CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 197


__ADS_3

Zahra sedang memberikan asi pada Fauzan sambil mendengarkan murotal Alquran, sedangkan akhdan dan rasyid juga sedang minum asi yang telah di pamping oleh zahra dan di berikan menggunakan botol minum bayi oleh baby sitter nya.


Setelah ketiga bayi itu tertidur pulas dengan perut kenyang, ketiga baby sitter si kembar itu dengan sigap dan telaten membantu Zahra menidurkan mereka ke dalam box nya masing - masing.


" Kakak dan yang lainnya istirahat aja lagi, mereka juga sudah tidur, pasti capek kan mengurus mereka seharian " tanya Zahra pada ketiga baby sitter itu, dan memerintahkan ke tiga babysister itu untuk istirahat.


" Gak capek juga Bu, lagian ini juga sudah tugas kami kok Bu, bahkan disini ibu yang lebih banyak berperan dalam merawat mereka, seharusnya yang capek itu ibu " jawab salah satu baby sitter itu yang di jawab Zahra dengan senyuman.


Selama bekerja dengan Zahra dan keluarga Widodo, ketiga baby sitter itu merasa sangat nyaman, selain Zahra dan keluarga nya baik pada mereka, keluarga besar Widodo juga selalu menganggap mereka sebagai keluarga dan selalu memperlakukan mereka dengan baik. Tidak hanya itu, Zahra yang tergolong sangat muda usianya dari mereka, begitu sangat menghargai keberadaan mereka.


Dalam merawat ke tiga bayi kembar itu Zahra memang tidak pernah seratus persen melepaskan perawatan si kembar pada ketiga baby sister nya itu, bukannya Zahra tidak mempercayai mereka, tapi sebagai seorang ibu Zahra ingin merawat dan menyaksikan sendiri tumbuh kembang ketiga putranya, Zahra tetap menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu untuk ketiga putra nya itu, semua keperluan si kembar selalu Zahra kerjakan sendiri dan di bantu oleh ketiga baby sitter nya.


seperti hal nya malam ini,.ketiga putranya kembali kompak paduan suara karena sama - sama sudah merasa mengantuk dan lapar, Zahra di bantu ke tiga baby sitter si kembar mengganti pakaian ketiga anak - anaknya dan memberikan asi kepada mereka bertiga, sehingga ketiganya tidur nyenyak dengan perut yang sudah kenyang.


" Yah sudah gak apa - apa kak, mereka di tinggal aja ya, kakak bertiga juga harus istirahat, makasih ya kak, sudah bantu Zahra menjaga dan mengurus si kembar hari ini "


" Iya Bu, sama - sama, kami kembali ke kamar dulu ya Bu, kalau ibu butuh kamu nanti ibu langsung panggil kami aja ya Bu, Jangan seperti kemaren malam, ibu mengurus si kembar sendiri hingga ibu kecapean paginya." ujar salah satu baby sitter itu pada zahra.


Memang kemaren malam, Zahra tidak ada memanggil dan meminta bantuan ketiga baby sitter nya saat si kembar terbangun tengah malam minta minum dan ganti Pampers nya,.Zahra melakukannya sendiri, hingga paginya Zahra kelelahan karena kurang tidur.


" Iya kak, Kakak tenang aja ya, nanti kalau si kembar bangun lagi Zahra panggil kakak ya " ujar Zahra tersenyum.


" Kami izin pamit istirahat dulu ya Bu " akhirnya ketiga baby sitter itu pun pamit untuk istirahat pada Zahra.


Setelah ketiga baby sitter itu pergi, Zahra kembali memastikan kondisi ketiga putranya baik - baik saja, lalu Zahra mengganti lampu utama kamar itu dengan lampu tidur.


Zahra masuk ke kamarnya, melewati pintu penghubung antara kamar si kembar dengan kamarnya , sampainya di kamar, ternyata Aziz juga baru masuk ke dalam kamar mereka lewat pintu utama. Aziz dan Zahra saling bertatapan dan melempar senyum.


" Abang dari mana ?" Zahra mendekati aziz yang sendang berjalan ke arah sofa dan langsung duduk di sofa kamar itu.

__ADS_1


" Abang dari ruang kerja, ada beberapa pekerjaan yang harus Abang selesaikan karena besok ada meeting penting pagi di kantor" jawab Aziz menjelaskan,.Aziz merentangkan tangannya ketika melihat Zahra ikutan duduk di samping nya.


Aziz yang sudah sangat merindukan istrinya itu langsung memeluk tubuh Zahra ketika Zahra sudah duduk di sampingnya, Aziz mengecup puncak kepala Zahra lembut dan lama.


Zahra memejamkan matanya dan tersenyum bahagia menerima kecupan Aziz, Zahra semakin mendekatkan tubuhnya dan masuk kedalam pelukkan Aziz, berada dalam pelukkan suaminya adalah tempat ternyaman yang Zahra rasakan saat ini.


" Abang, selalu lah seperti ini, jangan pernah berubah ya " punya Zahra pada Aziz dengan mata yang masih terpejam sambil mencium aroma tubuh suaminya itu, wangi tubuh Aziz yang selalu membuatnya rindu dan selalu ingin berada di dekat suaminya itu.


