
Rio sedang menatap anak nya yang sedang tidur nyenyak di dalam bix bayinya, bayi kecil itu tidur sangat pulas dan tidak merasa terganggu ketika ayahnya membelai lembut dan sesekali memberikan ciuman di kepala bayi itu. sesekali bayi cantik itu tersenyum dalam tidur nya entah sedang bermimpi apa.
Rio menatap wajah putrinya dalam, makin lama wajah bayi itu sangat mirip menyerupai wajah ibu nya Naira, Calista itu lah nama bayi mungil itu, nama yang di berikan ibunya sebelum mereka berpisah.
" Kamu sangat cantik sayang, dan sangat mirip dengan ibu mu " sahut Rio pelan takut suaranya membangunkan Bayi mungil itu.
Menyebut ibu Calista , tiba - tiba Rio teringat akan kabar Naira, " bagai mana kabar Naira sekarang ya?, sudah tiga bulan aku tidak dapat kabar tentang Naira " gumam Rio pelan.
Sebenarnya setelah pesta pernikahan Zahra dan Aziz di gelar, Rio sudah mulai bertekad akan melupakan Zahra dan mencoba membuka hatinya untuk Naira, tapi siapa yang menduga, ternyata Naira berbuat nekad untuk mencelakakan Zahra sehingga bayi mereka lahir sebelum waktu nya. Ketika Naira di tangkap akibat perbuatannya, Rio masih mau menerima Naira dan sudah berniat akan tetap mempertahankan Naira dan pernikahan mereka demi bayi kecilnya yang membutuhkan sosok seorang ibu.
Namun lagi - lagi Rio tidak bisa berbuat apa - apa saat orang tuanya meminta ia menceraikan Naira dengan alasan kedua orang tuanya tidak mau mempunyai menantu mantan napi.
Walau pun Rio dan Naira sudah berpisah, tapi Rio tetap berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan Naira dan kedua mertuanya itu.
Biasanya Rio selalu menanyakan kondisi Naira pada mertua nya saat mertuanya menghubungi dirinya menanyakan Calista.
tapi sudah hampir satu bulan ini Rio memang jarang menghubungi mantan mertuanya itu, begitu juga sebaliknya dengan Mirna dan Anton. Memang akhir - akhir ini Rio memang sedikit sibuk dengan urusan pekerjaannya, apa lagi ia baru menyesuaikan diri dengan usaha keluarga yang sendang ia pegang saat ini.
Rio meraih ponsel di dalam kantong celana nya, lalu mencari nomor kontak Anton mertuanya, Rio berniat akan menghubungi mertuanya itu untuk menanyakan kondisi Naira terbaru, namun sudah tiga kali panggilan ponsel Anton tidak bisa di hubungi.
Akhirnya Rio menutup panggilan itu karena nomor Anton yang tidak dapat di hubungi, Rio berpikir mungkin Anton sedang sibuk atau baterai ponsel nya yang telah habis.
Sementara itu, pulang dari rumah rehab, Anton tidak langsung pulang ke apartemen nya, setelah mengantar Mirna ke apartemen Anton kembali balik ke kantornya karena ada klien penting perusahaan yang ingin menemui dirinya.
Dalam perjalanan ke kantor, Anton kembali teringat akan penjelasan dokter yang merawat Naira, mempertemukan putrinya dengan orang yang ingin di jumpai oleh putrinya, siapa lagi kalau bukan Zahra, tapi bagai mana cara nya?
__ADS_1
Apa kah Anton harus menemui aziz sekali lagi? Dan memohon pada aziz untuk mengizinkan Zahra menemui Naira?
Anton mengurutkan kepalanya yang terasa pusing, Anton sangat pusing memikirkan nasib putrinya itu. Anton takut akan mengalami kegagalan lagi ketika meminta bantuan pada aziz yang notabene nya adalah suami Zahra. Orang yang ber hak mengambil keputusan untuk kehidupan zahra setelah sandi ayah kandungnya.
Tidak terasa Anton sudah sampai di kantornya, setelah mengadakan pertemuan penting yang mendadak dengan klien nya, Anton Kembali ke ruangannya. Di ruangan nya anton kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda hari ini, tapi Anton tidak bisa konsentrasi dalam mengerjakan pekerjaannya, ucapan dokter di rehab tadi terus terngiang - ngiang di telinga nya.
