CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 196


__ADS_3

" Bicarakan lah secepatnya masalah ini dengan Zahra nak, agar hidup kalian tenang kedepannya, ayah yakin sebagai suami dan kepala keluarga kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, dan ayah yakin kamu tahu apa yang terbaik untuk keluarga kecil kalian, ayah berharap semoga saja setelah ini tidak ada lagi masalah yang datang menghampiri keluarga kalian lagi " setelah sampai di bandara, sambil menunggu jam keberangkatan pesawat sandi, Adam, pak Widodo dan aziz memilih untuk duduk bersama dan sedikit berjarak dengan cindi, nenek dan Altaf, karena mereka tidak mau ketiga orang itu mendengarkan pembicaraan mereka, khusus nya nenek, sandi tidak mau jika nenek mendengar pembicaraan mereka yang akan menambah pikiran ibunya itu nantinya, lagi pula sampai hari ini nenek belum mengetahui siapa yang telah menabrak Zahra waktu itu, jika seandainya ibunya itu tahu, sandi tidak tahu entah apa yang akan di lakukan oleh ibunya itu pada Naira dan Mirna, karena hubungan ibu nya dan mirna tidak pernah akur semenjak dahulu, dan sandi bersyukur pada akhirnya ia bisa mengakui kesalahannya dan memilih melepas Mirna yang dari awal memang tidak pernah jujur padanya dan selalu membohonginya.


" Iya ziz, lebih cepat Zahra tahu akan lebih baik, percayalah Zahra pasti bisa dan tahu langkah apa yang akan di ambilnya setelah ini, dan om yakin Zahra tidak akan mengecewakan kamu dan kita semua, dan satu lagi, sudah saat nya Zahra tahu semuanya, kita tidak mungkin menyembunyikan ini selamanya dari Zahra nak " Adam yang berada di depan Aziz ikut angkat bicara


Sebenarnya masalah ini bukan lah masalah yang terlalu berat jika pelakunya orang lain dan aziz akan memilih tidak peduli sama sekali, tapi karena ini berhubungan dengan Naira dan Zahra maka masalah ini menjadi sedikit memberatkan untuk Aziz. Banyak hal yang menjadi pertimbangan aziz dalam mengambil keputusan, untuk itu lah Aziz sangat membutuhkan dukungan dari mertua dan papinya.


Aziz menatap sang papi yang dari tadi hanya diam tanpa komentar, tahu apa maksud tatapan anak nya, pak widodo pun menganggukkan kepalanya, pak widodo berusaha meyakinkan Aziz apa yang di katakan besannya adalah benar.


" Baik lah, kalau ayah dan om sudah mengizinkan, Aziz akan coba membicarakan masalah ini pelan - pelan dengan Zahra setelah ini om, semoga saja Zahra tidak mengecewakan kita semuanya nantinya." jawab aziz akhirnya.


" Om yakin, Zahra tidak akan mengecewakan kita nak, om sangat tahu dan sangat mengenal bagaimana sifat putri om sesungguhnya, kamu bisa pegang kata - kata om " sahut Adam meyakinkan Aziz.


" Aziz mengerti om, semoga saja begitu " bagai mana pun aziz juga berharap Zahra tidak akan mengecewakan dirinya nantinya.


" Ayah memang tidak terlalu mengenal bagai mana sifat Zahra nak, dan ayah akui itu semua adalah kesalahan ayah sendiri yang tidak pernah berusaha memahami nya selama ini, dan bahkan selalu terkesan menjaga jarak dari putri ayah sendiri, tapi mengingat sifat ibunya, dan Zahra hampir delapan puluh persen mengkopi semua yang di miliki ibu nya, ayah yakin Zahra akan bisa bersikap lebih bijak dalam menyingkapi masalah ini nantinya " ujar sandi yakin walau ada nada kesedihan dalam setiap ucapannya.


" Terimakasih yah, om dan papi sudah meyakinkan aziz untuk bisa mengatasi masalah ini " jawab Aziz bersungguh sungguh.


" Tapi, apa pun keputusan Zahra dan Aziz nanti apa kah tidak akan mengecewakan ayah ?" tanya aziz hati - hati, bagai mana pun Aziz masih menghargai sandi yang Aziz tahu sandi begitu sangat menyayangi Naira dahulu nya.


Sandi mengulas senyum di bibirnya, lalu menepuk pelan pundak menantunya itu penuh wibawa.

__ADS_1


" Yakin lah, apa pun keputusan nya nanti ayah tidak akan merasa sakit hati dan kecewa pada kalian, yang salah harus di hukum, jangan ada alasan saudara hukuman jadi tidak adil nak, yang perlu kamu ingat, ada kesalahan yang perlu mendapat kata maaf, tapi ada juga kesalahan yang mendapatkan maaf tapi hukum tetap berlanjut, ayah yakin tanpa ayah jelaskan kamu pasti sudah mengerti, jadi tidak perlu merasa bersalah begitu nak, justru ayah bangga pada mu, kamu sudah berusaha keras menjaga putri ayah " jawab sandi bijak.


