CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 87


__ADS_3

" sayang terima kasih ya " sahut Aziz sambil menggenggam tangan Zahra dan menatap Zahra lembut.


" makasih untuk apa bang " tanya Zahra bingung menatap Aziz


Aziz mengambil ponselnya, dan mencari gambar yang tadi di abadikan nya dan melihatkan gambar tersebut ke pada Zahra, Zahra menatap bingung gambar yang di perlihatkan Aziz pada nya itu, di gambar itu hanya ada gambar sebuah noda, Zahra menatap Aziz bingung tidak mengerti dengan maksud foto itu.


" Ini bukti kamu sudah menjaga kesucian kamu selama ini dengan sangat baik, dan Abang lah yang telah mendapatkannya sayang " kata Aziz menjelaskan tentang foto itu , " gambar ini Abang ambil ketika kamu sedang mandi tadi, sewaktu Abang mau menganti seprei nya " ujar Aziz lagi menjelaskan


Zahra seketika merasa muka nya memanas dan pipinya memerah .Zahra menundukkan kepalanya menyembunyikan pipi merahnya.


Aziz tidak mau melewatkan pemandangan indah menatap pipi merah istrinya yang memerah di kala sedang malu, Aziz sangat menyukai pipi merah istrinya itu, Aziz mengangkat wajah Zahra dengan memegang dagu nya dan menatap kearahnya sehingga Aziz dapat dengan mudah menatap pipi kemerahan istrinya itu.aziz tersenyum manis pada istrinya.


" makasih sayang, udah menjaganya untuk Abang " sahut Aziz dan mengecup bibir tipis Zahra singkat.


Tidak tahan di tatap intens Seperi itu oleh suaminya, Zahra langsung menyembunyikan wajahnya di dada Aziz dan memeluk tubuh itu dengan erat.


" Sudah seharusnya seperti itu kan bang, Zahra menjaganya selama ini dan hanya suami Zahra yang berhak untuk mengambilnya untuk pertama kali dan seterusnya. " jawab Zahra pelan masih dalam pelukkan Aziz .


" Abang tidak salah telah memilih kamu sayang, ternyata kamu adalah istri yang baik dan Sholeha, Abang beruntung memiliki kamu " sahut Aziz sambil merenggangkan pelukannya dan menatap wajah cantik itu intens.


" mau ikut sarapan di bawah atau tetap di sini sambil melanjutkan yang semalam " goda Aziz pada Zahra.


PLAK


Zahra memukul lengan Aziz keras, " Abang omes ah " sahut Zahra kesal dan langsung berdiri.aziz tertawa lepas sudah berhasil menggoda istrinya lagi.


Zahra hendak melangkah tapi ia kembali merasakan nyeri pada bagian intinya.


Aziz dengan sigap memeluk istrinya dan membawa Zahra duduk di tepi tempat tidur.


" Masih sakit ya sayang " tanya Aziz cemas, Zahra hanya menganggukkan kepalanya menahan nyeri.


" kita sarapannya di kamar aja ya " ujar Aziz lagi yang tidak tega melihat istrinya susah saat berjalan .


" Jangan bang, gak enak sama yang lain, gak apa - apa kok kita sarapannya di bawah aja bersama yang lain." tolak Zahra yang merasa tidak enak sama mertuanya jika mereka sarapan di kamar.


" Kamu Yakin bisa sarapan di bawah sama Mereka ?" tanya Aziz ragu, Zahra mengagumkan kepalanya .


" Zahra coba jalannya pelan - pelan bang " jawab Zahra ragu.


Aziz berpikir sejenak, kemudian ia mencari kotak obat yang tersimpan di dalam laci samping tempat tidur.aziz mengambil kotak obat tersebut dan mengambil salaf yang ada di dalam kotak obat itu,


" kamu berbaring dulu sayang " perintah Aziz pada Zahra.


" Untuk apa bang " tanya Zahra bingung

__ADS_1


" Udah kamu baring aja, Abang mau pasangkan salaf ini pada punya kamu agar sakitnya berkurang" kata Aziz sambil melihat kan obat salaf di tangannya.


" gak bang, biar zahra aja " tolak Zahra malu.


" Udah jangan membatah sayang, kalau gak Abang akan memakan kamu sekarang juga " ancam Aziz tidak mau di bantah.


Zahra akhirnya pasrah ketika Aziz membaringkan tubuhnya di tempat tidur.zahra memejamkan matanya ketika Aziz mulai menyingkap gamisnya dan membuka ****** ***** nya.


Aziz menatap ngilu milik Zahra yang terlihat membengkak akibat ulahnya semalam. dengan pelan aziz mulai mengoleskan salaf pada milik istrinya dengan perlahan.


Setelah dirasa cukup ,Aziz kembali membantu memasangkan pakaian dalam istrinya dan membantu Zahra duduk dan merapikan pakaiannya lagi.


Zahra cemberut dan memajukan bibirnya kesal Karena sudah dipaksa oleh suaminya itu.


cup


Aziz lagi - lagi mencium bibir Zahra tiba - tiba, Zahra semakin mengerucutkan bibirnya kesal.


cup


Lagi - lagi Aziz mengecup bibir Zahra yang semakin maju itu. Aziz semakin gemas melihat bibir istrinya yang di majukan seperti itu.


" Sudah abang bilang, bibirnya tolong di kondisikan, kalau tidak Abang tidak akan menerima penolakan kamu untuk Abang makan sekarang juga " sahut Aziz senyum nakal pada Zahra.


