CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 209


__ADS_3

Zahra dan aziz sedang duduk di depan TV di ruang tamu, dari tadi Zahra terlihat sangat gelisah, tiap sebentar matanya melihat ke arah luar berharap mertua dan anak - anak datang. Zahra sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan ketiga putra nya karena sudah di tinggal seharian.


" Sabar sayang, sebentar lagi mereka sampai kok " Aziz yang merasa terusik dengan kegelisahan Zahra mencoba untuk meminta Zahra agar lebih bersabar lagi.


Aziz tidak habis pikir dengan istrinya itu, baru terpisah sehari dari anak - anak nya, Zahra sudah seperti berpisah berbulan - bulan dengan dengan ketiga putra nya. Bagai mana jika berpisah berhari - hari, Aziz tidak bisa bayangkan bagai mana paniknya Zahra nanti menahan rindu pada putra mereka. sementara ketiga putra mereka yang di tinggalkan biasa - biasa saja dan tidak rewel sama sekali info yang aziz dapat dari maminya.


Sebenarnya, Aziz juga cemas kemaren sewaktu ingin membawa Zahra menginap semalam di hotel, Aziz takut ketiga putranya akan rewel dan mencari - cari Zahra karena selama ini ketiga putranya tidak pernah jauh dari ibunya. Aziz juga takut, putranya akan rewel karena selama ini, setiap kali memaksa haus dan ingin minum, mereka selalu menerimanya langsung dari Zahra, kecuali jika mereka lapar nya berbarengan, maka salah satu harus ada yang mengalah minum asi yang di pamping dan di simpan dalam kulkas. Untuk itu tanpa sepengetahuan Zahra Aziz setiap dua jam sekali selalu menghubungi sang mami menanyakan ke adaan ke tiga putra nya itu, dan bahkan aziz juga meminta sang mami untuk mem vidio kan semua aktifitas si kembar untuk memastikan mereka baik - baik saja.


Mengetahui ke tiga putranya baik - baik saja selama mereka tinggal, Aziz menjadi tenang. Dan fokus untuk menghibur zahra yang sedang bersedih, karena yang aziz tahu ibu menyusui itu tidak boleh sedih dan banyak pikiran.untuk itulah Aziz berusaha mengalihkan perhatian Zahra dan menghiburnya dengan cara tanpa membebani Zahra dengan aktifitas yang memberatkan, Aziz ingin Zahra lebih santai dan tenang.


Tintin...


Bunyi Klakson mobil masuk terdengar dari luar gebang , Zahra yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ketiga putra nya langsung berlari keluar menuju pintu untuk menyambut ke tiga putranya pulang dari rumah sakit bersama mertuanya, tanpa melihat terlebih dahulu, Zahra sudah yakin itu mobil mertuanya.


aziz geleng - geleng kepala melihat Zahra yang berlari keluar menyambut kedatangan mereka, berkali - kali Aziz mengingatkan Zahra untuk tidak berlari tapi tidak di indahkan oleh istrinya itu, dengan santai aziz mengikuti langkah Zahra menuju teras sambil terus memperhatikan Zahra dan tetap bersiaga jika Zahra jatuh akibat berlari.


Di pekarangan rumah nampak Bu Susan turun dari mobil bersama ketiga cucu - cucu mereka beserta pak Widodo dan ketiga baby sitter, Zahra tersenyum sumringah melihat ketiga putranya yang anteng dalam gendongan ke tiga babysister nya. Zahra menghampiri mereka dan menyalami mertuanya serta mencium tangan mertuanya bergantian sebelum meraih putranya.


" Sayang..... Anak - anak bunda dari mana ?, bunda kangen kalian " sahut Zahra sambil mencium pipi ketiga putra nya gantian.


" Kami juga kangen bunda " jawab Bu Susan menirukan suara anak kecil " kamu dari rumah sakit bunda, karena hari ini harus jumpa dokter " ujar Bu Susan lagi, Zahra tersenyum senang dan menatap bu Susan dengan tatapan merasa bersalah sudah melupakan jadwal kontrol si kembar sehingga mertuanya harus repot - repot membawa ketiga putranya kontrol ke rumah sakit.


" Mi, maaf ya, Zahra lupa hari ini jadwal anak - anak kontrol, jadi mami deh repot harus mengantar mereka kontrol" sahut Zahra menatap mertuanya merasa bersalah.

__ADS_1


" Udah gak apa - apa sayang, mami gak repot kok, malah mami dan papi senang bisa mengantar mereka kontrol " jawab Bu Susan sambil mengelus bahu Zahra lembut.


" Makasih ya mi, Pi sudah mengantar si kembar kontrol " kata Zahra menatap ke dua mertuanya gantian.


