
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aziz sesekali menatap Zahra yang duduk manis di sampingnya sambil senyum - senyum.
Zahra yang merasa diperhatikan oleh Aziz menatap ke samping , Zahra heran melihat Aziz yang menatap nya sambil senyum - senyum .
" Abang ada apa senyum - senyum seperti itu ?" tanya Zahra bingung.
" Abang hanya gak nyangka aja sayang , ternyata kamu lebih ganas dari Abang tadi malam." jawab Aziz sambil senyum membayangkan olah raga malam nya semalam bersama sang istri.
" Maksud Abang apa ?" tanya Zahra masih tidak mengerti.
" Buktinya kamu bisa meninggalkan tanda penyatuan kita di tubuh Abang " jawab aziz absur tanpa filter sedikit pun,
Zahra menyipitkan matanya menatap Aziz penuh selidik .
" Apa abang gak salah bicara, yang ganas itu Abang tahu " sahut Zahra tidak mau kalah.
" Loh kok Abang, udah jelas kamu, buktinya ada kok ni " sahut Aziz sambil melihatkan tanda merah di lehernya.
" Abang lebih ganas, mau Zahra lihat kan sekarang juga " Zahra yang sudah terpancing oleh omongan Aziz langsung menaikkan hijabnya dan membuka resleting baju gamis bagian depannya dan membuka baju itu lebar - lebar hingga menampakkan bagian tubuh depan Zahra yang putih bersih itu penuh dengan tanda kepemilikan dari Aziz.
Aziz yang melihat itu tanpa sadar melakukan rem mendadak pada mobilnya ,sehingga Zahra terdorong kedepan, untung Zahra pakai sabuk pengamannya hingga dorongan itu tidak membuat ia cedera.
" Sayang kamu tidak apa - apa kan,.maaf Abang ya sayang, Abang gak sengaja ." Aziz memeriksa Zahra takut Zahra ada yang terluka .
" Abang kenapa rem mendadak seperti itu sih, coba kalau ada mobil di belakang ,bisa celaka kita bang " sahut Zahra kesal sambil mengelus kepalanya yang terbentur bagian Dash board mobil .
Aziz memilih meminggirkan mobilnya agar tidak menghalangi kendaraan yang lain untuk lewat, untung jalanan masih sepi ,sehingga tidak terjadi hal - hal yang tidak di inginkan saat Aziz menghentikan mobilnya di tengah jalan tadi.
Setelah mobilnya menepi, Aziz mematikan mesin mobil , lalu Aziz memberikan air minuman mineral yang selalu di sediakan Aziz di mobil untuk Zahra, Zahra meminum air minum yang di berikan Aziz pada nya.
__ADS_1
Zahra kembali merasa tenang , Aziz mengelus wajah istrinya sambil meminta maaf, Aziz melihat baju bagian depan Zahra yang masih belum tertutup , Aziz yang berniat akan menutup resleting baju itu, tapi ketika ia akan menarik resleting itu Aziz jadi salah fokus, matanya terarah pada dada istrinya yang penuh oleh tanda kepemilikan darinya , Aziz tersenyum senang menatap tanda kepemilikan itu, lalu Aziz menelan Saliva nya kasar ketika matanya melihat ada yang lebih menarik dari tanda kepemilikan itu yaitu dua bukit kembar Zahra yang menggoda di balik bra hitam yang di pakai.oleh zahra.
Tangan Aziz yang semula membelai tanda kepemilikan berganti ke arah gunung kembar Zahra , Aziz meremas gunung kembar itu perlahan, Zahra yang merasa ada pergerakan aneh pada gunung kembarnya memegang tangan Aziz yang sedang meremas gunung kembar miliknya itu
" Abang .jangan ,ini di tempat umum " sahut Zahra dan mengingat Aziz jika mereka saat ini masih berada di mobil dan tempat terbuka.
Aziz menghentikan aktifitas kedua tangannya kecewa di mainan yang baru di milikinya itu, dan sepertinya itu akan menjadi mainan favorit nya.
" Kita ke hotel aja yuk sayang , Abang jadi pingin menambah lukisan Abang di tubuh kamu ini agar tidak ada lagi yang berani mengambil kamu dari Abang nantinya " Aziz yang sudah terpancing oleh pemandangan indah di pagi yang cerah itu pun langsung mengajak Zahra untuk mencari hotel.
