
Mata hari sudah menampakkan sinarnya, Zahra mengerjakan matanya karena silau dengan cahaya mata hari yang masuk lewat jendela kamarnya, Zahra mengintip keluar dari celah gorden terlihat hari sudah terang benderang. Zahra membalikkan badannya terlentang, Zahra menatap langit - langit kamarnya sambil mengingat - ingat apa yang terjadi tadi dalam.
pelan -pelan memori ingatannya kembali ke kejadian semalam di mana Rio datamg ke kosnya bersama Naira kakak nya dan menyampaikan rencana pesta pernikahannya yang tinggal satu Minggu lagi.
lagi - lagi Zahra merasakan sakit hatinya pada kedua orang yang tidak punya perasaan itu, kepada dua orang terdekatnya yang sudah tega menyakitinya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Zahra tidak habis pikir, bagaimana bisa Kaka yang ia sayangi tega menikung nya dengan cara yang licik seperti ini. dan Rio orang yang sangat di cintainya tega mengkhianati cintanya dengan kakak nya sendiri
" dimana sih hati nurani kalian kak" racau Zahra di antara Isak tangisnya pagi ini.
puas menumpahkan segala kesedihannya dan luka hatinya, Zahra bangkit dari tempat tidurnya. Zahra mamatut dirinya di depan cermin , Zahra melihat kondisinya saat ini dari pantulan cermin tersebut, sungguh sangat menyedihkan ,mata yang sembab, wajah yang kusut dan kurang cahaya, la Zahra menatap bayangannya di cermin tersebut , kemudian Zahra menghapus air matanya dengan kasar " cukup Zahra, nggak ada gunanya kamu menangisi mereka, ayo bangkit Zahra, lihat kan kepada mereka kalau kamu bisa tanpa mereka, kamu kuat Zahra, jangan menjadi wanita lemah hanya gara - gara penghianatan mereka " gumam Zahra sambil melihat pantulan bayangannya di cermin, Zahra mencoba menyemangati diri nya " kamunharus bisa bangkit Zahra , kamu harus bisa melupakan bajingan Septi Rio dan kakak mu itu " ujar Zahra lagi, setelah bertekad seperti itu lalu zahra masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, tidak sampai lima belas menit Zahra sudah selesai dengan ritual bersih - bersihnya.
Zahra terlihat sudah rapi, Zahra ingin menghabiskan hari liburnya dengan jalan - jalan di moll untuk menghibur dirinya. Zahra berharap dengan mengahabiskan waktu jalan - jalan dan berbelanja ia bisa melupakan permasalahannya dengan Rio dan Naira,
setelah di rasa sudah rapi, Zahra mengambil kontak motor kesayangannya dan pergi menuju pusat perbelanjaan yang lengkap di kota itu.
sesampainya di parkiran ,Zahra memarkir mobilnya, tiba - Zahra merasa lapar sudah merogoti lambungnya, Zahra melirik jam tangannya " pantesan lapar,ternyata sudah siang, dan sudah waktunya makan siang" ujarnya, Zahra langsung menuju salah satu restoran di sana dan memesan makanan untuk dirinya sendiri. sambil menunggu pesanan ya datang Zahra berselancar di media sosial menggunakan ponselnya, Zahra menatap lama ponselnya ketika tanpa sengaja Zahra masuk ke sosial.media Naira , di sana terpajang foto Naira dan Rio dengan senyum bahagia menghiasi wajah mereka sambil memperlihatkan cincin yang melilit di tangannya, sepertinya itu merupakan acara pertunangannya mereka kemaren. Zahra tidak habis pikir,kenapa semua ini bisa terjadi tanpa ia mengetahui sedikitpun, apa lagi saat acara lamaran Naira dan Rio di adakan, Zahra sama sekali tidak ada di kabari oleh kedua orang tuanya, apakah tidak sebegitu pentingnya kah dirinya bagi mereka semua?, sakit rasanya jika mengingat itu semua. Zahra menaril nafasnya dalam dan membuangnya kasar lalu Zahra langsung menutup media sosial itu, dan menarok ponselnya lagi di dalam tasnya, Zahra tidak mau mood nya terganggu setelah melihat media sosial Naira itu.
Zahra mengalihkan pandangannya menatap ke luar memperhatikan lalu lalang kendaraan yang lewat di jalan raya saat itu, posisi duduk ya di pojok dekat jendela di restoran itu sangat membantu Zahra untuk menikmati kesendiriannya tanpa takut di ganggu oleh pengujung lainnya.
tanpa Zahra sadari ada sepasang mata dari tadi memperhatikannya ,mulai dari ia masuk ke restoran tesebut sampai ia yang termenung menatap lalu lalang kendaraan di luar sana .
sepasang mata itu selalu memperhatikan Zahra, setiap gerak gerik dan mimik muka Zahra tak luput dari pantauannya.
