
" dokter Aziz "
Seseorang menyapa Aziz yang sedang makan siang bersama Zahra , Aziz menatap ke arah orang yang memanggil namanya,dan tersenyum senang
" Hai dokter Tian " sapa Aziz balik dan memeluk dokter Bastian serta memberi salam ala laki - laki
" apa kabar "tanya Aziz lagi
" Alhamdulillah baik, dokter sendiri apa kabar " jawab dokter Bastian yang kerap di panggil dokter Tian balik bertanya.
" gak usah formal begitu panggil seperti biasa aja, Alhamdulillah gue juga baik " jawab Aziz
" lama tidak jumpa lu kemana aja bro , dan kapan lu kembali. " tanya Aziz pada Tian dan mempersilakan Tian bergabung dengan mereka .
" gue baru sampai seminggu yang lalu, dan hari ini hari pertama gue bergabung di rumah sakit ini" jawab Bastian
" Oya, kok gue gak tahu ya kamu bakal bergabung di sini ?" tanya Aziz bingung, Bastian mengangkat bahu nya tidak tahu.
Aziz berpikir mungkin papi nya lupa mengabari dirinya jika ada dokter baru di rumah sakit ini
Bastian menatap Zahra yang berada di samping Aziz.
Aziz paham dengan tatapan bastian dan aziz pun memperkenalkan Bastian pada Zahra .
" Sayang ,kenalkan ini dokter Bastian dan sering di panggil Tian , Tian ini sahabat Abang dan alif sewaktu kuliah dulu." Aziz pun mengenalkan Bastian pada Zahra, Zahra menganggukkan kepalan dan menangkupkan ke dua tangannya di depan dada sambil tersenyum.
Bastian pun melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Zahra.
" salam kenal Zahra " sapa Tian pada Zahra dan di jawab Zahra dengan salam kenal balik.
" Dan Tian, kenalkan ini Zahra istri gue " sahut Aziz menatap Bastian dan memperkenalkan Zahra pada Bastian.
" apa istri ?! " tanya Tian kaget, Tian merasa belum pernah mendengar kabar Aziz sahabatnya itu sudah menikah, namun baru saja bertemu Aziz tiba - tiba sudah mengenalkan seorang gadis sebagai istri.pada dirinya.
" iya Zahra istri gue kami baru menikah kurang lebih dua Minggu ini." jawab Aziz menjelaskan.
__ADS_1
" jadi pengantin baru ceritanya nih ?!" goda bastian yang disambut gelak tawa Aziz.
" Jadi lu tidak mau mengabari gue atas pernikahan kalian ? lu tidak anggap gue sahabat lu lagi bro ?!" tanya Bastian kecewa karena Aziz tidak mengabari dirinya saat ia menikah
" Maaf Tian, bukan maksud gue begitu, kami baru melaksanakan ijab kabul aja baru, dan rencana nya untuk pesta resepsi akan menyusul, kami belum bisa melaksanakan resepsi dalam waktu dekat karena kami baru saja dalam masa berkabung meninggalnya kakek istri ku, aku janji nanti pesta pernikahan akan mengundang lu bro , awas kalau lu tidak datang di acara resepsi kami nanti bro " jawab Aziz menjelaskan mengapa ia tidak mengabari Bastian saat menikah.
" Oya Tian, Zahra ini adiknya Alif juga asal lu tahu " Aziz juga memberi tahu Bastian kalau Zahra adik Alif sahabat mereka .
" Serius lu bro " tanya Bastian kaget menatap Aziz dan Zahra bergantian .
Aziz dan Zahra tersenyum lalu menganggukkan kepalanya meyakin kan Bastian.
" Gila tu Alif, kok itu anak gak pernah cerita ya kalau dia punya adek perempuan, cantik lagi " gumam Bastian kesal .
Aziz menatap Bastian tajam, walaupun Bastian sahabatnya, Aziz tetap tidak suka ketika Bastian memuji istrinya apalagi Bastian terang - terangan memuji Zahra di depan dirinya.
" Jangan salah paham dulu bro, aku tidak ada maksud lain kok, aku hanya hanya kagum aja sama istri lu, " jawab Bastian ketika sadar akan pandangan Aziz yang tidak suka dengan ucapannya yang telah tanpa sengaja memuji istrinya, Bastian merasa bersalah sudah salah bicara pada Aziz.
" Bagus kalau lu sadar kesalahan lu " jawab Aziz dingin.
Bastian tidak menyangka ternyata Aziz begitu sangat posesif pada Zahra, Bastian salut dengan Aziz, tidak pernah terdengar dekat dengan lawan jenis bahkan sampai pacaran, sekalinya jatuh cinta langsung di nikahi dan di posesif kan.
