
Tiga hari berlalu, kondisi Zahra semakin membaik, dan hari ini zahra sudah di izinkan pulang oleh team dokter yang merawatnya, Zahra sangat senang ketika dokter telah mengizinkannya untuk pulang dan melakukan rawat jalan, sebenarnya Zahra yang sudah mulai bisan dengan suasana rumah sakit sudah meminta pulang dari dua hari yang lalu, namun tidak di indahkan oleh Aziz dengan alasan belum mendapat izin dari dokter yang merawat Zahra
Dengan terpaksa akhirnya zahra tidak mau lagi mendesak Aziz untuk pulang karena sifat Aziz yang tidak mau di bawah, akhirnya Zahra mengalah.
Aziz terlihat sedang sibuk membereskan barang - barang mereka untuk di bawa pulang di bantu Bu Susan dan chelsea, Zahra yang ingin membantu dari tadi tidak di bolehkan oleh Aziz dan Bu susan, akhirnya Zahra hanya duduk di atas bed pasiennya sambil menyaksikan kesibukkan suami, mertua dan adik iparnya itu.
Setelah semua beres, Aziz menghubungi seseorang dari ponselnya dan meminta orang tersebut datang ke kamar Zahra dan membawa barang - barang mereka ke mobil.
Tok...tok..tok..
Tidak butuh waktu lama, pintu kamar rawat. Zahra di ketuk dari luar, Aziz yang sudah tahu siapa yang datang membukakan pintu kamar tersebut, di luar nampak pak Dadang masuk mengambil barang - barang mereka dan membawanya ke mobil sesuai instruksi aziz.
" Kamu sudah siap sayang ?" Aziz mendekati Zahra yang berada di atas tempat tidur dan mengelus kepala Zahra lembut.
Zahra yang sudah tidak sabar ingin pulang, menganggukkan kepalanya.sebagai tanda ia sudah siap dari tadi.
" Sudah bang "
" Aduh senangnya yang sudah di izinkan pulang " goda Aziz dan mengacak rambut Zahra gemas.
" Iya dong bang, Zahra sudah kangen rumah dan kamar kita " sahut zahra tanpa ada maksud lain, tapi tidak dengan Aziz, Aziz berpikir lain ketika Zahra mengatakan kamar kita
" Kangen kamar kita apa kangen itu sayang ?" bisik Aziz di samping telinga Zahra, Zahra yang tidak mengerti dengan ucapan Aziz mengerutkan keningnya bingung menatap Aziz
" Maksudnya itu apa bang " tanya zahra bingung.
__ADS_1
" Ya itu..." sahut Aziz sambil menunjuk ke bawah dengan menggunakan mata dan bibirnya, Zahra yang paham maksud suaminya itu langsung mencubit tangan Aziz kesal, Zahra tidak habis pikir dengan suaminya yang terlalu mesum akhir - akhir ini.
" Abang mesum, malu bang kalau mami dan chelsea dengar gimana ?!" sahut zahra kesal, sementara Aziz yang mendapatkan cubitan dari Zahra meringis sambil mengelus tangannya yang di cubit Zahra.
" Tapi Abang kangen sayang, kan sudah lama puasa " ujar Aziz lagi memelas menatap Zahra.
" Abang !! " teriak zahra tertahan takut di dengar oleh mertua dan adik iparnya yang sendang duduk di sofa ruang tamu ruang itu.
" Iya , iya sayang ..." sahut aziz mengacak rambut zahra gemas melihat istrinya yang makin menggemaskan bila dalam mode kesal seperti itu.
" Ziz, papi sudah telpon nih, dan papi sudah menunggu kita di parkiran " teriak Bu Susan dari ruang tamu memberi tahu aziz pahwa pak Widodo sudah menunggu mereka di parkiran bersama pak Dadang.
" Ya mi, bentar Aziz ambil kursi roda dulu buat Zahra mi " ujar aziz, Aziz lalu menghubungi seseorang dari ponselnya dan meminta kursi roda yang sudah di pesannya untuk Zahra di antar ke kamar Zahra.
Tidak lama, seorang perawat datang membawakan kursi roda permintaan aziz, Aziz membantu Zahra turun dari tempat tidur, dan mendudukkan zahra pelan - pelan di atas kursi roda itu.
