikannya, karena istri Abang tidak boleh memegang kartu biasa - biasa saja." jawab Aziz sambil mengelus pipi Zahra.


Zahra cemberut dan memanyunkan bibirnya setelah Aziz berkata berlebihan seperti itu.


" jangan cemberut, dan tolong bibirnya di jaga, Abang gak bisa menahan diri jika bibirnya kamu majukan begitu sayang " ujar Aziz sambil mengelus bibir Zahra yang manyun itu.


" Isss...Abang omes deh " ujar Zahra kesal.


Aziz tertawa lebar melihat istrinya yang kesal ulah ke usilannya.


" udah ah, Zahra turun dulu ,Abang tunggu di sini aja " jawab Zahra sambil menggenggam kartu di tangannya setelah menatap kartu itu sebentar, lalu Zahra membuka pintu mobil.


" jangan lama - lama ya sayang, Abang gak bisa lama - lama jauh dari kamu.bawaannya selalu kangen " sahut Aziz sebelum Zahra keluar dari dalam mobil.


" Dasar lebay" cibir Zahra ,Aziz tertawa lagi senang,.aziz sangat suka menggoda istrinya itu, menurut Aziz Zahra terlihat lucu bila sudah kesal.


Setelah bicara seperti itu Zahra langsung keluar dari mobil dan masuk ke toko kue tersebut.

__ADS_1


Zahra mencari kue kesukaan mertuanya setelah ditemukannya Zahra memesan kue tersebut dua kotak, tidak hanya itu, Zahra juga memilih beberapa roti lainnya juga.


setelah pesanannya siap di bungkus Zahra pun melakukan pembayaran dengan kartu yang di berikan suaminya tadi.


Kasir toko tersebut sedikit kaget ketika Zahra menyerahkan kartu hitam itu kepadanya untuk transaksi, ia merasa tidak yakin orang yang berpenampilan sederhana seperti Zahra memiliki kartu ajaib itu.


Zahra merasa risih ketika petugas kasir menatapnya seperti itu, Zahra ingin cepat - cepat pergi dari sana.


Setelah melakukan transaksi dan mengambil kembali kartunya, Zahra segera berlalu dari toko itu sambil membawa belanjaannya.


Zahra sangat kesal dengan petugas kasir yang sangat kepo menurut Zahra.


sesampainya di mobil Zahra membuka pintu mobil dan di bantu Aziz Zahra meletakkan belanjaannya di kursi penumpang bagian belakang.


" Udah semua sayang " tanya Aziz sebelum menjalankan mobilnya.


" udah bang " jawab Zahra singkat sambil memasangkan safety belt di tubuhnya.


" Kartunnya bang" Zahra menyerahkan kartu yang tadi di berikan Aziz padanya kepada Aziz.


Aziz yang hendak menjalankan mobilnya jadi batal, Aziz.menghela nafas berat menatap Zahra yang menatapnya tanpa berdosa .


" Kan tadi Abang udah bilang, kartu itu milik kamu, kamu bebas menggunakannya untuk apa saja termasuk untuk bayar kuliah kamu , itu nafkah dari Abang buat kamu sayang.jadi tolong kamu simpan ya " jawab Aziz pelan ,sebenarnya Aziz sedikit kesal dengan istrinya itu , tapi Aziz menahan kesalnya karena ia tidak mau istrinya sedih.


" nanti Abang Jagan marah ya kalau Zahra menghabiskan semua uang Abang yang ada di kartu ini, Zahra orangnya boros loh bang " sahut Zahra sambil memasukkan kartu itu kedalam dompetnya menyatu dengan katun- kartunya yang lain.


Aziz yang awalnya kesal dengan istrinya menjadi tertawa terpingkal - pingkal ,seketika rasa kesal nya pada sang istri meluap begitu saja mendengar ucapan istrinya itu.


" Habiskan lah sayang, yang ada kamu yang akan kewalahan menghabiskannya nanti " jawab Aziz sambil tertawa dan mulai menjalankan mobilnya pelan.


" Malahan Abang senang jika kamu melakukan itu " sahut Aziz lagi sambil menatap Zahra sekilas sambil tersenyum.


" Benar ya, awas kalau Abang marah nanti " ancam Zahra,.Aziz kembali tersenyum sambil membelai kepala istrinya yang tertutup hijab itu


" jika kamu habiskan, maka Abang akan bekerja lebih keras lagi agar kartu itu kembali penuh sehingga kamu bisa menguras isinya lagi " jawab Aziz sambil mengedipkan matanya pada Zahra.


" Abang kerja nyari uang, semua untuk kamu sayang , jadi kamu jangan takut jika uang di dalam kartu itu akan habis jika kamu pakai." kata aziz lagi sambil tersenyum.


Zahra merasa terharu mendengar ucapan aziz.zahra balas menggenggam tangan Aziz yang sedang menggenggam tangannya


" makasih ya bang " kata Zahra dengan mata berkaca - kaca terharu .


Aziz hanya menganggukkan kepalanya sambil mengeratkan genggamannya di tangan Zahra, sedang kan satu lagi memegang stri mobil.

__ADS_1


Andai saja ia tidak sedang membawa mobil saat ini, mungkin Aziz sudah memeluk istrinya itu.


__ADS_2