
Anton dan Rio masih berada di cafe di rooftop rumah sakit dimana Naira dan Zahra di rawat dan masih di ruangan yang sama di mana mereka tadi janjian bertemu dengan Aziz dan sandi, kedua pria beda usia itu sama - sama dan larut dengan pemikiran mereka masing - masing.
Rio menghela nafas berat, ia sudah menduga sebelumnya ini akan bakal sia - sia, memang ide untuk mengajak bertemu dan berbicara dengan Aziz dan sandi adalah idenya, walau ada keraguan di hati Rio saat itu, Rio berpikir apa salah nya di coba terlebih dahulu siapa tahu atas pertimbangan hubungan saudara antara Zahra dan Naira Aziz dan sandi akan mau berdamai, dan keraguan Rio dan Anton sudah terbukti saat ini, Aziz dan sandi tetap bersikeras untuk membawa kasus ini ke pihak berwajib dan menolak untuk berdamai.
Hhhh...
Rio menarik nafas dalam dan membuangnya kasar, mungkin ini jalan terbaik untuk Naira, seperti yang dikata kan oleh sandi tadi, Naira tidak akan pernah berubah jika tidak di beri pelajaran, peringatan bagi Naira hanya akan percuma saja.
" Seperti nya ini memang harus di selesaikan secara hukum om " Rio terlihat lesu menatap Anton yang juga menatap dirinya.
" Benar apa yang di bilang ayah tadi, Naira tidak akan jera jika tidak di beri hukuman, karena kebencian Naira pada Zahra sudah mendarah daging yang tidak tahu apa penyebabnya " ujar Rio lagi
" Kamu benar Rio, sepertinya ini memang harus di selesaikan secara hukum " Jawab sandi menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan sandi barusan
" Aku menyesal sudah meninggalkan Mirna begitu saja waktu itu, andai aku tahu ia sedang mengandung anak ku waktu itu, aku tidak akan meninggalkannya Rio, aku tidak menyangka di bawah asuhan Mirna, putriku bisa mempunyai sifat seperti ini " sesal Anton menyampaikan penyesalannya pada Rio, Rio hanya mendengarkan keluhan Anton, karena ia juga tidak tahu harus berbuat dan berkata apa.
Rio juga mengakui sifat Naira sangat arogan karena itu lah Rio lebih memilih mencintai Zahra dan menjadikan Zahra sebagai kekasihnya waktu itu karena Zahra selain berparas cantik juga mempunyai hati yang lembut dan baik.
Sebenar nya Rio tahu waktu di sekolah dulu Naira yang duluan mencintainya, dan Rio juga pernah tertarik dengan Naira karena Naira salah satu siswa yang cantik dan populer waktu itu, tapi melihat sifat Naira yang pemarah dan arogan, Rio jadi berpikir ulang untuk mencintai Naira, sampai akhirnya di tahun berikutnya Zahra masuk ke sekolah yang sama dengan dirinya dan Naira, melihat Zahra berbeda dengan Naira, akhirnya Rio pun mencoba mendekati Zahra, walau butuh perjuangan akhirnya Rio mendapatkan cinta Zahra akhirnya.
__ADS_1
" Yang aku pikirkan saat ini, bagai mana hancurnya Naira nantinya ketika ia harus menjalani hukuman ini, apa lagi ia baru saja sembuh dan siap lahiran, belum lagi aku memikirkan nasib anak kalian yang masih dalam perawatan intensif di Nicu " sahut Anton sedih. Rio terkaget dari lamunan masa lalunya ketika mendengar Anton Kemabli berbicara, Rio menatap Anton yang juga sedang menatap ke arah nya.
" Tapi jujur, aku juga bersyukur, pak Widodo dan aziz tidak memutuskan kerja sama kami, padahal mereka tahu Naira putri ku, bukan putri sandi " ujar Anton lagi sedikit merasa lega, apa yang ia takutkan tidak terjadi, karena pak Widodo dan Aziz tetap mau melanjutkan kerjasama mereka, itu artinya perusahaannya aman untuk saat ini.
