
Menjelang siang Aziz dan Zahra sudah sampai di kediaman pak Widodo dan bu Susan atau lebih tepatnya kediaman orang tua Aziz.
Karena saking rindunya pada ke tiga putranya, Zahra langsung keluar dari dalam mobil sebelum mesin mobil di matikan, dengan tidak sabar, Zahra langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Aziz yang melihat Zahra kelua mobil buru dan langsung berlari masuk kedalam rumah kaget, setengah berteriak Aziz meminta Zahra untuk hati - hati dan jangan berlari, .
" Sayang, Jagan buru - buru dan lari - lari begitu nanti jatuh " teriak Aziz menatap Zahra yang sudah berlari masuk ke dalam rumah, tapi seruan aziz tidka di indahkan oleh Zahra, Zahra terus berlari masuk kedalam rumah, Aziz geleng - geleng kepala melihat tingkah istrinya yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ketiga jagoannya.
" Kenapa aku merasa di duakan ya ?" gumam Aziz sambil mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil.
" Baru di ajak pergi berdua sehari sudah seperti ini, bagai mana jika aku ajak pergi berhari - hari tanpa anak - anak ya ?" gumam Aziz lagi sambil masuk kedalam rumah menyusul Zahra yang sudah masuk duluan.
Di dalam rumah, Zahra menjumpai keadaan rumah sepi, entah pergi kemana semua penghuninya, namun Zahra tidak menghiraukannya, karena rasa rindunya pada ketiga putra nya lebih besar dari rasa ingin tahunya kemana perginya penghuni rumah besar itu. Setengah berlari Zahra langsung berlari naik ke lantai dua di mana kamar ketiga putra nya berada Zahra mencari ketiga putranya di sana dengan harapan ketiganya ada di kamar itu, karena kalau siang begini pasti ketiganya sedang berada di kamar mereka untuk tidur siang.
Zahra membuka pintu kamar si kembar pelan, senyum bahagia meyambut ketiga putranya terukir di bibir nya, namun seketika senyum itu meredup begitu saja ketika pintu kamar itu terbuka dengan lebar, Zahra menjumpai kamar itu kosong dan tidak ada seorang pun di dalam kamar itu di temui nya.
Zahra mulai panik, dengan gugup Zahra langsung mengetuk pintu kamar baby sitter si kembar yang berada di samping kamar si kembar , Zahra berpikir siapa tahu ketiga anak nya di bawa oleh baby sitter untuk tidur di sana.
tok..... Tok......tok......
" Kak...kak..." Zahra mengetuk pintu itu berkali - kali sambil memanggil baby sitter si kembar, tapi sudah berkali kali di ketuk dan memanggil - manggil baby sitter nya si kembar tidak ada jawaban dari ketiga baby sister itu.
Aziz yang baru sampai di lantai dua menatap Zahra panik dan mengetuk - ngetuk kamar baby sitter si kembar bingung, Azizi mendekati Zahra yang kelihatan panik sambil menggedor kamar baby sitter yang tidak kunjung terbuka, dan bertanya ada apa pada Zahra.
" Sayang, mengapa di sini ?" tanya Aziz bingung menatap Zahra yang tengah panik dengan mata yang berkaca - kaca.
" Adek mengapa mengetuk pintu baby sitter si kembar ?, trus kenapa pintunya yang di buka - buka ?, anak - anak kemana ?" tanya Aziz lagi bertanya begitu banyak pertanyaan pada Zahra, dan semua pertanyaan aziz tidak ada satu pun yang Isa di jawab oleh zahra selain air mata yang tadi mengenang jatuh membasahi pipi mulus Zahra.
" Adek kenapa sayang ?" tanya Aziz bingung.
" Abang anak - anak gak ada bag " sahut zahra dengan suara tersendat - sendat karena tangisannya yang sudah pecah.
__ADS_1
" Anak - anak gak ada maksud nya apa sayang," tanya Aziz masih bingung dengan ucapan Zahra.
Zahra tidak bisa bicara apa - apa, pikirannya kalut dan cemas, Aziz memegang bahu zahra dan menarik tubuh Zahra ke arah nya dan memeluk tubuh zahra untuk memberikan ketenangan. Aziz merasakan tubuh Zahra gemetar dan tangis Zahra semakin pecah dalam pelukkan nya, Aziz mengelus punggung Zahra lembut.
" Adek coba tenang ya, kasih tahu Abang apa yang terjadi " sahut aziz pelan sambil menenangkan Zahra yang sedang menangis dalam dekapannya.
".Anak - anak gak ada di kamar nya Abang, Zahra sudah mencari dan panggil baby sitter nya berkali - kali tapi tidak ada yang menyahut dan membuka kan pintu kamar mereka " jawab Zahra yang masih terisak menatap Aziz.
Aziz melepaskan pelukannya pada tubuh Zahra, Karana penasaran dengan apa yang di bilang istrinya, Aziz melangkah kekamar putranya dan membuka pintu itu ternyata kamar putra nya kosong seperti apa yang di katakan Zahra, lalu Aziz mendekati pintu kamar baby sitter si kembar dan mengetuk kamar itu berkali - kali, namun tidak ada jawaban, karena penasaran aziz pun meraih handle pintu kamar itu, ternyata kamar itu tidak di kunci, Aziz pun membuka kamar itu melihat isi kamar tersebut, ternyata kamar baby sitter si kembar juga kosong.
