CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 84


__ADS_3

Bu Susan memperkenalkan Zahra pada keluarga besarnya satu per satu. Zahra merasa lega. Zahra tidak menyangka semua keluarga mertuanya begitu menyambut baik kehadiran Zahra di tengah-tengah keluarga itu. Tidak seperti yang ia pikirkan selama ini.


Zahra awalnya berpikir keluarga Widodo bakal sama dengan keluarga-keluarga terpandang lainnya. Yang mana jika memilih calon menantu pasti akan mempertimbangkan kasta dan tahta seperti di novel-novel yang sering dibacanya.


Satu hal lagi yang menarik dan menjadi kejutan untuk Zahra, ternyata Mia adalah saudara sepupu suaminya dan anak dari Profesor Rayyan, paman Aziz kakak dari Pak Widodo. Zahra tidak menyangka ternyata selama ini ia sudah sangat dekat dengan salah satu keluarga Aziz tersebut.


Pantas saja Mia bisa bicara begitu nyantai dengan Aziz tadi di rumah sakit. Ternyata mereka saudara sepupunya. Usia Mia yang satu tahun lebih tua dari Aziz merasa kesal dengan adik sepupunya itu karena sudah menikah duluan. Dan kesalnya makin bertambah, ternyata Aziz menikah dengan rekan kerja yang sudah dianggapnya seperti saudara.


Satu lagi yang membuat Zahra senang adalah sambutan Chelsie, adik perempuan Aziz, yang sangat menyambutnya dengan senang dan terbuka. Bahkan Chelsie tidak segan-segan bermanja-manja dengan dirinya. Gadis yang masih duduk di bangku SMA itu terlihat sangat jatuh cinta pada pandangan pertama pada Zahra. Apalagi dengan pembawaan Zahra yang lembut dan keibuan, membuat Chelsie merasa nyaman berada di dekat Zahra dan ia juga merasa memiliki kakak perempuan seperti yang selama ini diharapkan.


Sama halnya dengan Zahra, dengan hadirnya Chelsie, Zahra merasakan mendapat adik perempuan seperti yang diinginkannya selama ini. Zahra yang dibesarkan oleh kakek dan nenek serta om dan tantenya, menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga itu. Bahkan Zahra pernah secara terang-terangan meminta Cindi untuk memberinya adik perempuan saat itu. Tapi karena rahim Cindi yang bermasalah setelah kelahiran Altaf, maka keinginan Zahra tidak pernah terpenuhi.


Aziz dari tadi terus cemberut menatap Chelsie, adik perempuan satu-satunya. Ia yang sedari tadi ingin mendekati istrinya tidak bisa-bisa, ada-ada saja halangannya. Semua orang sudah memonopoli istrinya. Awalnya maminya, lanjut nenek, Mia serta keluarga yang lainnya dan sekarang adiknya Chelsie yang terus bergelayut manja di tangan Zahra.


Mia yang melihat ekspresi kesal Aziz sedari tadi, mendekati Aziz yang sedang duduk sendirian di sudut ruangan itu. Ia memilih mengasingkan diri karena sedari tadi orang-orang lebih banyak terfokus pada istrinya daripada dirinya. Aziz merasa diabaikan oleh keluarga besarnya itu. Ditambah lagi ia yang tidak bisa berdekatan dengan istrinya sedari tadi, membuat Aziz semakin merasa tersisihkan dari pertemuan keluarga itu.


"Hei ada apa dengan adikku ini, kenapa wajahnya cemberut begini?" Mia menepuk bahu Aziz dan duduk di sofa yang masih kosong di samping Aziz.


"Masak wajah pengantin baru kusam begini sih, jelek tahu," sahut Mia lagi. Walaupun Aziz mengabaikan kehadirannya, Mia tidak mau kalah. Ia terus menggoda Aziz. Mia mengenal betul dengan sifat Aziz. Walau belum pernah pacaran selama ini, tapi sekali suka dan mencintai perempuan, maka Aziz akan benar-benar tergila-gila pada wanita tersebut. Karena sifat Aziz sebelas dua belas dengan papinya dalam hal menyukai seorang wanita.

