CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 174


__ADS_3

Pagi sudah menjelang, azan subuh sudah berkumandang ketika Aziz terbangun pagi ini, Aziz menolehkan kepalanya ke samping, Zahra masih tertidur lelap di samping nya sambil memeluk dirinya.


Aziz tersenyum menatap wajah teduh istrinya yang terlihat cantik dan sedikit cabi semenjak hamil kemaren. Bayang - bayang perjuangan Zahra saat melahirkan ke tiga putra nya kembali menari - nari dalam ingatan Aziz.


Aziz sadar begitu besar perjuangan seorang ibu ketika melahirkan anak - anak nya, aziz seketika teringan dengan Bu Susan, wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya, aziz merasa berdosa dan bersalah pada Bu Susan karena sampai saat ini masih sering membantah ucapan maminya itu.


Aziz berjanji ketika maminya datang nanti ia akan langsung meminta maaf pada maminya itu dan berjanji akan menjadi anak yang lebih baik lagi ke depannya.


Aziz tersadar dari lamunannya, ketika suara komat terdengar dari toa mesjid rumah sakit,.dengan perlahan Aziz menyingkirkan tangan Zahra dari tubuhnya kemudian turun dari bed pasien dengan perlahan - lahan.agar Zahra tidak terganggu dan terbangun dari tidur nya.


Aziz akan membiarkan Zahra tidur terlebih dahulu, selain tidak sholat karena nifas Zahra juga butuh istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaganya setelah melahirkan putra - putra mereka semalam


Sebelum masuk kekamar mandi, Aziz terlebih dahulu memastikan cairan infus Zahra masih aman dan tetap berjalan lancar, setelah memastikan semua nya baik - baik saja, Aziz lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.


Aziz meringis ketika kulit tangan nya tersenyum oleh air, aziz merasakan perih pada kedua lengannya, aziz meneliti kedua lengan nya, ternyata banyak terdapat luka - luka goresan kecil di area lengan nya itu.


Setelah berpikir sejenak, Aziz tersenyum tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi dengan lengannya, Aziz ingat ke dua tangannya tadi malam merupakan tempat sasaran empuk zahra menyalurkan rasa sakit yang di rasakannya, Zahra sering mencengkram bahkan menggigit lengannya ketika istrinya itu tidak tahan dengan rasa sakit saat kontraksi menyerangnya .


Aziz lagi - lagi tersenyum, rasa sakit yang ia alami di kedua lengannya, belum lah seberapa jika di bandingkan dengan pengorbanan dan rasa sakit yang di alami zahra tadi malam.


Lima belas menit berlalu, Aziz pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang mulai terlihat segar, tidak mau menunda waktu lagi, aziz langsung mengambil sajadah dan sholat di dekat Zahra karena waktu subuh sudah mau habis.


Sebenarnya Aziz bisa sholat di kamar satu lagi, tapi Aziz sengaja memilih sholat di dekat istrinya dengan tujuan, jika Zahra bangun nanti, Zahra tidak kebingungan mencari dirinya.


Selesai sholat dan merapikan sajadahnya, Aziz kembali mendekati Zahra dan memeriksa cairan infus Zahra untuk memastikan cairan infus itu masih ada.


Aziz lalu meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Bu Susan untuk membawakan sarapan untuk dirinya dan Zahra jika nanti mau kerumah sakit, aziz masih ingat betul, Zahra paling tidak suka dengan makanan dari rumah sakit, untuk itulah aziz minta tolong Bu Susan untuk membawakan sarapan sehat dari rumah untuk istrinya itu.


" Bang...." Aziz mendengar suara Zahra manggil nama nya, dengan cepat Aziz menghampiri Zahra dan menanyakan apa yang di butuhkan istrinya itu


" Sudah bangun sayang "


Zahra menganggukkan kepalanya menatap Aziz dengan muka bantalnya karena baru bangun tidur, tidak lupa senyum manis yang terukir di bibirnya.


" Gimana apa masih capek sayang ?"


" Sedikit "


" Terus kenapa udah bangun ?, ini masih pagi loh sayang , kamu bisa tidur lagi kok sayang kalau mau "


Zahra menggelengkan kepalanya,." Zahra mau mandi bang "


" Abang bantu Lap aja ya ?"