" emang Zahra makanan, mau Abang makan " sahut Zahra sewot.


" hahahaha ..kamu makanan yang paling lezat yang Abang rasakan sayang " sahut Aziz tertawa senang .


" auk ah, Zahra mau sarapan sama mami, papi ,Oma dan chelsea aja di bawah, kalau di sini nanti diterkam macan lapar." sahut Zahra sambil berlalu keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan bersama yang lainnya.


" sayang tunggu , bareng abang dong turunnya " teriak Aziz sambil mengejar istri cantik nya itu.


****


Aziz dan Zahra sampai di meja makan saat semua keluarga sudah berkumpul. Mereka sengaja belum mulai sarapan karena menunggu pasangan pengantin baru yang belum turun. sudah kebiasaan keluarga Widodo belum akan memulai makan jika belum lengkap .


Semua mata menatap ke arah datangnya pasangan pengantin baru itu. Bu Susan melihat ada yang berbeda dengan mereka, Zahra yang berjalan pelan dan hati - hati, sedangkan Aziz dengan wajah yang sumringah dan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


tanpa sengaja Bu Susan melihat ada tanda merah di leher Aziz bagian bawah, jika di lihat sekilas tidak akan kelihatan karena tertutupi oleh kerah kemeja yang di pakai Aziz. Bu Susan senyum - senyum sendiri sambil memandang anak laki - laki nya itu.


Pantes aja semalam Aziz ngotot tidak mengizinkan Zahra untuk tidur di kamar chelsea, ternyata pasangan pengantin baru itu sedang mengerjakan pesanan cucu untuk mereka semalam.


" Pi, sepertinya pesanan mami sudah otw deh " bisik Bu Susan pada pak Widodo


".Emangnya mami pesan apa ?" tanya pak Widodo yang tidak mengerti maksud ucapan istrinya.

__ADS_1


" Pesan cucu " jawab Bu Susan sambil mengerlingkan matanya pada aziz yang sudah duduk di depannya berdampingan dengan Zahra.


pak.widodo mengikuti arah mata Bu Susan. melihat tanda di leher Aziz, pak Widodo paham maksud istrinya tersebut dan ikut tersenyum


" mami mau juga , siap sarapan papi kasih deh " walau sudah paham maksud istrinya, pak Widodo tetap bertanya kepada istrinya itu niat untuk menggoda . bukan nya jawaban iya yang di terima pak widodo yang ada malahan pelototan dari istrinya.


Zahra merasa tidak enak dengan keluarga mertuanya yang sudah menunggu mereka yang terlambat turun untuk sarapan . apa lagi ini hari pertamanya menginap di rumah besar itu. Zahra takut mertuanya menilai dan berpikir yang buruk terhadap nya.


" maaf Oma, mi ,Pi zahra turun nya terlambat " sahut Zahra sungkan .


" gak apa - apa sayang, lagian kita juga baru kumpul kok " jawab Bu Susan yang tidak tega menatap wajah bersalah menantunya itu.


" lagian pengantin baru wajar kok bangunnya kesiangan " sahut bu susan dengan senyum di kulum menatap aziz yang santai biasa saja


merasa tidak terjadi apa - apa.


" ayo kita mulai sarapannya " ujar Oma yang mengambil roti dan selai sebagai sarapan paginya.


Bu Susan dan Zahra pun mulai melayani suami masing masing untuk sarapan.


" kak, lehernya kenapa kok bisa merah begitu " tiba - tiba dalam heningnya sarapan chelsea bersuara menanyakan tanda merah di leher Aziz .


uhuk ..uhuk..uhuk..


Bu Susan dan pak Widodo tersedak makanan serentak mendengar pertanyaan chelsea.


Aziz yang tidak menyadari tanda merah di bagian leher nya menatap bingung pertanyaan Aziz. Aziz meraba lehernya dan membuka sedikit kerah bajunya. Karana tidak dapat melihat tanda itu , Aziz melihatnya menggunakan kamera ponselnya, matanya terbuka lebar tak menyangka ada tanda itu di lehernya. Aziz mantap Zahra yang sendang tertunduk malu, Aziz tidak menyangka jika istrinya seganas itu tadi malam.


Aziz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil senyum gugup, sementara bu Susan dan pak Widodo hanya senyum - senyum penuh arti menatap putranya yang merasa salah tingkah.


" ini..ini ada nyamuk di kamar kakak semalam " sahut Aziz menjawab bingung sambil menatap istrinya.


" nyamuk apa sampai gigitannya seperti itu " tanya chelsea yang masih belum puas dengan jawaban Aziz.


" nyamuk besar, ya nyamuk besar di kamar kakak " jawab Aziz asal, " udah kamu lanjut makan nya, nanti keburu telat sekolahnya " ujar Aziz mengalihkan perhatian chelsea agar tidak bertanya lagi.


bu susan dan pak Widodo kembali melanjutkan sarapannya, mereka tidak menyangka Aziz bisa mengelak dari chelsea yang jika bertanya tak pernah habisnya itu.


sementara Aziz masih menatap Zahra yang masih menundukkan kepalnya sambil memakan.sarapannya.


" Abang baru tahu, ternyata istri Abang seganas ini " bisik Aziz di samping Zahra pelan, saking pelannya hanya mereka yang mendengar nya.


Zahra melotot kan matanya ke arah Aziz kesal.


Setalah selesai sarapan , Aziz dan Zahra pamit kepada Bu Susan dan Oma minan untuk berangkat ke rumah sakit, dan di susul oleh pak Widodo .

__ADS_1


__ADS_2