CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 186


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Zahra dan ketiga bayi kembarnya sudah tidur dari satu jam yang lalu, sementara Aziz masih sibuk dengan pekerjaannya yang tadi dikirimkan Aldo lewat email-nya.


Tiba - tiba ponsel Aziz yang berada di atas meja berbunyi pertanda ada pesan masuk, Aziz mengambil ponselnya dan melihat siapa yang sudah mengirimkan pesan pada nya malam - malam begini. Ternyata Aldo sang asisten yang sudah mengirimkan pesan pada nya dan tidak hanya pesan juga ada beberapa Vidio dan foto.


Aziz membuka satu satu vidio dan foto yang dikirimkan oleh asistennya itu, aziz terdiam sejenak, kemudian ponselnya kembali berbunyi satu Pasan lagi masuk ke layar ponselnya dengan si pengirim yang sama, kali ini bukan foto atau Vidio lagi tapi berupa file berisi rekan medis seorang pasien.


Aziz membuka file rekam medis yang telah dikirim Aldo, Aziz kembali terdiam dan berpikir keras tindakan apa yang akan di ambilnya.


Lama aziz terdiam, ternyata apa yang di katakan oleh Anton kemaren tidak bohong, dari beberapa foto dan Vidio serta rekam medis Naira yang di kirim Aldo sudah memperjelas bagai mana kondisi Naira saat ini, belum juga setahun Naira di dalam penjara, tapi ia sudah mengalami stres seperti ini


Yah setelah pertemuannya dengan Anton waktu itu, aziz langsung minta tolong Aldo untuk mencarikan informasi tentang Naira, Aziz juga meminta Aldo untuk bisa mendapatkan rekam medis Naira sebagai penguat penyelidikannya.


Dan Aldo yang sudah mendapatkan informasi tentang Naira langsung mengirimkan informasi itu pada Aziz, termasuk dengan rekan medis Naira yang tidak gampang ia dapatkan, Aldo membutuhkan alasan yang kuat sehingga ia bisa mendapatkan rekam medis Naira dari rumah rehab tersebut.


Aziz menatap Zahra yang sedang tidur nyenyak di atas tempat tidur, jika aziz memberi tahu Zahra yang sebenarnya tentang tabrakan itu dan kondisi Naira saat ini, apa kah mungkin Zahra tidak seperti yang di pikirkan nya selama ini? mungkin kah Zahra akan meminta nya untuk membebaskan Naira dengan alasan saudara? atau apakah yang di katakan Alif tentang Naira tu benar ?


Aziz menarik nafas dalam dan membuangnya kasar, aziz meletakkan kembali ponselnya ke atas meja lalu menyadarkan punggungnya di sandaran sofa. Aziz mengurut kepalanya Karena merasa pusing, permintaan Anton terasa begitu berat bagi Aziz, memang Anton tidak meminta kebebasan Naira pada nya, tapi dengan meminta Zahra menemui Naira bisa jadi permintaan kebebasan Naira itu akan di minta oleh istrinya sendiri.


Sesuai saran dari ayah mertuanya, Aziz juga menghubungi Alif meminta pendapatnya tentang permintaan Anton ayah kandung Naira. cukup bicara panjang lebar dengan Alif, Aziz pun menjadi bimbang dengan keputusan yang akan di ambilnya.


Sebagai seorang dokter Aziz merasa tidak tega melihat Naira menderita seperti itu, tapi sebagai seorang suami yang istrinya hampir celaka akibat kecelakaan yang di sengaja dan pelakunya saudara istri nya sendiri, Aziz juga tidak ingin Naira di bebaskan dari hukuman nya.


aziz melihat jam di pergelangan tangganya, ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam, aziz akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya dan akan melanjutkan besok pagi, untuk urusan Naira besok aziz akan meminta pendapat papi dan ayah mertuanya lagi.

__ADS_1


Setelah menutup laptop nya, Aziz naik keatas tempat tidur Zahra dan berbaring di samping Zahra sambil memeluk istrinya itu, karena sudah sangat mengantuk, akhirnya Aziz tidur menyusul istri dan bayi kembarnya.


Untuk urusan ketiga jagoannya, Aziz meminta perawat yang menjaga si kembar untuk memberi kan stok asi saja jika anak - anak nya itu bangun, bukannya Aziz tidak mengizinkan anak nya asi langsung ke ibunya, tapi melihat Zahra yang begitu sangat kelelahan Aziz merasa kasihan dan berpesan Zahra jangan di bangunkan jika si kembar bangun nanti, kecuali jika Zahra terbangun ketika si kembar bangun maka perawat bisa memberikan si kembar pada ibu nya untuk di susui.


