
Zahra mengerjakan matanya, Zahra menatap langit - langi kamarnya, kemudian ia memindai ruangan tersebut, Zahra sadar saat ini ternyata masih berada di ruangan pribadi Aziz.
Zahra tidak melihat ada tanda - tanda keberadaan suaminya di ruangan itu, Zahra berpikir apakah suaminya masih melakukan operasi ?, ini sudah mau magrib, tapi Aziz belum juga kembali ke ruangannya.
ceklek
Pintu ruangan itu, terbuka dari luar, Aziz masuk keruangan pribadinya dan langsung menuju ke kamar dimana Zahra yang masih tertidur saat ia tinggal tadi.
Aziz membuka pintu kamar itu pelan, Aziz masuk ke dalam kamar itu bertepatan dengan Zahra yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk untuk menutupi bagian dada sampai pahanya saja kaget melihat Aziz yang masuk kekamar itu, Zahra merutuki dirinya yang tadi lupa membawa baju ganti ke kamar mandi, Zahra sudah ketar ketir melihat tatapan ingin yang terpancar dari mata aziz .
sementara itu Aziz menelan salivanya kasar, ada sesuatu yang bangun di bawah sana yang seketika membuat celananya terasa sempit.
Aziz menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari dalam, Aziz mendekati Zahra pelan pandangannya tidak bisa terlepas dari wanita cantik itu.
Zahra melihat sesuatu akan mengancam dirinya, dengan cepat Zahra mengambil baju ganti yang tadi lupa ia bawa ke kamar mandi di lemari pakaian yang ada di kamar itu.
Tapi gerakkan Zahra kalah cepat dengan gerakkan Aziz, Aziz sudah mengungkung dirinya di pintu lemari dengan cepat,Zahra menelan Saliva nya, Zahra menatap Azis cemas, Zahra yakin apa yang di takutkan nya akan terjadi.
" Kamu menggoda aku sayang ?" seru Aziz di dekat telinga Zahra pelan. saking dekatnya Zahra dapat merasakan hembusan nafas Aziz di tengkuk nya, zahra gelagapan mendengar Aziz yang berbicara begitu dekat di telinganya. jantung Zahra berdegup kencang dan gugup.
" Zahra gak goda Abang, Abang aja yang masuk di waktu yang salah " elak Zahra yang tak mau di salahkan .
" Bukan di waktu yang salah sayang, justru Abang masuk di waktu yang tepat " jawab Aziz sambil mencium tengkuk Zahra dari belakang,
Zahra merasa meremang akibat ulah Aziz. Tidak hanya itu, Aziz sudah tidak bisa lagi mengontrol tangannya, kedua tangan Aziz sudah berada di kedua bukit kembar Zahra, dan meremas bukit kembar itu pelan.
__ADS_1
Zahra tidak bisa menolak rangsangan yang di berikan Aziz , tanpa di sadari nya ******* laknat itu keluar dari mulut Zahra , Zahra memejamkan matanya menikmati rangsangan yang di berikan suaminya itu.
Aziz tersenyum senang melihat Zahra yang sudah mulai terangsang oleh permainan tangan nya di bukit kembar zahra, Aziz membalikkan tubuh Zahra sehingga menghadap ke arah nya, dengan rakus, Aziz melahap bibir manis Zahra yang selalu membuatnya candu, awalnya hanya lumayan pelan , tapi lama - lama menjadi lumayan menuntut , Aziz tidak melepaskan tautan bibir mereka sebentar karena Aziz merasa istrinya itu sudah kehabisan oksigen untuk bernafas.
" Abang, bentar lagi mau magrib loh " sahut Zahra ketiak tautan bibirnya terlepas dan di antara ******* yang keluar dari bibirnya.
" Sebentar saja sayang, Abang sudah tidak tahan lagi , mau ya sayang " sahut Aziz pelan dan memohon.
Zahra tahu dan hafal kebiasaan suaminya, jika aziz sudah dalam mode seperti ini, Zahra tidak akan bisa menolaknya lagi, karena Aziz akan melakukan berbagai cara agar Zahra tidak menolak dan niatnya terlaksana. tapi Zahra juga tidak bisa membohongi dirinya jika ia juga ingin. Begini lah nasib kalau mempunyai suami omes bathin Zahra dalam hati.
