CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 134


__ADS_3

ceklek


Pintu kamar operasi terbuka, dua orang perawat keluar sambil mendorong brankar pasien, seorang perempuan cantik berada di atas brankar dengan mata terpejam dan alat medis yang melekat di tubuhnya.


Aziz yang tadinya masih terduduk menangis pilu dalam dekapan dokter ayu perlahan berdiri melihat siapa di atas brankar tersebut, pandangannya seketika nanar menatap perempuan cantik yang terlihat pucat itu masih memejamkan matanya dengan tubuh yang lemah di atas brankar itu.


Dengan perlahan Aziz mengayunkan langkah kakinya menuju brankar tesebut, pandangan mata nya tidak lepas dari wajah pucat istrinya itu.


" Sayang, ini Abang, bangun lah sayang " dengan tangan gemetar Aziz mengangkat tangannya ke arah Zahra dan Aziz mengusap wajah pucat itu lembut sambil memanggil nama istrinya.


Tapi sayang tidak ada respon dari wanita cantik itu, ia tetap betah memejamkan matanya.


Aziz menggenggam tangan Zahra dan membawa tangan itu ke bibirnya dan mengecup tangan istrinya itu bekali kali, Aziz terus memanggil - manggil Zahra berharap istrinya itu bangun mendengar suaranya.


Bu Susan mendekat ke brankar menantunya itu, Bu Susan tidak tega melihat menantunya yang tertidur lemah di atas brankar, air mata tidak henti - hentinya turun dari kedua matanya dan membasahi pipi tuanya.


Bu Susan mengelus kepala Zahra lembut, dan mencium puncak kepala menantu kesayangannya penuh kasih sayang.


" Sayang cepatlah sembuh, bangun lah sayang, mami rindu mendengar suara kamu sayang " bisik Bu Susan di telinga Zahra, pak Widodo mengelus punggung Bu Susan lembut dan meminta Bu Susan untuk bersabar, pak widodo tidak jauh berbeda dengan anak dan istrinya itu, ia juga merasa sangat terpukul dengan musibah yang menimpa menantunya itu, tapi pak Widodo berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tegar agar anak dan istrinya juga bisa tegar menerima musibah ini.


" Maaf dokter, Bu Zahra harus segera kita bawa ke ruangan intensif agar cepat mendapat perawatan untuk observasi lebih lanjut dokter, jadi kami izin untuk membawa Bu Zahra ke ruang intensif dulu dok" seorang perawat memberanikan diri minta izin pada Aziz dan pak Widodo untuk membawa Zahra ke ruang intensif, karena kondisi pasien tidak memungkinkan untuk berlama - lama berada di sana. Zahra harus segera mendapatkan perawatan post operasi dan juga memasangkan alat bantu nafas yang sekarang sangat di butuhkan oleh Zahra untuk bisa bertahan hidup.


Aziz tidak memperdulikan perawat tersebut bicara apa, ia tetap dengan posisinya memeluk Zahra dan mencium tangan Zahra sambil memanggil - manggil Zahra dengan harapan Zahra akan membuka matanya.


Pak Widodo menghampiri Aziz dan menepuk pundak Aziz pelan


"Ziz sudah waktunya Zahra di bawa ke ruang intensif, biarkan Zahra dapat perawatan di sana terlebih dahulu, setalah ini kita akan jumpai Zahra di sana ya " pak widodo paham dengan perasaan putranya itu, tapi Zahra butuh perawatan lanjutan dengan cepat, pak Widodo membujuk Aziz agar Aziz bisa melepas Zahra di bawa keruangan intensif.agar menantunya segera mendapatkan perawatan.

__ADS_1


Aziz melepas pelukannya pada Zahra, dan menganggukkan kepalanya pelan.


Kedua perawat itu pun menganggukkan kepalanya pada Aziz dan keluarganya, kemudian mendorong brankar Zahra menuju ruang intensif yang sudah di siapkan untuk zahra mendapatkan perawatan lanjutan.


Aziz dan yang lainnya menyusul berjalan di belakang perawat tersebut menuju ruang rawatan Zahra.


Sementara itu, Rio yang dari tadi ada di sana tidak mampu berkata apa - apa, Rio melihat sendiri bagai mana kondisi Zahra saat ini, hatinya terasa sakit melihat wanita yang masih di cintainya itu tergeletak lemah tak berdaya di atas brankar rumah sakit.


