
" Assalammualaikum"
pak Widodo dan chelsea serentak membaca salam ketika masuk ke dalam murah.
" waalaikumsalam"
Aziz, Zahra dan Bu Susan menjawab salam dari pak Widodo dan chelsea berbarengan. Aziz dan Zahra menghampiri pak Widodo dan mengulurkan tangan bersama dengan pak Widodo bergantian.
" kakaaaaak....." chelsea berlari ingin memeluk Zahra, tiba - tiba langkah kakinya terhenti karena Aziz sudah terlebih dahulu berdiri merentangkan tangannya di depan Zahra dan menghalangi chelsea untuk mendekat dan memeluk Zahra.
chelsea cemberut dan kesal pada Aziz yang sudah menghalangi nya untuk memeluk Zahra, itu terlihat dati tatapan tajam dan rasa tidak senangnya pada kakak nya itu
" Abang !!, apa - apaan sih, chelsea kan mau peluk kak Zahra, bukan Abang " protes chelsea pada Aziz.
" Gak boleh, kakak sudah yakin, kalau kamu sudah peluk istri Abang, maka kamu akan menguasai istri Abang seperti mami dan Tante ayu menguasai istri Abang " ujar Aziz dingin.
" Hah ..." semua orang merasa tercengang mendengar ucapan Aziz yang menurut mereka sangat berlebihan, tapi berbeda dengan Bu susan dan Zahra, Bu Susan hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah aziz yang seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya.
pak Widodo menyapa Bu Susan yang dari tadi senyum - senyum menatap putranya itu, pak Widodo menggalakan kakak beradik yang tengah berselisih itu tanpa ada niat untuk menengahinya.
pak Widodo mendekati Bu Susan yang masih berada di dekat meja makan, dan menanyakan maksud yang di katakan aziz karena tadi Aziz ada menyinggung nama Bu Susan dan ayu.
" Ada apa ini sayang, kenapa Aziz bisa begitu protektif pada Zahra, dan apa maksud yang di katakan nya kamu menguasai Zahra ?!" tanya pak Widodo bingung menatap Bu Susan.
Bu Susan tersenyum menatap pak Widodo, Bu Susan dengan suara pelan menceritakan kejadian yang telah terjadi di rumah sakit sesuai dengan apa yang di ceritakan Zahra dan kejadian di rumah tadi saat Aziz datang.
Pak Widodo geleng - geleng kepala mendengar penjelasan Bu Susan.
" Anak itu, makin lama makin protektif aja sama istrinya " ujar pak Widodo geleng - geleng kepala .
" Apa bedanya sama papi " sahut Bu Susan menatap pak Widodo cemberut
Pak Widodo menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal, pak Widodo salah tingkah, apa yang di katakan Bu Susan benar.
" Tapi papi melakukannya karena papi sayang cinta sama mami, dan papi gak mau kehilangan mami " jawab pak Widodo membela dirinya.
" Alah alasan papi aja " bu Susan berlalu mendekati Zahra dan chelsea yang masih terus berselisih dan tidak ada yang mau mengalah satu pun di antara mereka.
Zahra merasa pusing menghadapi dua kakak beradik yang saling berseteru hal yang tidak penting itu.
Bu Susan merasa kasihan melihat menantunya yang sudah lelah menengahi Suami dan iparnya itu yang tidak mau berhenti berdebat.
__ADS_1
" Mau sampai kapan kalian berdebat terus hah " Bu Susan berdiri di antar Aziz dan chelsea , Bu Susan menatap tajam kedua anak nya itu bergantian .
" Abang tuh mi, Abang gak bolehin chelsea peluk kak Zahra, chelsea kan kangen sama kak Zahra mi " adu chelsea manja pada Bu Susan
" Sudah abang bilang gak boleh, ya gak boleh , kamu aja yang ngeyel " Aziz tidak mau kalah dengan adik nya itu.
" Cukup !!!" Bu Susan menatap garang dua anak nya, Bu Susan tidak habis pikir dengan tingkah laku anak nya, sudah besar - besar tapi masih juga seperti anak kecil yang selalu ribut memperebutkan mainan, padahal yang mereka perebutkan hari ini bukan mainan, tapi menantu nya Zahra .
" Kalian apa tidak lihat dan kasihan dengan Zahra yang sudah pusing mendengar ocehan kalian dari tadi hah !! " Bu Susan menunjuk Zahra yang sedang memijit kepalanya yang tiba - tiba terasa pusing di sofa ruangan itu.
Aziz dan chelsea mengalihkan pandanganya menatap kearah yang di tunjuk Bu Susan.
" Zahra "
" Kakak "
Aziz dan chelsea sama berlari cemas menghampiri Zahra yang masih memijit - mijit kepalanya.
Aziz dan chelsea sama - sama mendekati Zahra dan berjongkok di hadapan Zahra.
" Sayang, apa kamu baik - baik saja"
Lagi - lagi aziz dan chelsea bicara dalam waktu bersamaan menayangkan kondisi Zahra, dari raut wajah mereka berdua terlihat sangat mencemaskan kondisi Zahra saat ini.
