
Pagi ini setelah selesai sarapan, sesuai rencana, sandi, cindi , Adam dan nenek Zahra tak ketinggalan si bungsu Altaf kembali ke kota tempat tinggal mereka, semua barang bawaan mereka sudah siap di mobil dan tinggal berangkat ke bandara, Zahra dari tadi tidak pernah jauh dari sang nenek, entah mengapa begitu berat rasanya melepas kepergian sang nenek, biasanya setiap kali berpisah dengan sang nenek Zahra merasa tidak pernah seberat ini.
" Gimana , apa semua sudah siapa untuk berangkat ?" Adam menatap sandi, cindi dan nenek bergantian.
" Kami sudah siap dari tadi kok bang " jawab cindi pada Adam.
" Ayo kita berangkat sekarang, nanti keburu telat Samapi bandara " sandi dan Adam berdiri di ikuti oleh yang lain, kecuali Zahra dan nenek, Zahra yang dari tadi bergelayut manja pada sang nenek tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada lengan sang nenek.
" Udah nak, nenek pulang dulu ya, ingat pesan nenek, jadi lah istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak - anak mu nak " nenek mengusap kepala Zahra lembut penuh kasih sayang, tatapan nya begitu teduh menatap cucu yang begitu ia sayangi dan ia besarkan dari kecil itu.
" Nenek gak usah pulang, di sini aja tinggal sama Zahra " rengek Zahra yang tidak mau di tinggal oleh nenek.
Nenek mengulas senyum melihat kemanjaan Zahra padanya tanpa ada rasa segan dan malu pada suami dan keluarga mertuanya.
" Gak bisa gitu nak, di sini kamu sudah ada yang jaga, nenek senang dan sudah bisa tenang melepas mu pada orang yang tepat, nenek harus pulang, karena di sana lah rumah nenek, dan seperti janji nenek pada kakek mu, nenek akan menghabiskan hari tua nenek di sana " jawab nenek lembut.
Sebenarnya jika Nenek mau, nenek bisa - bisa saja tinggal bersama Zahra dan Aziz, bahkan Aziz sudah pernah meminta langsung pada nenek dua hari yang lalu, Aziz meminta nenek untuk tinggal bersama mereka karena melihat Zahra yang begitu sangat ingin dekat dan tidak ingin jauh dari sang nenek, tapi sama hal nya dengan orang tua yang lain, nenek merasa sangat berat meninggalkan rumah nya, rumah dimana banyak kenangan bersama suaminya.
Aziz sangat paham dan mengerti dengan apa yang di rasakan oleh nenek, untuk itu lah demi menghargai nenek Aziz pun tidak mau memaksakan kehendaknya yang menginginkan nenek tinggal bersama mereka demi kebahagian istrinya.
Zahra menatap nenek nya dengan wajah yang cemberut, aziz mendekati Zahra dan mengelus lambut bahu Zahra, Aziz mengerti saat ini Zahra sangat berat melepas nenek pergi.
__ADS_1
" Nanti setelah adek sehat dan si kembar sudah bisa di bawa perjalanan jauh, Abang janji akan mengajak adek untuk mengunjungi nenek " sahut Aziz pada zahra.
" Abang janji ya " Zahra menatap aziz lebih harap
" Iya Abang janji, senyum dong, masa nenek pulang adek cemberut gitu " Aziz menganggukkan kepalanya pasti.
" Iya nak, nanti kita bersama - sama kesana sekalian pergi liburan ya " Bu Susan yang tidak tega melihat menantu kesayangannya bersedih pun ikut menghibur Zahra
Zahra pun menganggukkan kepalanya dan melepaskan genggaman tangannya pada lengan nenek, " Nenek jaga kesehatan ya, jangan lupa makan, jika ada apa - apa jangan lupa mengabari Zahra. " pesan Zahra pada nenek.
Nenek menatap Zahra penuh kasih sayang, sebenarnya jika mau jujur nenek juga sangat berat berpisah dengan cucu kesayangannya itu, tapi nenek tetap pada inginannya yang ingin menghabiskan hari - hatinya di rumah nya sendiri sambil mengenang kenangan indahnya bersama almarhum suaminya dan akan menghabiskan sisa hidup nya disana.