Aziz tersenyum bahagia mendengar permintaan Zahra, Aziz mengangkat dagu Zahra agar bisa menatap wajahnya, mereka pun saling menatap, dengan tatapan yang semakin lama semakin dalam dan penuh cinta. Semakin hari cinta mereka semakin bertambah dan jangan salah tentunya mereka sama - sama saling bucin.


" Cinta Abang ke adek akan selalu sama bahkan akan selalu bertambah dan tidak akan pernah berubah sayang " ujar aziz memindai wajah sang istri


Zahra tersenyum bahagia mendengar kata - kata yang terucap dari bibir suaminya itu, " Zahra juga sangat mencintai Abang, selama Zahra akan selalu mencintai Abang, 'uhibuk fi allah Abang " sahut Zahra menatap Aziz tanpa berkedip.


" Wa'ana 'aydan 'uhibuk fi allah, sayang " jawab Aziz tersenyum dan mengecup bibir Zahra lembut.


" Abang mau bicara apa ?" tanya Zahra penasaran, karena tidak biasanya suaminya seperti ini.


" Tapi adek harus janji dulu, adek tidak akan marah " sahut Aziz meminta Zahra berjanji untuk tidak akan marah padanya setelah apa yang di sampaikan nya nanti.


Zahra mengerutkan keningnya menatap Aziz bingung, dalam hati Zahra bertanya - tanya ada apa sebenarnya.


" Baik lah Zahra janji, Abang mau bicara apa ?" tanya Zahra akhirnya berjanji.


Aziz menghela nafas berat, seakan - akan mau melepaskan beban berat di pundaknya sebelum memulai pembicaraan, dan Zahra menunggunya dengan sabar


" Ini mengenai musibah kecelakaan yang menimpa adek beberapa bulan yang lalu " aziz mulai membuka pembicaraan setelah beberapa menit diam.


" Kecelakaan yang menimpa Zahra beberapa bulan yang lalu ?" tanya Zahra mengerutkan keningnya bingung mengapa Aziz.

__ADS_1


" Iya sayang, sebenarnya kecelakaan yang menimpa adek beberapa bulan yang lalu bukan hanya kecelakaan biasa tapi sudah direncanakan oleh seseorang " jawab aziz memulai ceritanya.


" Di rencana kan ? " beo Zahra kaget, " Siapa bang ?" tanya Zahra penasaran


Aziz menatap zahra bimbang, tapi melihat wajah penasaran istrinya dan mengingat kondisi Naira serta ucapan mertuanya dan papi nya di bandara tadi, Aziz membulatkan tekatnya untuk menceritakan semua nya pada Zahra, dengan pelan dan hati - hati Aziz pun mulai menceritakan semua kejadian kecelakaan beberapa bulan yang lalu pada Zahra, aziz tidak mau menutup - nutupi semuanya pada Zahra Aziz menceritakan semuanya sampai pada siapa pelakunya serta motif pelaku melakukan itu semua, dan di akhir ceritanya aziz juga memberitahukan Zahra tentang kondisi si pelaku saat ini.


Selama Aziz bercerita, Zahra hanya diam mendengarkan, tidak ada sedikit pun kata - kata yang keluar dari bibir nya. Zahra hanya mendengarkan dengan ekspresi wajah yang tidak dapat di baca oleh aziz.


" Kamu tidak apa - apa sayang " tanya Aziz setelah mengakhiri ceritanya, Aziz cemas melihat Zahra yang hanya diam tanpa ekspresi sama sekali.


" kapan kita bisa bertemu dengan kak Naira bang, Zahra ingin bertemu dengan nya " bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Zahra malah balik bertanya kapan bisa bertemu dengan sang kakak.


" Kapan adek siap, Abang siap mengantarkan " jawab Aziz singkat dengan tatapan matanya yang tidak lepas dari sang istri.


" Kalau begitu besok siang Zahra bisa bang " jawab zahra yakin,


" Adek yakin akan menemui Naira besok sayang ?" tanya Aziz meyakinkan Zahra lagi


" Ya bang, lebih cepat lebih baik kan ?" jawab Zahra menganggukkan kepalanya.


" Baik lah, Abang akan kabari pak Anton untuk kita bertemu mereka besok " jawab Aziz akhirnya


" Sekarang adek tidur dulu ya, Abang nyusul, Abang mau lihat ketiga jagoan Abang dulu " Aziz mengelus kepala Zahra lembut dan membantu Zahra berdiri dan melangkah ke tempat tidur Merkea.


Zahra hanya menurut, tanpa banyak bantahan, tidak banyak kata yang diucapkan oleh zahra semenjak aziz memberikan perihal kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan lalu. Zahra lebih banyak diam dan menurut dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya, dan hal itu yang membuat Aziz tidak nyaman dan kepikiran.


Aziz belum bisa menebak apa yang ada di pikiran istrinya saat ini, tetapi Aziz juga tidak mau banyak bicara, Aziz akan memberi Zahra waktu untuk sendiri dan berpikir.


Setelah memastikan Zahra naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya, Aziz dengan pelan turun dan berlalu ke kamar putra - putra untuk melihat ketiga putra nya itu.

__ADS_1


__ADS_2