__ADS_1


Lagi - lagi Zahra menggelengkan kepalanya tidak mau. " Zahra mau mandi di kamar mandi, badan Zahra lengket dan gerah semua karena semalam hanya di lap - lap aja sama perawat " jawab Zahra yang ingin mandi ke kamar mandi.


" Apa kamu sudah kuat sayang " tanya Aziz ragu dan khawatir, Zahra menganggukkan kepalanya


" Sudah Abang, kalau untuk mandi ke kamar mandi zahra masih kuat kok, Abang bantu aja Zahra masuk ke kamar mandi " jawab Zahra meminta Aziz membantunya mandi ke kamar mandi.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Aziz mengizinkan Zahra untuk mandi di kamar mandi.


" Baik lah " Aziz pun membantu Zahra turun dari tempat tidur dan membimbing istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi..


Sampai di dalam kamar mandi Aziz menggantung infus Zahra pada tiang infus yang ada di dalam kamar mandi, lalu aziz berbalik badan ingin membantu Zahra membuka bajunya dan memandikan istrinya


" Abang mau ngapain " tanya Zahra ketika melihat aziz yang tidak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.


" Mau bantu kamu mandi sayang " sahut Aziz tanpa rasa bersalah


" Gak usah abang, zahra bisa sendiri kok "


" Gak sayang, kamu harus Abang yang mandikan, Abang gak mau kamu kenapa - napa "


" Kok kenapa - Napa sih bang, Zahra kan cuma mandi, gak akan terjadi apa - apa kok "


" Gak bisa sayang, kamu harus Abang bantu mandinya, kalau gak mau , kita kembali ke tempat tidur dan kamu batal mandi di kamar mandi " ujar Aziz yang tidak mau ada penolakan dari istrinya itu.


" Kenapa harus malu sih sayang , lagian Abang udah lihat semua kok "


" Justru itu bang, Zahra..."


" Kamu tenang saja, Abang hanya bantu kamu mandi dan tidak akan macam - macam, Abang tahu Abang harus puasa dan Abang bisa kok mengatasinya " jawab Aziz memotong ucapan Zahra yang belum selesai, tanpa Zahra selesaikan pun ucapannya, Aziz sudah tahu apa maksud dari ucapan istrinya itu.


" Yakin ya, cuma bantu Zahra mandi " ujar Zahra yang sedikit curiga dan belum percaya sepenuhnya dengan suaminya itu.


" iya sayang, cuma bantu mandi, tapi colek sedikit - sedikit gak apa - apa kan " jawab aziz menarik turunkan alis mata nya dengan senyum menggoda


" Abang ....!!"


" Iya , iya sayang, cuma mandi aja kok, gak ada yang lainnya."


Akhirnya setelah melewati drama yang cukup panjang di kamar mandi, Aziz pun membantu Zahra mandi dan mengganti pakaian, catat ya hanya mandi tanpa ada embel - embel yang lain seperti yang di bilang Aziz sebelumnya.


Zahra sudah kembali duduk di atas tempat tidur nya,.sedang Aziz masih sibuk membantu Zahra mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hairdryer lanjut menyisir rambut Zahra, tak lupa Aziz juga membantu Zahra berdandan dan memasang lisptik di bibir Zahra,


Setelah semua nya tapi, Aziz menatap Zahra takjub, walau pun habis melahirkan Zahra terlihat semakin cantik dan menggemaskan di mata aziz.

__ADS_1


Tok..tok...tok...


Pintu kamar rawatan Zahra di ketuk dari luar, aziz mengambil hijab instan Zahra dan membantu Zahra memasang sebelum Aziz berlalu membuka kan pintu kamar itu, setelah di pastikan hijab Zahra terpasang dengan benar, Aziz lalu mendekati pintu kamar dan membuka pintu itu untuk melihat siapa yang sudah datang lagi - pagi begini.


" Assalammualaikum"


" Waalaikumsalam"


" Eh, Pi mi " Aziz menyalami mami dan maminya dan tak lupa mencium punggung tangan kedua orang tuanya itu, lalu aziz membuka pintu kamar itu lebar - lebar, dan membiarkan papi dan mami nya masuk kedalam kamar Zahra, yah yang datang adalah pak Widodo dan bu Susan.


