
Mirna dan Anton sudah duduk di dalam pesawat menunggu pesawat take off menuju kota X, Mirna sudah tidak sabar untuk segera sampai di kota X, dari tadi Mirna selalu gelisah sehingga Anton yang duduk di sampingnya juga merasa tidak tenang .
" Sudah lah mir, kamu jangan gelisah seperti ini, bukannya tadi Rio bilang Naira sudah berada di ruang ICU ?, jadi kamu tenang aja ya " sahut Anton yang meminta Mirna untuk tetap tenang
" Justru karena itu aku gak bisa tenang nton, aku takut terjadi apa - apa sama Naira, belum lagi bayinya yang Rio bilang juga kritis di sana " ujar Mirna menyampaikan kecemasannya saat ini.
" Kamu jangan berpikir yang macam - macam dulu ya mir, sekarang dari pada kamu gelisah seperti ini lebih baik kamu doakan putri dan cucu kita supaya mereka cepat sembuh, jangan berpikir negatif tentang mereka " sahut Anton lagi.
Mirna terdiam mendengarkan ucapan Anton, dalam hati Mirna membenarkan perkataan Anton, Mirna memejamkan mata dan berdoa meminta keselamatan untuk putri dan cucunya.
Sementara itu, sandi dan Adam baru saja sampai di kota X dan sekarang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit dimana Zahra di rawat, saat sampai di bandara tadi sandi langsung menghubungi Aziz dan menanyakan kondisi Zahra serta di mana Zahra di rawat.
Dua pria paruh baya itu terlihat sangat tegang , mereka masih belum mengetahui pasti bagaimana kondisi Zahra saat ini, karena Aziz tidak memberi tahu mereka secara rinci dan jelas kondisi Zahra
" San, kamu gak kasih tahu ibu sama cindi jika Zahra kecelakaan ?"tanya Adam pada sandi, memang setelah Aziz mengabari Zahra mengalami kecelakaan dan sedang menjalani operasi sandi dan Adam langsung berangkat ke kota X tanpa memberi tahu cindi dan ibunya.
Mereka sama - sama tidak ingat untuk mengabari kedua wanita itu karena mereka berdua sama panik saat itu, yang ada di pikiran mereka saat itu hanyalah bagai mana kondisi Zahra.
" Belum dam, menurut aku nanti aja kita kabari ibu dan cindi setelah kita melihat dan mengetahui kondisi Zahra saja, aku takut jika kita kabari Sekang penyakit ibu makin parah dam." jawab sandi
memang semenjak kepergian suaminya ,kondisi nenek atau ibu sandi dan cindi mulai menurun dan sudah mulai sakit sakitan, karena pertimbangan itu lah, makanya sandi berpikir akan mengabari cindi dan ibunya tentang musibah yang menimpa Zahra nanti setelah ia mengetahui kondisi Zahra yang sebenarnya
Tidak membutuhkan waktu lama taxi yang mereka tumpangi sudah Samapi di rumah sakit tempat Zahra di rawat, sandi dan Adam langsung menuju ke kamar di mana Zahra di rawat.
" pak sandi " di koridor rumah sakit sandi mendengar ada seseorang yang memanggil nama nya.
__ADS_1
Sandi dan Adam pun menghentikan langkah nya dan mencari sumber suara yang sudah memanggil mereka, tak jauh dari mereka berdiri, terlihat pak Widodo dan bu Susan sedang berjalan ke arah mereka .
Sandi tersenyum menatap besannya, mereka saling bersalaman dan menanyakan kabar.
" Ternyata saya memang tidak salah orang, apa kabar pak sandi dan pak Adam " sapa pak Widodo ramah.
" Alhamdulillah, kami sehat pak, bapak dan ibu apa kabar " sapa balik sandi dan Adam.