Menginap beberapa hari di rumah besannya itu, nenek melihat sendiri bagaimana Zahra di perlakuan dan di terima baik dalam keluarga itu, semua orang telihat sangat menyayangi cucunya itu, Zahra di perlakukan bak seorang putri, dan Aziz sangat meragukan istrinya itu, tidak ada nenek melihat celah yang tidak baik pada cucu nya, nenek merasa sangat bersyukur dan lega, ternyata menantu pilihan suaminya untuk sang cucu ternyata tidak kaleng - kaleng.
Cindi yang di tatap oleh nenek dan zahra mengacungi jempolnya pada Zahra. " Jagan khawatir Ra, Tante akan selalu siapa sedia menjaga dan memantau nenek dua puluh empat jam " ujar cindi yang di sambut gelak tawa dari semua orang yang berada di sana.
" Makasih Tan, Tante memang paling baik " Zahra pun mengacungkan dua ibu jarinya pada Tante cindi.
" Udah - udah, lama - lama pamitnya nanti kita keburu di tinggal pesawat " seru sandi mengajak keluarganya untuk segera berangkat.
Semua orang berdiri dan mengikuti langkah sandi keluar dekat teras rumah. sebelum masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara, sandi dan yang lainya kembali pamit pada pak Widodo dan bu Susan
__ADS_1
" Pak besan dan Bu besan, terimakasih banyak sudah mengizinkan kami menginap di sini beberapa hari ini, maaf jika kamu sudah merepotkan, dan kami titip putri kami pak, jika putri kami berbuat kesalahan silahkan di tegur " sahut sandi menjabat tangan pak widodo sebelum pamit.
" Ah besan ini bicara apa, kita satu keluarga tidak ada yang merepotkan, jika nanti datang ke sini lagi Jagan segan - segan untuk menginap di sini lagi ya pak " jawab pak Widodo
" Dan masalah putri bapak, bapak tidak usah cemas, Zahra bukan hanya minantu di rumah ini tapi Zahra juga putri kami, dan tanpa di minta kami pastikan akan menjaganya dengan baik." jawab pak Widodo lagi.
" Terima kasih pak besan " sandi dan pak Widodo pun saling berpelukkan sebelum berpisah, begitu juga dengan Adam, cindi dan nenek.
Dan ketika sampai di giliran si bungsu Altaf,.semua orang tertawa terbahak - bahak karena merasa lucu mendengar obrolan Altaf dengan bu Susan.
" Mi, nanti kalau Altaf kangen kak Zahra dan si kembar ,Altaf boleh main dan nginap di sini juga gak mi " altaf yang di minta memanggil Bu Susan dan pak Widodo sama seperti Aziz, Zahra dan chelsea memanggil mereka mami dan papi bertanya dengan lugu nya.
" ya boleh dong sayang, Altaf mau tinggal di sini pun sama kami, mami dan papi sangat senang sekali jawab Bu Susan tulus.
" Yeeee, makasih mi, Pi " siram Altaf kegirangan. semetara Adam dan cindi hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya itu.
" Sayang Abang ngantar ayah, nenek dan yang lainnya ke bandara dulu ya, adek baik - baik di rumah ya, kalau ada perlu sesuatu langsung minta tolong bibi atau mami ya " setelah semua orang masuk kedalam mobil, Aziz yang akan mengantar sandi dan yang lainnya ke bandara pun pamit pada Zahra
" Iya abang " jawab Zahra tersenyum lalu meraih tangan Aziz untuk salam dan mencium tangan Aziz seperti biasanya ketika suami nya itu pamit untuk pergi kerja. Tak pula Aziz pun mengecup kening Zahra mesra.
Tidak mau menunda waktu lagi, Aziz dan pak Widodo yang akan mengantar sandi dan rombongan ke bandara pun segera masuk ke dalam mobil, dengan perlahan mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah, Zahra menatap mobil yang membawa suami dan keluarganya sampai hilang di dari balik gerbang rumah hingga tidak terlihat lagi.
__ADS_1
" Ayo sayang kita masuk, kamu harus istirahat, mumpung si kembar lagi tidur, nanti kalau si kembar bangun mami suruh baby sitter nya manggil kamu " Bu Susan mengajak Zahra masuk dan istirahat.
" iya mi " jawab Zahra mengikuti langkah mertuanya masuk kedalam rumah.