CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 181


__ADS_3

Semenjak cindi mengatakan ada rekan bisnis Aziz dan pak Widodo yang datang ingin membesuk Zahra dan cucu - cucu nya, awal nya sandi tidak begitu ingin ikut campur, tapi tanpa sengaja sandi sempat melihat ada keraguan pada Aziz ketika hendak menemui tamu nya itu, dan hal itu sangat terlihat jelas dari sikap Aziz yang memilih diam sambil berdiri lama di pintu masuk ke ruangan tamu sambil mengarahkan pandangannya ke arah ruang tamu, dan rasa penasaran sandi makin bertambah ketika pak Widodo mendatangi Aziz, dan mereka bicara pelan hingga tidak dapat terdengar oleh siapa pun.


Setelah pak Widodo dan aziz berlalu menemui tamunya, sandi yang merasa penasaran dengan siapa tamu dari besan nya itu, ikut berdiri melihat siapa yang sudah datang ingin membesuk anak dan cucu - cucu nya yang mengatas nama kan rekan kerja itu


Sandi merasa sesuatu akan terjadi ketika ia melihat siapa yang sudah datang menemui aziz dan pak Widodo, sandi yang awalnya hanya ingin tahu siapa tamu yang datang akhirnya memilih ikut mendengarkan apa yang mereka bicara kan, karena mereka hanya membahas tentang keadaan Zahra dan cucu - cucu nya, sandi berpikir Anton memang ingin datang untuk membesuk Zahra dan anak - anak nya, dan ia bermaksud ingin kembali berkumpul dengan keluarga yang lain yang masih betah berada di meja makan, namun baru saja sandi ingin membalikkan badannya, tiba - tiba sandi mendengar Anton berbicara dan menyampaikan niat kedatangannya yang sebenarnya pada Aziz dan pak Widodo.


Sandi sudah menduga hal ini akan terjadi, sedikit banyak nya sandi sudah mulai bisa membaca sikap Anton, Anton merupakan orang yang tidak mau menyerah, Anton akan berusaha dengan cara apa pun agar apa yang ia mau bisa ia dapat kan.


" Begini pak Widodo dan pak Aziz, sebelum nya saya mau minta maaf, maksud kedatangan saya ke sini saya ingin meminta izin pada pak Widodo dan pak Aziz, ini masih mengenai kondisi putri saya dan permintaan saya yang beberapa bulan lalu yang meminta izin untuk membawa Zahra untuk dapat menemui putri saya " sahut Anton yang akhirnya memberanikan diri untuk menyampaikan maksud kedatangannya serta membuang malu dan harga dirinya demi putri semata wayangnya.


" Sebaik nya kita membicarakan masalah ini di luar, jangan di sini "


Belum sempat Aziz menjawab permintaan Anton, seseorang sudah memotong obrolan itu dari belakang, Anton, Aziz dan pak Widodo sontak memalingkan wajah mereka ke asal suara tersebut.


Sandi yang mendengar ucapan Anton merasa geram, sandi sudah tahu apa maksud dari permintaan Anton pada Aziz dan besannya itu, dengan menahan kesal dan rasa marah di dalam dadanya, sandi langsung keluar menemui Anton, Aziz dan pak Widodo .


Bukan bermaksud tidak sopan terhadap besannya, tapi karena ini juga berhubungan dengan putri nya, sandi merasa ia harus ikut bertindak dan mempunyai hak untuk mengambil keputusan.


" Besan ?!! "


" Ayah !!"


Aziz dan pak Widodo sontak langsung berdiri melihat sandi berjalan mendekati mereka, pak widodo dan aziz dapat melihat sandi begitu kesal dan marah pada tamu mereka saat ini. Apa penyebab nya sandi marah, Aziz dan papi nya sudah tahu jawabnya, karena ini bukan kali pertama Anton datang menemui mereka bertiga dengan cerita yang sama.

__ADS_1


" Ziz, ingat Jagan sampai Zahra mendengar kabar ini, sampai sekarang Zahra belum tahu jika Naira yang sudah menabraknya empat bulan yang lalu, dan Zahra juga tidak tahu di mana keberadaan Naira saat ini " sahut sandi mengingatkan aziz.


Mendengar peringatan dari sandi, Aziz menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan pak Widodo.


" Jadi kalian belum memberi tahu Zahra mengenai musibah yang menimpanya empat bulan yang lalu ? " Anton yang mengetahui Zahra belum tahu siapa pelaku tabrak lari yang di alami Zahra empat bulan yang lalu kaget. Anton tidka habis pikir, entah apa alasan ketiga orang itu menyembunyikan kasus ini pada Zahra yang saat itu adalah korban nya.


" Itu bukan urusan mu !! " jawab sandi tegas dan menatap Anton dengan tatapan yang dingin.


" Sebaiknya kita bicara di luar saja , jangan di sini, karena itu akan mengganggu Zahra yang sedang istirahat " sahut sandi lagi menatap Aziz dan pak Widodo bergantian.


