
Aziz dan Zahra sedang menikmati sarapan mereka, tadi Aziz sudah menawari Aldo untuk sarapan bersama tapi Aldo menolak dengan alasan sudah sarapan dan mau buru - buru kekantor untuk mempersiapkan berkas yang akan di bawa Aziz nantinya ke nagara Y.
Aziz menatap Zahra, Aziz bingung bagaimana cara menyampaikan tentang keberangkatannya ke negara Y.
Aziz menunggu Zahra menyelesaikan sarapan nya baru ia menyampaikan rencananya untuk berangkat ke negara Y hari ini.
Tidak butuh waktu lama, Zahra yang sudah biasa makan cepat , sudah menyelesaikan sarapannya. Zahra merapikan piring kotor yang sudah mereka pakai dan mencucinya di wastafel, setelah selesai , Zahra kembali ke meja sofa di mana mereka sarapan tadi, karena Aziz masih duduk di sana sambil menikmati kopi yang di bikin Zahra.
ehm.
aziz mendehem, tenggorokannya terasa kering, Aziz menyeruput kopinya pelan sambil menatap Zahra yang duduk di samping nya.
Aziz menaruh gelas kopinya di atas meja. bibirnya terasa sangat Kelu, kenapa begitu sulit mengatakan nya pada Zahra.
" Sayang " Aziz memanggil Zahra yang tengah sibuk memeriksa tugas akhirnya sebelum di konsulkan ke dosennya nanti.
Zahra menatap Aziz dan mengehentikan kegiatannya sejenak karena Aziz memanggilnya, Zahra takut ada sesuatu yang di butuhkan Aziz dan butuh bantuan dirinya.
".Ada apa bang " ujar Zahra.
" Sayang, Abang mau minta izin pergi ke negara Y boleh, perusahaan Abang di sana sedang ada masalah, tadi Aldi datang menyampaikan bahwa Abang harus kesana.untuk menyelesaikan masalah tersebut " sahut Aziz meminta izin pada Zahra dan mejelaskan alasannya pergi ke negara Y tesebut .
" Memangnya Abang punya perusahaan di sana ?" tanya Zahra bingung, karena selama ini Zahra tidak mengetahui bahwa suami punya perusahaan, yang Zahra tahu, suaminya hanyalah Seorang dokter, dan itu juga di buktikan dengan Aziz yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit selama ini.
Aziz tersenyum, Aziz sadar selama ini istrinya memang tidak mengetahui kalau Aziz punya pekerjaan lain selain profesinya sebagai seorang dokter.
__ADS_1
Aziz tidak bercerita ,karena Zahra tidak pernah bertanya, dan Aziz berpikir tidak masalah. kenyataannya, walau pun ia punya kesibukkan lain selain profesinya sebagai dokter, Aziz tidak pernah mengabaikan Zahra selama ini.
" Iya sayang, sebenarnya Abang memulai usaha ini dari Abang kuliah, yang awalnya hanya memasukkan alat - alat medis ke rumah sakit yang di pimpin papi, dan Alhamdulillah nya, banyak dari teman -teman bisnis papi yang juga punya rumah sakit tertarik, nah dari situ lah Abang mulai menjalankan perusahaan itu yang awalnya kecil dan sekarang Alhamdulillah sudah bisa membuat cabang di mana - mana, salah satunya di negara Y, perusahaan Abang itu tidak hanya ada di sana aja, di sini juga ada, kantor pusatnya di sini, di negara Y cabang nya " jawab Aziz menjelaskan.
" Oooo, kok Abang gak pernah cerita ?" tanya Zahra
" maaf sayang, Abang gak cerita karena menurut Abang ya gak begitu penting juga, lagian kamu juga gak pernah tanya kan sama Abang " jawab Aziz
Zahra hanya diam, dan yang di katakan Aziz benar juga adanya, Zahra selama ini memang tidak pernah menanyakan hal itu pada Aziz, walau pun terkadang Zahra juga merasa heran, Karena aziz memberinya uang jajan yang cukup sangat besar menurut zahra.
padahal untuk ukuran pendapatan seorang dokter spesialis belum tentu bisa memberikan uang belanja sebesar itu.