" Bagai mana kabar zahra ziz ?" tanya Bu Susan sambil meletakkan paperbag yang di bawanya di atas meja


" Alhamdulillah, kondisi Zahra sudah mulai pulih mi, dan baru saja selesai mandi " jawab Aziz sambil membuka tirai penutup bed Zahra agar dapat langsung terlihat dari ruang tamu karena tadi tirai itu memang sengaja di tutup oleh Aziz karena Zahra sedang berdandan setelah selesai mandi dan belum memakai hijab nya,


" Pagi menantu kesayangan mami, gimana kondisi nya sayang " sapa Bu Susan dan mendekati Zahra ,.Zahra mengulurkan tangannya bersalaman dengan Bu Susan dan pak Widodo dan mencium punggung tangan mertuanya dengan sopan.


". Alhamdulillah, kondisi Zahra sudah mulai membaik mi , hanya masih sedikit merasa lemas aja "


" Udah sarapan belum sayang "


" Belum mi, Zahra baru aja selesai mandi "


" Oya udah, kita sarapan dulu ya, kebetulan mami sudah membawakan sarapan buat kamu, sarapannya bikinan mami sendiri loh " ujar Bu Susan mengambil paperbag yang tadi di bawanya.


" Iya nak, mami kamu saking senangnya mendapat cucu baru, pagi - pagi sudah mulai sibuk di dapur untuk memasak sarapan buat kamu " ujar pak Widodo membenarkan ucapan istrinya.


" Terima kasih mi, Pi, Maaf ya mi, Zahra sudah merepotkan mami " ujar Zahra merasa tidak enak hati sudah merepotkan mertuanya itu.


" Mami gak merasa direpotkan Kok sayang, mami malah senang melakukannya buat kamu, mami tahu kamu gak suka dengan makanan dari rumah sakit, makanya mami langsung memasakan sarapan buat kamu, tadi suami kamu juga sudah mengabari mami untuk di buatkan sarankan untuk kamu dari rumah ." jawab Bu Susan dan memberikan sarapan untuk Zahra pada Aziz agar Aziz menyuapi Zahra makan. Lalu kembali ke meja makan dan mengambilkan sarapan untuk pak Widodo dan dirinya sendiri.


Sebenarnya Bu Susan ingin menyuapi Zahra sarapan, tapi mengingat pengalaman tiga bulan yang lalu ketika Zahra sakit dan di rawat akibat kecelakaan, Aziz tidak mengizinkan orang lain atau siapa pun itu untuk mengurus istrinya selagi ia berada di sana, untuk itulah Bu Susan memberikan sarapan Zahra pada putra nya itu.


Aziz mengambil sarapan Zahra yang di berikan Bu Susan padanya, aziz yang berniat ingin menyuapi Zahra langsung ditolak oleh Zahra.


" Zahra makan sendiri aja bang, Abang juga sarapan sana bareng sama mami dan papi " tolak Zahra , karena Zahra tahu Aziz juga belum sarapan.


" Abang suapi kamu dulu baru setelah itu Abang sarapan " ujar Aziz yang tetap ingin menyuapi Zahra.


" Tapi bang, Abang juga perlu sarapan "


" Abang bisa sarapannya nanti setelah kamu selesai sarapan sayang, kamu harus sarapan sekarang karena sebentar lagi si kembar akan di antar ke sini dan kamu harus memberikan asi pada si kembar " ujar aziz yang tidak mau di bantah.


Mendengar anak - anak nya akan di antar, dan ia harus menyusui, akhirnya Zahra menurut dengan ucapan aziz selain itu kalau suaminya sudah bicara seperti itu artinya tidak mau di bantah lagi.

__ADS_1


Bu Susan dan pak Widodo hanya geleng - geleng kepala melihat perdebatan sepasang suami istri itu, mereka memilih hanya menonton tanpa mau ikut campur karena mereka sangat paham dan sangat mengerti dengan sifat Aziz yang sangat posesif terhadap Zahra, Bu Susan tidak merasa heran lagi dengan sifat posesif yang dimiliki putra itu, karena sikap posesif Aziz sama dengan papi nya yang juga sangat posesif kepada dirinya dan keluarga nya.


__ADS_2