Perawat itu pun memberikan kursi rodanya pada aziz, dengan perlahan aziz pun mendorong kursi roda Zahra menuju parkiran yang di iringi oleh Bu Susan, chelsea dan perawat tadi dari belakang, perawat yang mengantar kursi roda untuk zahra merasa kagum terhadap Aziz, Aziz yang notabenenya anak seorang pengusaha dan seorang ceo tidak malu dan segan sedikitpun mendorong kursi roda istrinya itu. Dalam hati perawat itu merasa iri melihat zahra yang beruntung telah dipersunting oleh aziz dan di jadikan ratu dalam keluarga besar Widodo, tapi dokter tesebut juga senang, zahra yang terkenal baik di antara teman - teman sejawatnya di rumah sakit mendapatkan orang baik seperti keluarga pak Widodo.
Aziz terus berjalan mendorong kursi roda zahra sampai ke lobi rumah sakit, di sana sudah menunggu pak Widodo dan pak Dadang yang siap membukakan pintu mobil untuk Zahra. sementara perawat yang mengantar aziz dan zahra tadi tidak ikut sempai ke parkiran, perawat itu kembali bergabung dengan teman - teman nya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Aziz membantu Zahra untuk masuk ke mobil, setelah dirasakan Zahra sudah aman dan nyaman dengan posisi duduk nya, Aziz memutari mobil dan masuk duduk di depan belakang setir mobil, Aziz membawa sendiri mobilnya sedangkan Bu Susan, aok Widodo dan chelsea dengan mobil satu lagi yang di sopiri oleh pak Dadang,
Dengan pelan mobil pun melaju membelah jalanan meninggalkan rumah sakit menuju kediaman pak Widodo.
Yah Aziz dan Zahra sudah memutuskan untuk tinggal sementara di rumah pak Widodo sampai Zahra sembuh dan renovasi rumah baru mereka selesai.
__ADS_1
Selain itu pertimbangan aziz adalah jika mereka tinggal di apartemen, zahra tidak ada temannya, tapi kau di rumah pak Widodo ada Bu Susan dan chelsea serta irt yang akan menemani dan membantu Zahra ketika Aziz bekerja sehingga Zahra kesepian selama ditinggal Aziz bekerja.
Aziz tersenyum gemas menatap Zahra yang begitu terlihat bahagia sepanjang jalan, itu sangat terlihat jelas dari senyum yang tidak lepas dari bibir manis istrinya itu, dan melihat ekspresi Zahra yang dengan mata berbinar menatap ke luar kaca mobil melihat lalu lalang ke daratan di jalanan Zahra terkuat sangat imut di mata Aziz.
" Senang ya sayang bisa pulang kerumah ?" tanya aziz meraih tangan Zahra dan menggenggamnya lembut. Aziz membawa tangan itu ke bibirnya dan mengecupnya mesra.
" Iya abang , zahra senang sekali " jawab Zahra dengan mata berbinar menatap Aziz sejenak, dan kemudian kembali menatap keluar lewat kaca jendela mobil.
" Selagi kita masih di jalan, apa ada yang ingin kamu cari sayang ?" tanya aziz menanyakan apa yang dinginkan zahra dan berniat akan mampir dan membelikannya untuk sang istri.
Zahra berpikir sejenak , Zahra sedang berpikir apa yang akan dibelinya " Zahra pingin makan sate, mas Nisa mampir gak mas belikan Zahra sate Padang " ujar Zahra yang ingin memakan sate Padang.
" Baiklah sepertinya di depan sana ada yang jual sate Padang, nanti kita mampir di sana ya " ujar Aziz sambil mencari penjual sate Padang
Sesuai yang di katakan aziz , tidak jauh di depan ada yang jual sate Padang, Aziz pun berhenti dan memarkirkan mobilnya di tempat penjual sate Padang tersebut yang terlihat sangat ramai sore itu.
" Mau makan di sini atau di bungkus di bawa pulang sayang ?" tanya Aziz , yang sudah siap - siap mau turun.
" Di bungkus aja bang ,biar makan nya ramai.- ramai di rumah " jawab zahra setelah berpikir sejenak.
" Kalau begitu kamu di tunggu di sini saja ya sayang, biar Abang yang pesan kan dulu " Zahra menganggukkan kepalanya setuju
Aziz turun dari mobil dan memesan sate Padang sepuluh bungkus untuk di bawa nya pulang.
Setelah memesan sate, Aziz kembali ke mobil dan menunggu sate pesanan nya di mobil saja.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, pesanan Aziz datang, setelah membayar nya, aziz lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah papi dan maminya.