CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 126


__ADS_3

" Aaaaaakkh sial !! "


Naira membanting pintu kamarnya cukup keras. kemarahan dan kebencian nampak jelas dari raut wajahnya yang garang.


" Gara - gara orang itu, aku gagal menghabisi gadis pembawa sial itu " Naira mengambil vas bunga di atas meja riasnya dan melemparnya hingga pecah, dada Naira naik turun menahan amarah dalam hatinya mengikuti nafasnya yang cepat.


Naira tidak bisa mengontrol kemarahannya, wanita yang sedang hamil besar itu sama sekali tidak memperdulikan kondisi anak yang berada dalam kandungannya saat ini, wanita itu sama sekali tidak peduli bahwa kemarahannya saat ini akan berpengaruh buruk pada kandungannya .


Zahra melempar semua barang - barang yang ada di kamar itu sehingga kamar itu sudah seperti kapal pecah, semua barang dan pecahan kaca bertebaran di mana - mana


Naira menatap bayangannya dari pantulan kaca meja rias, wajah cantik itu saat ini terlihat sangat berantakan.


" Tunggu wanita pembawa sial, kamu akan membayar mahal atas semua perbuatan mu dan ibu mu, ulah kamu dan ibu mu yang sudah tiada itu, ibu ku yang merasakan akibatnya, karena ulah mu ibu ku yang menderita saat ini." kilat kemarahan dan kebencian sangat jelas terpancar dari mata bulat wanita hamil itu.


Yah Naira marah dan kesal karena rencana yang ia susun dengan susah payah Selama ini gagal total, Naira sangat ingin mencelakai Zahra dan membalaskan sakit hati dan dendam ibu nya karena menurut Naira, ibu nya yang tidak bersalah kini sedang menderita akibat ulah Zahra dan almarhum ibunya intan,


Semenjak malam resepsi pernikahan Zahra dan Aziz malam itu, Naira merasa tidak terima dan semakin membenci Zahra ketika melihat nasib Zahra lebih beruntung dari pada dirinya, Naira juga melihat Zahra terlihat sangat bahagia di acara pesta itu, Naira yang selama ini sangat membenci Zahra makin membenci Zahra ketika Naira teringat akan nasib Mirna yang sangat menderita saat ini, Naira berpikir bisa - bisanya Zahra bahagia setelah apa yang di lakukan nya pada Mirna ibunya. padahal jika Naira tahu kebenarannya dan mau melihat kebelakang lagi, semua yang terjadi pada Mirna tidak ada kaitannya sama sekali dengan Zahra dan intan


Tapi karena fitnah dan hasutan dari Mirna, sehingga sampai saat ini Naira masih berpikir semua yang terjadi pada ibunya adalah akibat dari perbuatan Zahra dan ibunya intan.


Sejak malam itu, Naira menyusun sebuah rencana untuk mencelakai Zahra, Naira selalu mengikuti kemana Zahra pergi.


Seperti hari ini, Naira rela keluar rumah dari pagi hanya untuk membuntuti Zahra dan Aziz, Naira menunggu celah agar ia bisa mencelakai Zahra, sebenarnya Naira dari tadi merasa kesulitan untuk mencari momen yang pas untuk mencelakai Zahra karena Zahra kemana - mana selalu di dampingi oleh Aziz, Sampai saat kesempatan itu berpihak padanya, Naira menggunakan kesempatan itu ketika Zahra pergi kekamar mandi sendirian sementara Aziz menebus obat di apotik.


Naira yang melihat Zahra masuk ke kamar kecil sendirian tanpa di dampingi Aziz, dengan diam - diam mengikuti dari belakang, ketika Naira sudah akan mendekati kamar kecil di mana Zahra berada saat ini, tiba - tiba ada seseorang berjalan membawa kopi panas di tangannya menabrak Naira sehingga tangan Naira kena tumpahan kopi yang di bawa orang tersebut.


Orang tersebut meminta maaf dan membawa Naira ke UGD untuk mengobati tangan Naira yang mulai memerah akibat tersiram kopi panas yang di bawanya.

__ADS_1


Naira yang tidak ingin rencananya gagal berusaha untuk menolak, tapi orang tersebut tetap memaksanya untuk di bawa ke ruang UGD agar lukanya bekas tumpahan kopi panas itu dapat di obati .


Mau tak mau, akhirnya Naira mengikuti orang tersebut karena Naira tidak mau jadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit yang saat itu tengah menatap mereka.


