CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 147


__ADS_3

Aziz menghempaskan tubuhnya di atas sofa di ruangan pribadinya, Aziz menyandarkan kepala pada sandaran sofa dan meluruskan kakinya, ia juga memijit pelan kepalanya terasa sangat pusing dan iya juga sangat lelah. Aziz memang kurang tidur beberapa hari ini, selain menjaga Zahra yang masih belum sadar, Aziz juga harus melaksanakan pekerjaan dan menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai dokter, seperti hari ini Aziz baru saja selesai melaksanakan operasi Cito tadi malam karena kondisi pasien saat masuk ke IGD sudah kritis, dan ia baru kembali ke kamar rawatan Zahra menjelang pagi, dan pagi - pagi sekali Aziz sudah harus lanjut operasi yang sudah di jadwal kan jauh - jauh hari sebelum Zahra kecelakaan.


Aziz berusaha menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat, selain mengantuk dan ingin membaringkan tubuh nya sejenak dari rasa lelah, Aziz juga tidak sabar untuk menjumpai istrinya walau sang istri masih betah dengan tidur lelapnya, hari ini selesai operasi Aziz langsung lanjut visite pasien - pasien nya.


Aziz sengaja mandi dan ganti baju di ruangan pribadinya, karena Aziz tidak mau membawa kuman ke kamar Zahra selain itu ia tetap berusaha terlihat rapi walau pun istrinya itu dapat melihatnya saat ini, paling tidak di saat Zahra bangun nanti, Aziz ingin Zahra yg tetap melihatnya rapi dan bersih seperti yang selama ini di sukai zahra dari nya yaitu penampilan tidak perlu sempurna asalkan rapi bersih dan wangi.


Setelah merasa lelahnya sedikit berkurang, Aziz pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tidak butuh waktu lama bagi Aziz untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan yang bersih, saat ini Aziz tengah berjalan menuju kamar rawatan Zahra, di depan kamar rawatan Zahra Aziz bertemu dengan sandi dan Adam.


Sandi dan Adam Memang belum kembali ke kota Y karena mereka ingin menunggu kondisi Zahra membaik dahulu baru mereka akan kembali, mereka merasa tidak tenang jika harus kembali sebelum memastikan kondisi Zahra yang baik - baik saja.


" Ayah ,om Adam " Aziz menyapa kedua pria paruh baya yang sangat penting dalam kehidupan istrinya itu dan bersalaman serta mencium tangan ke dua pria paruh baya itu.


Sandi tersenyum bangga dengan Aziz, walau pun lahir dari keluarga terpandang dan sangat kaya tidak hanya itu aziz juga berpendidikan, punya pekerjaan yang tidak semua orang bisa lakukan serta seorang CEO , tapi Aziz tetap bersikap santun pada yang lebih tua dari nya, sifat yang jarang di jumpai pada anak - anak muda milenial sekarang.


" Ayah sudah dari tadi atau baru sampai ?" tanya Aziz yang melihat sandi tadi sedang memegang handel pintu kamar Zahra.


" kami baru saja datang " jawab sandi, memang saat ia akan membuka pintu kamar rawatan Zahra, sandi melihat kedatangan Aziz dari arah yang berlawanan dengannya, sandi melihat walau pun berpenampilan rapi, wajah lelah itu tetap terlihat dari raut wajah menantunya itu, di tambah lagi, Aziz yang sering memegang tengkuknya dan sesekali mengurut kepalanya sambil berjalan, sandi berkesimpulan saat ini kondisi Aziz tidak lah baik - baik saja.

__ADS_1


" kamu kenapa ziz ? Apa kamu sakit ?? " tanya sandi khawatir


" Aziz baik - baik aja yah " jawab Aziz tersenyum, seperti senyum dipaksa dan itu sangat terlihat jelas di mata sandi dan Adam.


" Kamu terlihat tidak baik - baik saja ziz, kami dapat melihatnya dengan mata kami sendiri, kamu terlihat sangat kelelahan ziz " sahut Adam yang juga melihat aziz sangat pucat siang ini.


" Apa kamu sakit ??" tanya Adam khawatir


" Aziz baik - baik saja om, hanya sedikit pusing saja " jawab Aziz jujur, memang saat ini Aziz merasa kepalanya sakit dan pusing


" Apa kamu sudah makan ?" tanya sandi lagi


Dalam hati, aziz membenarkan apa yang di bilang sandi dan Adam, kondisi nya saat ini memang sedang tidak baik - baik saja, rasa pusing yang tadi ia rasakan terasa semakin bertambah.


