CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 127


__ADS_3

Setalah sholat subuh Zahra langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Pagi ini Aziz harus berangkat cepat ke rumah sakit karena ada tindakan operasi yang tidak terjadwal harus di lakukan, sebenarnya operasi pasien itu sudah di jadwalkan dua hari lagi, tapi karena kondisi pasien yang terus mengalami penurunan, makanya operasi pasiennya tersebut terpaksa harus dilakukan pagi ini.


Zahra membuka kulkas dan melihat isinya, Zahra sedang berpikir sarapan apa yang dapat di buatnya, sarapan yang tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama karena Aziz harus berangkat sebentar lagi.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya pilihan Zahra jatuh pada memasak nasi goreng saja, Zahra mengambil bahan - bahan nasi goreng di dalam kulkas, dengan cekatan Zahra mulai memotong dan menyiapkan bahan - bahan tersebut, Zahra memasak dengan sangat cekatan dan cepat.


Aziz yang sedang bersiap - siap untuk berangkat, mempercepat gerakannya ketika Indra penciumannya mencium wangi masakan yang di buat Zahra dari dapur.


Setelah di rasa siap dan rapi aziz menarik langkahnya menuju dapur di mana Zahra sedang menyiapkan sarapan untuk nya,


Di pintu masuk antara ruang keluarga dan dapur Aziz berhenti sejenak, ia menatap Zahra yang sedang bergerak ke sana kemari dengan lincah menyiapkan sarapan.


Zahra sedikitpun tidak merasa terganggu dengan kehamilannya, biasanya ibu yang tengah hamil muda sangat sulit untuk bersahabat dengan bau dapur, tapi itu tidak berlaku untuk Zahra .


Selama hamil Zahra jarang mengeluh, ia akan selalu aktif bergerak tanpa ada mengeluh sama sekali, justru Aziz lah yang selalu merasa khawatir dengan kondisi istrinya itu, Aziz sudah berulang kali menawari Zahra untuk memakai jasa ART tapi Zahra selalu menolak dengan alasan ia masih bisa melakukannya sendir. akhirnya Aziz memutuskan akan memakai jasa pembersih apartemen saja, jadi Setipa hari akan ada petugas apartemen yang datang membersihkan apartemen nya sekali sehari.


Aziz tidak habis pikir dengan istrinya itu, padahal Zahra bukanlah dari keluarga yang tidak berada, Zahra juga terlahir dari keluarga yang berada walau pun kekayaan keluarga Zahra tidak seperti keluarganya dan di rumahnya Zahra juga menggunakan jasa ART tapi zahra tumbuh menjadi gadis mandiri dan tidak manja seperti gadis - gadis kebanyakkan yang apa - apa selalu mengandalkan ART.


Zahra menghapus keringat di keningnya menggunakan tissue yang ada di sana, semua gerakan Zahra tidak luput dari pengamatan Aziz, dengan pelan aziz mendekati Zahra dan melingkarkan tangannya memeluk sang istri dari belakang tidak hanya itu aziz juga memberikan kecupan pada puncak kepala Zahra yang tidak tertutup hijab itu, memang semenjak menikah jika di dalam rumah dan hanya ada mereka berdua saja Zahra akan membuka hijabnya.


Zahra kaget ketika merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan mengecup puncak kepalanya , tanpa di tanya, Zahra sudah tahu siapa pelakunya, siapa lagi jika bukan suami bucin nya itu dari wangi parfum nya saja ,Zahra sudah bisa menebak jika itu adalah Aziz.


" Abang sudah selesai bersiap - siap nya ? " tanya Zahra tanpa memalingkan kepalanya pada Aziz yang tengah memeluk tubuh nya dari belakang.

__ADS_1


Karena saat ini Zahra sedang sibuk memindahkan nasi goreng buatannya ke dalam piring dan siap di jadikan di atas meja.


" Sudah, sepertinya enak nih sayang " Aziz menghirup bau nasi goreng yang ada dalam piring di tangan Zahra tanpa melepaskan pelukannya di perut istrinya.


" Abang jadi gak sabar ingin mencobanya sayang " Aziz mengecup pipi Zahra lembut.


" Kalau gitu Abang lepas kan dulu pelukkan ya lalu duduk manis di meja makan sambil menunggu Zahra siapkan semua sarapan ini ya, lalu kita bisa sarapan bersama " sahut Zahra dan meminta Aziz untuk melepaskan pelukannya.