Zahra tidak habis pikir dengan suaminya itu, Zahra cepat - capat merapikan pakaian nya dan tidak menghiraukan permintaan Aziz untuk mencari hotel.
"gak bang, Zahra ada shift pagi dan Abang ada operasi pagi ini, sebaiknya sekarang Abang jalankan mobilnya menuju ke rumah sakit, bukan ke hotel." sahut Zahra tegas .
" Tapi sayang..." rengek Aziz yang tidak menyelesaikan ucapannya karena sudah di potong oleh Zahra duluan .
" Tidak ada bantahan bang " sahut Zahra lagi lebih tegas dari pada tadi dan meniru ucapan yang sering di ucapkan aziz apa bila Zahra ingin menolak keinginan Aziz.
***
Sampai di rumah sakit , Zahra langsung berpamitan dengan Aziz dan mencium tangan Aziz.
" Sayang..." Aziz belum mau melepaskan tangan Zahra, sementara Zahra Harus buru - buru masuk karena sebentar lagi pertukaran shift akan di mulai.
Zahra yang sudah paham keinginan Aziz hanya menarik nafas dalam kasar.
cup
Zahra memberanikan diri mencium Aziz duluan, agar ia cepat bebas dari suaminya itu, sebenarnya Zahra malu, tapi bagai mana lagi, hanya cara ini yang bisa Zahra lakukan agar ia tidak telat.
__ADS_1
" nanti Zahra kasih ya, berapa ronde pun Zahra siap ,ok Abang " sahut Zahra di kuping aziz.
Aziz tersenyum sumringah, ia seakan mendapatkan air segar di gurun tandus.
" baik sayang, janji ya, berapa ronde pun siap " sahut Aziz senang , Zahra pun menganggukkan kepalanya.
Aziz memcium kening Zahra, lalu pindah ke bibir Zahra dan ******* bibir itu sebentar.
" baik lah, semangat kerjanya ya sayang , seperti biasa, pulang kerja tunggu Abang di ruangan pribadi Abang ya " sahut Aziz dan melepaskan tangan Zahra
Zahra pun dengan cepat keluar dari dalam mobil dan setengah berlari menuju ke mesin absen , lalu menghilang di dalam lift menuju ke ruangannya di lantai 2.
Sementara Aziz terus memperhatikan istrinya yang dari dalam mobil sampai Zahra menghilang masuk lift, Aziz merasa bersalah pada istrinya di karenakan ulahnya Zahra jadi terlambat masuk kerja.
***
Semenjak menikah dengan Aziz, Zahra terlihat lebih bahagia , mendapatkan suami yang sayang dan sangat mencintainya, mertua yang sayang padanya dan teman - teman yang selalu mendukungnya, kehidupan Zahra terasa sempurna.
Begitu juga dengan rumah tangganya, makin hari Zahra dan Aziz semakin mesra dan bahagia.banyak orang yang merasa iri dengan kebahagiaan mereka .
Namun kebahagiaan rumah tangga Zahra dan Aziz berbanding terbalik dengan keadaan rumah tangga Naira dan Mirna.
Rumah tangga Naira dan Rio selalu di warnai dengan pertengkaran ,bagi mereka tiada hari tanpa bertengkar. dan herannya Mereka seakan mempunyai banyak stok bahan untuk memulai suatu bertengkar , mulai dari hal yang tidak penting Sampai hal yang penting .
Begitu juga dengan kehidupan Mirna dan sandi, hampir tiap hari Miran menerima hukuman dari sandi , sandi selalu memberikan Mirna tugas - tugas yang di luar nalar orang biasa.
contohnya hari ini, Mirna di suruh sandi untuk mengepel lantai rumah, tapi harus menggunakan kain dan tidak boleh menggunakan sapu pel dan penghisap debu.
Belum lagi Mirna di suruh membuatkan sandi sarapan, tapi tidak di sentuh oleh sandi dengan alasan tidak enak. dan sandi memerintahkan Mirna untuk menghabiskan semua makanan itu, dan tidak boleh di bulang.
__ADS_1
Seminggu sudah Mirna melalui siksaan dari sandi, ingin menyerah tapi Mirna tidak tahu akan pergi kemana , karena ia sudah tidak memiliki keluarga lagi.