" Iya nak, gak apa - apa, kamu Jagan merasa bersalah gitu dong, papi dan mami senang kok bawa mereka kontrol, mami dan papi jadi merasa mengulang kenangan masa lalu, waktu membawa Aziz dan Chelsea sewaktu bayi kontrol ke dokter, bedanya jika dulu anak sekarang cucu " jawab pak Widodo sambil tertawa bahagia.


" Sebaik nya kita masuk, tidak baik si kembar terlalu lama berada diluar " sahut Aziz mengajak semua orang masuk ke dalam, karena cuaca siang ini yang tadi cerah tiba - tiba mendung dan berangin cukup kencang, dan cuaca seperti itu tidak baik untuk si kembar yang masih bayi.


Semua orang setuju dan masuk kedalam, sambil berjalan masuk kedalam rumah Zahra yang sedang menggendong Rasyid tidak henti - henti mencium pipi Bayi mungil itu gemas. sehingga Rasyid yang sedang tidur pulas itu menangis karena tidur nya terganggu ulah bundanya yang tidak berhenti mencium pipinya.


" cup cup cup sayang, kesal ya tidurnya di ganggu " ujar Zahra sambil tertawa karena sudah berhasil menjahili putra bungsu nya itu.


Ternyata Rasyid sudah terlanjur kesal pada sang bunda, sehingga ia tidak mau diam dan terus menangis.


" Tidur lagi ya bang ?" tanay Zahra merasa bersalah sudah menganggu tidur putranya itu.


" Sudah, sepertinya dia mengantuk berat sayang, jadi tidur lagi " jawab aziz pelan.


Langsung tidurkan di kamar mereka aja sus, biar gak terganggu lagi luka merasa sudah kenyang kok habis minum susu di perjalanan pulang tadi, jadi kemungkinan tidur mereka bakal lama " kata Bu Susan yang meminta baby sitter untuk membawa ketiga bayi kembar itu di tidurkan di kamar mereka saja


Aziz memberikan Rasyid pada baby sitter untuk di bawa keatas bersamaan dua saudaranya yang lain.


Setelah ketiga baby sitter itu pergi membawa si kembar ke kamar mereka untuk tidur, pak Widodo,Bu Susan ,aziz dan zahra memilih duduk di depan TV sambil mengobrol ringan.

__ADS_1


" Mi, maaf ya, kemaren Zahra meninggalkan anak - anak sama mami dan papi " Zahra meraih tangan Bu Susan karena merasa bersalah dan meminta maaf, " habis nya Abang sih mi, sudah culik Zahra dan tidak mau ngantar Zahra pulang kemaren " ujar Zahra lagi menatap Aziz kesal.


" Sayang ,kok Abang di salahkan ?" tanya Aziz yang tidak terima di salahkan oleh istrinya itu.


" Kan memang Abang yang udah menculik Zahra sepulang dari tempat kak Naira, abang culik Zahra gak bilang - bilang lagi " ujar Zahra kesal


" ya mana ada di culik itu bilang - bilang sayang, kalau ada menculik itu bilang - bilang itu bukan menculik nama nya, tapi Minta izin ." jawab Aziz yang masih tidak mau disalahkan.


" Udah - udah kok malah ribut sih." ujar Bu Susan menengahi perdebatan pasangan suami istri itu.


" Dengar yan sayang, mami tidak merasa keberatan kok menjaga di kembar, karena mereka cucu mami dan papi, lagian si kembar tidak rewel dan merepotkan mami dan papi kok sayang, " kata Bu Susan mengelus bahu zahra.


" Apa yang di lakukan oleh suami kamu gak salah kok sayang, walau pun sudah punya anak kalian juga butuh waktu untuk berdua tanpa adanya gangguan, untuk menambah ke harmonisan dalam rumah tangga, " ujar Bu Susan menjelaskan tentang salah satu cara menjaga keharmonisan dalam rumah tangga pada Zahra,


" Dan kamu jangan lupa , selama ini semenjak si kembar lahir, kamu sudah banyak menghabiskan waktu kamu dengan si kembar dan kamu melupakan bayi besar kamu, sehingga bayi besar kamu cemburu " ujar Bu Susan lagi menatap Aziz dan menggoda putranya itu.


Zahra ikut mengalihkan tatapannya pada sang suami yang tengah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena grogi di goda sang mami.


Sementara pak Widodo yang hanya melihat dan menyimak obrolan istri dan menantunya itu hanya tersenyum kecil sambil menggeleng - gelengkan kepalanya menatap interaksi ke tiga orang tersebut


" Makasih ya mi, sudah menjaga anak - anak selama Zahra dan abang pergi " kata zahra lagi.


" Iya sama - sama sayang "

__ADS_1


__ADS_2