" Sepertinya kamu kurang istirahat, makan lah dulu setelah itu istirahat, Zahra biar ayah dan om Adam yang jaga " sahut sandi tidak tega melihat menantunya itu yang terlihat sangat lelah dan sedikit pucat , mungkin saja akibat kurang istirahat dan makan yang tidak teratur belum lagi ia harus menjaga Zahra putrinya yang sampai saat ini masih belum sadar.


Aziz hanya bisa menganggukkan kepalanya, saat sandi dan Adam menyuruhnya Kaman dan istirahat, saat ini Aziz sedang tidak ingin membantah apa pun ucapan keluarganya, ia memang butuh istirahat agar bisa merawat istrinya nantinya.


" Om sudah bawak kan makanan untuk kita makan, sebaiknya kamu segera makan dan minum obat lalu istirahat, jangan pikirin yang macam - macam ya " ujar Adam sambil membuka pintu kamar rawatan Zahra dan meletakkan paperbag berisi makanan yang dari tadi di bawanya untuk mereka makan bersama di atas meja makan, Adam dan sandi tahu Aziz pasti sangat sibuk dan tidak akan sempat memesan makanan, makanya itu sebelum mereka berangkat ke rumah sakit, sandi dan Adam menyempatkan membeli makanan dulu, ternyata apa yang mereka khawatirkan terjadi, kerena sibuk Aziz memang belum sempat memesan makanan untuk makan siang dan untung tadi Adam dan sandi sudah membeli nya sehingga mereka bisa menyuruh Aziz untuk langsung menyantap makan siang nya dan minum obat tanpa harus memesan lagi.

__ADS_1


Adam memberikan sekotak makanan yang di di bawanya dan menyerahkannya pada Aziz, Aziz pun menerima makanan yang diberikan Adam,.setelah mengucapkan terima kasih, Aziz langsung memakan makan siangnya dengan cepat lalu meminum obat pereda nyeri, Aziz berharap setelah minum obat dan istirahat sejenak, sakit kepala yang dirasakannya sembuh dan ia bisa menjaga Zahra seperti biasanya.


Sebenarnya Aziz sedikit merasa segan dengan ayah mertuanya itu, Aziz sudah merasa merepotkan sandi dan Adam, seharusnya Aziz lah yang mengurus pria paruh baya itu, tapi saat ini kebalikannya, malah ia yang di urus oleh ayah dan oom dari istrinya itu.


Setelah selesai makan dan minum obatnya, Aziz pamit untuk istirahat di kamar yang khusus di siapkan untuk keluarga pasien yang menunggu keluarganya yang sedang di rawat yang ada di dalam kamar rawatan Zahra, karena itu memang salah satu vasilitas kamar yang di tempati Zahra saat ini yang ada di rumah sakit itu, aziz sengaja istirahat di sana agar ia bisa tenang dan bisa tidur tanpa ada yang mengganggunya, dan tetap berada di dekat istrinya, saat ini yang di butuhkan Aziz memang istirahat dan tidur.


Sandi dan Adam tidak merasa keberatan jika Aziz tidur di sana, dan itu akan lebih baik menurut mereka.


*****


Sementara itu, di kota Y, cindi yang sudah tahu Zahra mendapat musibah tabrak lari dari suaminya, sedang merasa cemas.


Cindi memang tidak bisa menjenguk Zahra di kota X karena saat ini kondisi nenek atau ibunya juga sendang tidak baik - baik saja, penyakit darah tinggi yang di derita perempuan renta itu kambuh ,dan sekarang semakin parah ketika ia mendapat kabar Zahra tidak sadarkan diri pasca kecelakaan itu, sehingga nenek dari Zahra tersebut harus di larikan kerumah sakit karena tidak sadar kan diri.


cindi memang belum mengabari sandi dan Adam suaminya, karena sandi takut akan mengganggu dan membebani sandi dan Adam, sementara yang cindi tahu dari cerita suaminya, saat ini mereka sedang mengurus kasus tabrak lari yang di alami Zahra dengan pihak berwajib.


Cindi memang belum di beritahu oleh Adam siapa yang sudah menabrak Zahra, jadi sampai saat ini cindi belum tahu jika yang menabrak Zahra adalah Naira.


Cindi berulang kali menatap ponselnya, ia masih ragu untuk mengabari Adam dan sandi tentang kondisi ibu nya saat ini.

__ADS_1


Setelah berpikir dan menimbang - nimbang lagi, akhirnya cindi memutuskan untuk mengabari Adam dan sandi bahwa ibu mereka saat ini sedang di rawat di rumah sakit.


__ADS_2