
Di sebuah rutan, Mirna yang siang ini datang mengunjungi Naira bersama Anton, sudah hampir seminggu Mirna tidak mengunjungi Naira karena kondisi nya yang kurang sehat beberapa hari ini, biasanya Mirna dan Anton rutin mengunjungi Naira tiga kali dalam seminggu. Jika Anton berhalangan datang maka Mirna sendir lah yang datang mengunjungi putrinya itu.
Mirna beberapa hari kemaren sempat drop pulang dari mengunjungi Naira di rutan tempat Naira menjalani hukumannya. Mirna tidak tega dan terus kepikiran akan nasib Naira ketika melihat Naira putri nya dengan kondisi yang sangat .menyedihkan.
Selama menjalani masa hukumannya, Naira terlihat sangat tertekan dan menderita, sebenarnya Naira tertekan selain karena hukuman yang harus ia jalani ,Naira juga tertekan oleh karena rasa bersalahnya terhadap Zahra
Tiap hari bayang - bayang Zahra selalu menghantui dirinya, rasa bersalah nya pada Zahrah membuat Naira tertekan, sudah beberapa kali bahkan sering Naira meminta tolong pada Anton untuk dapat membantu nya bertemu dengan Zahra, Naira ingin menemui Zahra bukan untuk menyakiti Zahra tapi ingin meminta maaf pada Zahra atas kesalahan - kesalahan yang pernah ia lakukan .
Selama menjalani masa hukumannya di rutan, Naira banyak merenungi hidup nya, Naira sadar begitu banyak dosa dan kesalahan yang telah ia perbuat terutama salah satunya kebenciannya pada sang adik yang tanpa ada alasan yang jelas, Naira begitu membenci Zahra sampai tega berusaha melenyapkan nyawa Zahra, padahal selama ini zahra tidak pernah membalas setiap kali Naira menyakiti Zahra, baik itu dari lisan maupun dari perbuatannya.
Bayangan di saat Naira menabrak Zahra sehingga tubuh Zahra terlempar jauh dan bersimbah darah kembali hadir di pelupuk matanya, Naira menangis dan mengacak - acak rambut nya, awal nya hanya tangisan biasa, semakin lama semakin keras dan berujung teriak, bahkan Naira tanpa sadar melukai dirinya sendiri dengan cara memukul - mukul tubuh dan membenturkan kepalanya.
Anton dan Mirna menatap Naira prihatin dan sedih dari balik jeruji besi tahan naira, penjaga rutan tidak.memgizinkan mereka masuk untuk sementara waktu karena kondisi Naira yang tidak memungkinkan untuk di dekati, melihat putri mereka seperti itu Anton dan Mirna tidak tega, Naira seperti kehilangan jati diri nya dan terlihat semakin terpuruk dan tertekan seperti itu.
" Apa ada cara lain untuk mengembalikan putri saya ke kondisi semula Bu ?" Tanya Anton pada kepala penjaga rutan khusus wanita yang seorang perempuan itu.
" Sebenarnya kami menunggu bapak dan ibu datang ke sini, kami mau minta izin membawa napi ke rehap untuk menjalani pengobatan di sana " jawab penjaga itu menjelaskan
" Maksud kamu anak saya gila ?!!" tanya Mirna marah kepada kepala penjaga rutan tersebut, Mirna tidak suka ketika penjaga itu mengatakan Naira harus menjalani rehan, karena Mirna berfikir penjaga tersebut secara tidak langsung sudah mengatakan putri nya gila, padahal penjaga itu tidak ada mengatakan hal seperti itu
" Bukan begitu maksud saya Bu..."
" Alah bilang saja kalian senang melihat putri saya seperti itu !!" sahut Mirna teriak lagi memotong ucapan penjaga tadi
" Mir.." Anton menegur Mirna yang berkata kasar pada penjaga rutan itu
__ADS_1
" Apa, kamu pikir aku terima mereka mengatakan anak ku gila, anak aku gak gila Anton " sahut Mirna kesal pada suaminya itu,
" Bukan begitu, sebaik nya kamu tenang dulu ya, ingat kondisi kamu belum sepenuhnya membaik semenjak sakit kemaren loh, kalau kamu marah - marah seperti ini, nanti darah tinggi kamu kambuh lagi mir." jawab Anton mencoba menenangkan Mirna yang sedang emosi.
" Maaf ya Bu, atas sikap istri saya " Anton meminta maaf pada penjaga rutan dan merasa bersalah serta tidak enak hati telah membuat kegaduhan di rutan akibat ulah mirna
" Iya pak, tidak apa - apa, saya mengerti kok " jawab penjaga itu tersenyum ramah, padahal di dalam hatinya penjaga itu merutuki sikap bar - bar Mirna padanya tadi.
" Jadi bagai mana pak, kalau di rehab, Bu Naira bisa mendapatkan penanganan dari psikolog dan itu akan membantu penyembuhannya pak " ujar penjaga itu lagi meminta persetujuan Anton dan Mirna untuk membawa Naira ke rehab.