" Alif sedang melanjutkan sekolahnya di daerah Jawa dan dia juga sudah menikah " sahut Aziz yang sudah tidak kesal lagi pada bastian karena sudah memuji istrinya tadi.
" Apa !!? " lagi - lagi Bastian di kagetkan dengan berita pernikahan Alif.
" Kalian ini sahabat gue gak sih, kok kalian menikah aku tidak di kabari " sahut Bastian kesal pada sahabatnya itu.
" maaf bro , waktu itu Alif sudah mencoba menghubungi lu, tapi no telpon lu gak bisa kami hubungi." jawab Aziz Menjelaskan.
Aziz dan Bastian sedang asik bercerita sambil mengingat masa - masa kuliah mereka dulu, sementara itu Zahra sudah mulai gelisah karena waktu istirahatnya sudah mulai habis .
Zahra menatap jam di tangannya, waktu istirahatnya tinggal sepuluh menit lagi,Zahra melihat Aziz masih asik bercerita dengan bastian.zahra memberanikan diri undur diri duluan mengingat waktu istirahatnya yang sudah selesai.
" Maaf Abah, Zahra boleh kembali duluan ke ruangan Zahra?, jam istirahat Zahra sudah selesai bang " Zahra melihat Aziz dan Bastian masih asik berbicara Zahra merasa tidak enak jika mengajak aziz pergi ini juga, jadi Zahra memilih untuk minta izin kembali keruangannya duluan pada Aziz.
__ADS_1
Aziz melihat jam dintangannya, ya waktu istirahat Zahra memang sudah selesai, sementara Aziz masih ada waktu istirahat tiga puluh menit lagi..karena masih ada yang mau di bahas Aziz bersama Bastian Aziz mengizinkan istrinya untuk kembali duluan
" kamu gak apa - apa kembali sendiri sayang ?" tanya Aziz tidak enak pada istrinya,
" gak apa - apa bang, Abang lanjut aja sama dokter Bastian, biar Zahra sendiri kembali keruangan Zahra ya " jawab Zahra yang tidak keberatan untuk kembali sendiri ke ruangannya.
" Ya udah, kamu hati - hati yaa sayang, nanti pulang kerja seperti biasa ya, kamu tunggu Abang di ruangan Abang nantinya ya " sahut Aziz melepas Zahra kembali sendiri ke ruangannya.
Aziz memberikan ciuman singkat di kening istrinya, Zahra menunduk malu ketika Aziz tanpa canggung mencium keningnya di depan banyak orang dan terlebih masih ada Bastian yang duduk di hadapan mereka saat ini dan sedang memperhatikan mereka berdua.
Tanpa banyak bicara ,Zahra berlalu dari sana setelah pamit pada Aziz dan Bastian.
Zahra berjalan sedikit berlari karena sudah terlambat.
Namun Zahra menghentikan langkahnya tiba - tiba ketika ia merasakan tangannya di tarik paksa oleh seseorang dari belakang
Zahra membalikkan badan nya kesal, dan ingin memaki orang yang sudah berani memegang tangannya itu.
" Kamu ..!!" Zahra kaget menatap orang yang sudah berani memegang dan menahan langkah nya itu.
" Mau apa kamu kak " tanya Zahra marah dan menghentakkan tangannya yang masih dalam genggaman pria itu hingga terlepas dengan paksa.
" Maaf Ra, aku hanya ingin bicara dengan kamu " sahut pria itu memohon agar Zahra mau bicara dengan dirinya
" Tidak ada yang perlu kita bicarakan kak " sahut Zahra lalu berlalu dari tempat itu
" Kasih aku waktu untuk bicara dan mejelaskan semua pada mu Ra " lagi - lagi Zahra menghentikan langkahnya karena pria itu kembali menahan langkahnya, kali ini dengan berdiri di hadapannya.
" Mau kamu apa sih kak, kita sudah tidak ada hubungan lagi, kita sudah punya kehidupan masing - masing, jalani hidup kita masing - masing kak, dan jangan mengusik ke kehidupan aku lagi" sahut Zahra geram.
Zahra menatap ke sekeliling lorong rumah sakit yang di lalui nya, Zahra takut ada yang melihat dirinya dan akan terjadi salah paham dan fitnah.
Lorong tempat mereka berada saat ini memang sedang sepi, karena jam makan siang yang sudah selesai,sehingga petugas rumah sakit sudah banyak yang kembali ke ruangan masing - masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka
" Segitu benci nya kah kamu sama aku Ra, sampai - sampai kamu tidak mau menatap aku " sahut pria itu karena Zahra tidak mau menatap nya sedari tadi.
__ADS_1
" Maaf kak, aku harus kembali, jam istirahat ku sudah selesai kak dan aku sudah terlambat " sahut Zahra dingin, Zahra berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu , tapi sangat susah
" LEPAS KAN TANGAN ISTRIKU "