******


Zahra terbangun ketika mendengar suara tangisan yang cukup keras dan saling sambut bersambut dari ketiga putra nya, Zahra mengerjakan matanya menyesuaikan dengan pencahayaan dari cahaya lampu di kamar nya, Zahra mengambil ponselnya yang berada di atas lemari nakas, dan melihat jam yang ada di ponselnya itu, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, Zahra melihat Aziz masih tidur nyenyak di samping nya dengan tangan memeluk tubuhnya.


" Bang, sudah subuh, bangun sholat subuh dulu bang " Zahra membangunkan Aziz untuk sholat subuh, Karena waktu sudah sudah masuk dari tadi.


" Hmmm, bentar lagi sayang "


" Buruan bang, nanti ke buru habis waktu subuh nya " Zahra meminggirkan tangan Aziz Aziz dari tubuhnya dengan susah payah karena Aziz memeluk nya dengan cukup kuat, aziz yang merasa terusik semakin mengeratkan pelukannya, dan mendusel kan wajahnya ke ceruk leher Zahra.


" Mau kemana sayang, ini masih pagi " jawab aziz dengan suara serak nya bangun tidur.


" Abang gak dengar apa, itu si kembar menangis , mereka haus kali Abang " jawab Zahra yang terus berusaha melepaskan tangan aziz dari atas tubuhnya.


" Tenang aja sayang, kan sudah ada perawat yang mengurus Merkea , kamu disini aja diam "


" Tapi mereka dari semalam belum ada asi langsung ke Zahra bang, payudara Zahra sakit Karena asi nya belum di keluarkan dari semalam " jawab Zahra.


" Jangan - jangan Abang ya yang sudah larang perawat bangunkan Zahra untuk menyusui si kembar " tanya Zahra curiga pada suami nya itu, karena Zahra merasa tidak ada mendengar suara tangisan bayinya minta minum malam tadi.

__ADS_1


" Abang lihat kamu sangat kecapean sayang, makanya abang minta perawat untuk memberikan asi yang ada saja dulu " jawab Aziz tanpa marasa bersalah


Zahra hanya bisa menatap suaminya kesal, Zahra tidak tahu harus berkata apa, mau marah atau senang, marah karena tidak bisa memberikan asi pada bayi - bayinya sehingga Zahra merasakan sakit pada payudara karena payudara zahra sudah mengeras akibat ASI-nya tidak di kelurahan tadi malam, senang ternyata suaminya sangat pengertian dan perhatian pada nya,.sehingga tidak tega membangunkannya ketiak ia merasa kelelahan.


" Ya sudah, Abang sholat sana gih, benar lagi waktu subuh sudah mau habis " sahut Zahra mendorong tubuh Aziz pelan untuk bangun.


Aziz pun melepaskan pelukannya, ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, Zahra dengan cepat langsung duduk dan berdiri ketika Aziz melepaskan pelukannya dari tubuhnya.


" Sayang, kalau mau bangun itu jangan buru - buru seperti itu, nanti kamu pusing " sahur Aziz yang langsung meraih tubuh Zahra ketika Zahra tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh nya sehingga mau jatuh, untung Aziz sigap menangkap tubuh Zahra sehingga tidak jadi jatuh.


" Maaf bang, Zahra sudah kebelet pipis soalnya " jawab Zahra merasa bersalah.


" Iya lain kali, lebih hati - hati lagi ya, karena itu sangat berbahaya jika kamu sempai jatuh " sahut aziz lagi.


" Sini abang bantu ke kamar mandi nya " sahut Aziz lagi sambil membimbing zahra berjalan ke kamar mandi


Setelah Zahra menyelesaikan urusannya di kamar mandi, Zahra langsung mendekati putra - putranya Karan Zahra masih mendengar suara putranya menangis, walau tidak seramai tadi.


sementara Aziz langsung masuk kamar mandi setelah Zahra keluar, Aziz hanya mengambil wudhu saja, Karena sebentar lagi waktu subuh sudah mau usai.


Zahra melihat akhdan dan rasyid sedang di gendong oleh perawat untuk di berikan asi, Sementara Fauzan masih berada di dalam incubator nya dan sendang menangis menunggu giliran di beri minum.


" Anak bunda haus ya sayang, mau mimik juga ya nak?, sini Abang Fauzan mimiknya sama bunda aja ya nak " sahut Zahra pada Fauzan yang masih terus menangis karena sudah merasa sangat lapar.

__ADS_1


Zahra mengambil Fauzan dari dalam incubator dan membawanya ke sofa yang ada dekat tempat tidur nya, Zahra pun langsung mendekatkan sumber makannya Fauzan ke arah bibir putra nya itu, dengan sigap dan lahap Fauzan pun langsung menghisap sumber makanannya.


__ADS_2