CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 150


__ADS_3

Adam dan sandi terus berembuk membahas apa kah mereka kembali berdua atau hanya Adam yang pulang sendiri dan sandi tetap tinggal menjaga Zahra dan membantu Aziz untuk mengurus proses hukum terhadap Naira.


Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Adam dan sandi memutuskan hanya Adam yang pulang menemani cindi merawat sang mama, semetara itu sandi tetap tinggal di sini untuk merawat Zahra dan membantu Aziz dalam mengurus kasus hukum Naira.


Walau pun berat, sandi harus menyetujui usulan Adam untuk tetap tinggal, tapi dengan perjanjian Adam dan cindi selalu mengabari sandi setiap perkembangan kondisi sang mama, bagai mana pun, saat ini hanya sang mama yang mereka miliki. Selain itu, Adam memutuskan hal itu untuk berjaga - jaga karena mereka belum tahu apa rencana Mirna nantinya, jadi mereka harus waspada akan hal yang tidak di inginkan yang mungkin terjadi nantinya,


Setelah menemukan kesepakatan,.Adam pun memberesi laptopnya nya dan bersiap - siap untuk kembali ke hotel sebelum berangkat ke bandara, tiba - tiba ...


tok..tok...tok


Pintu kamar rawatan Zahra di ketuk oleh seseorang dari luar, Adam berdiri dan membukakan pintu kamar tersebut, ternyata yang barusan mengetuk pintu adalah pak Widodo dan bu Susan yang baru saja datang bersama seorang gadis remaja yang Adam ingat adalah adik perempuannya Aziz satu - satunya .


" Eh besan, silahkan masuk besan " Adam mempersilahkan pak Widodo, Bu Susan dan chelsea masuk dan membuka lebar pintu kamar itu agar memudahkan mereka untuk masuk.


" Terima kasih pak Adam " jawab pak Widodo


Melihat yang datang besannya, sandi yang awalnya masih duduk di sofa berdiri dan menghampiri pak Widodo beserta rombongan, mereka saling bersalaman dan berpelukkan antara pak Widodo dan sandi.

__ADS_1


Pak Widodo, Bu Susan, sandi dan Adam duduk di.sofa yang tadi di gunakan sandi dan Adam bekerja, sementara itu chelsea langsung mendekati tempat tidur Zahra, gadis remaja itu menatap sang Kakak ipar sendu, sambil mengusap - usap tangan Zahra yang bebas dari infus, gadis remaja dan cantik itu begitu merindukan Zahra, rindu bercerita dan bercanda dengan kakak iparnya itu.


" Bagai mana kondisi Zahra pak sandi, apa kata dokter apa kah sudah ada kemajuan ?? " Bu Susan bertanya kondisi menantunya sambil menatap ke arah Zahra yang masih tertidur tenang di atas tempat tidurnya.


Sandi menarik nafas berat, wajahnya terlihat sangat sendu menatap kearah putrinya itu, tadi dokter yang merawat Zahra mengatakan belum ada perkembangan yang berarti untuk Zahra saat ini


" Masih belum ada perkembangan Bu besan " jawab sandi


" Apa sebaiknya Zahra kita bawa keluar negri aja ya Pi " Bu Susan menatap suaminya minta pendapat.


" Sebaiknya jangan dulu Bu besan, saya lihat rumah sakit ini juga tidak kalah lengkap dan bagus nya sama dengan yang di luar negri, saya yakin dengan kerja team rumah sakit ini, Zahra pasti sembuh " sandi menolak usulan bu susan, bukannya sandi tidak mau memberikan yang terbaik untuk putrinya seperti yang di inginkan besannya itu, tapi menurut sandi sejauh ini rumah sakit di mana Zahra di rawat saat ini tak jauh berbeda dengan rumah sakit di luar negri, selain lengkap, rumah sakit ini juga mempunyai team medis yang hebat - hebat, selain itu, jika Zahra di rawat di luar negri akan sulit bagi sandi untuk mengunjungi putrinya itu, karena sandi juga harus menemani sang mama yang kini juga tengah di rawat di rumah sakit di kota lain.


Pak Widodo sengaja belum menceritakan rencananya itu pada Bu Susan, Aziz dan keluarga Zahra, tapi jika hal itu memang harus di lakukan maka pak Widodo baru akan menceritakan rencananya itu.


" Sebaiknya kita lihat perkembangan Zahra untuk beberapa hari ini dulu sayang, jika nanti memang harus kita lakukan, nanti kita pikirkan ulang lagi bagai mana baik nya ya " pak Widodo berusaha menenangkan istirnya yang memang sangat mencemaskan kondisi Zahra saat ini.


" Oya ini pak Adam mau kemana sudah bersiap - siap " pak Widodo menatap Adam yang sendang merapikan perlengkapan kerjanya kedalaman tas.

__ADS_1


" O iya pak Widodo, saya mohon maaf tidak bisa mendampingi Zahra untuk sementara waktu, karena barusan kamu dapat kabar dari istri saya bahwa nenek zahra sekarang sedang kritis di rumah sakit akibat darah tingginya kambuh setelah mendapat kabar Zahra mengalami kecelakaan dan belum sadarkan diri. " Adam memberi tahu pak Widodo jika saat ini mertuanya sedang sakit dan Adam harus pulang mendampingi istrinya.


Sementara sandi hanya menundukkan kepalanya sedih karena belum bisa menemui mama nya yang sedang sakit saat ini.


" Kami turut berduka pak, kami doa kan semoga orang tua pak sandi dan mertuanya pam adam cepat sembuh ya " sahut kak Widodo kaget mendengar kabar duka dari nenek menantunya itu pulang


" Apa pak sandi juga ikut bersama pak Adam ?? " tanya Bu Susan


" Tidak bu, setelah kamu diskusikan untuk sementara biar Adam dulu yang pulang, dan saya tetap di sini, sampai kasus Naira dapat titik terangnya " jawab sandi, dan pak Widodo beserta Bu Susan mengangguk - anggukkan kepalanya mengerti


" oh iya, mengenai kasus Naira, tadi saya sudah dapat kabar dari Rio, Naira sudah siuman dan sudah di pindahkan keruangan rawatan biasa " sahut sandi ketika mengingat tentang Naira dan kasus nya.


" Syukurlah, kalau begitu berarti kasusnya sudah bisa di proses sesuai kesepakatan " jawab pak widodo bersyukur, dengan siuman nya Naira berarti kasus yang mereka laporkan terhadap Naira sudah bisa di proses oleh pihak berwajib.


Sandi dan Adam menganggukkan kepala nya membenarkan apa yang di katakan pak Widodo.


" Karana itu lah pak, saya besok akan menemani aziz untuk mengurus kasus hukum tersebut " jawab sandi

__ADS_1


" Ya benar pak, saya nanti juga akan mendampingi Aziz untuk kasus ini, semoga kasus ini cepat dapat di selesaikan oleh pihak berwajib " jawab pak widodo


__ADS_2