
Menjelang sore ,Zahra sudah sampai di kos. pekerjaan yang banyak membuat sedikit lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya dulu, sehingga zahra baru bisa pulang menjelang sore .
Zahra langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat keringat. Tak lama kemudian Zahra keluar dari kamar mandi dengan tubuh terasa lebih segar dan lebih wangi.
Ketika akan mengeringkan rambut Zahra ingat dengan ponselnya yang tadi di tinggalkan nya karena kehabisan daya.
Zahra menghidupkan ponsel yang masih dalam keadaan mati tersebut. sambil menunggu ponselnya menyala Zahra Mengeringkan rambutnya terlebih dahulu menggunakan hairdryer dan menyisir rambutnya yang panjang dengan rapi.
Setelah rapi Zahra mengambil ponselnya lagi dan memeriksa ponsel yang sudah hampir dua hari di abaikannya tersebut.
Zahra mengerutkan kening heran menatap Ponselnya. Dua hari tidak memegang ponsel ternyata begitu banyak panggilan masuk dari keluarganya terutama Alif yang tidak terjawab.
" Kenapa ya bang Alif telpon sebanyak ini " gumam Zahra pelan pada dirinya sendiri.
" Telpon balik aja kali ya " ujar Zahra lagi.
Setelah menimbang - nimbang,akhirnya Zahra memutuskan untuk menelpon balik Alif yang sudah menelponnya begitu sering tapi tidak terjawab.
Sudah tiga kali panggilan tapi panggilan ponselnya belum di angkat - angkat oleh Alif. Zahra menatap ponselnya bingung, perasaannya makin tidak enak setelah melihat banyak nya panggilan dari Alif dan sekarang di tambah lagi dengan panggilan ponselnya tidak kunjung di angkat oleh Alif , Zahra semakin gelisah ,Zahra takut telah terjadi sesuatu pada keluarganya .
Zahra melakukan panggilan ulang lagi pada Alif dengan berharap Alif akan mengangkat panggilan telponnya kali ini.
Sementara si sebuah rumah sakit di kota lain, Alif beserta keluarga yang lain masih menunggu kakek yang belum siuman di depan ruang ICU..Semua keluarga masih menunggu dengan sabar dan cemas, mereka semua berharap segera mendapatkan kabar yang sangat menyenangkan walau badan lelah menunggu di depan ICU.
Tiba - tiba ponsel Alif berbunyi manadakan ada panggilan masuk, Alif mengambil ponsel dari dalam kantong celana nya dan melihat siapa yang sudah melakukan panggilan telpon di ponselnya .
Alif menatap ponselnya yang terus berdering, Alif ragu untuk mengangkat panggilan telpon yang masuk tersebut .
Alif menatap keluarganya yang juga menatap kepadanya penuh tanda tanya karena mereka heran menatap Alif yang tak kunjung mengangkat panggilan di ponselnya.
" Kenapa tidak diangkat lif ?" tanya cindi pada Alif.
" Dari Zahra ma, Alif harus jawab apa jika Zahra tanya kakek ?" tanya Alif bingung menatap mama nya dan keluarga yang lain minta saran.
" Jangan beritahu Zahra dulu kondisi kakek saat ini lif " perintah nenek pada Alif supaya tetap merahasia kan kondisi kakek pada zahra.
" Kenap tidak boleh ma, Zahra wajib tahu kondisi kakeknya bukan ?" tanya sandi tidak mengerti dengan perintah mama nya pada Alif.
Memang hubungan sandi dengan keluarga nya tidak baik - baik saja semenjak indah meninggal di tambah Alif yang menolak keberadaan Zahra waktu itu, keluarga nya sangat marah pada sandi apa lagi keberadaan Mirna yang tidak bisa di terima oleh kedua orang tuanya menambah hubungan sandi dengan keluarganya merenggang.
