
Seminggu setalah sandi mengunjungi bayi intan di rumah sakit, rumah orang tua cindi kembali dihebohkan dengan kedatangan sandi yang membawa Mirna beserta anaknya dan mengenalkan Mirna pada kedua orang tua nya, cindi dan Adam.
Semua orang yang berada di ruangan itu kaget ketika sandi mengatakan bahwa ia dan Mirna mantan sekretaris nya itu sudah menikah dan sudah mempunyai satu putri.
Cindi ,Adam dan kedua orang tua sandi merasa syok menerima kenyataan itu. Berbagai pertanyaan dan dugaan kembali berputar di kepala mereka masing - masing , apakah ini alasan sandi bertengkar di hari meninggalnya intan sehingga sandi mematikan ponselnya ?, kapan mereka menikah dan bahkan sekarang sudah mempunyai anak?, apa kah intan sudah tahu klau sandi menikah lagi ? apa alasannya sandi menikah lagi? dan banyak pertanyaan lainnya yang saat ini berputar di kepalanya mereka masing - masing.
cindi, Adam dan orang tua sandi semua terdiam , papa sandi menatap sandi dan Mirna bergantian, sandi dan Mirna tidak berani mengangkat kepala nya karena melihat kemarahan di mata papa sandi saat ini.
" Apa maksud semua ini san " tanya papa sandi dingin pada anaknya." bahkan makam intan masih basah, dan kamu sudah berani membawa wanita lain ke rumah ini dan mengakui mereka sebagai anak mu" kata papa sandi lagi dengan tatapan tajam kearah sandi dan Mirna
" maaf pa, sebenarnya aku dan Mirna sudah menikah semenjak dua tahun yang lalu, walaupun pernikahan kami masih pernikahan siri pa" jawab sandi pelan dengan kepala masih di tekuk.
" apakah intan mengetahui semua ini " tanya papa sandi lagi, yang di jawab gelengan kepala oleh sandi
" angkat kepala kamu sandi, tatap papa " kali ini papa sandi bicara dengan suara sedikit meninggi dan itu membuat orang yang berada di ruangan itu kaget termasuk gadis kecil yang yang di akui sandi anaknya itu, gadis kecil itu langsung memeluk ibunya dan menatap papa sandi takut .
cindi melihat ketakutan pada anak itu berinisiatif membawa anak itu keluar dan menjauh dari ruangan itu. Awalnya gadis kecil itu tidak mau di bawa oleh cindi tapi cindi berusaha membujuknya akhirnya gadis kecil itu luluh juga dan mau ikut dengan cindi .
" Apakah ini alasan kamu menggalakan intan di hari naas itu, dan apakah gadis kecil itu alasan kamu tidak mau menjumpai anak kamu dan intan di rumah sakit...."
" Dia bukan anak ku pa" tiba - tiba sandi bicara dengan lantang yang lagi - lagi membuat Adam dan orang tuan Sandi serasa kena serangan jantung.
" Bulan anak kamu?" tanya papa sandi bingung dan mengerutkan keningnya menatap sandi " apa maksud kamu kalau Zahra bukan anak kamu sandi , dia anak kamu dan intan ,anak yang sudah kamu nanti - nanti bersama intan selama lima tahun ini san " kata papa menggebu - gebu sehingga ia merasakan sesak di dadanya.
Mama mengelus pundak papa sandi dan segera memberi kan minum, papa sandi mengambil air minum yang di sodorkan oleh istrinya itu dan meminumnya sampai tandas
" Sabar bang, jangan terbawa emosi " kata mama sandi dan meminta suaminya lebih sabar dan tidak terbawa emosi.
" Itu anak intan bersama selingkuhan nya pa " lagi - lagi ucapan sandi membuat orang yang mendengar di ruangan itu syok .
" apa kamu punya bukti kalau intan selingkuh " tanya papa sandi, sandi hanya diam.
" Apakah pernah kamu melihat intan selingkuh sandi " lagi - lagi papa sandi meninggikan suaranya .papa sandi tidak rela intan menantu kesayangannya di tuduh tanpa bukti.
" sudah lah pa, intan sudah tiada, sandi dan Mirna juga sudah menikah, apa lagi yang akan di ributkan sih pa" bukannya menjawab pertanyaan papa nya ,sandi malah marah - marah pada papanya .
