
Tidak membutuhkan waktu yang lama ,akhirnya Aziz dan Zahra Sampai juga di rumah orang tua Aziz.
Pintu gerbang rumah itu terbuka ketika mobil Aziz sampai di depan gerbang rumah, penjaga rumah menganggukkan kepalanya dan menyapa aziz ramah , Aziz dengan perlahan melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah yang sangat luas itu.Dari dalam kaca mobil Zahra memindai rumah mewah dan Megah itu takjub..
Zahra mengagumi rumah itu, rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas dan asri.
Aziz membukakan pintu mobil dan membantu Zahra turun dari dalam mobil sambil mengulurkan tangannya.zahra menyambut uluran tangan Aziz dan perlahan turun dari mobil.
Aziz tersenyum ketika merasakan tangan Zahra yang dingin dalam genggamannya.
" Jangan takut sayang, Abang ada bersama mu " ujar Aziz pelan.zahra menatap Aziz sambil tersenyum canggung .
" ayo kita masuk papi,mami dan yang lain sudah menunggu kedatangan menantu mereka yang cantik ini." kata aziz sambil mencolek dagu zahra dan mengedipkan matanya menggoda Zahra.
" Yang lain " tanya Zahra bingung, kalau ada yang lain berarti ramai dong pikir Zahra dalam hati.
Zahra yang awalnya sudah mulai tenang kembali merasa gelisah dan cemas. Jika memungkinkan ingin rasanya Zahra putar kepala dan kembali pulang ke apartemen sekarang juga.
" Jadi bukan mami dan papi saja ya bang " tanya Zahra lagi.
" iya sayang, yuk kita masuk, mereka sudah menunggu kita sedari tadi " jawab Aziz dan mengajak Zahra segera masuk
Zahra masih ragu untuk ikut Aziz masuk, Zahra menatap Aziz dengan tatapan memohon.
" Udah sayang, Abang kan sudah bilang, kamu gak usah takut dan cemas begitu ya. semua tidak seperti yang kamu bayangkan kok" Aziz kembali meyakinkan Zahra untuk tidak tahu - ragu dan cemas lagi.
Aziz mengambil kantong belanjaan Zahra yang tadi di simpannya di bangku penumpang bagian belakang , lalu Aziz menarik tangan Zahra pelan dan membawa Zahra masuk ke dalam rumah untuk menemui keluarga besarnya yang ingin bertemu dan berkenalan langsung dengan menantu rumah itu.
Aziz sebenarnya sudah di kabari oleh sang mami bahwa hari ini ada acara penyambutan untuk Zahra di rumah orang tuanya, untuk itulah maminya tadi pagi meminta Aziz untuk membawa Zahra kerumah mereka sore ini.
Aziz sengaja tidak memberi tahu Zahra tentang acara penyambutan itu, karena Aziz ingin memberi surprise untuk istrinya itu.
" Assalammualaikum" Zahra dan Aziz membaca salam berbarengan ketika pintu utama di buka oleh ART rumah itu.
Aziz yang masih menggenggam tangan Zahra langsung membawa Zahra menuju ruang keluarga karena semua keluarga nya berkumpul di sana.
" eh menantu mami sudah datang " mami Susan melihat kedatangannya Zahra dan Aziz langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Aziz dan Zahra.
mami Susan langsung memeluk Zahra dan mencium kedua pipi Zahra senang .
Zahra menjabat tangan mami Susan dan mencium punggung tangan mertuanya itu dengan sopan.
__ADS_1
" Ayo sayang, mami kenalkan dengan keluarga besar Widodo, mereka semua sudah tidak sabar menanti kedatangan kamu dari kemaren." mami susan menarik tangan Zahra mengajak untuk bergabung dengan keluarga yang lain.zahra tersenyum canggung terhadap perlakuan mami Susan terlihat begitu senang akan kedatangannya.
Zahra berharap yang lain juga seperti itu nantinya.
Aziz yang merasa kehadirannya tidak di anggap dan di cuekin oleh mami Susan mendecak kesal, tapi ia senang melihat sang mami bahagia saat menyambut menantu kesayangannya.
walau kesal dengan sang mami, Aziz tetap mengikuti langkah Zahra dan maminya dari belakang.
" Hai semua, lihat siapa yang sudah datang " teriak mami Susan pada orang - orang yang berkumpul di ruang keluarga itu.
Semua memalingkan wajahnya menatap pada sosok yang di bilang mami Susan.
Zahra menelan Saliva nya canggung dan tegang, Zahra tidak menyangka ternyata keluarga Aziz begitu ramai duduk di sana sambil bercengkerama antara satu dengan yang lainnya jadi berhenti menatap kearahnya.
Kegaduhan ruangan yang penuh canda tawa tiba - tiba menjadi sepi .
" Masyaallah, kamu cantik sekali sayang " seorang paruh baya yang terlihat masih cantik di usianya yang kira - kira delapan puluh tahun itu mendekati Zahra dan menatap Zahra sambil tersenyum.
Zahra menyalami wanita tua itu dan mencium tangannya Seperi yang Zahra lakukan pada mami Susan .
perempuan tua itu memeluk Zahra sebentar kemudian kembali menatap Zahra dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
Zahra hanya hanya bisa tersenyum membalas pujian itu.