" Jika itu memang harus di lakukan, lakukan lah Bu, kami orang tuanya setuju - setuju saja" jawab Anton memutuskan tanpa diskusi lagi dengan Mirna, Anton yakin jika hal ini di bicara dengan Mirna, pasti Mirna akan menentang keras karena Mirna berpikir Naira baik - baik saja, padahal tidak demikian ada nya
" Anton.."
Mirna pun diam dan menatap Anton kesal, lalu Mirna kembali menatap Naira yang terlihat kembali histeris setelah beberapa saat sempat diam.
" Ini semua gara - gara sandi dan zahra anak ku jadi seperti ini, lihat aja aku akan membalas kalian " ujar Mirna dalam hati menyalahkan sandi dan zahra, Mirna berpikir karena sandi dan Zahra lah Naira jadi seperti ini.
Setelah mendapat persetujuan dari Anton, pihak rutan langsung mengurus proses kepindahan Naira ke rehab, tidak membutuhkan waktu yang lama, siang itu juga Naira langsung di pindahkan ke rahab untuk menjalani pengobatan di sana .
Setelah melalu tahap pemeriksaan yang cukup alot dan lama, akhirnya Naira di putuskan untuk di rawat di sana, Anton dan Mirna dari tadi dengan sabar mendampingi putri mereka menjalani pemeriksaan.
Saat ini Anton dan Mirna sudah berada di ruangan dokter yang merawat Naira untuk menerima penjelasan dari dokter yang merawat pitri mereka.
" Bagai mana dengan kondisi anak saya dok ?" tanya sandi pada dokter tesebut.
__ADS_1
" Pasien saat ini sedang mengalami stres yang sering di sebut dengan ' guilt complex' dimana pasien merasa bersalah telah berbuat sesuatu yang salah pada seseorang sehingga kesalahannya ini selalu menghantuinya."
" jadi apa yang bisa kami lakukan agar putri kami sembuh kembali dok ?"
" Selain obat - obatan dan terapi yang kita berikan, alangkah baik nya jika pasien di pertemukan dengan orang yang di maksud pasien, kita berharap dengan bertemunya pasien dengan orang tersebut pasien bisa menyampaikan penyesalannya pada orang tersebut. " ujar dokter mejelaskan pengobatan yang mungkin bisa di lakukan untuk kesembuhan Naira.
Anton terdiam saat, itu artinya Naira harus bisa bertemu dengan zahra, Anton memijit kepalanya yang terasa sangat pusing, Jiak Zahra bisa mengobati Naira, bagai mana cara nya agar Zahra bisa bertemu dengan Naira ?
Bukannya selama ini Anton tidak mengupayakan Naira bisa bertemu dengan Zahra, segala upaya sudah Anton lakukan agar Zahra bisa bertemu dengan Naira, mulai dari usaha Anton yang menemui Aziz dan meminta maaf serta meminta izin pada aziz untuk dapat mempertemukan Naira dengan zahra, tapi semakin sering Anton minta izin dan minta tolong, makin sering juga Aziz menolaknya
Anton juga sudah mengusahakan bertemu dengan pak Widodo dan sandi dan meminta ke dua orang itu untuk dapat memberikan izin Zahra untuk menemui Naira atas permintaan Naira, sama hal nya dengan Aziz, pak Widodo dan sandi tetap menolak dengan tegas dengan alasan Zahra yang membutuhkan ketenangan untuk masa pemulihannya dari pasca kecelakaan yang di alami nya.
karena semua cara yang ia lakukan gagal, akhirnya Anton pasrah, ia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, semua cara yang sudah ia lakukan tidak ada hasilnya. Walau pun Anton sudah memohon - mohon pada aziz, pak Widodo dan sandi, ketiga orang itu tetap penolakan yang ia terima.
Dan sekarang, kondisi Naira semakin memprihatinkan, harus kah Anton mencoba lagi untuk menemui ketiga orang tersebut?
Anton menarik nafas dalam dan berat, mengapa ujiannya begitu berat terasa saat ini.
Setelah berkonsultasi dengan dokter yang merawat Naira, akhirnya sore itu Anton dan Mirna pulang ke apartemen mereka, ya semenjak Naira di tahan beberapa bulan yang lalu, dan Mirna sudah menyelesaikan masa Iddah nya setelah cerai dari sandi, Anton dan Mirna akhirnya memutuskan untuk menikah, dan tinggal di apartemen yang sudah mereka beli, Anton yang kebetulan perusahaan nya juga ada di kota itu akhirnya pindah kantor, dan perusahaan nya yang di tempat semula ia percayakan pada orang kepercayaannya.
Lalu bagai mana dengan Rio dan putri nya?, Setelah tahu Naira menjadi Nara pidana orang tua Rio meminta Rio untuk menceraikan Naira, karena mereka merasa malu mempunyai menantu seorang narapidana.
Lagi - lagi Rio tidak bisa membantah orang tuanya, di Minggu ke dua setelah keputusan sidang Naira, Rio menjatuhkan talak pada Naira dan hak asuh anak mereka jatuh ke tangan Rio.
Setelah resmi berpisah dari Naira, dan ketika putrinya sudah dinyatakan sembuh dan bisa di bawa pulang , Rio memutuskan untuk pulang ke kampungnya dan meneruskan usaha orang tuanya.
__ADS_1