
Chelsea masuk ke ruang keluarga bersama ayu dan Mia. Dua wanita kesayangan profesor rayyan itu heran karena di minta masuk oleh chelsea atas perintah profesor rayyan. Ayu tadi memang tidak ikut masuk ke dalam rumah pak Widodo karena sedang mengangkat telpon dari rumah sakit yang melaporkan kondisi pasiennya yang mulai stabil setelah operasi tadi.
Ayu adalah istri profesor rayyan, ia juga berprofesi sebagai dokter kandungan, sedangkan dokter rayyan yang sudah mendapat gelar prof, dan lebih sering di panggil prof di kalangan teman sejawat dan perawat di rumah sakit itu merupakan dokter spesialis onkologi.
prof rayyan dan dokter ayu memiliki satu orang putri yang bernama Mia, putri tunggal mereka itu lebih memilih menjadi perawat dari pada mengikuti jejak orangtuanya menjadi dokter, prof rayyan dan dokter ayu tidak pernah mempermasalahkan pilihan putri semata wayangnya itu.
" Ada apa ini,.kok rame - rame di sini ?" tanya ayu menatap semua orang yang berada di ruangan itu.
Ayu melihat Zahra sedang tergelatak lemah di atas sofa. dan Oma minan yang duduk di samping gadis itu sambil membelai kepala Zahra lembut.
Sementara itu Aziz berdiri di samping Oma tapi tidak jauh dari Zahra dengan wajah tegang.
" Ada apa dengan Zahra ziz ?" tanya ayu mendekati aziz dan Zahra.
" Zahra habis muntah - muntah dan merasa pusing Tan " jawab Aziz memberitahu kenapa istrinya terbaring lemah di sofa.
" Mas udah periksa Zahra sayang, tapi menurut mas Zahra lebih membutuh kan dirimu ke timbang mas dan kita yang ada di sini " prof rayyan mendekati ayu sambil tersenyum dan prof rayyan juga mengedipkan matanya pada ayu memberi isyarat. prof rayyan juga memberi tahu ayu mengapa ia di minta untuk datang ke ruangan itu. Prof rayyan mengatakan kita karena sebagian besar keluarga Aziz berprofesi dokter kecuali Bu Susan dan Oma minan, dan mereka menggeluti bidang yang berbeda - beda.
Walau pun profesi mereka dokter, mereka juga merupakan pengusaha seperti prof rayyan, pak Widodo dan Aziz, walau pun dokter juga sebagai CEO di perusahaan milik mereka masing - masing.
Ayu paham dengan kode yang di berikan suaminya, di tambah dengan keluhan Aziz mengapa Zahra sampai terlihat lemas dan tidak berdaya seperti itu menambah kecurigaan ayu.
Ayu memeriksa Zahra secara teliti, ayu tersenyum menatap Zahra
" Kapan kamu terkahir datang bulan nak ?" tanya ayu ramah sambil tersenyum simpul
Zahra yang di tanya seperti itu mengerutkan keningnya mengingat kapan terakhir ia datang bulan.
__ADS_1
" awal bulan lalu Tan dan sekarang belum ada dapat " yang menjawab pertanyaan ayu bukan lah Zahra, tapi Aziz. semua orang menatap Aziz dengan tatapan aneh.
Mereka tidak menyangka Aziz begitu mengenal istrinya sampai - Sampai kapan terakhir Zahra datang bulan pun Aziz tahu.
Aziz yang di tatap seperti itu oleh semua orang sadar telah salah bicara, Aziz menggaruk kepalanya yang tidak gatal salah tingkah karena malu.
" cieee..... segitu perhatiannya kamu ziz, Sampai jadwal datang bulan Zahra aja kamu hafal " goda Mia pada Aziz.
Aziz yang di goda Mia, malah Zahra yang merasa malu. Zahra mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi rasa malunya. Jika ia sanggup dan kuat saat ini ingin rasanya Zahra berdiri dan menyumpal mulut suaminya itu dengan Rori yang masih ada di meja makan.
