
Tok...tok....tok....
Pintu kamar Zahra kembali di ketuk dari luar, Bu Susan yang sudah selesai sarapan dari tadi berdiri membuka kan pintu, ternyata yang datang tiga orang perawat yang sedang mendorong tiga inkubator dimana ketiga cucu - cucunya berada di dalam incubator itu.
" wahhhh, cucu - cucu Oma sudah datang " sambut Bu Susan dan membuka pintu kamar lebar - lebar agar perawat - perawat itu bisa masuk dan membawa ketiga incubator itu kedalam kamar Zahra.
Mendengar anak - anak nya datang, Zahra yang sedang sarapan langsung meminta aziz untuk berhenti menyuapinya. Zahra sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putra - putranya karena dari semalam belum bertemu sama sekali dengan putranya itu, terakhir Zahra bertemu dengan anak - anak nya sebelum mereka di bawa perawat ke kamar bayi setelah Aziz mengazankannya.
" Kenapa ?" tanya Aziz bingung
" Zahra sudah kenyang bang "
" Sedikit lagi sayang, kamu harus makan yang banyak biar asi nya banyak dan cukup untuk si kembar "
" Tapi zahra sudah kenyang bang "
" Sayang, kamu baru makan setengah, ini aja masih banyak loh " sahut Aziz yang berusaha membujuk Zahra untuk menghabiskan sarapannya, Aziz tahu Zahra saat sudah tidak sabar dan sangat ingin menemui putra - putra mereka yang baru datang di antar oleh perawat.
" Tapi Zahra mau lihat mereka bang " jawab Zahra sedikit manja dan memelas
" Iya, tapi habiskan dulu sarapan nya, setelah itu kamu bisa main dengan mereka sepuasnya, " jawab aziz yang lagi - lagi tidak ingin di bantah oleh istrinya itu.
Aziz kembali menyuapi Zahra, dan Zahra menerima suapan Aziz dengan cemberut. Aziz tidak peduli dengan kekesalan zahra pada nya saat ini, yang Aziz inginkan Zahra bisa menghabiskan sarapannya karena setelah ini Zahra harus memberikan asi untuk putra - putra mereka.
Sementara itu Bu Susan memberikan instruksi pada ketiga perawat tadi di mana incubator bayi - bayi itu harus mereka letakkan.
Sebenarnya bayi Zahra harus tetap di rawat di ruangan bayi karena berat badannya yang masih terbilang rendah di tambah lagi mereka yang harus lahir sebelum waktunya untuk itu ketiga bayi itu tetap berada di dalam incubator, tapi siapa yang bisa menolak jika orang nomor satu di rumah sakit itu memerintahkan untuk membawa bayi - bayi itu keruangan ibunya dan di rawat bersama - sama dengan ibunya.
Semua ini tak lain adalah perintah dari pak Widodo dan Aziz sendiri, Aziz tidak mau mengambil keputusan sendiri, sebelum berbicara dan menyampaikan serta berdiskusi dengan pak Widodo maksud dan alasannya meminta ketiga bayi itu dirawat satu ruangan dengan ibu nya , Aziz terlebih dahulu melakukan konsul dengan dokter anak yang telah merawat anak - anak nya dan menanyakan kondisi dan perkembangan ketiga putranya itu.
Setelah tahu kondisi ketiga putranya, Aziz pun meminta izin pada dokter anak tersebut untuk mengizinkan ketiga anak nya bisa rawat gabung dengan Zahra, dokter pun mengizinkan bukan tanpa alasan, selain seorang pemilik yang meminta, namun melihat kondisi perkembangan ketiga bayi itu yang sangat baik makanya dokter memutuskan boleh rawat gabung dengan ibunya asalkan tetap di rawat dalam incubator, dan bayi - bayi itu boleh di keluarkan dari dalam incubator hanya saat akan menyusui saja.
Dan sekarang di sini lah ketiga bayi - bayi itu berada, bayi itu masih tetap berada dalam incubator dan di ruangan yang sama dengan ibu mereka.
Ketiga bayi - bayi itu terlihat tenang dan tidur nyenyak, padahal incubator nya sudah di dorong ke mana - mana tapi mereka tetap anteng dan tidak merasa terusik sedikit pun akibat dari goncangan incubator.
Setelah Zahra menghabiskan sarapannya, Aziz membantu zahra bersiap - siap untuk menyusui bayinya, seorang perawat bayi sudah standby dari tadi akan mengajari Zahra cara memberikan asi yang benar nantinya. Sedangkan dua perawat lainnya setelah mengantarkan bayi kembar itu langsung pamit kembali melanjutkan tugasnya pada pak Widodo, Bu Susan dan aziz.