Banyak hal yang tidak sandi ketahui tentang keluarganya semenjak itu, termasuk tentang penyakit papanya yang sudah di derita semenjak dua tahun terakhir ini.
__ADS_1
Tadi Adam di kabari oleh cindi bahwa papa mertuanya sedang dalam perjalanan di bawa ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri, kebetulan sandi sedang berada di ruangan yang sama dengan Adam karena mereka baru saja menyelesaikan meeting kerja sama perusahaan Adam dan sandi.
Adam pun memberitahu sandi jika papa mertua nya atau papa sandi sedang di bawa ke rumah sakit karena di temukan tidak sadarkan diri di rumah.
Adam pun menceritakan kondisi papanya pada sandi secara singkat sambil berlalu dari ruang meeting itu di ikuti sandi.
Sandi merasa kecewa dengan keluarganya, mengapa satu pun keluarganya tidak ada yang memberitahukan kondisi papa pada dirinya.
Dan disini lah sandi sekarang bersaman keluarganya yang lain.
" Karena papa kamu tidak mau Zahra tahu tentang penyakitnya " jawab nenek singkat
" Tapi ..." sandi tidak jadi melanjutkan ucapannya ketiak menek tetap memerintah Alif untuk tidak memberitahu Zahra tentang kondisi kakek saat ini.
" Angkat telpon Zahra lif, jangan biarkan Zahra lama menunggu panggilan telponnya tidak kunjung kamu angkat nanti Zahra curiga.tapi ingat tetap jangan kasih tahu Zahra tentang kondisi kakek saat ini." perintah nenek pada Alif walau pelan tapi terkesan tegas.
Sandi menarik nafa Berat. tidak ada satu orang pun yang berani membantah ucapan nenek termasuk Alif
Alif menganggukkan kepalanya dan Segeran mengangkat panggilan dari Zahra yang dari tadi tidak berhenti menghubunginya.
" Halo dek ..." sapa Alif dengan suara yang di buat senormal mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan Zahra.
" Halo juga bang, Abang maaf ponsel Zahra habis saya, dan beberapa hari ini Zahra juga tidak memegang ponsel karena sibuk dengan kerjaan bang ,abang apa kabar ?" jawab Zahra di seberang sana begitu panggilan telponnya di angkat oleh Alif.
" Maaf bang " ujar Zahra meringis.
" abang ada apa telpon Zahra ?" tanya Zahra akhirnya
" Jadi nggak boleh nih Abang telpon Zahra lagi " jawab Alif pura - pura merajuk.
" bukannya gitu bang, Zahra hanya heran aja lihat panggilan tak terjawab yang banyak dari Abang " jawab Zahra menjelaskan
" gimana kabar keluarga di sana bang ,apa kah baik - baik saja " tanya Zahra khawatir .
Alif menatap keluarganya satu - satu, semua orang kecuali sandi menggelengkan kepalnya agar Alif tetap tutup mulut ,memang sambungan telpon Zahra saat ini sedang di speaker kan oleh Alif agar semua keluarga bisa mendengarkan suara Zahra.
"Semua keluarga baik - baik aja kok dek, kamu nggak usah khawatir " jawab Alif berusaha tenang
" Abang nggak lagi sedang bohongi Zahra kan ?" ujar Zahra ,terdengar nada keraguan dari nada bicaranya.
" Yamin lah dek, Abang masih di sini dek, makanya Abang bisa yakin semua keluarga baik - baik aja " jawab Alif meyakinkan Zahra
__ADS_1
" Abang masih di rumah ?, bukannya Abang sudah harus berangkat ke pulau Jawa dari kemaren ya bang ?" tanya Zahra heran
" Seharusnya iya, tapi dua hari yang lalu Abang dapat telpon dari teman Abang yang di sana ,kampusnya baru buka dua Minggu lagi, ternyata Abang yang salah informasi kemaren " jawab Alif menjelaskan alasannya belum jadi berangkat ke pulau Jawa pada Zahra. Alif tidak bohong, memang keberangkatannya ke pulau Jawa di tunda jadi dua Minggu lagi, karena Alif yang salah mendapat informasi tentang perkuliahannya .