" Nur, ini Oma minan, neneknya Aziz ibu papi * mami Susan memperkenalkan mertuanya pada Zahra .
" apa kabar Oma " sapa Zahra menegur Oma minan.
" kabar Oma baik sayang, kamu baik kan?, apa kah Aziz memperlakukan mu dengan baik?" Oma minan membalas sapaan Zahra serta menayangkan ke adaan Zahra balik.
" Alhamdulillah Zahra baik Oma, bang Aziz baik kok Oma " jawab Zahra jujur.
Aziz yang sedari tadi di cuekin oleh mami dan Oma nya makin kesal mendengar Oma menanyakan bagaiman ia memperlakukan Zahra Selma ini seolah - olah ia sudah memperlakuan Zahra dengan buruk saja.
" perasaan yang anak kandung aku deh, kok malah aku yang jadi anak tiri di sini ya " gumam Aziz kesal.
Semua orang yang berada di ruangan itu tertawa mendengar gerutuan Aziz yang terdengar cemburu pada istri nya sendiri itu.
pak widodo mendekati putranya " Bukannya kamu yang tidak mau mengakui kami orang tua kamu, makanya kami mencari anak lain jadi anak kandung kami biar bisa kami kenalkan pada semua orang " sindir pak widodo
" siapa yang tidak mengakui papi dan mami jadi orang Tua aku ?" tanya Aziz balik pada pak Widodo.
__ADS_1
" Buktinya kamu gak mau setiap kali papi ajak ke pertemuan bisnis dan kenalan dengan rekan bisnis papi kan " jawab pak Widodo tidak mau mengalah.
" Bukan itu konsep nya Pi" jawab Aziz tidak mau kalah .
" Aziz hanya ingin membuktikan pada orang - orang bahwa Aziz bisa berhasil tanpa ada embel - embel nama besar papi, bulan berarti aku gak mengakui kalian orang tua ku Pi" jawab Aziz yang tetap mau membela dirinya.
Pak widodo yang sudah tahu alasan Aziz tidak mau di publikasikan sebagai ahli waris sudah mengerti dan paham dari awal semenjak Aziz mengutarakan alasannya yang tidak mau di dipublikasikan sampai waktunya tiba, hanya bermaksud menggoda Aziz saja saat ini.
Pak Widodo merasa senang sudah berhasil menggoda putra kesayangannya itu.Ketiak pak Widodo ingin melanjutkan menggoda putranya langsung di hentikan oleh Oma minan.
" sudah lah do, Jagan bikin ribut lagi.anak.sama ayah tidak pernah mau mengalah " omel Oma minan pada pak Widodo dan Aziz.
" Hari ini hari penyambutan menantu ku, jadi jangan ada yang bikin ribut " kata Oma lagi. Aziz dan pak Widodo langsung terdiam mendengar teguran Omanya.
Zahra yang memperhatikan perdebatan ayah dan anak itu merasa sedikit terhibur, Zahra tidak habis pikir pak Widodo yang terkenal dingin dan irit bicara itu, bisa sehangat ini dengan keluarganya.
" Ayo sayang, tidak usah hiraukan mereka berdua, mari mami kenalkan pada yang lainnya " ajak bu susan pada zahra ketika bu.susan akan membawa Zahra berkenalan dengan yang lain , di cegat oleh pak widodo.
" eh gak bisa gitu dong mi, papi kan belum menyambut putri papi " sahut pak Widodo
Pak Widodo mendekati Zahra yang batal mengikuti Bu Susan.
".Selamat datang sayang , ini sudah menjadi rumah kamu, jadi Jangan pernah sungkan untuk datang ke rumah ini ya " kata pak widodo ramah, pak Widodo ingin memeluk Zahra namun langsung di tarik oleh Aziz.
".Zahra istri Aziz Pi, papi gak boleh peluk sembarangan " sahut Aziz sambil memeluk Zahra dari samping .
Pak Widodo menatap.aziz kesal karena batal memeluk Zahra yang sudah di dahului Aziz terlebih dahulu.
".Dasar posesif " kata pak Widodo pada Aziz, pak Widodo tidak menyangka Aziz bisa se posesif itu terhadap Zahra
Semua orang kembali tertawa melihat perdebatan ayah dan anak itu, mereka sudah tidak heran lagi mengapa Aziz bisa bersikap seperti itu pada Zahra, Seperi kata pepatah ' buah jatuh tak jauh dari pohonnya '
Aziz bisa posesif pada Zahra karena pak Widodo juga sangat posesif pada istrinya itu.
" Sudah lah, kalian ini tidak henti - hentinya ribut , hari ini Zahra milik mami,maminakan kenalkan Zahra pada yang lain dulu " Bu Susan Manarik tangan Zahra menjauh dari Aziz dan pak Widodo.
Aziz menatap papanya kesal " ini semua salah papa, Zahra jadi di bawa mami kan " kata Aziz pada pak Widodo.
" loh kok papi yang salah ,jelas - jelas kamu yang salah " pak Widodo tidak terima di salahkan oleh anak nya itu.
Aziz berlalu mengikuti istri nya yang di bawa sang mami dengan wajah yang masih kesal, Aziz berpikir kalau sudah begini ia tidak akan bisa dekat - dekat dengan istrinya ,pasti sang mami akan memonopoli istrinya itu seharian ini.
__ADS_1