".Benar besan, sebaiknya kita bi cara di cafe rootrof aja, karena di sana lebih tenang " jawab pak widodo menyetujui saran sandi


" Baik lah mari kita kesana " jawab sandi , sementara Anton hanya mengikuti saja kemana ketiga orang itu mengajaknya bicara, yang ada dalam pikiran Anton saat ini hanyalah bagai mana cara nya ke tiga orang itu mengizinkan Zahra bisa bertemu dengan Naira


Pak Widodo dan sandi pun menganggukkan kepalanya setuju, mereka tahu alasan aziz meminta mereka duluan, dan akan menyusul nanti di belakang.


Lalu pak Widodo,.sandi dan Anton pun berlalu keluar dari kamar rawatan Zahra menuju cafe yang berada di rootrof rumah sakit itu.


Sesuai yang di katakannya tadi, Aziz pun pamit pada keluarga besarnya untuk keluar sebentar karena alasan pekerjaan, dan Aziz menitipkan istri dan anak - anak nya pada mereka semua, setelah pamit dengan keluarga nya, sebelum pergi menyusul orang tua dan mertuanya nya, Aziz terlebih dahulu menemui Zahra yang masih tertidur nyenyak di atas bed pasiennya, Aziz mengelus lembut kepala Zahra dan memberikan ciuman di puncak kepala istrinya itu.


" Abang pamit keluar sebentar ya sayang, tidur lah yang nyenyak ya " sahut Aziz pamit pada Zahra, walau pun Zahra tidur, Aziz tidak lupa untuk pamit pada istrinya itu.


*****

__ADS_1


"Langsung saja, apa yang anda ingin kan " sandi menatap tajam Anton yang duduk depan nya,.sandi tidak mau lagi berbasa basi pada Anton. Sementara pak Widodo hanya diam menyimak obrolan sandi dan Anton.


" Maaf jika , saya tidak bermaksud membuat kalian tidak nyaman, tapi ini menyangkut kehidupan putri ku yang juga putri anda pak sandi.."


" Naira bukan putri ku, walau pun aku pernah membesarkan nya dengan kasih sayang ku, tapi Karena perbuatanya yang telah berusaha mencelakai putri ku, jadi aku dan naira tidka ada hubungan lagi " jawab sandi tegas memotong ucapan Anton yang mengatakan Naira putri nya.


Semenjak Naira berusaha mencelakakan Zahra dan calon bayinya, sandi sudah mulai tidak menganggap Naira putrinya, walau pun ia telah membesarkan dan menyayangi Naira selama ini layak nya putri kandungnya sendiri.


Anton terdiam cukup lama, kemudian terlihat menarik nafas dalam dan berat, dari kejauhan Anton melihat aziz mendekat dan mengambil duduk di samping sandi yang masih kosong.


" Naira mengalami ' guilt complex', beberapa bulan di penjara, Naira menyadari kesalahan nya, dia merasa sangat tertekan dengan semua perbuatannya yang pernah ia lakukan pada Zahra dahulu nya, berkali - kali Naira meminta bertemu dengan Zahra untuk meminta maaf pada Zahra, tapi aku selalu gagal membawa Zahra ke hadapan nya, sehingga kondisinya saat ini sangat memprihatinkan , sekarang Naira sendang menjalani pengobatan dan Therapi di sebuah rehab, dan dokter yang merawat Naira menyarankan untuk mempertemukan Naira dengan orang yang dia maksud, yaitu Zahra." Anton menyelesaikan ceritanya sejenak, dan kembali menarik nafas dalam yang berat.


Sementara sandi, pak Widodo dan Aziz masih diam mendengarkan cerita Anton, ketiga orang itu memberi Anton kesempatan untuk berbicara, sambil berpikir.


Sebagai seorang dokter, aziz dan pak Widodo sangat tahu dan mengerti maksud penyakit yang sedang di derita Naira saat ini, untuk itulah mereka tidak mau banyak bertanya dan memberi komentar.


" Dan tujuan saya datang menemui kalian, terutama pak Aziz dan pak sandi tak jauh dari permintaan saya beberapa bulan yang lalu, saya sangat berharap permintaan saya ini bisa menjadi pertimbangan untuk pak aziz, pak Widodo dan anda pak sandi untuk dapat membawa Zahra menemui naira, semua saya lakukan untuk kesembuhan putri saya " ujar Anto lagi memohon pada ketiga orang yang berada di hadapannya saat ini.


" Saya belum bisa menjawab permintaan bapak hari ini, selain itu istri saya masih dalam pemulihan habis selesai lahiran, beri kami waktu beberapa hari , nanti kamu kabari pak Anton lagi " jawab Aziz akhirnya.


" Baik lah pak kalau begitu, saya tunggu kabarnya, saya berharap akan mendapat kan kabar yang gembira " jawab Anton sedikit merasa lega, walau ketiga orang penting selama hidup Zahra itu belum memberi keputusan , tapi melihat respon dari ketiganya yang tidak sama dengan respon sebelum - sebelum nya, paling tidak Anton merasa sedikit lega.


" Kalau begitu saya izin pamit dulu pak Widodo, pak Aziz dan pak sandi " ujar Anton lagi pamit undur diri.

__ADS_1


Ketiga pria di depannya menganggukkan kepala mengizinkan, tanpa berkata - kata lagi antin pun berlalu dari cafe tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.


__ADS_2