" Baik lah nyonya, dengan senang hati " ujar Aziz seraya melepaskan pelukannya di tubuh istrinya itu


Cup


Sebelum berlalu Aziz menyempatkan mencuri ciuman di bibir istrinya itu, Zahra tersenyum dan geleng - geleng kepala melihat tingkah suaminya itu.


Setelah selesai sarapan, Zahra mengumpulkan piring kotor yang siap mereka pakai untuk sarapan tadi dan menaruhnya ke wastafel dekat dapur. Zahra meninggalkan piring kotornya di sana , dan akan di cuci nanti saja setelah ia menemani Aziz duduk di meja makan sambil menghabiskan kopi buatannya.


" Bang nanti jam sepuluh Zahra izin ya mau ke kampus mengantar syarat - syarat wisuda dan mengambil perlengkapan untuk wisuda nanti.


" Bisa siang gak sayang, kalau jam sepuluh Abang gak bisa antar kamu , karena jam sepuluh Abang masih ada jadwal operasi " jawab Aziz menatap Zahra sendu


" Kalau siang Zahra yang gak bisa bang, siang nanti Zahra harus ke rumah sakit untuk menghadap HRD terkait pengurusan risain Zahra nantinya." sahut Zahra menjelaskan kalau Zahra siangnya harus menghadap ke HRD untuk menyerahkan surat risain nya, walau pun rumah sakit itu milik mertuanya, segala sesuatunya Zahra tetap melalui prosedur yang sudah di tetapkan rumah sakit tersebut.


Yah setelah berpikir ulang, akhirnya Zahra menyetujui permintaan Aziz untuk berhenti dari kerjaan nya, mengingat ia harus menjaga kondisi kandungannya agar tetap baik - baik saja apa lagi kehamilan bayi kembar tiga itu tidak sama seperti hamil biasa nya , itu penjelasan yang di berikan ayu sewaktu mereka kontrol ulang kemaren.


" Kalau gitu kamu di antar supir aja ya sayang " sahut aziz akhirnya yang mengizinkan Zahra pergi tapi diantar supir.

__ADS_1


" Gak usah bang, Zahra naik taxi aja ya " tolak Zahra merasa tidak enak jika memakai jasa supir.


" Gak ada penolakan sayang, kalau gak ke kampusnya tunggu Abang siang " ujar Aziz yang tidak bisa di bantah.


akhirnya Zahra setuju ke kampus di antar supir. karena bersikeras menolak pun itu akan sia - sia saja.


Aziz tengah siap - siap untuk berangkat ke rumah sakit, Zahra mengantar Aziz hanya sampai batas pintu apartemen saja,


" Abang berangkat dulu ya sayang, baik - baik di rumah ya, Jika nanti sudah mau berangkat ke kampus ,jangan lupa kabari Abang ya " Aziz mengelus kepala Zahra lembut ,


" Baik lah Abang " sahut Zahra , lalu Zahra meraih tangan Aziz dan mencium punggung tangan itu seperti biasanya, dan seperti biasa nya juga Aziz selalu memberikan kecupan hangat di puncak kepala istrinya itu.


Aziz lalu menunduk menghadap perut Zahra yang mulai menonjol, dan mengelus perut itu lembut.


" Hai anak - anak ayah, kalian jaga bunda baik - baik ya, jangan nakal, ayah kerja dulu ya sayang " lalu Aziz mengecup perut Zahra cukup lama, Zahra mengelus kepala kepala Aziz pelan tersenyum menatap pemandangan indah saat di mana suaminya mengajak anak - anak mereka berbicara.


setalah luas berbicara dengan calon anak - anak nya, Aziz menegakkan tubuhnya lagi lalu meraih kepala Zahra dan kembali memberikan kecupan lembut di puncak kepala istrinya itu, entah mengapa Aziz merasa berat berpisah dangan istrinya saat ini. tapi ia tidak bisa mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya di rumah sakit.


cup


" Abang jalan dulu ya sayang, hati - hati di rumah ya " sahut Aziz menatap istrinya ada raut keraguan di sana , tapi Aziz tidak tahu mengapa ia merasa berat meninggalkan istrinya itu.


" Iya Abang berangkat lah lagi, nanti telat, operasinya sebentar lagi kan " ucap Zahra tersenyum melepas suaminya bekerja.


Dengan berat hati Aziz menganggukkan kepala dan berlalu dari sana meninggalkan Zahra yang masih menatapnya dari pintu apartemen nya.

__ADS_1


__ADS_2