* Sandi datang ke sini untuk memperkenalkan istri dan anak sandi pada papa serta meminta restu papa dan mama , bukan untuk di hakimi, sandi rasa semuanya sudah selesai ,sandi akan membawa istri dan anak sandi pulang ,permisi pa, ma " sandi kemudian menarik tangan Mirna untuk pergi dari rumah orang tuanya sebelumya sandi mengambil anak nya yang tadi di bawa cindi menjauh di taman belakang.
Papa sandi mengurut kepalanya yang terasa mulai pusing,.papa dan mama sandi tidak berpisah untuk melarang sandi pulang dan juga tidak menahannya.
*****
__ADS_1
Semenjak hari itu hubungan sandi dan keluarganya sedikit merenggang di tambah dengan ketika Zahra kecil di izinkan pulang oleh pihak rumah sakit. sandi tidak ada niat untuk menjemput anaknya tersebut, sehingga Zahra kecil di jemput oleh Tante dan neneknya .
Dan lebih menyakitkan lagi ketika Zahra kecil di bawa oleh cindi dan mamanya ke rumah sandi, dengan terang - terangan sandi menolaknya ,jangan untuk menggendongnya melihat Zahra kecil pun sandi tidak mau
Mama sandi dan cindi marah besar saat itu, cindi yang melihat keponakannya di abaikan oleh ayah kandung nya sendiri langsung membawa Zahra kecil kerumah nya dan merawat Zahra seperti anak kandungnya sendiri dan adam pun tidak keberatan dengan keputusan cindi tersebut.
Hari berlalu , Zahra tumbuh makin besar dan makin cantik, karena didikan cindi dan Adam Zahra tumbuh jadi anak yang Sholeha dan baik.
Tapi penderitaan Zahra tidak berakhir , Mirna yang selalu menanamkan kebencian diri anak nya terhadap Zahra mengakibatkan Zahra sering mendapat perlakuan yang tidak baik dari Naira dan ibunya. sandi seolah menutup mata setiap penindasan itu terjadi
Tak jarang Zahra menangis sendiri di dalam kamarnya Setipa kali mendapat makian dan hinaan dari Naira dan Mirna.
******
Sandi tersadar dari lamunannya ketika ia merasakan jari - jemari Zahra yang berada dalam genggaman tangan nya bergerak.
Sandi menghapus air matanya dan mengalihkan pandangannya kepada tangan Zahra , lagi - lagi tangan itu bergerak walupun lemah
" Zahra ....kamu sudah bangun nak" tanya sandi membangun Zahra dan menatap Zahra yang sedang berusaha membuka matanya.
" Zahra ..." lagi - lagi sandi mencoba memanggil Zahra.
Alif yang mendengar suara sandi memanggil nama Zahra terbangun dan mendekat
" Zahra tadi menggerakkan tangannya lif " kata sandi memberi tahu Alif tentang apa yang tejadi pada Zahra tadi.
" Zahra .... dek..." Alif juga mencoba membangunkan Zahra, Alif menatap Zahra yang berusaha membuka matanya
"emmmmm..." gumam Zahra mencoba buka mata, Zahra membuka matanya pelan dan mengerjap - ngerjapkan matanya menyesuaikan dengan kondisi pencahayaan di ruangan itu
Setelah pandangannya bisa di fokuskan Zahra Menatap sekelilingnya , ini bukan lah kamarnya, tapi ketika mencium aroma kamarnya Zahra mulai tahu kalau saat ini ia sedang berada di rumah sakit,. siapa yang membawanya kerumah sakit, apa yang terjadi dengannya?
Zahra mencoba mengingat - ingat apa yang sudah terjadi padanya.
Zahra teringat ia yang masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamar lalu masuk ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya yang terasa pusing dengan air sambil menangis dan setelah itu Zahra tidak mengingat apa - apa lagi
" Abang , Zahra dimana ?" tanya Zahra pada Alif karena ingin memastikan lagi ia berada di mana sekarang.
" kamu tadi Abang temui tidak sadarkan diri di kamar mandi dek , karena kamu tidak kunjung bangun dan nadi kamu melemah jadi Abang dan kakek membawa kamu ke sini " jawab Alif menjelaskan
" Abang panggilan dokter dulu ya ..." kata Alif lagi dan memencet tombol panggilan. darurat yang berada di atas kepala zahra.