Zahra di kagetkan dengan petugas restoran yang datang mengantarkan makan pesannya,
" terima kasi mas " ujar Zahra,yang di jawab anggukkan oleh petugas restoran tersebut.
Zahra lalu menyatanp makanannya dengan lahap, selain makanannya enak, Zahra juga sudah sangat kelaparan karena mlsudah melewatkan sarapannya pagi tadi.
__ADS_1
ponsel Zahra berdering ,Zahra melihat nama pemanggil di telponnya tersebut, Zahra menghentikan makannya sebentar dan mengangkat telpon telpon tersebut
" halo assalammualaikum rum"
" waalaikumsalam,Ra kamu di mana, dari tadi aku hubungi kamu tapi ponsel kamu nggak bisa di hubungi" ya ternyata yang menghubungi Zahra adalah sahabatnya Arumi?
" aku lagi di moll rum, jalan - jalan " Zahra melanjutkan makannya yang tinggal sedikit lagi sambil berbicara dengan Arumi di ponselnya.
" hah sama siapa kamu ke sana " tanya Arumi kaget
" sendiri " jawab Zahra singkat
" Ra, kamu baik - baik aja kak?" tanya Arumi lagi khawatir, Zahra mengerutkan keningnya
" aku baik - baik aja kok rum " jawab Zahra mencoba bicara biasa - biasa saja, bagaimana pun Zahra tidak mau Arumi khawatir dengan kondisi hati nya yang terluka saat ini.zahra masih ingin sendiri, Zahra belum bisa cerita apa pun pada Arumi saat ini
Arumi yang sudah paham dan mengerti dengan sifat Zahra mencoba untuk mengalah. dan tidak mau banyak bertanya lagi
". siap besty" jawab Zahra singkat.
kemudian telpon pun terputus.
Zahra menyelesaikan makannya dan menghabiskan minumannya, setelah istirahat sebentar Zahra berdiri dari duduknya berniat untuk ke kasir membayar tagihannya, ketika hendak berdiri tak sengaja mata Zahra menatap sepasang kekasih yang baru saja masuk ke restoran tersebut dan sedang memesan makanan untuk mereka. kembali Zahra merasakan perih di hatinya melihat pasangan tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Rio dan Naira ,
Rio sama seperti halnya Naira, Rio juga kaget saat melihat Naira yang juga ada di sana berdiri tak jau dari meja nya dan Naira saat ini.
Zahra ingin cepat - cepat keluar dari restoran itu, Zahra ingin mengindari pasangan tersebut, tapi itu tidak mungkin, karena dari posisinya sekarang jika mau keluar mau tak mau Zahra harus melewati meja yang sekarang di duduki oleh Rio dan Naira.
__ADS_1
Zahra menarik nafas dalam berat, bagaimana lagi mau tak mau Zahra memang harus melewati mereka , Zahra melewati meja Rio dan Naira sambil pura - pura tidak menganal dan melihat mereka saat ini.
" eh Ra, kamu disini juga " tiba - tiba Naira menegur Zahra sambil senyum mengejek
Zahra menghentikan langkah kakinya dan menatap Naira dingin.
" ini tempat umum kak, siapa saja bisa datang kesini kak" jawab Naira tenang
" Sama siapa kamu Ra, sendiri ya" ejek Naira lagi
" sama siapa pun aku kesini bukan urusan kamu kak" jawab Naira tenang, Naira tidak mau terpancing emosi, bagaimana pun Zahra sadar klau sekarang ia berada di tempat umum dan Zahra tidak mau jadi pusat perhatian orang.
" duh kasian ya, lihat dong aku Ra, jalan sama calon suami" Naira lagi - lagi mencoba memancing emosi Zahra dan mengejeknya ,
Zahra mencoba tetap tenang dan tidak terpancing dengan ejekkan Naira.
" aku lebih baik begini kak,dari pada aku jalan Sama orang pengecut seperti Kalian" jawab Zahra dingin.naira tidak terima dinkatakan pengecut oleh Zahra, Naira mencoba untuk menyerang Zahra lagi dengan omongnya,
" kamu...." belum sempat Naira bicara ,Rio langsung menghentikannya, karena Rio mulai sadar banyak mata yang sudah memperhatikan mereka dari tadi
" sudah nai, malu dilihat orang " tegur Rio
Zahra menatap pasangan itu sebentar,kemudian mengwdarkan pandangannya kearah lainnya, memang saat ini banyak yang sedang memperhatikan mereka.
Zahra lalu melihat ke arah Naira lagi
" nggak usah bangga jalan sama pasangan jika pasangan yang kamu banggakan itu hasil rampasan kak" ujar Naira pelan dan dingin.
__ADS_1
Naira mengepalkan tangannya menahan kesal mendengar ucapan Zahra tersebut
Tampa menunggu lagi,Zahra langsung pergi dari sana .