
Sandi dan aziz sedang duduk santai di sofa tak jauh dari tempat Zahra tidur, sesekali sandi menatap jam di pergelangan tangannya, waktu di jam itu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, setengah jam lagi Aziz dan sandi harus berangkat ke cafe yang berada di rooftop untuk memenuhi undangan Anton yang ingin bertemu dengan mereka.
Awalnya sandi menolak untuk bertemu dengan Anton, bukannya apa - apa, sandi masih merasa sakit hati setiap kali berjumpa dengan Anton, selain Anton selingkuhan Mirna istrinya, Anton juga salah satu orang yang punya andil yang sangat besar terhadap kehancuran rumah tangganya, andai saja Anton tidak pergi meninggalkan Mirna yang tengah hamil waktu itu, mungkin Mirna tidak akan menjebaknya hingga sampai mereka menikah, dan mungkin juga rumah tangganya dengan intan akan naik - baik saja bersama putri mereka.
Sandi memang tidak terlalu peduli dengan hubungan Mirna dan Anton saat ini, karena selama ini sandi memang tidak mencintai Mirna, apa lagi semenjak sandi mengetahui Mirna lah dalang dari kehancuran rumah tangganya, sandi selama ini bertahan hidup dengan Mirna hanya lah karena keberadaan Naira yang sandi pikir saat itu Naira adalah putrinya, tapi tanpa disangka ternyata mirna sudah menjebaknya dan lebih parahnya Naira bukanlah putri kandungnya, sandi merasa sangat bodoh, demi ingin mempunyai seorang anak sandi bisa - bisanya terjebak oleh Mirna sampai - sampai mengabaikan anak kandung nya sendiri dan mencintai serta menyayangi anak yang bukan darah dagingnya, tapi setelah mengetahui semua kelicikan mirna, sikap sandi berbanding terbalik, ia sama sekali tidak peduli dengan Mirna dan Naira, itu terbukti dengan sandi yang tidak acuh dengan kesembuhan Naira dan tentang keberadaan Mirna ketika ia sampai di kota ini bersama Anton.
Sandi tidak pernah bertanya pada mirna, dimana Mirna menginap, dan sandi juga tidak pernah menawari Mirna untuk tinggal bersamanya di hotel tempat ia menginap, itu semua karena kebenciannya pada Miran dan rasa benci itu juga ia berikan pada Naira yang sudah tega mencelakakan Putri nya.
" Ayah yakin akan menemui mereka ?! " aziz menatap sandi yang sendang termenung sambil menatap ke arah putrinya yang masih tidur lelap di atas tempat tidurnya dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya.
Sandi menarik nafas berat dan menatap Aziz sekilas.
" Ya, kita harus memenuhi undangan mereka nak, ayah mau lihat sejauh apa mereka akan memperjuangkan kasus Naira " sahut sandi pasti
" Bukan kah Anton rekan bisnis kamu dan papi kamu ziz ?!" tanya sandi menyipitkan matanya menatap aziz
" Ya yah, Anton memang rekan bisnis papi awal nya, ketika perusahaan nya terancam bangkrut dan tidak ada investor yang mau membantu nya, kakek yang merupakan sahabat baik ayah nya pak Anton meminta papi untuk membantu perusahan pak Anton, awalnya papi menolak, tapi karena pak Anton menunjukkan sikap yang baik dan jujur dalam dunia bisnis, akhirnya papi mau bantu pak Anton yah " jawab Aziz menjelaskan bagai mana bisa perusahaan mereka bekerja sama.
Sandi mengangguk - anggukkan kepala nya mengerti.
" Apa papi kamu tahu siapa Anton bagi Naira ?" Tanya sandi ingin tahu
" Aziz sudah menceritakan semua nya pada papi yah, Sebelum Aziz melaporkan Naira ke pihak berwajib."
" Apa kalian akan memutuskan hubungan kerja sama perusahaan dengan adanya kasus ini ziz ?"
Aziz terdiam sesaat, ia menatap mertuanya ragu untuk menjawab pertanyaan sandi. Aziz takut sandi akan tersinggung dan marah dengan keputusan papi dan dirinya.
" Ayah tidak bermaksud apa - apa bertanya seperti itu, di sini ayah hanya mencoba mengingatkan kamu bahwa tidak ada hubungannya antara kasus Naira dan kerjasama kalian " jawab aziz yang paham dengan tatapan dan kebingungan Aziz.
" Aku dan papi memutuskan untuk tetap melanjutkan kerja sama kita dengan pak Anton yah, karena melihat bagai mana kerja keras dan hubungan kerja sama ini tidak ada cacat selama ini dan selain itu setelah di selidiki ternyata pak Anton tidak ada keterlibatan dalam kasus ini, ia memang murni tidak tahu apa - apa tentang hal ini, tapi dengan syarat jika setelah ini Naira atau siapa pun dari mereka kembali mencoba menghancurkan keluarga kami atau berniat mencelakakan Zahra lagi, kemungkinan hubungan kerja sama itu akan di akhiri secara sepihak " jawab Aziz menjelaskan, sandi pun tidak mempermasalahkan hal itu, karena bagi sandi kasus Zahra tidak ada hubungannya dengan kerjasama antar dua perusahaan itu.
