CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 199


__ADS_3

" Sayang ..." aziz kaget melihat istrinya datang dan sudah berdiri di ambang pintu ruangannya.


" Sudah lama sampainya ?, kok gak langsung masuk sih sayang " Aziz langsung berdiri dari kursi kebesarannya menghampiri Zahra yang masih berdiri di pintu menatap sang suami tanpa berkedip.


Aziz mengerutkan keningnya bingung menatap Zahra yang menatapnya tanpa berkedip dan tanpa suara.


" Sayang, ada apa ? " tanya aziz lagi yang masih tidak dapat jawaban dari istrinya itu.


" Sayang " Aziz menyentuh bahu Zahra, seketika Zahra kaget dan sadar dari lamunannya.


" Adek kenapa ? " tanya aziz cemas.


" Zahra gak kenapa - Napa kok bang " jawab Zahra gugup.


" Kalau gak ada apa - apa kenapa adek gak jawab pas Abang tanya tadi ?"


" Abang tanya apa ?" tanya Zahra balik dan bingung


" Abang tanya, adek kapan sampainya? Kok gak langsung masuk aja ?" ujar Aziz mengulang pertanyaan nya


" Maaf bang, tadi Zahra gak dengar Abang tanya apa " jawab Zahra malu dan menundukkan kepalanya. " Zahra baru saja sampai kok bang " sahut zahra lagi.


" Trus kenapa gak langsung masuk ?" tanya aziz lagi.


" Zahra gak mungkin langsung masuk kalau Abang gak izinkan, takutnya abang lagi sibuk " jawab Zahra mengangkat kepalanya dan menatap mata Aziz


" Ini ruang pribadi abang, berarti juga ruangan pribadi adek, adek bebas masuk kapan adek mau tanpa harus mengetuk pintu dulu, sama hal nya adek bisa masuk sesuka hati adek ke ruangan pribadi abang di rumah sakit, jadi lain kali tidak usah mengetuk pintu lagi jika datang dan masuk ke sini ya sayang " Jawab aziz lembut menjelaskan pada Zahra.


" Baik lah Abang " jawab Zahra akhirnya


Aziz senyum senang dan mengusap kepala Zahra lembut, lalu Aziz meraih tangan Zahra dan membawanya lebih masuk lagi ke dalam ruangan kerjanya tanpa Aziz melupakan untuk menutup pintu ruangannya terlebih dahulu.


Aziz membimbing Zahra untuk duduk di sofa yang ada di ruangan nya, tapi Aziz tidak membiarkan Zahra duduk sendiri, melain kan menarik Zahra untuk duduk di atas pahanya sambil memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


Aziz merasa senang dengan kedatangan Zahra ke kantornya siang ini, dengan kehadiran Zahra di kantornya telah mampu membuat lelah nya terobati dan hilang berganti dengan rasa rindu yang tengah terobati saat ini, Aziz yang merasa sangat lelah bekerja dari pagi hingga siang ini tanpa henti, semua di karenakan pekerjaan yang menumpuk akibat ia yang hampir dua Minggu tidak pernah datang ke kantor selama Zahra lahiran, membuat pekerjaannya jadi menumpuk di tambah lagi jadwal meeting yang begitu padat dari pagi hingga siang ini, untungnya setelah ini ia tidak ada jadwal meeting lagi, dan pekerjaannya di rumah sakit juga sedang tidak banyak, hingga ia bisa lebih sedikit santai hingga sore nanti.


Tapi Aziz sepertinya melupakan sesuatu, kedatangan Zahra ke kantornya siang ini tidak lain karena janji mereka pada Anton yang akan menemui Naira siang ini di tempat Naira menjalani perawatan, dan mengenai hal itu Aziz sudah membuat janji dengan Anton untuk mereka bertemu dan pertemuan langsung di tempat Naira di rawat saja agar tidak repot dan memakan waktu.


" Abang Jagan seperti ini, nanti kalau ada yang masuk gimana ?" sahut Zahra yang berusaha menarik tubuhnya agar lepas dari pelukkan suaminya itu.


" Gak ada yang berani masuk ke sini tanpa izin dari Abang " bukannya melepaskan pelukannya pada tubuh sang istri, Aziz malah semakin mempererat pelukannya pada tubuh Zahra, sehingga Zahra tidak bisa lepas dari pelukkan Aziz.


Akhirnya Zahra menyerah dan pasrah dalam pelukkan suaminya, Aziz mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra dan mendusel - duselkan hidung nya pada pipi Zahra.


" Abang kangen sayang " bisik Aziz di telinga Zahra dengan suara yang berat, Zahra yang sudah paham dengan kebiasaan suaminya menarik wajahnya menatap sang suami.


