
Aziz menatap Zahra tanpa henti, satu tangannya menggenggam tangan Zahra dan satu tangan lagi mengelus kepala Zahra lembut.
Kamar di mana Zahra di rawat saat ini sangat sepi, karena malam sudah larut akhirnya semua orang kecuali Aziz kembali pulang kerumah atas permintaan Aziz.
Aziz memang meminta papi, maminya, Adam dan sandi untuk pulang mengingat tubuh mereka yang sudah tidak muda lagi, selain itu Aziz juga tidak tega melihat ke empat orang tua itu kecapean, karena sudah menjaga dan mengurus laporan kasus Zahra dari tadi siang.
Awalnya sandi menolak untuk kembali ke hotel ,karena sandi ingin menunggui putrinya yang masih belum sadar dari tadi siang, tapi berkat bujukan aziz dan Adam akhirnya sandi setuju untuk kembali ke hotel, dengan syarat Aziz akan segera menghubunginya jika terjadi apa - apa dengan Zahra
Sandi dan Adam kembali ke hotel untuk istirahat sedang kan pak Widodo dan bu Susan kembali pulang ke rumah untuk istirahat, pak Widodo dan bu Susan sudah menawari sandi dan Adam untuk istirahat dan menginap selama tinggal di sini di rumah mereka, tapi sandi dan Adam menolak dengan alasan sudah boking hotel sebelumnya dan karena hotel yang mereka boking juga dekat lokasinya dari rumah sakit sehingga akan mempermudahkan mereka untuk datang ke rumah sakit jika ada apa - apa dengan Zahra, pak widodo dan Bu Susan tidak bisa memaksa sandi dan Adam untuk menginap di rumah mereka karena alasan yang Adam dan sandi berikan juga ada benarnya.
Dan sekarang setelah mereka pergi tinggallah Aziz dan Zahra di ruangan itu, kamar itu terlihat sangat sepi dan hening ,yang terdengar hanyalah bunyi dari alat medis yang sedang terpasang di tubuh Zahra saat ini.
Tidak ada candaan, tawa dan percakapan manja Zahra seperti malam - malam biasanya yang biasa mereka lakukan sebelum mereka tidur.
Aziz merindukan candaan dan tingkah manja istrinya saat mereka menghabiskan waktu berdua dan semua aktifitas yang sering mereka lakukan sebelum berangkat tidur, Aziz terus menatap wajah istrinya itu, Zahra yang tadi terlihat sangat pucat sudah mulai normal lagi setelah mendapatkan transfusi darah tiga kantong.
Aziz berdiri dan memeriksa infus dan vital sign Zahra, setelah memastikan semua nya stabil dan infus Zahra pun lancar ,.Aziz kembali duduk di samping istrinya itu.
" Sayang kamu kapan bangun nya, Abang rindu kamu sayang, baru sehari Abang tidak mendengar suara kamu, tapi Abang sudah sangat merindukan kamu, Abang sangat rindu sekali bisa mendengar suara kamu sayang" ujar Aziz sambil terus menatap dan mengelus kepala Zahra lembut.
Aziz merasa tubuh nya sangat lelah dan letih, ia sudah beberapa kali menguap pertanda sudah mengantuk, tapi Aziz berusaha tetap terjaga karena ia takut terjadi apa - apa pada istrinya jika ia tertidur nanti, Aziz melihat jam di pergelangan tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
" Ternyata sudah malam sayang, pantas saja mata abang sudah mulai mengantuk " Aziz tetap mengajak istrinya itu berbicara walau pun tidak pernah ada jawaban dari Zahra.
__ADS_1
Karena sudah merasa sangat lelah, Aziz merebahkan kepalanya di samping Zahra dengan tangan masih menggenggam tangan istrinya itu.
Aziz memang memilih untuk istirahat di samping Zahra dengan posis tetap duduk di atas kursi dan kepala yang bersandar di atas tempat tidur Zahra dengan posisi kepalanya menghadap ke wajah istrinya itu, dengan posisi seperti itu, Aziz masih bisa memandang wajah istrinya sebelum matanya ikut terpejam akibat mengantuk.