Dan ketika ia kembali ke kamar kecil itu ternyata Zahra sudah tidak ada di sana lagi.


Naira dengan kesal mencari - cari keberadaan Zahra, saat itulah Naira melihat Zahra dan Aziz baru saja masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah sakit tersebut.


Naira berjalan cepat menuju mobilnya di parkir, Naira bahkan berjalan dengan setengah berlari, ia tidak memperdulikan dengan perut besar, karena Naira takut kehilangan jejak Aziz dan Zahra


Lagi - lagi usaha Naira gagal, karena Zahra yang ternyata pergi ke rumah pak Widodo baru keluar dari rumah itu menjelang sore, dan itu pun dengan Aziz yang setia bersama nya.


Naira mengepalkan tangannya erat menahan amarah di dalam hatinya,


" Lihat lah gadis pembawa sial, aku akan membalaskan sakit hati ibu ku karena kamu dan ibu mu sudah menghancurkan hidup ibuku , aku akan membuat mu menyesal seumur hidup mu " gumam Naira berapi - api.


Setalah sampai di apartemen, Aziz dan Zahra membersihkan tubuh mereka bergantian di kamar mandi. lalu mereka menyanyikan sholat magrib bersama, seperti biasa nya, pasangan itu akan mengaji bersama sambil menunggu waktu sholat isya datang.


Setalah mengaji dan sholat isya bersama, Zahra memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur, karena semenjak hamil Zahra merasa tubuhnya sering mudah merasa lelah, apa lagi hampir seharian ia dan Aziz berada di luar rumah.


Aziz menyusul Zahra naik ke atas tempat tidur, Aziz merentangkan tangannya meminta Zahra untuk masuk kedalam pelukannya.


Tanpa bicara Zahra sudah paham maksud suami nya itu, Zahra tersenyum dan merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


" Kamu kelihatan sangat lelah sayang " Aziz memijit punggung Zahra pelan menggunakan satu tangannya dengan posisi Zahra yang masih dalam pelukkan Aziz,


Zahra memejamkan matanya menikmati pijitan Aziz di punggungnya, Zahra memang merasa sangat lelah dan pegal di daerah yang di pijit Aziz saat ini.

__ADS_1


" Iya bang, entah mengapa Zahra akhir - akhir ini sering merasa lemas dan lelah " jawab Zahra jujur.


" Istirahat lah sayang, itu biasa di alami oleh ibu hamil, apa lagi kamu yang sedang hamil kembar tiga seperti ini." jawab Aziz sambil terus memijit mijit punggung Zahra


" Bang " dengan ragu - ragu menatap Aziz yang juga sedang menatap ke arahnya .


" Ada apa sayang "


" Apa kah tawaran Abang kemaren masih berlaku ?" tanya Zahra menatap Aziz


" Tawaran apa sayang " tanya Aziz yang sudah lupa dengan tawaran yang di maksud oleh Zahra


" Tawaran abang untuk untuk mengajar di kampus yayasan papi jika Zahra risain dari rumah sakit " jawab Zahra pelan


" Memang nya ke Napa dengan tawaran itu ?' tanya Aziz bingung.


" Setelah Zahra pikir - pikir , Zahra berniat untuk risain dari rumah sakit dan memilih jadi dosen saja agar ilmu yang Zahra miliki tidak sia - sia bang." jawab Zahra memberi tahu keinginannya untuk risain dan memilih untuk menjadi team pengajar agar ilmu yang di milikinya tidak sia - sia begitu saja.


" Kamu serius sayang " tanya Aziz memastikan lagi keputusan Zahra agar Zahra tidak salah dalam mengambil keputusan.


Jika mau jujur Aziz lebih senang jika Zahra memilih berhenti bekerja dan cukup dia saja yang bekerja, tapi Aziz mencoba menghargai pilihan Zahra asalkan Zahra tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang istri.


Sebenarnya Aziz sudah punya rencana akan memindahkan Zahra ke bagian lain jika ia tidak mau risain, asalkan Zahra tidak menjalani jam kerja shift lagi.


Tapi jika Zahra memilih jalan lain Aziz akan menghargai itu.


Aziz akan selalu mendukung apa pun keputusan Zahra, dan jika pun Zahra ingin berhenti dari pekerjaannya, aziz berharap itu keputusan Zahra sendiri tanpa ada embel - embel yang lain.

__ADS_1


__ADS_2