CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 200


__ADS_3

Semalam dengan tidak sengaja Mirna mendengar pembicaraan Anton dan Aziz di telpon, Mirna yang niat awalnya ingin mengantarkan kopi ke ruangan kerja anton, tidak sengaja mendengar percakapan Anton dengan seseorang dari sambungan telpon, awalnya Mirna cuek saja dan tidak ingin tahu, tapi mendengar Anton menyebut nama Zahra Mirna jadi penasaran dan duduk di sofa ruang kerja Anton menunggu Anton selesai menelpon sambil mendengarkan pembicaraan Anton dengan seseorang di seberang sana yang entah siapa yang sudah menghubungi Anton.


" Baik lah pak Aziz, besok kita langsung jumpa di tempat naira di rawat saja agar dapat mempersingkat waktu " jawab Anton senang.


" Terima kasih banyak pak, atas kesediaan bapak beserta istri meluangkan waktu untuk putri saya, semoga dengan kehadiran istri bapak, putri saya sembuh seperti semula pak " ujar Anton lagi, dan tidak lama kemudian sambungan telpon itu pun berakhir.


Anton yang posisinya membelakangi meja kerja nya langsung membalikkan tubuh nya menghadap meja kerjanya, senyum sumringah terpancar jelas dari bibir Anton. Akhirnya usaha nya selama ini tidak sia - sia, Anton berharap ini adalah awal yang baik untuk putrinya.


" Jadi mereka akhirnya bersedia juga menemui Naira "


Anton ter lonjak kaget ketiga mendengar ada suara seseorang bicara pada nya.


" Kamu mir, bikin kaget aku aja " Anton mengelus dada nya karena kaget.


" kamu gak jawab pertanyaan aku nton " ujar Mirna kesal


" Apa nya " jawab Anton yang tidak paham dengan pembicaraan Mirna.


" Yang menelpon kamu tadi Aziz kan? , suami nya anak sialan itu " sahut Mirna ketus.


" Jaga bicara mu mir, Zahra bukanlah anak sialan " sahut Anton geram


" Oooo jadi kamu sudah mulai membela anak tidak tahu diri itu "

__ADS_1


" Aku tidak membela siapa - siapa, Zahra bukan lah anak sialan seperti yang kamu katakan " jawab Anton menatap Mirna tajam, " Aku harap, mulai sekarang kamu sudah bisa merubah sikap jelek mu itu mir, Zahra sudah banyak menderita karena ulah kamu dan Naira selama ini, tolong jangan kamu sakiti lagi diri nya." ujar Anton tegas


" Oooo jadi kamu sudah mulai perhatian ya pada anak pembawa sial itu." Bukannya takut dan merasa bersalah, Mirna malah semakin marah ketika mendengar Anton membela Zahra.


" Ini bukan masalah perhatian atau tidak nya, aku rasa kamu yang lebih tahu bagai mana Zahra selama ini karena kamu yang sudah bersama nya sedari Zahra bayi hingga besar sampai saat ini " sahut Anton geram


" Seharusnya dari musibah yang telah menimpa Naira, kamu bisa belajar dari sana mir, bersihkan lah hati mu, Zahra perempuan yang sangat baik dan berhati lembut, dia tidak pernah membalas perbuatan mu selama ini pada nya, dia hanya diam dan menerima setiap cacian yang kamu ucapkan padanya, apa salah anak itu, hingga kamu dan Naira begitu sangat membenci nya?!" sahut Anton lagi menatap Mirna intens


" Aku tak menyangka ,ternyata begitu kuatnya daya tarik anak sialan itu hingga kamu begitu sangat memperhatikannya " ujar Mirna dengan nada sinis


Anton menarik nafas berat dan menyugar rambutnya kesal,.Anton sudah tidak tahu lagi dengan cara apa ia harus memberitahu mirna akan sikap nya yang salah selama ini.


" Sudah aku bilang berkali - kali, Zahra bukan seperti apa yang kamu ucapkan mir, ingat karena ke keegoisan mu, Zahra banyak menanggung luka dalam hati nya, akibat sikap mu Zahra harus kehilangan ibu nya, dan karena ulah mu juga kamu sudah menanam kebencian di hati Naira untuk zahra, padahal Zahra selama ini tidak pernah membalas kan sakit hatinya pada kalian, apa salah nya zahra dan ibu nya sehingga kamu tega melukai hati anak sebaik dia " kali ini Anton tidak mau lagi diam menyaksikan kejahatan Mirna pada Zahra, Anton sadar dulu dia pernah termakan omongan Mirna yang mengatakan Zahra sering menyakiti putri mereka, sehingga Anton yang tidak tahu cerita yang sebenarnya , ikut - ikutan membenci Zahra.