Hhhhhh
Anton menarik nafas dalam dan membuangnya kasar, Anton meraih telpon ruangannya untuk menghubungi sekretarisnya,
" Halo.."
" Tolong kamu buat janji untuk bisa bertemu dengan pak aziz dari perusahaan widodo' group"
" Cukup kamu buat janji saja, bilang saya ingin menemui beliau "
" Baik pak " jawab suara sekretaris Anton dari luar.
Anton menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat ke sandaran kursi kebesarannya dengan mata terpejam. " Semoga usaha ku kali ini berhasil " gumam Anton bicara sendiri.
Tak lama kemudian telpon di meja angin berdering, Anton dengan segera menangkap telpon tersebut, karena ia tahu telpon itu dari sekretaris nya
" ya, gimana ?" tanya Anton tanpa basa basi "
" Maaf pak, info dari asisten beliau, untuk satu Minggu ini pak aziz belum bisa di temui pak, karena pak Aziz sendang menunggui istrinya yang habis melahirkan, jika bapak tetap ingin membuat janji, bisa tapi nanti bertemunya hanya dengan asisten beliau pak Aldo pak " sahut sekretaris Anton menjelaskan
__ADS_1
" Jika Aziz menunggui istrinya yang sudah lahiran, berarti Zahra sudah lahiran " gumam aziz pelan yang hampir tidak terdengar oleh sekretarisnya dari seberang telpon.
" ya pak, maaf pak ucapan bapak tidak jelas, bisa tolong di ulangi pak ?" tanya sekertaris Anton yang tidak mendengar jelas apa yang di ucapkan oleh Anton dan minta izin. Untuk Anton mengulangi ucapannya.
" Ya sudah, kalau begitu buat janji bertemunya.di batal kan saja " sahut Anton kemudian memutuskan panggilan itu begitu saja.
Anton duduk termenung di kursi kebesarannya, Anton sedang berpikir jika Zahra sudah lahiran itu artinya sandi beserta keluarganya akan datang berkunjung menjenguk cucu mereka, senyum bahagia terukir di bibir anton, Anton berpikir ini kesempatan yang bagus untuk ia bisa menjumpai sandi dan Aziz secara berbarengan, semoga saja usaha nya kali ini untuk meminta izin zahra menjumpai Naira akan berhasil.
Anton mulai memikirkan cara bagai mana bisa menemui Aziz dan sandi, tentu saja dengan harapan usaha nya tidak akan sia - sia, setelah hampir satu jam berpikir, akhirnya Anton memutuskan akan menjumpai aizz dan sandi besok di saat jam makan siang, dan lebih tepatnya di jam kunjung pasien rumah sakit, Anton berencana akan menemui Aziz dan sandi langsung di rumah sakit sekaligus membesuk Zahra dan anak - anak nya yang baru lahir, Anton berpikir besok adalah waktu yang tepat untuk nya menemui Aziz dan sandi.
Anton lalu menghubungi sekretarisnya lagi dan Anton meminta tolong pada sekretaris nya itu untuk mencarikan kado untuk bayi baru lahir, dan semuanya berjumlah tiga masing - masing nya sebagai buah tangan nya nanti ketika datang ke rumah sakit menjenguk Zahra dan anak - anak nya.
" halo pak "
" Tolong kamu Carikan kado untuk ibu siap lahiran dan untuk bayi kembar tiga, dan kadonya itu yang netral ya yang bisa cewek atau cowok gunakan, dan besok pagi kado itu sudah ada di meja saya "
" baik pak "
panggilan telpon itu langsung di tutup Anton tanpa basa basi sedikit pun .
Yah Anton memang sudah tahu jika zahra sedang hamil bayi kembar tiga, tapi Anton tidak mengetahui apa jenis kelamin anak - anak Aziz dan Zahra, untuk itu Anton meminta sekretarisnya untuk mencarikan kado yang netral yang bisa di gunakan untuk cewek atau cowok, dan Anton juga meminta pada sekretarisnya itu, kado tersebut besok pagi sudah ada di atas meja kerja nya.
Anton Kembali menyadarkan punggungnya di sandaran kursi , senyum senang terukir dari bibirnya setelah ia menghubungi sekretarisnya tadi.
Anton berharap besok ada harapan yang baik untuk nya, " Sabar ya nai, semoga saja aziz dan sandi besok bersedia dan mengizinkan Zahra untuk bertemu Dangan kamu nak " gumam sandi sambil tersenyum .
__ADS_1