" maaf ya bang, kalau Zahra kesannya tidak peduli sama abang, Zahra hanya merasa tidak enak aja kalau menanyakan hal seperti itu ke abang." kata Zahra merasa tidak enak hati, Zahra takut Aziz punya pikiran jika Zahra tidak peduli pada dirinya .
" Sssstttt , sudah ini bukan salah kamu kok sayang, Abang juga salah tidak memberi tahu kamu tentang pekerjaaan Abang selama ini, Abang tidak cerita takut di bilang sombong atau Ria sayang " ujar Aziz yang juga merasa bersalah tidak jujur pada istrinya selama ini .
" Berarti Zahra punya suami tajir ya bang " tanya Zahra senyum - senyum ke arah Aziz
" Tuh kamu sendiri tahu, jadi kalau kamu tidak kerja pun gak masalah, Abang masih sanggup kok menghidupi kamu " jawab Aziz mengelus kepala Zahra yang terbungkus hijab.
" kalau itu nanti - nanti dulu ya bang, kalau Zahra sudah siap nanti, Zahra akan kabari Abang " ujar Zahra meminta aziz memberinya waktu untuk berpikir.
" Jadi gimana sayang, Abang boleh pergi melakukan kunjungan ke negara Y ?" tanya Aziz menatap zahra penuh harap tapi tak rela itu.
Aziz berharap Zahra akan mengizinkannya pergi ke negara Y untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi perusahaannya di sana, tapi sisi lain Aziz juga tidak rela meninggalkan Zahra sendiri, bukan tanpa alasan, Aziz hanya tidak mau berpisah dengan istrinya itu, Aziz gak sanggup, gak sanggup menahan rindu maksudnya.wkwkwkw
__ADS_1
Zahra menatap Aziz salam diam, " berapa lama Abang di sana ?" tanya Zahra
" kurang lebih satu atau dua Minggu sayang " jawab Aziz. Aziz mengambil tangan Zahra dan menggenggam tangan itu erat
" Abang janji, Abang akan menyelesaikan masalah di sana secepatnya , agar bisa pulang ke sini sebelum hari resepsi kita nanti." sahut Aziz lagi.
Zahra tersenyum menatap Aziz, lalu Zahra menganggukkan kepalanya .
" Baik lah, Abang boleh pergi, tapi Abang janji ya, sebelum acara resepsi kita Abang sudah disini " jawab Zahra akhirnya.
" iya Abang janji sayang," sahut Aziz lega,
" Atau gimana kalau kamu ikut aja sama Abang sayang, selain kita bulan madu." sahut Aziz memberi usul pada Zahra agar Zahra mau ikut.
" Zahra mau bang, tapi Zahra gak bisa ikut sama Abang, Zahra kan lagi sibuk dengan tugas akhir kuliah Zahra " jawab Zahra sedih.
" lagian kasihan mami ngurus acara resepsi kita sendirian nanti bang, kalau Zahra di sini kan Zahra bisa bantu mami bang " ujar zahra lagi.
Aziz seketika merasa lesu, benar juga apa yang di bilang Zahra, jika Zahra tidak ikut dengannya Zahra bisa bantu Bu Susan untuk mempersiapkan acara resepsi mereka nanti.
" Bakal berat nih sayang " kata Aziz lesu
".maksud Abang " tanya Zahra tidak mengerti apa maksud perkataan Aziz.
" Ya berat nya di rindu bang pada mu sayang " Zahra tertawa geli mendengar ucapan Aziz yang menurut Zahra lebay itu.
__ADS_1
aziz cemberut menatap Zahra kesal , Aziz melihat Zahra yang biasa - biasa saat mengetahui dirinya akan pergi jauh dan harus LDR an untuk sementara waktu merasa kesal.