Memang tidak ada yang salah dengan apa yang di sampaikan Aziz, tapi ini di depan keluarga besarnya dan Zahra sangat malu.
" Kalau begitu, kamu bantu zahra ke kamar mandi, kalian coba lah lakukan tes ini " ayu memerintah kan Aziz untuk membawa Zahra ke kamar mandi sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan nya pada Aziz.
Aziz menatap bingung dengan benda yang masih terbungkus rapi yang di berikan ayu padanya. Aziz bukannya tidak tahu benda apa yang ayu berikan pada nya, sebagai seorang dokter ia sangat tahu benda apa itu dan apa kegunaannya, ia hanya bingung mengapa ayu memberikan benda itu padanya dan meminta ia membawa Zahra ke kamar mandi sambil membawa benda itu.
Bu Susan yang sudah mulai paham dan mengerti maksud dari ayu langsung menyuruh Aziz.untuk membawa Zahran ke kamar mandi dan melakukan tes yang di minta ayu tadi .
Bu Susan sangat senang, walau belum pasti karena hasil tes yang di lakukan Zahra belum di lakukan, tapi Bu Susan sudah merasa yakin dengan hasil pemeriksaan ayu.
Bu Susan tidak sabar menunggu hasilnya, akhirnya apa yang ia impikan akan terwujud segera.
Aziz lalu membantu Zahra untuk masuk kekamar mandi dan melakukan tes yang di perintah kan ayu, Zahra dan Aziz merasa.vemas dengan hasil yang akan keluar nanti. Zahra takut hasilnya akan mengecewakan harapan keluarganya.
aziz menemani Zahra sampai kedalam kamar mandi, Aziz takut terjadi sesuatu pada Zahra nantinya, mengingat Zahra yang masih lemah karena habis muntah tadi.
Sementara itu Zahra menatap Aziz yang tak juga mau keluar. Zahra merasa malu jika ada Aziz di sana.
__ADS_1
" Kenapa ?" tanya Aziz bingung
" Abang kenapa masih di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Aziz, Zahra malah balik bertanya kenapa Aziz tidak keluar dan masih tetap berada di sana bersama dirinya.
" Abang temani kamu sayang, kamu masih belum kuat, Abang gak mau terjadi sesuatu sama kamu, " jawab Aziz memberi alasan kenapa ia tidak mau keluar dari kamar mandi itu.
" Zahra kan malu bang, mending Abang tunggu di luar aja seperti yang lain " jawab Zahra cemberut , Zahra masih kesal dengan Aziz soal yang tadi.
" Tapi ...".ucapan Aziz tergantung karena Zahra sudah memotong duluan
" Gak ada tapi - tapinya, Abang keluar, kalau ada apa - apa Zahra panggil Abang " ujar Zahra menatap Aziz tajam.
Aziz yang mau menemani istrinya sekalian ingin melihat langsung hasil tesnya merasa kecewa, ia tidak bisa lagi berkata apa - apa jika Zahra sudah dalam mode singa betina ngamuk seperti itu Aziz dengan berat hati terpaksa mengikuti permintaan istrinya untuk menunggu di luar .
" Gimana hasil nya ziz ?" sesampainya di luar kamar mandi, Bu Susan langsung memberondong Aziz dengan pertanyaan hasil tes Zahra.
" Aziz belum tahu mi, karena tes nya belum di lakukan " jawab Aziz lesu
".Loh kok belum " tanya Bu Susan heran menatap Aziz
" Zahra nyuruh Aziz keluar, malu katanya " jawab Aziz lagi
Semua keluarga yang menunggu hasil tes Zahra tertawa lebar mendengar jawaban Aziz. Mereka merasa kasihan dan lucu melihat Aziz .
" Kasihan kamu ziz, " sahut Mia menertawakan adik sepupunya itu. Aziz menatap Mia sambil melotot kesal.
Mia bukannya diam malah makin mengejek Aziz.
__ADS_1