Tanpa di sadari malam sebelum acara berlangsung, Anton sempat mendengar percakapan antara sandi dan Zahra malam itu di sebuah cafe di dekat hotel ia menginap, Anton melihat bagai mana sandi dengan wajah bersalah dan rasa menyesalnya nya meminta maaf dan menceritakan semua masa lalu nya yang selama ini telah di tipu oleh mirna pada Zahra dan Aziz yang juga ada di sana saat itu.


Anton sadar, ternyata Selama ini Mirna sudah mencoba menanam rasa kebencian pada Zahra dihatinya, semenjak malam itu Anton bertekad untuk tidak akan termakan hasutan Mirna lagi, cukup apa yang di lihatnya malam itu bagai mana Zahra yang terluka begitu banyak dan dalam selama ini namun dengan hati yang lapang memaafkan semua kesalahan ayah nya dan menerima ayahnya dengan tangan terbuka.


" Dan asal kamu tahu mir, anak yang kamu benci dan kamu caci selama ini, besok anak itu sendiri yang meminta pada ayah dan suaminya untuk bertemu dengan Naira, padahal selama ini aku sudah berusaha untuk bisa menemui nya lewat suami dan ayah nya tapi semua orang menolak anak itu untuk bertemu dengan ku, karena Mereka tidak mau zahra menemui putri kita " jawab Anton sedikit lebih tenang


" Besar harapan ku, Naira putri kita sembuh seperti semula setelah bertemu dengan Zahra, aku harap kali ini kamu jangan ikut campur dalam hal ini mir, cukup aku saja yang akan mengurus semua untuk putri kita, kamu cukup diam dan duduk saja di rumah, karena aku tidak ingat ada hal buruk lagi yang akan terjadi berikutnya " kata Anton lagi lalu tanpa melihat kearah Mirna, Anton pun berlalu dari ruang kerja nya itu.


" Gak mau, aku ikut " ujar Mirna sambil menyusul langkah Anton masuk ke kamar mereka.

__ADS_1


Anton yang berniat mau naik ke atas tempat tidur dan tidur mengurungkan niatnya, Anton menatap Mirna dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.


" Tidak , kamu tetap di rumah, karena aku tidak mau ada keributan nantinya di sana " sahut Anton tegas.


" Naira juga putri ku, dan aku berhak tahu kondisi nya " jawab Mirna tidak mau kalah.


Anton menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kasar, ia sudah merasa lelah, berdebat dengan Mirna semakin membuatnya lelah.


" Ok, kamu boleh ikut, tapi dengan perjanjian tidak ada keributan " kata Anton akhirnya mengalah dan naik ke tempat tidur lalu merebahkan badan nya untuk tidur.


" Baik lah " jawab Mirna singkat, lalu ikut tidur di samping Anton yang sudah memejamkan matanya terlebih dahulu.


Siang ini Mirna dan Anton tengah bersiap - siap untuk pergi membesuk Naira ke rumah sakit tempatnya di rawat, Anton yang sudah membuat janji dengan aziz untuk bertemu di rumah sakit, tidak mau datang terlambat, merasa ia yang sangat membutuhkan aziz, jadi Anton memilih lebih baik ia yang akan menunggu kedatangan Aziz dan istrinya di sana.


" Ingat ya mir, aku gak mau ada keributan nantinya " Anton dari tadi terus meminta Mirna untuk tidak melakukan hal - hal yang tidak mengenakkan yang dapat memicu keributan nantinya.


" Iya, iya aku udah tahu " jawab Mirna kesal sambil merapikan dandanannya di depan kaca meja rias, Mirna sudah bosan mendengar ocehan Anton yang itu itu saja dari semalam,karena semenjak semalam Anton selalu cerewet memintanya untuk tidak membuat keributan nantinya ketika bertemu dengan Zahra dan aziz.


" Udah ayo berangkat, nanti keburu mereka yang sampai duluan " ujar Anton mengajak Mirna untuk segera berangkat.


" iya " sahut Mirna kesal, karena ia merasa dandanannya belum sempurna, tapi Anton sudah mendesak nya untuk berangkat, akhirnya ia dandan ala kadarnya aja.


Tanpa banyak bicara dan tanpa peduli dengan wajah kesal Mirna, Anton langsung menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat Naira di rawat.

__ADS_1


__ADS_2