" Maaf yah, apa Aziz boleh bertanya ?" tanya Aziz ragu - ragu
__ADS_1
" Soal apa ?" tanya sandi penasaran dengan apa yang akan di tanyakan Aziz pada nya
" Mengenai status hubungan ayah dengan obi minta " jawab aziz ragu - ragu takut sandi tersinggung dan marah
Sandi tersenyum sumringah menatap Aziz yang terlihat takut dan ragu - ragu menatap ke arahnya.
Tanpa di lanjutkan Aziz, sandi sudah mengerti arah pertanyaan menantunya itu.
" Ayah sudah menggugat cerai Mirna dua bulan yang lalu, dan keputusan hakim juga sudah keluar, dan kami bukan suami istri lagi " jawab sandi yakin dan mantap
Aziz tercengang dengan jawab mertuanya, mertuanya terlihat tidak ada beban sama sekali.saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Aziz tadi.
" Iya, kami sudah bercerai, dan ini surat cerai nya " jawab sandi sambil memperlihatkan amplop berwarna coklat yang ada ditangannya yang dari tadi di pegangannya.
Aziz masih menatap mertuanya kaget merasa tidak yakin dengan apa yang di katakan ayah mertuanya itu.
" Ayah yakin " Tanya Aziz untuk lebih menyakinkan dirinya.
Sandi menganggukkan kepalanya yakin sambil tersenyum.
" Ayah yang sabar ya, semoga ini jalan yang baik untuk ayah kedepannya " sahut Aziz menghibur sandi.
Aziz melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh.
" Sebaiknya kita berangkat sekarang yah, biar cepat selesainya, Aziz gak bisa tinggalin Zahra lama - lama " jawab Aziz mengajak sandi untuk menemui Anton dan Rio di cafe rooftop.
Sandi menganggukkan kepalanya, dan bersiap - siap untuk berdiri menyusul aziz yang juga berdiri dari duduk.
" Suster, saya titip istri saya sebentar ya, kalau ada apa - apa dengan istri saya tolong kabari saya segera " pesan Aziz pada suster yang di tugaskan merawat Zahra
".Baik dok " jawab suster tersebut menganggukkan kepalanya.
Aziz mendekati istrinya, dan mencium kening istrinya penuh sayang sekalian pamit pada istrinya itu, Aziz tetap pamit pada Zahra jika mau pergi kemana pun, walau pun Zahra masih belum sadar dan hanya diam saja, Aziz yakin Zahra pasti mendengar apa yang di ucapkannya.
__ADS_1
Sandi hanya bisa tersenyum senang melihat Aziz yang begitu sangat menyayangi putrinya itu.
Setelah pamit dengan Zahra, Aziz pun berlalu dan pergi menuju cafe tempat ia dan Anton janjian bertemu bersama sandi.
****
Begitu sampai di cafe, aziz dan sandi langsung menuju ruang private yang sudah di boking nya tadi siang.
Ternyata di sana sudah ada Rio dan Anton yang datang lebih duluan dari mereka, Aziz bersyukur dengan begitu ia tidak harus membuang - buang waktunya menunggu lagi.
Aziz dan sandi saling bersalaman dengan Rio dan Anton. Mereka langsung memesan minuman ketika waiter cafe yang masuk berbarengan dengan sandi dan aziz.
Aziz dan sandi tidak mau ber basa basi lagi karena Aziz dan sandi sudah bisa menebak apa tujuan Anton mengajak mereka bertemu.
" Jadi kak Anton,.ada hal apa bapak meminta kita untuk bertemu malam ini!" tanya Aziz tenang dan dingin.
" Begini pak Aziz,. Sebelum nya saya minta maaf sudah menganggu waktu pak Aziz " sahut Anton berbasa basi
" Saya rasa kita langsung ke intinya aja pak, saya tidak bisa meninggalkan istri saya terlalu lama. " sahut Aziz memotong ucapan Anton dan meminta Anton untuk langsung bicara ke inti nya saja .
" Baik lah, ini terkait masalah kasus Naira dan Zahra, apa kah tidak bisa kita selesai kan secara kekeluargaan pak tanpa harus melibatkan pihak berwajib " ujar Anton dengan wajah memelas memohon pada Aziz dan sandi.
" Tunggu maksud pak Anton apa ya pak ?!" tanya Aziz yang sudah tidak kaget lagi dengan permintaan Anton.
" Maksud saya, kasus Naira dan Zahra bagai mana kalau kita selesaikan dengan cara kekeluargaan saja pak, tanpa harus melibatkan pihak lain ini bertujuan untuk kebaikan kita bersama " jawab Anton menjelaskan maksud ucapannya.
" Saya rasa tidak ada kebaikan untuk bersama pak, jika untuk kebaikan bersama, maka proses hukum harus tetap di jalan kan , bagai mana pun ini sudah membahayakan nyawa istri dan anak -anak saya pak " sahut Aziz tegas
" dan perlu bapak ketahui, saya tidak akan mencabut laporan saya terhadap Naira anak bapak " sahut Aziz lagi menatap Anton tajam
Deg
Anton merasa kaget, begitu aziz mengatakan Naira anak nya, dalam hati Anton bertanya - tanya apakah Aziz sudah tahu siapa Naira dan apa hubungan Naira dengan dirinya?
__ADS_1
Jika Aziz tahu, apa kah pak widodo juga tahu ? Anton terdiam tidak mampu berkata - kata lagi.
" Baik lah saya rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, kami permisi duluan, karena saya sudah terlalu lama meninggalkan istri saya sendiri " Aziz pun berdiri di susul oleh sandi pergi meninggalkan Anton dan Rio yang masih terdiam duduk di ruangan itu