" Tapi ini masih di rumah sakit loh bang " sahut Zahra lagi mengingatkan Aziz dimana mereka berada sekarang.
" Tenang aja, tidak ada yang berani masuk ke ruangan ini tanpa seizin Abang, dan kamu tidak usah takut sayang, ruangan ini kedap suara dan pintu juga sudah Abang kunci kok, jadi kamu bisa mendesah sekuat yang kamu mau, dan jangan di tahan ya, ******* mu membuat Abang makin melayang sayang " jawab Aziz menjelaskan dan meminta Zahra untuk tidak menahan desahannya.
Zahra hanya bisa pasrah , suaminya tidak akan bisa di bantah .
Dengan gerakkan cepat Aziz menarik handuk yang membuka tubuh Zahra dan menggendong tubuh Zahra dengan cara bridal style, degan spontan Zahra mengalungkan tangannya di leher Aziz, Zahra merasa malu karena Aziz menggendongnya dalam ke adaan naked, tapi Zahra membuang rasa malu itu karena saat ini lebih utama rasa ingin di manja oleh suaminya yang lebih dominan di rasakannya , dengan pelan tanpa melepaskan ciuman di bibir Zahra, Aziz menidurkan Zahra di atas kasur yang ada di dalam kamar itu.
Dan untuk selanjutnya pasti sudah tahu apa yang terjadinya selanjutnya.....
****
Rio pulang kerumahnya ketika menjelang magrib, Rio mendapati rumah dalam keadaan gelap, lampu rumah belum menyala , Rio berpikir Naira masih belum pulang.
Rio menarik nafas lega, paling tidak untuk sementara ia terbebas dari Omelan Zahra yang selalu membuat kupingnya panas.
__ADS_1
Baru saja mendudukkan pantatnya di sofa, Rio mendengar suara seseorang memanggil namanya dari belakang.
Rio menarik nafas dalam dan membuangnya kasar, Rio sudah tahu siapa yang memanggil namanya itu, siapa lagi kalau bukan Naira istrinya yang cerewet itu.
" Dari mana aja kak " tanya Naira sambil memeluk tangannya di depan dada.
Naira memang setelah gagal menjumpai Rio di rumah sakit tadi, langsung memilih pulang ke rumah, Naira berpikir Rio langsung pulang, karena teman satu ruangan Rio mengatakan Rio izin pulang awal karena sedang tidak enak badan.
Namun sesampainya di rumah Naira, tidak ada menjumpai suaminya itu ada di rumah.naira menunggu kepulangan Rio dari tadi siang, tapi Rio tidak kunjung pulang dan Rio baru pulang ketika mau mendekati magrib.
" Apa urusan kamu " jawab Rio dingin.
" Kamu suami ku kak, jadi semua yang berkaitan dengan kamu, menjadi urusan aku juga" sahur naira dengan nada sedikit menaikkan nada suaranya kesal.
cek , Rio mendecak kesal.
" sejak kapan kamu peduli sama aku , perasaan selama ini kamu tidak pernah peduli sama aku, kamu hanya peduli pada diri kamu sendiri " sahut Rio
" Maksud kamu apa sih kak " Naira tidak terima ketika Rio mengatakan dirinya tidak pernah peduli terhadap Rio dan hanya memperdulikan dirinya saja.
Naira justru merasa Rio yang tidak peduli dan tidak mengerti akan dirinya selama ini, Naira merasa Rio begitu cuek pada dirinya, apa lagi dirinya yang sedang hamil seperti ini, ia membutuhkan perhatian Rio sebagai suami, tapi yang ada Rio tidak pernah memperhatikan dirinya apa lagi pada anak yang di kandungnya.
" Udah lah nai, aku capek, Jagan ganggu aku dulu " sahut Rio lalu berdiri dan pergi meninggalkan Naira yang masih berdiri di ruang tamu itu.
Naira menghempaskan tubuhnya di atas sofa, ia menangis hatinya terluka dan kecewa pada sikap Rio yang tidak perduli sama dirinya.
__ADS_1
Selama ini Naira sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk hubungan mereka dan rumah tangga mereka , tapi Rio tidak perduli akan semua itu.
Naira merasa lelah, terkadang ingin hatinya untuk melepas semua beban itu, tapi cinta nya pada Rio lah yang membuat ia memilih bertahan untuk tetap berada di samping Rio saat ini.