Zahra terus memijit kepalanya yang pusing, Zahra tidak menghiraukan pertanyaan kakak beradik itu.
" Ini salah Abang !! " ujar chelsea marah pada Aziz
" Loh kamu kok kamu nyalahin Abang, kamu yang salah " sahut Aziz yang tidak terima di salahkan oleh chelsea
" Udah - udah " Bu Susan datang melerai Aziz dan chelsea yang kembali ribut dan kali ini dihadapan Zahra.
" Kalian ini, bukannya berhenti ribut malah makin menjadi, apa kalian gak kasihan sama Zahra hah, Zahra tu pusing karena ulah kalian yang ribut tidak mau mengalah " Bu Susan memarahi Aziz dan chelsea berbarengan.
" Chelsea, sekarang kamu ke kamar ganti baju cuci tangan dan kaki, habis itu turun ke bawah kita makan siang bersama, papi sudah menunggu di meja makan, jadi cepatlah " chelsea tanpa banyak bicara dan tidak mau membantah ucapan Bu Susan berdiri dan berlalu ke kamar nya untuk mengerjakan yang diperintahkan Bu Susan.
" Dan kamu Aziz , udah tahu Zahra pusing, sebagai suami bukannya peka, tapi malah meladeni adek kamu untuk ribut, sekarang bantu Zahra ke meja makan, sudah saat nya Zahra makan dan minum obatnya " Aziz menganggukkan kepalanya mengerti apa yang di bilang Bu Susan.
Bu Susan menghela nafas berat, ia sama sekali tidak mengerti dengan sifat kedua anaknya itu, jika sudah bertemu seperti tom and Geri, tapi kalau sudah berjauhan saling menanyakan dan mencari.
" Sayang, maafin Abang ya sudah buat kamu pusing, sekarang masih pusing gak sayang ?" Aziz memijit kepala Zahra lembut.
__ADS_1
Zahra menyandarkan kepalanya di dada Aziz dan memejamkan matanya menikmati pijitan Aziz di kepala nya.
Zahra hanya menganggukkan kepalanya, ketika Aziz meminta maaf pada dirinya tadi. saat ini Zahra sedang fokus menghirup wangi tubuh Aziz, entah mengapa setelah mencium bau wangi dari tubuh aziz , rasa pusing dan mual yang tadi di rasakannya hilang begitu saja.
" Apa masih pusing ?" Aziz terus memijit kepala Zahra, berharap pusingnya berkurang.
" Sudah mulai mendingan bang " Zahra mengambil tangan Aziz yang masih berada di kepala dan sedang memijit kepalanya.
" Udah Zahra sudah gak apa - apa kok bang, tapi Zahra lapar " ujar Zahra dengan muka imutnya.
Aziz mencubit hidung Zahra gemas, istrinya terlihat sangat imut dan menggemaskan saat ini.
" Jadi anak - anak ayah sudah lapar ya." aziz tersenyum berbicara di depan perut istrinya, tangan Aziz mengelus perut Zahra pelan
" Ya udah yuk kita makan, papi dan mami sudah menunggu di meja makan " Aziz membantu Zahra berdiri dan berlalu ke ruang makan.
Di meja makan pak Widodo dan sudah menunggu mereka untuk menyantap makan siang mereka hati ini.
Zahra menatap menu makan siang yang tersaji di atas meja, Zahra merasa tidak ada yang menarik nafas makan nya, pada hal menu makan siang kali ini bu Susan sengaja membuat makan kesukaan Zahra
" Kenapa sayang " Aziz menatap Zahra yang terlihat tidak semangat dengan menu makan siangnya.
Zahra menatap Bu Susan dan pak Widodo yang juga tengah menatap kearahnya.
" Apa kamu mau makan sesuatu nak ?" kami ini bu susan yang bertanya.
Zahra menatap Bu Susan tidak enak hati
" Mi Zahra boleh makan dengan rujak buatan mami gak mi ?" tanya Zahra hati - hati pada Bu Susan. Entah mengapa saat ini zahra sangat ingin makan dengan rujak buatan Bu Susan.
Semua orang di meja makan menatap Zahra bingung dengan permintaan mereka ya aneh.
" Tapi sayang, ini mami ada buatkan makanan kesukaan kamu loh " ujar Bu Susan. Bu Susan tidak tega jika menantunya makan hanya dengan rujak saja dan menurut Bu Susan rujak bukan lah menu yang baik di makan bersama nasi.
" Tapi Zahra pingin makan dengan rujak mi " ujar Zahra dengan mata berkaca - kaca.
Aziz, Bu Susan terlihat panik ketika mata Zahra sudah mulai berkaca - kaca akan menangis.
" Yah udah, kamu boleh kok makan dengan rujak, tapi jangan menangis lagi ya sayang " sahut Bu Susan ,yang langsung meminta bibi membawakan rujak yang di buatnya tadi
" Tapi mi..." Aziz yang tadi niatnya ingin protes dengan keputusan Bu Susan yang membolehkan Zahra makan dengan rujak tidak jadi meneruskan ucapannya, karena sudah di pelototi oleh Bu Susan duluan.
__ADS_1