__ADS_1


"Udah deh kak, jangan usil napa!" sahut Aziz kesal pada Mia yang terus menggoda dirinya.


"Kamu kesal ya, karena tidak bisa dekat-dekat dengan Zahra dari tadi," tebak Mia yang tepat sasaran.


"Udah tahu nanya lagi?" jawab Aziz kesal dan cemberut.


"Hahahaha..." Mia tertawa ngakak. Tembakannya benar dan tepat sasaran.


"Kamu ini, sudah tua masih juga ambek kan sih Ziz," kata Mia yang merasa lucu melihat Aziz yang cemberut dan merajuk seperti anak kecil yang mainannya di rampas.


"Apa-an sih, jangan ngasal deh kak," sahut Aziz malas.


Aziz menegakkan tubuhnya yang tadinya duduk lesu menjadi tegak menghadap Mia. "Serius kak," tanya Aziz antusias mendengar jawaban Mia yang merupakan kabar yang sangat menggembirakan bagi Aziz saat ini.


Mia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kakak gak bohong kan?" tanya Aziz lagi yang tidak yakin dengan apa yang disampaikan Mia padanya tadi.


"Iya, gak bohong kok. Zahra sendiri yang bilang tadi di rumah sakit," jawab Mia meyakinkan Aziz.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak percaya tanya aja langsung pada orangnya. Udah ah, jangan cemberut lagi. Yuk kita makan, Tante tadi meminta aku untuk manggil kamu makan, semua orang sudah menunggu kita di ruang makan," Mia mengajak Aziz berdiri menuju meja makan.


Aziz mengikuti Mia yang sudah berjalan terlebih dahulu ke ruang makan. Aziz melihat Zahra sudah duduk di meja makan bersama keluarga besarnya yang lain. Aziz kembali kesal melihat kursi di samping Zahra sudah diisi oleh adiknya Chelsie. Aziz berjalan ke arah Chelsie dengan wajah dinginnya.


"Hei anak kecil pindah sanah, Abang mau duduk di sini," Aziz meminta Chelsie untuk pindah duduk ke tempat kursi kosong di samping Mia.


"Kakak aja yang di sana, Chelsie mau disini dekat Kak Zahra," tolak Chelsie tidak mau pindah ke samping Mia. Chelsie malah meminta Aziz saja yang duduk di sana.


"Zahra istri kakak, jadi wajar kalau kakak duduk di sini," tolak Aziz yang tidak mau mengalah dan tetap meminta Chelsie untuk pindah.


"Udah deh, dek. Sini duduk dekat kakak aja," sahut Mia sambil membujuk Chelsea untuk duduk di sampingnya yang masih kosong.


"Iya, dek. Kamu pindah ke sana aja ya, biar kakakmu duduk di situ." Kali ini Bu Susan ikut membujuk Chelsea yang tetap tidak mau pindah. Sedangkan yang lain hanya memperhatikan drama adek dan kakak yang saling berebut tempat duduk itu.


Chelsea dengan cemberut terpaksa pindah ke samping Mia. Sebenarnya, ia tidak rela untuk pindah karena Chelsea masih mau duduk di dekat kakak iparnya itu. Tapi kalau sudah sang mami yang bicara, mau tak mau Chelsea harus nurut jika tidak ingin mendengar ocehan panjang sang mami.


Aziz tersenyum senang akhirnya bisa dekat lagi dengan istri cantiknya itu. Zahra hanya bisa tersenyum mendengar perdebatan dua saudara itu yang terlihat sangat lucu.


Zahra melayani Aziz dengan sepenuh hati selama berada di meja makan, dan semua itu tidak lepas dari perhatian Bu Susan dan Oma Minan, dua perempuan paruh baya beda generasi yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda itu tersenyum senang. Mereka merasa tidak salah memilih menantu.

__ADS_1


__ADS_2