" Terus kakek apa kabar bang, Zahra kangen sama kakek ,boleh nggak Zahra bicara sama kakek bang " Alif seketika menegang mendengar pemintaan Zahra ,begitu pula dengan yang lainnya.Alif lagi - lagi menatap neneknya minta bantuan.Rasanya Alif sudah tidak sanggup lagi membohongi Zahra saat ini.
" bang ,kok diam sih " terdengar suara Zahra di seberang sana memanggil nama Alif.
Nenek memberi isyarat pada Alif dengan menaruh jari telunjuknya di bibir sambil menggelengkan kepala yang artinya tetap jangan beritahu Zahra.
" eh ya dek, sabar dong,ini Abang lagi lihat kakek, karena Abang lagi di depan tv sama Arumi " jawab Alif berbohong
" cepat bang, Zahra sudah kangen dengan kakek "rengek Zahra tidak sabar pada Alif.
" kakek lagi nggak bisa di ganggu dek, kata nenek kakek baru aja tidur " jawab Alif berbohong lagi , ada rasa sakit seketika di rasakan oleh Alif ketika kembali membohongi Zahra
" Abang nggak bohong kan?" ucap Zahara lagi
" ya nggak lah dek, kakek memang lagi tidur " jawab alif lagi - lagi meyakinkan Zahra, memang kali ini Alif tidak berbohong ,fakta nya kakek memang sedang tidur atau tidak sadarkan diri tepatnya .
" yaaa, padahal Zahra sangat pingin bicara sama kakek bang, Zahra kangen kakek." jawab Zahra kecewa.
" nanti kalau kakek udah bangun ,Abang telpon balik ya " janji Alif pada Zahra, Alif juga tidak tega mendengar nada kecewa yang muar dari bibir Zahra.
" Abang janji ya, Zahra belum tenang sebelum Zahra bisa mendengar dan berbicara langsung dengan kakek bang " kata Zahra lagi
" Zahra juga nggak tahu, beberapa hari ini, Zahra kepikiran kakek terus bang " keluar Zahra lagi pada Alif
Alif merasa hatinya di peras sangat kuat saat ini mendengar ucapan Zahra , begitu juga dengan yang lain.
Tante cindi langsung memeluk Adam suaminya erat - erat dan menyembunyikan wajahnya di dada Adam agar suara tangisnya tidak terdengar oleh Zahra di seberang sana , Adam mengelus punggung cindi lembut memberikan kekuatan.
Sementara itu sandi termenung mendengar percakapan Alif dan zahra, ada rasa cemburu dalam hari sandi pada ayah nya ,sebegitu dekatnya Zahra dengan sang papa sehingga papanya sakit pun saat ini langsung ada kontak bathin dari Zahra .
sandi berpikir jika ia yang berada di pihak papanya saat ini, apakah Zahra juga memiliki firasat yang sama seperti firasat Zahra pada kakek nya.
" Adek jangan banyak fikiran , banyak - banyak lah berdoa untuk kesehatan kakek jika memang Adek sayang kakek ya " akhirnya hanya kata - kata itulah yang sanggup alif ucapkan saat ini. secara tidak langsung Alif meminta doa untuk sang kakek dari Zahra.
" Zahra selalu mendoakan kakek bang, Abang jangan khawatir " jawab Zahra pasti.
" ya udah Zahra tutup telponnya dulu ya bang, tapi Abang janji ya, klau kakek bangun nanti tolong telpon ulang Zahra ya bang, karena Zahra kangen sekali sama kakek." pinta Zahra pada Alif sebelum panggilan telponnya di tutup
__ADS_1
" Baik dek ,nanti abang telpon adek kalau kakek udah bangun. " jawab Alif
Setelah sama - sama mengucapkan. salam panggilan itu pun berakhir.