" Mau istirahat dulu atau mau langsung belajar menyusui sayang ?" tanya Aziz pada Zahra.
" Langsung aja bang, Zahra sudah tidak sabar memberi mereka asi Zahra " jawab Zahra yang langsung ingin memberikan asi nya pada ketiga anak - anak nya, dan Alhamdulillah nya, walau pun Zahra baru satu hari siap lahiran, asi nya sudah mulai keluar dan banyak, itu terlihat dari payudara Zahra yang sudah mulai mengeras pertanda produksi asinya sudah mulai memproses.
__ADS_1
" Baik lah, sus tolong ambilkan bayinya ya " ujar Aziz meminta tolong pada perawat untuk mengambilkan salah satu bayinya pada Zahra.
" Baik dokter "
Perawat mengambil salah satu bayi kembar dan memberikan nya pada zahra. Bayi yang di ambilkan perawat adalah bayi yang pertama lahir.
Aziz mengambil bayi itu dari tangan perawat dan memberikannya pada zahra, Zahra menatap bayinya dengan takjub, senyum bahagia terukir dari bibir nya, Zahra merasa seperti mimpi , ternyata ia sekarang sudah menjadi ibu dan itu di buktikan dengan adanya bayi mungil, lucu dan tampan yang ada dalam gendongannya saat ini, mata zahra berlinang hati melihat putra nya yang tertidur tenang dalam pangkuannya.
" Di tinggal aja sus, nanti biar saya yang bantu istri saya menyusui " ujar Aziz pada perawat yang dari tadi berdiri di sana menunggu Zahra untuk menyusui.
" Baik lah dok, kalau begitu saya izin pamit kembali keruangan dulu dok, nanti kalau ada apa - apa dokter bisa langsung hubungi kami ke ruangan bayi saja dok " jawab perawat menjelaskan kemana aziz harus menghubungi mereka jika butuh bantuan.
" Baik lah, terima kasih ya sus " ujar Aziz tersenyum ramah.
" Sama - sama dokter, permisi ya Bu, saya kembali ke ruangan dulu " pamit perawat pada Zahra sebelum berlalu.
" Iya kak, makasih ya " sahut Zahra sungkan. Bagai mana pun Zahra masih belum terbiasa dengan status nya sebagai istri dari seorang dokter aziz yang ternyata pewaris dari pemilik rumah sakit ini.
" Mereka ganteng dan lucu ya bang " ujar Zahra mengagumi putra pertamanya yang ganteng dan menggemaskan yang berada di dalam pangkuannya
".Iya sayang, mereka pasti ganteng lah siapa dulu ayah nya " ujar aziz narsis
" duuuuh cucu Oma gantengnya,.. " Bu Susan dan pak widodo yang tadi nya berada di dekat dua inkubator yang lain mendekati Zahra dan aziz, karena Zahra masih belum mulai menyusu bayinya.
Semua orang tertawa bahagia melihat ekspresi bayi mungil itu, Bu Susan mencoel pipi bayi itu dengan sangat gemasnya.
" hahhahaha ... ternyata dia tahu lagi sedang di perhatikan " ujar pak Widodo dan di anggukkan dengan yang lainnya
" Kamu kok lucu banget sih sayang " sahut Zahra dan mencium puncak kepala bayinya lembut.
" Gantengnya cucu Oma, mirip ya Pi sama aziz waktu bayi " komentar Bu Susan memerhatikan wajah bayi dalam gendongan Zahra
" Iya mi, mirip sama Aziz,.mereka berdua di sana juga mirip dengan Aziz mi " jawab pak Widodo yang juga mengatakan bayi dua yang lainnya juga mirip dengan aziz.
Zahra memperhatikan bayinya dengan seksama, apa yang di katakan mertuanya benar, bayi dalam gendongannya sangat mirip dengan suaminya, semua yang di miliki bayi itu semua nya mirip dengan suaminya.
Zahra memandang suaminya cemberut, Zahra tidak terima semua yang di miliki bayi bayinya di kopi dari Aziz semua, tidak ada satu pun yang mirip dengan dirinya, padahal dirinya lah yang sudah mengandung dan membawa bayi - bayi itu kemana - mana.
" Kenapa sayang ?" tanya Aziz bingung melihat Zahra menatapnya cemberut
" Abang curang, Abang bisikin apa pada bayi kita ?!" tanya Zahra kesal
__ADS_1
" Maksud nya apa sayang ?" tanya aziz bingung.
Bu Susan dan pak Widodo juga menatap menantunya itu bingung, tadi Zahra baik - baik saja dan kelihatan sangat senang saat menggendong bayinya, tapi sekarang tiba - tiba sedih dan cemberut melihat ke arah Aziz.