" Ya om, karena itu lah, aku merasa sungkan juga pada keluarga mereka, jadi menurut aku biarlah Naira mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, itu yang terbaik buat Naira saat ini om " sahut Rio dan di jawab dengan anggukkan kepala dari Anton
" Sekarang bagai mana cara memberi tahu Naira dan ibu om ? " tanya Rio bingung, karena sampai saat ini Naira belum tahu kalau aksinya sudah di ketahui dan di laporkan ke pihak berwajib oleh Aziz.
Anton terdiam sesaat, memikirkan ucapan Rio.
" Bukan hanya itu Rio, sepertinya Naira juga harus tahu siapa aku sebenarnya, seperti yang di katakan sandi tadi, Naira harus tahu siapa ayahnya, Naira pasti akan membenci sandi jika tahu sandi mendukung Aziz melaporkan dirinya, untuk itu agar ia tidak membenci sandi, aku akan memberi pengertian pada naira, cukup sudah ia menyimpan kebencian pada orang yang sudah merawatnya tanpa alasan, untuk itu ia harus tahu aku adalah ayah nya " ujar Anton lagi.
" Sebaiknya kita kembali sekarang, sebelum Naira tidur, jadi kita bisa menyampaikan hal ini padanya " Anton mengajak Rio untuk kembali kekamar rawatan Naira, Anton sudah bertekad akan jujur pada Naira dan memberi tahu Naira, bahwa ia adalah ayah kandungnya, Anton tidak mau lagi menunda semua ini, karena besok Naira sudah di izinkan pulang dan sudah pasti, Naira bukan pulang kerumah, melainkan ke kantor polisi untuk proses hukuman dari apa yang sudah di perbuat nya pada Zahra .
*****
Setelah urusannya selesai dengan Rio dan Anton, sandi dan aziz kembali ke kamar rawatan Zahra, Aziz membuka pintu kamar itu dan langsung masuk bersama sandi.
Sandi memilih duduk di sofa sambil membuka ponselnya karena ada beberapa pekerjaan dan email yang dikirim asistennya yang harus ia kerjakan, sedangkan Aziz langsung mendekati istrinya dan memeriksa kondisi Zahra sebentar seperti biasanya sebelum mengajak Zahra berbicara sebelum tidur.
__ADS_1
Aziz duduk di kursi yang di sedia kan di samping tempat tidur Zahra, Aziz membelai wajah cantik istrinya, sesekali Aziz mencium tangan Zahra yang berada dalam genggamannya.
" Sayang, ini sudah hampir seminggu lebih kamu tidur seperti ini, Abang rindu kamu sayang, bangun lah, apa kamu tidak merindukan Abang seperti Abang yang merindukan kamu sayang " Aziz kembali mencium tangan Zahra dan membelai wajah Zahra lembut.
Ia sangat merindukan istrinya, sudah hampir seminggu Aziz tidak mendengar suara istrinya itu.
Aziz mengerutkan keningnya ketika tangannya merasakan sesuatu mengalir dari mata Zahra, Aziz mengamati cairan yang menetes membasahi pipi istrinya, Zahra menangis , Aziz merasa senang, berarti Zahra sudah mulai merespon suaranya.
" Sayang kamu mendengar suara Abang ?! " tanya Aziz bahagia
" Kamu menangis sayang ?! " ujar aziz lagi sambil terus memperhatikan wajah istrinya itu
Aziz terus mengajak Zahra berbicara, aziz berharap dengan sering mengajak Zahra berbicara akan mempercepat kesembuhan zahra, apa lagi ketika melihat respon Zahra yang mulai mengeluarkan air matanya ketika ia mengajaknya berbicara tadi.
Sementara itu sandi yang tidak sengaja mendengar Aziz berkata Zahra menangis, sandi menghentikan pekerjaannya dan berdiri menghampiri Aziz dan Zahra, sandi ingin melihat dan mematikan apa yang dikatakan oleh Aziz tadi.
Sandi melihat ada air mata mengalir di pipi putrinya itu, sandi ikut senang dengan respon yang telah di berikan oleh putrinya, walau pun respon nya sangat kecil, tapi itu sudah suatu kemajuan.
" Sayang, putri ayah Bagun lah nak, kami semua sangat merindukan kamu sayang " sandi yang berdiri di samping kanan Zahra juga ikut mengajak Zahra berbicara.
__ADS_1
Dan lagi - lagi zahra mengeluarkan air matanya merespon suara dari sandi.