" Jagan aneh - aneh bang, ini lagi di kantor loh " sahut Zahra mengingatkan Aziz di mana mereka berada saat ini.


" Kalau di kantor kenapa ? Gak ada larangan kan?, lagi pula kita belum pernah mencobanya di kantor sayang, pasti lebih seru " Goda Aziz menatap Zahra dengan tatapan yang sudah bisa Zahra pahami.


" Abang jangan aneh - aneh deh, ingat kita sudah ada janji dengan pak Anton siang ini bukan ? Ujar Zahra lagi mengingatkan Aziz pada janji mereka pada Anton.


Aziz menatap jam di pergelangan tangannya, waktu masih menunjukkan pukul dua belas siang, semangat mereka janji jam dua siang.


" Tapi kita belum makan siang Abang " sahut Zahra lagi mengingatkan Aziz lagi bahwa mereka belum makan siang.


" Bisa nanti setelah Abang makan kamu sayang " jawab Aziz lagi sekaligus mode buat Zahra untuk tidak ada alasan lagi.


" Tapi Zahra masih dalam masa nifas Abang " Zahra tidak mau kalah.


" Abang tahu sayang, kan bisa seperti biasa dan Abang janji tidak akan bablas sayang " sahut Aziz lagi dengan berbagai alasan.


Zahra tidak tahu lagi harus bicara apa lagi, yang bisa Zahra lakukan hanya lah diam dan pasrah mengikuti kemauan suaminya.


Lalu aziz menekan tombol yang tersembunyi dari balik rak - rak buku di ruangan itu, di iringi dengan bergesernya rak buku tersebut dan terlihatlah sebuah ruangan yang tersembunyi seperti sebuah kamar rahasia.


Aziz menidurkan Zahra pelan di atas kasur yang ada di ruangan itu, lagi - lagi Aziz menekan tombol kecil yang ada di samping tempat tidur dan secara perlahan dan pasti, pintu ruangan itu kembali tertutup otomatis.

__ADS_1


Zahra menatap takjub isi ruangan itu, ruangan yang berbentuk seperti sebuah kamar, memang tidak seluas kamar mereka di rumah, tapi melihat kedalaman isi kamarnya semua lengkap ada di dalam kamar itu.


Zahra merasa tidak percaya, di ruangan suaminya ternyata ada ruangan tersembunyi seperti ini.


" Abang, kenapa ada kamar di ruangan kerja Abang ?" tanya Zahra bingung


" Abang sengaja membuat kamar si dalam ruangan ini, jadi kalau Abang lembur atau lelah bekerja, Abang bisa istirahat di sini " jawab Aziz menjelaskan.


" Apa Abang pernah bawa perempuan lain ke sini ?" tanya Zahra curiga


" Jangan bilang adek lagi cemburu " bukannya menjawab pertanyaan Zahra, aziz malah menggoda Zahra dengan pertanyaan nya.


" Issst, di jawab napa pertanyaan Zahra tadi " ujar Zahra sewot dan memanyunkan bibirnya.


cup


Aziz yang gemas melihat wajah kesal istrinya langsung memberikan ciuman di bibir Zahra.


" Gak pernah, adek lah perempuan pertama dan yang terakhir yang masuk ke kamar ini, tidak ada dan tidak akan pernah ada perempuan yang lainnya." jawab Aziz tegas meyakinkan Zahra


" Bahkan mami dan papi aja gak tahu dengan keberadaan kamar ini " sahut Aziz lagi.


" Kok bisa bang ?" tanya Zahra heran


" Karena kamar ini abang buat setelah papi menyerahkan kepemimpinan perusahaan ini langsung kepada Abang dan itu artinya ruangan ini resmi jadi ruangan Abang, dan Abang melakukan beberapa renovasi termasuk membuat kamar ini " jawab aziz lagi. Zahra pun mengangguk - anggukkan kepalanya mengerti.


" Sayang Abang kangen " sahut Aziz serak menatap Zahra dengan tatapan yang hanya zahra yang paham apa maksud tatapan suaminya itu.


Seakan tidak mau lagi membuang - buang waktunya, Aziz yang sudah sangat merindukan istrinya itu langsung memeluk Zahra dan ******* bibir Zahra lembut.


******


Satu jam berlalu, Aziz dan Zahra sedang makan siang dengan terburu - buru, waktu janjinya dengan Anton sudah mepet, mereka yang awalnya berencana akan makan siang di luar jadi batal dan berakhir hanya makan siang di kantor saja, dengan makanan yang telah di pesankan oleh Aldo atas perintah aziz. siapa lagi biang masalahnya jika bukan ulah suaminya Aziz.

__ADS_1


Zahra yang kesal pada Aziz tidak bisa berbuat banyak, karena sudah lapar, Zahra pun menghabiskan makanannya dengan lahap dan cepat.


__ADS_2