__ADS_1
Zahra menoleh ke samping , Zahra melihat ayah nya berdiri di samping tempat tidurnya sambil menggenggam tangannya.
Zahra merasa terharu melihat sang ayah ada bersama nya saat ini dan menungguinya di rumah sakit.
Zahra merasa ini seakan sebuah mimpi, karena tidak biasanya ayah nya mau menemuinya Setiap kali Zahra sakit, jangan kan menunggui , membesuk nya saja tidak pernah, tapi kali ini Zahra merasa sangat senang ,karena di saat ia membuka matanya ,ia melihat sang ayah berada di sampingnya
Tak lama dokter dan perawat datang , dokter mulai memeriksa Zahra .setelah lima belas menit memeriksa kondisi Zahra dokter pun menyampaikan kondisi Zahra pada Alif dan sandi
" Alhamdulillah,pasien sudah melewati masa kritisnya , biar kan pasien istirahat dulu untuk pemulihan tenaganya dan usahakan kasih minum yang banyak agar terhindar dari dehidrasi ya dokter Alif " pesan dokter yang merawat Zahra dan di jawab Alif dan sandi dengan anggukkan kepalanya
" baik dokter , akan saya ingat pesannya " jawab Alif, dokter dan perawat pun berlaku dari ruangan Zahra
Alif mendekati Zahra, " Adek mau minum ?" tanya Alif kepada Zahra, sudah bang, sudah di kasih ayah tadi, ucap zahra menatap ayahnya sambil tersenyum .
Alif ikut tersenyum melihat zahra tersenyum ,Alif tahu saat ini Zahra sangat senang karena ayahnya saat ini menemaninya, hal yang selama ini selalu dirindukan Zahra ketika ia sedang sakit .
" Seperti yang di sampaikan dokter tadi, Zahra harus banyak istirahat biar cepat pemulihannya ,karena masih larut malam sekarang Zahra istirahat dulu ya " kata Alif pada Zahra dan menyuruh Zahra untuk tidur lagi karena hari masih tengah malam.
Zahra memberengut mendengar Alif menyuruh nya tidur , Zahra tidak mau ketika dia bangun nanti ayahnya tidak ada di samping nya lagi.
Sandi menyadari kecemasan Zahra " ayah tidak akan pergi , ayah akan menunggui Zahra di sini Sampai Zahra bangun nanti " kata sandi membujuk Zahra agar mau tidur.
" Ayah janji ya "....kata Zahra lagi memastikan karena ia tidak mau di bohongi
" iya ayah janji " jawab sandi lembut dan membelai kepala Zahra
Zahra tersenyum dan memejamkan mata nya.
Sandi tetap duduk di kursi samping tempat tidur Zahra sambil menggenggam tangan Zahra, Alif Melihat sikap sandi yang sedikit berobah terhadap Zahra merasa heran, apa yang sudah terjadi ? pikir Alif dalam hatinya.
Alif bersyukur dengan perubahan sikap sandi tersebut
" om tidur lah di sofa itu biar Alif yang jaga Zahra " kata Alif memecah kesunyian yang sempat terjadi setalah Zahra tidur
" Om disini aja lif menemani Zahra, " tolak sandi " lagian besok kamu harus kerja kan, jadi jangan begadang biar besok badan kamu tetap fit saat bekerja " kata sandi lagi
" Alif kan sudah tidur dari tadi om, sementara om belum istirahat dari tadi Alif yakin om pasti capek apalagi kemaren selesai mengurus pesta naira dan Rio " kata Alif lagi
" om masih kuat kok lif untuk begadang, lagi pulan kalau om mengantuk om bisa tidur di kursi ini , dan om sudah berjanji pada Zahra untuk menjaga nya sampai ia bangun nanti " kata sandi lagi
Alif pun tidak mau berdebat lagi, Alif melanjutkan tidurnya di sofa bed tersebut sambil menatap senang dengan perubahan sikap sandi pada zahra.
__ADS_1
Alif penasaran apa yang menyebabkan berubahnya sikap sandi pada Zahra, Alif bertekad akan mencari tahu nya nanti