" Sekali lagi terima kasih ayah " jawab Aziz setengah menunduk.


Suara operator memberitahu pesawat mereka siap berangkat sudah berkumandang, sandi dan rombongan langsung siap - siap untuk masuk, mereka pun pamit pada aziz dan pak Widodo untuk kembali ke kota tempat mereka berada.


" Jaga lah putri ayah dan ketiga cucu ayah dengan baik nak, semoga keluarga kecil kalian bahagia selamanya." pesan sandi sebelum meninggalkan Aziz dan pak Widodo.


" Baik ayah, itu pasti, Aziz akan selalu menjaga mereka, ayah tidak perlu khawatir " jawab Aziz yakin.


" Nenek titip Zahra dan cucu - cucu nenek ya nak, hiduplah dengan bahagia " pesan nenek pada Aziz sebelum berlalu.


" Iya dek, Aziz pasti akan menjaga mereka , Zahra istri Aziz nek, Aziz juga gak mau Zahra kenapa - Napa, ingat nenek jaga kesehatan, kalau nenek tidak ingin Zahra sedih " ujar aziz balik yang di jawab kekehan dari nenek.


" Kamu mau langsung pulang atau ke kantor ziz?" tanya pak Widodo pada Aziz ketika mereka setelah keluar dari bandara.


" Aziz langsung pulang aja Pi, untuk pekerjaan hari ini Aziz sudah minta tolong Aldo untuk menghandle nya pi, Aziz masih capek sekali setelah acara akikahan si kembar semalam." jawab Aziz masuk ke dalam mobil .


" Kalau begitu kamu pulang lah dulu, ayah ada pertemuan dengan seseorang di resto *** siang ini." sahut pak Widodo, dan memilih masuk ke mobilnya yang satu lagi, memang tadi sewaktu berangkat ke bandara tadi mereka pakai dua mobil, mobil Aziz yang dikendarai oleh Aziz sendir dan mobil pak widodo yang di bawa oleh supir pak Widodo.


Walau pun pak Widodo sudah menyerahkan semua usahanya untuk dikelola oleh Aziz, namun pak Widodo tidak mau diam, kampus dimana Zahra dahulu kuliah tetap dalam pengawasan nya.

__ADS_1


Oleh Aziz dan Bu Susan tidak ada masalah jika pak Widodo tetap mengurus kampus tersebut, menurut mereka mengurus kampus tidak serumit dan sesibuk mengurus perusahaan. Jadi pak Widodo tetap punya banyak waktu untuk istirahat.


" Baik lah Pi, kalau begitu Aziz jalan duluan ya Pi "


" iya ziz, kamu hati - hati ya bawa mobilnya " pesan pak Widodo, dan mereka pun masuk ke mobil masing - masing meninggalkan bandara menuju ke tujuan mereka masing - masing.jika oak Widodo ke restoran yang dikatakan nya tadi, maka aziz langsung membawa mobilnya menuju ke rumah papi dan mami nya, karena mereka masih tinggal di rumah itu sementara waktu.


Ddrrrrrttt.....dddrrrrttt.....ddrrrrttt


Ponsel Aziz berbunyi, pertanda ada panggilan masuk , Aziz meraih ponsel nya yang terletak di atas dasboard mobil, Aziz melihat siapa yang sudah menghubungi nya, di layar ponsel Aziz muncul nama Aldo, Aziz mengerutkan keningnya heran, ada apa Aldo menghubunginya padahal tadi Aziz sudah berpesan, jika ada urusan pekerjaaan Aldo bisa kirim wa saja.


Aziz menepikan mobilnya dan mengangkat panggilan telpon dari Aldo takut ada hal penting sehingga Aldo menghubungi dirinya.


" Ya hallo Al "


" siang pak,.maaf saya menganggu waktu libur anda pak,.saya mau menyampaikan di kantor saat ini ada pak Anton katanya beliau ingin bertemu dengan bapak, jadi gimana pak ?" Aldo menelpon Aziz karena kedatangan Anton yang tiba - tiba di kantornya tanpa membuat janji terlebih dahulu, dan Anton memaksa ingin bertemu dengan Aziz, padahal Aldo sudah mengatakan aziz hari ini tidak masuk, Karena Anton tetap memaksa bertemu dengan aziz, akhirnya Aldo pun dengan tidak enak hati menghubungi aziz.


" Untuk apa pak Anton datang ke kantor ?" tanya Aziz heran.


" Saya kurang tahu pak, yang pasti bukan urusan pekerjaan pak " jawab Aldo yakin karena Aldo sudah menanyakan alasan Anton datang, tapi Anton tidak mau mengatakannya, yang Anton katakan bukan masalah pekerjaan.


" Bilang pada pak anton, nanti saya yang akan menghubunginya "

__ADS_1


" Baik pak, "


Sambungan telpon pun berakhir, Aziz menghela nafas berat, setelah merasa hati dan pikiran nya tenang, Aziz kembali melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya, baru beberapa jam berpisah dengan istri dan anak - anak nya Aziz sudah merasa sangat merindukan mereka dan tidak sabar untuk segera sampai di rumah.


__ADS_2