" Abang bisikan apa pada mereka, mengapa mereka semua mengcopy wajah Abang, semua nya mirip Abang, gak ada satu pun yang mirip Zahra, kan Zahra yang sudah mengandung mereka " jawab Zahra cemberut
Pak Widodo dan bu Susan tertawa merasa lucu melihat Zahra yang cemburu pada suaminya, karena semua bayi kembar mereka mirip dengan suaminya itu, dan hampir tidak ada satu pun yang mirip Zahra kecuali bibir tipis bayi itu yang mirip dengan Zahra
" Sayang, Abang gak ada bisikkan apa - apa, ya mereka aja yang mau mirip dengan Abang " jawab aziz yang tidak mau di salahkan.
" Kan Abang yang sering ajak mereka bicara tiap hari selama berada di perut zahra " ujar Zahra yang masih kesal pada suaminya itu.
" Ya Allah sayang, Abang ngajak mereka bicara bukannya berarti Abang meminta mereka mirip sama Abang sayang, lagian bagus kan kalau mereka mirip Abang, artinya mereka memang dari benih Abang " jawab aziz asal.
" ya pasti nya anak Abang lah, memang nya anak siapa lagi " sahut Zahra kesal ketika Aziz bicara seperti itu.
" Bukan begitu sayang, Abang.."
" Udah - udah, kok itu aja ribut sih, gak penting mereka mirip siapa , yang penting mereka sehat, udah ya nak, sekarang kamu susui anak mu ya, lihat tuh dia nyari - nyari asi kamu tuh, sepertinya dia sudah mulai lapar nak " ujar Bu Susan berusaha melerai perdebatan dua pasangan itu, dan menyuruh Zahra untuk segera memberikan asi pada putranya karena sang anak sudah mulai mencari - cari sumber makanan nya.
" Iya mi " jawab Zahra sambil melihat putranya yang sudah mulai mencari - cari sumber makannya dan itu terlihat lucu di mata Zahra dan Aziz.
Bu susan dan pak Widodo geleng - geleng kepala melihat perdebatan anak dan menantunya sambil berlalu dari bed Zahra menuju ruang tamu, karena zahra akan memberikan asi pada putranya, karena Zahra mau menyusui bayinya, aziz pun menutup gorden di tempat tidur Zahra agar tidak ada yang masuk dan melihat saat zahra sedang memberikan asi pada anak nya, bagai mana pun Aziz tidak rela aset istrinya di lihat oleh orang lain.
" Sini Abang bantu sayang " Aziz membantu Zahra memberikan asi pada putranya, Zahra terlihat meringis ketika putranya itu sudah mulai menghisap sumber makanan nya dengan kuat dan lahap .
" Kenapa sayang, apa ada yang sakit ?" tanya Aziz khawatir ketika melihat Zahra meringis
" Sakit bang, dia menghisap nya terlalu kuat " jawab Zahra masih dengan meringis
" Jadi gimana dong sayang " tanya Aziz bingung, bagai mana pun Aziz juga tidak tega melihat Zahra kesakitan, tapi bayi mereka butuh asupan makanan dari ibunya.
" Gak apa - apa bang, menjelang terbiasa, nanti juga gak bakal sakit lagi kok " jawab Zahra yang sedikit banyaknya mengetahui cara menyusui dari pelajaran yang di ambil nya selama ini selama mengikuti pelatihan laktasi.
" Sayang, minumnya pelan - pelan dong kasihan bunda kesakitan kalau kamu minumnya terlalu kuat " bisik Aziz pada putra nya itu.
( maaf ya gaes, panggilan untuk Zahra dan aziz dari anak - anaknya sering berubah - ubah, karena Zahra dan aziz masih mencari panggilan yang enak dari anak - anak nya buat mereka nantinya.)
Zahra tersenyum merasa lucu melihat putranya mengerutkan keningnya ketika Aziz meminta nya untuk tidak menghisap sumber makanannya terlalu kuat .
" Marah dia Abang " ujar Zahra memberi tahu Aziz
__ADS_1
" Iya, sepertinya dia tidak mau di ganggu sayang " jawab Aziz yang terus memperhatikan putranya meraup sumber makanannya dengan rakus.
Lalu Aziz meraih bahu Zahra agar menyandar pada dadanya, dengan maksud agar Zahra lebih rileks saat menyusui bayi mereka, satu tangan aziz mengelus kepala bayinya, sedangkan tangan yang lain mengelus bahu punggung zahra lembut,. Cara Aziz tersebut mampu membuat Zahra rileks dan nyaman selama memberikan asi pada putra nya.