Rio menghapus air matanya yang tidak sengaja keluar, tubuh nya terasa sangat lemah pikirannya tidak tahu entah berada di mana saat ini.


Entah berapa lama Rio termenung di sana, Rio tersentak ketika bahunya di sentuh oleh seseorang, Rio menatap orang tersebut yang ternyata seorang perawat yang dari tadi sudah memanggil - manggil nya, tapi Rio tidak menyadarinya.


" Eh iya sus " sahut Rio kaget dan berdiri menghadap perawat tersebut.


" maaf pak jika kami mengangetkan bapak, kami ingin memberitahukan bapak jika bayi nya sudah lahir pak, dan ini dokter yang sudah merawat anak bapak " sahut perawat tersebut dan mengenalkan dokter anak yang merawat anak Rio


" Bagai mana kondisi bayi dan istri saya dokter " tanya Rio pada dokter tersebut.


" Kondisi Bu Naira masih lemah pak dan masih dalam kamar operasi karena tindakan ke ibu Naira masih berlangsung, kami mau memberitahukan Caesar Bu Naira sudah berjalan dengan baik pak, dan Alhamdulillah bayinya juga sudah lahir dengan selamat, bayi bapak berjenis kelamin perempuan dengan berat badan lahirnya dua kilo dan panjangnya empat puluh tiga pak " ujar dokter yang tadi ikut keluar bersama perawat tadi mejelaskan jenis kelamin dan berat anak Rio dan Naira


" Tapi karena kondisi bayi yang lahir belum waktunya dan juga lemah, jadi bayi bapak harus kami bawa ke ruangan NICU untuk observasi lanjutan nya pak, dan bayi bapak juga harus di rawat dalam inkubator karena kondisi dan beratnya yang belum cukup." sahut dokter itu lagi,


" Baik dokter berikan yang terbaik untuk bayi saya dokter " ujar Rio pada dokter tesebut.


" Apa saya bisa lihat anak saya dokter " ujar Rio lagi sambil menatap inkubator yang di dorong oleh perawat di mana bayinya berada."


" Oya bisa pak, nanti bapak ikut saja sekalian dengan perawat ke rumah Nicu agar bapak bisa meng azan kan anak nya sekalian pak " jawab dokter tesebut

__ADS_1


" terima kasih dokter " ujar Rio tersenyum


Setelah pamit pada dokter anak tesebut, kemudian Rio mengikuti perawat yang mendorong bayinya menuju ruang NICU di mana bayinya akan mendapat perawatan lanjutan.


Sesampainya di ruangan Nicu Rio harus menunggu sebentar karena perawat harus merapikan anak nya dulu dan memasangkan alat bantu nafas yang di butuhkan anaknya.


lima belas menit kemudian Rio di panggil oleh perawat tadi dan Rio pun masuk ke ruangan NICU untuk meng azan kan bayi nya.


Setelah meng azan kan bayinya Rio menatap bayi perempuannya takjub, bayi mungil itu terlihat sangat cantik persis seperti ibunya.


Puas menatap bayinya, Rio pamit untuk kembali ke ruangan operasi menunggu Naira selesai operasi.


ceklek


Tidak butuh waktu lama, pintu kamar operasi pun terbuka, seorang dokter dan dua orang perawat keluar sambil mendorong brankar di mana Naira tertidur lelap di atas nya.


" Dokter " Aziz berdiri dan menghampiri dokter dan perawat tersebut


" Bagai mana kondisi istri saya dok ?!" tanya Rio menatap Naira yang berada di atas brankar dan dokter bergantian.


" Alhamdulillah operasi berjalan lancar pak, dan ibu beserta bayinya bisa di selamatkan, tapi kondisi Bu Naira saat ini sangat lemah jadi bu Naira harus menjalani observasi ketat dulu di ruangan ICU pak " jawab dokter tesebut memberikan penjelasan kondisi Naira post operasi.


Rio mengusap wajahnya kasar, Rio sangat gelisah dan cemas, walau pun operasinya berjalan lancar, tapi Rio tidak menyangka ternyata anak dan istrinya sama - sama tidak baik - baik saja.


" Baik lah dokter, tokoh berikan yang terbaik untuk anak dan istri saya dokter " ujar Rio akhirnya pasrah dengan kondisinya saat ini.


" Insyaallah pak, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri dan bayi bapak " dokter tersebut pamit dari hadapan Aziz dan berlalu dari sana .

__ADS_1


__ADS_2