" Alhamdulillah, kamu baik pak" jawab pak Widodo
" Apa bapak dan pak Adam baru sampai di sini ?" tanya pak Widodo pada sandi
" Iya pak Widodo kami baru sampai, setelah Aziz mengabari musibah yang menimpa Zahra, kami langsung ke sini " jawab sandi
Pak Widodo menghela nafas berat, hatinya kembali sedih jika mengingat kondisi menantunya saat ini
" Zahra masih belum sadar pak, dokter masih belum bisa menafsirkan kapan Zahra bisa sadar, sampai saat ini Zahra belum bisa melewati masa kritisnya " jawab pak Widodo sedih, Sementara itu bu susan menundukkan kepalanya menutupi air mata yang mulai jatuh di pipinya, pak Widodo mengusap bahu bu susan lembut dan menenangkan bu Susan yang sudah mulai bersedih lagi.
" Sebaiknya kita langsung ke ruangan Zahra saja pak, pak sandi dan pak Adam mungkin tidak sabar ingin jumpa dengan Zahra " sahut pak Widodo mengajak sandi dan Adam menuju ruangan Zahra.
" Ya begitu lah pak, kami ingin melihat langsung kondisi Zahra, kalau belum lihat belum tenang rasanya hati ini pak " ujar sandi jujur
" Baik lah, ayo kita kesana " pak Widodo dan bu Susan pun mengajak sandi dan Adam bersama - sama ke ruangan Zahra.
ceklek
__ADS_1
Bu Susan membuka pintu kamar rawatan Zahra pelan, dan mempersilahkan sandi dan pak Widodo masuk ke ruangan itu.
Sandi dan Adam sempat bingung ketika bi Susan dan pak Widodo membawa mereka ke ruangan VVIP bukan ruangan ICU seperti yang di katakan aziz pada mereka tadi saat di telpon.
Sandi memindai ruangan rawatan Zahra, ruangan itu seperti telah di sulap menjadi ruangan ICU, itu terlihat dari banyak nya alat - alat medis dan suara - suara yang keluar dari alat medis di ruangan itu.
Sandi sangat bersyukur, ternyata putri nya begitu di sayangi oleh keluarga suaminya, dan itu terlihat dari cara mereka merawat putrinya dengan fasilitas yang lengkap yang ada di ruangan yang khusus seperti ini.
Sandi melihat di atas bed pasien putrinya sedang tertidur dengan tenang, tidak ada tanda - tanda pergerakkan dari atas bed pasien tersebut.
Zahra putri yang selama ini telah di abaikan nya, tertidur lemah dengan mata terpejam rapat di sana, sandi melangkah pelan menghampiri bed pasien tersebut.
Sandi tidak dapat melihat dengan jelas wajah putrinya, karena matanya sudah tertutup penuh dengan air mata yang siap tumpah kapan pun juga.
Dengan tangan gemetar, sandi menggenggam tangan Zahra dan mencium tangan putrinya itu berkali - kali. Banyak penyesalan yang dia ungkapkan,.tangis sandi yang terdengar pilu membuat orang - orang yang ada di dalam ruangan itu ikut menangis.
" Maaf kan ayah nak, maaf kan ayah tidak bisa menjaga kamu dengan baik " sandi menyesali dirinya yang tidak bisa menjaga putrinya itu, sandi tidak henti - hentinya menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpa Zahra, sandi berpikir Karena kelalaian nya maka Zahra celaka, andai sandi cepat menghentikan rencana jahat Mirna terhadap putrinya ,mungkin Zahra tidak akan mengalami hal seperti ini.
Adam menghampiri sandi, Adam mengelus pundak sandi dan meminta sandi untuk bersabar dan beristighfar.
Adam masih belum bisa menuduh Mirna yang melakukan ini, karena mereka belum ada bukti yang kuat.
Melihat kondisi Zahra yang seperti itu, Adam bukanya tidak sedih, Adam juga sangat sedih dan terpukul, walau pun Zahra bukan putri kandungnya, tapi Zahra tumbuh besar dalam pelukkan nya dan asuhannya bersama cindi dan mertuanya.
Mungkin kesedihan Adam saat ini jauh dari rasa sakit dan sedih yang di alami sandi, tapi Adam mencoba lebih tenang agar ia lebih bisa berpikir dengan baik.
__ADS_1