Sementara itu di ruangan lain di rumah sakit yang sama, seorang pria juga tengah duduk dengan mata terpejam, wajahnya terlihat sangat lelah dan penampilannya juga sangat berantakan, tadi setalah berdebat dengan Anton dan Mirna, sandi sempat ingin pulang sebentar untuk membersihkan tubuhnya, tapi belum sempat ia keluar dari rumah sakit tersebut, tiba - tiba perawat ruangan Nicu tempat bayinya di rawat menghubunginya dan mengatakan bayinya kritis lagi setelah sempat perbaikan beberapa jam.
Rio kembali masuk kerumah sakit dan menghampiri bayinya yang sedang kritis di ruangan nicu.
Setelah berjuang cukup lama, bayi mungil itu kembali di nyatakan stabil sehingga Rio bisa sedikit bernafas lega.
Karena malam sudah larut, Rio memutuskan untuk istirahat di rumah sakit saja terlebih dahulu, ia sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan niatnya pulang ke rumah karena sudah merasa sangat lelah sekali, selain itu Rio juga takut jika ia pulang nanti bayinya akan mengalami penurunan lagi.
Rio memilih untuk istirahat di depan ruangan Nicu di antara bangku - bangku yang ada di depan ruangan Nicu, jadi jika terjadi apa - apa dengan bayinya Rio akan cepat mengetahui nya.
" Lakukan lah sesuatu Anton, kamu jangan diam gitu aja nton, aku gak mau anak ku di penjara "
Di saat Aziz dan Rio kelelahan dengan kondisi istri dan bayi mereka , tidak hal nya dengan Mirna yang dari tadi meminta Anton untuk membantunya mem bebaskan Naira dari hukuman.
Anton yang sudah lelah dan pusing, semakin pusing mendengar rengekan mirna. Anton menarik nafas kasar dan bangkit dari duduknya.
" Kamu pikir aku rela putri ku di penjara hah " Anton menyulut rokok di tangannya dan berjalan ke arah balkon, ia berharap dengan merokok bisa mengurangi sedikit rasa pusing di kepalanya.
" Justru itu Anton, kamu harus bantu Naira " Mirna menghampiri Anton yang sedang merokok di balkon kamar hotel Mereka.
__ADS_1
" Tidak semudah itu mir " Anton menatap jauh ke arah pemandangan kota malam hari, cantiknya suasana kota di lihat dari tempatnya berdiri saat ini tidak mampu menenangkan pikiran Anton yang sedang pusing saat ini
" Maksud kamu ?! " tanya Mirna tidak mengerti
" Asal kamu tahu mir, pak Widodo dan Aziz adalah rekan bisnis ku, dan aku sangat mengenal bagai mana mereka berdua " Anton yang tadinya membelakangi mirna, membalikkan tubuhnya menatap Mirna
" Dan aku baru tahu, ternyata orang yang di tabrak Naira istri dari aziz rekan kerja ku dan ternyata juga anak dari suami kamu " sahut Anton lagi.
" Wanita pembawa sial itu memang pantas mendapatkannya " jawab Mirna tanpa rasa penyesalan.
" Apa kamu tahu apa akibatnya nanti pada perusahaan ku ?!"
" Aku tidak peduli, yang aku tahu kamu harus bantu Naira bisa lolos dari hukuman !!"
Anton menatap Mirna kesal, jika bukan karena rasa cinta nya yang sangat besar pada Mirna dan Naira putrinya, mungkin Anton tidak akan peduli dengan semua ini.
" Kamu egois mir " sahut Anton geram
" Kamu tahu, perusahaan itu sangat berarti bagi ku mir, aku akan berusaha membantu Naira, tapi bukan dengan cara mengorbankan perusahaan ku" jawab Anton dingin, lalu membuang puntung rokoknya di di asbak yang ada di atas meja kecil di balkon itu,
Anton menatap Mirna sebelum berlalu meninggalkan Mirna di balkon itu sendiri dan pergi entah kemana.
Miran yang kesal pada Anton tidak berusaha memanggil Anton dan membiarkan Anton pergi dari kamar itu.
__ADS_1