" Bagai mana bang " Tanya Zahra menghampiri Aziz dan ikut melihat ke dalam kamar yang pintunya sudah terbuka tersebut, seketika tangis Zahra pecah semakin kuat, aziz meraih tubuh Zahra dan memeluknya erat, sebenarnya aziz juga panik, tapi Aziz tidak mau memperlihatkan nya pada Zahra, aziz takut Zahra makin panik.
Sambil memeluk tubuh istrinya Aziz mencoba untuk berpikir jernih, aziz kembali teringat saat melewati ruang tamu dan ruang keluarga Aziz memang tidak ada menemui siapa - siapa si sana, dari awal Aziz masuk rumah terlihat sepi.
Aziz meraih ponselnya dan menghubungi seseorang melalui ponselnya itu. Nada sambung terdengar berbunyi dari ponselnya, tapi belum ada tanda - tanda di jawab.
Aziz kembali mencoba menghubungi orang tersebut dengan posisi Zahra yang masih menangis berada dalam pelukannya.
Sementara itu di sebuah rumah sakit, Bu Susan, kak Widodo beserta tiga babysister dan ketiga cucu mereka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dokter.
Bu Susan meraih ponsel nya yang berada dalam tas branded yang di bawanya, Bu Susan melihat siapa yang sudah menghubungi nya tiada henti dari tadi.
" Siapa mi ?" tanya pak Widodo yang berada di samping Bu Susan,
" Aziz Pi ".jawab Bu Susan bingung mengapa aziz menghubungi nya berkali - kaki dari tadi. namun ketika Bu Susan ingin mengangkat ponselnya, panggilan itu pun berakhir tanpa sempat di jawab.
" Kenapa tidak di jawab mi " tanya pak Widodo melihat istrinya tidak kunjung mengangkat panggilan telpon dari putranya.
" Keburu mati Pi, " jawab Bu Susan yang masih menatap ponselnya, Bu Susan melihat layar di ponselnya ,telihat ada lima belas panggilan tidak terjawab dari aziz.
" kenapa Aziz menelpon mami sebanyak ini ya Pi ?" tanya Bu Susan bingung sambil menatap suaminya bingung.
__ADS_1
" Coba di telpon ulang lagi mi, siapa tahu penting " jawab pak Widodo meminta bu Susan untuk menghubungi ulang putra nya itu.
" Iya Pi " jawab Bu Susan, namun sebelum Bu Susan menghubungi ulang anak nya itu, ponselnya kembali berbunyi dan itu panggilan dari Aziz lagi,.Bu Susan langsung mengangkat ponselnya dengan cekat takut jika tidak cepat di angkat akan terputus lagi seperti tadi.
" assalammualaikum ziz " sapa Bu Susan
" waalaikumsalam, mi mami ada dimana ? Aziz dan Zahra pulang rumah kok sepi mi, anak - anak dan baby sitter nya juga gak ada di rumah mi " tanya aziz langsung memberondong bu Susan dengan banyak pertanyaan, terdengar nada cemas dan panik dari suara Aziz.
" Mami, papi dan ketiga cucu mami beserta baby sitter mereka sedang berada di rumah sakit nak " jawab Bu Susan, ke kening Bu Susan mengerut ketika mendengar suara Zahra menangis.
" Mengapa mami dan papi ke rumah sakit ?,.siapa yang sakit mi ? kok si kembar di bawa mi ?" tanaya aziz yang mulia cemas.
" Kamu kenapa panik nak, itu zahra menangis kenapa ?" bukannya menjawab pertanyaan Aziz, Bu Susan balik bertanya pada aziz mengapa Zahra menangis
" Mi, mami belum jawab pertanyaan aziz " jawab Aziz sedikit kesal " mami sama papi ada perlu apa kerumah sakit ?, kenapa anak - anak di bawa mi ?" tanya aziz lagi mengulangi pertanyaan yang belum di jawab oleh Bu Susan.
" Tidak ada yang sakit nak, kami datang ke rumah sakit karena ingin membawa si kembar kontrol ulang, tadi mami dapat telpon dari rumah sakit, hari ini jadwalnya si kembar kontrol " jawab Bu Susan
" Astaghfirullah, iya mi, Aziz lupa " jawab Aziz di seberang sana " sekarang mami dan yang lainya masih di rumah sakit ?, Aziz dan zahra menyusul ke sana aja ya mi "
" Gak usah ziz, kami sudah mau pulang, kalian tunggu di rumah saja " jawab Bu Susan yang melarang Aziz menyusul ke rumah sakit karena mereka juga sudah mau pulang.
" Itu Zahra mengapa menangis bak ?" tanya Bu Susan cemas
" Cerita nya panjang mi, nanti kalau mami sudah sampai rumah Aziz ceritakan "
" Baik lah, mami tutup telponnya dulu ya, ini kami sudah mau jalan pulang, Assalammualaikum "
" Baik lah mi, waalaikumsalam " jawab Aziz akhirnya panggilan telepon itu berakhir.
" Kenapa aziz telpon mi, dan trus Zahra menangis kenapa ?" tanya pak Widodo pada bu Susan
__ADS_1
" Aziz menanyakan si kembar Pi, tapi mengapa Zahra menangis mami juga belum tahu, katanya nanti di ceritakan setelah sampai rumah " jawab Bu Susan
" Kalau begitu ayo kita langsung pulang mi, takut ada apa - apa sama zahra " ujar pak Widodo mengajak Bu Susan dan ketiga cucu serta baby sitter si kembar pulang .