CINTA UNTUK ZAHRA

CINTA UNTUK ZAHRA
BAB 182


__ADS_3

Setelah kepergian Anton dari cafe, Aziz, papi dan mertuanya masih tetap duduk di sana untuk membicarakan langkah yang akan mereka ambil selanjutnya.


Ini adalah kedatangan Anton yang pertama setelah penolakan Aziz, sandi dan pak Widodo dua bulan yang lalu, semenjak keras dan cukup tegas itu Anton tidak pernah lagi datang menemui Aziz dan pak Widodo selain urusan pekerjaaan, begitupun dengan sandi, sandi yang terang - terangan menolak kedatangan Anton waktu itu ke kantornya membuat Anton menyerah dan tidak pernah datang lagi.


" Jadi apa keputusan kamu ziz ?" sandi menatap Aziz menanyakan tentang keputusan aziz, bagaimana pun aziz lebih berhak untuk mengambil keputusan saat ini karena aziz adalah suami nya Zahra dan Aziz juga lah yang meminta mereka berdua untuk menolak permintaan Anton selama ini.


" Menurut ayah dan papi gimana ? " tanya aziz meminta pendapat papi dan ayah mertuanya. bagaimana pun, sebagai seorang dokter hati aziz terpanggil untuk membantu Anton menyembuhkan Naira putri nya, tapi jika memang yang di katakan Anton tentang Naira itu benar adanya.


" Bagai mana jika kita pastikan dulu kondisi nya, apa kah benar kondisi Naira seperti yang di sampaikan pak Anton tadi, dan melihat separah apa kondisinya saat ini, setelah semua nya pasti, baru kita pikirkan langkah selanjutnya, tapi semua kembali pada kamu ziz, semua keputusan ada di tangan kamu, papi dan ayah mertua mu mendukung sepenuhnya keputusan kamu " jawab pak Widodo yang mengembalikan semua keputusan pada Aziz putra nya itu.pak Widodo yakin Aziz pasti tahu langkah apa yang akan di ambilnya jika itu baik untuk istri dan anak - anak nya.


" Benar nak, semua keputusan ada di tangan kamu, selagi keputusan kamu baik untuk Zahra dan cucu - cucu kami, ayah mendukung nya " jawab sandi menyetujui ucapan besan nya itu.


" Itu artinya kita akan memberi tahu Zahra kejadian yang sebenar nya Pi, Aziz takut jika Zahra tahu siapa yang telah menabraknya bahkan dengan di sengaja Zahra akan semakin terluka Pi, yah " sahut aziz bingung dan menyampaikan isi hatinya.


Pak Widodo dan sandi terdiam mendengar ucapan Aziz, dan membenarkan ucapan aziz barusan, sudah cukup Zahra terluka akibat perbuatan Mirna dan Naira selama ini, dan mereka tidak bisa membayangkan jika Zahra akan terluka laki dengan kenyataan yang sebenarnya saat ini.


Hati siapa yang tidak akan terluka jika saudara nya sendiri berusaha melenyapkan nyawanya dan bahkan bayi - bayi tak berdosa yang belum lahir ke dunia yang sedang di kandung nya.

__ADS_1


Aziz, sandi dan pak Widodo sengaja dan telah sepakat untuk merahasiakan pelaku kasus kecelakaan yang terjadi empat bulan yang lalu atas permintaan Aziz, karena selain tidak ingin melihat istrinya bersedih dan terluka, aziz juga ingin menghukum pelaku dan tidak mau membebaskan pelaku begitu saja, walau pun si pelaku ada hubungan keluarga dengan istrinya, Aziz ingin memberi pelajaran pada si pelaku atas perbuatannya yang telah berani mencelakakan istri dan anak - anak nya waktu itu, Walau Aziz di kenal ramah dan sangat baik di lingkungan rumah sakit dan rekan.bisnis nya, tapi jika sudah menyangkut ke keamanan dan kenyamanan keluarga nya maka Aziz mampu berbuat kejam tanpa pandang bulu .


Begitu juga pada Naira, tidak ada kata damai dan maaf untuk Naira setelah naira berusaha dengan sengaja ingin mencelakakan istri dan calon anak - anak nya dahulu.


" Dan satu lagi yang Aziz takut kan ..." Aziz menjeda ucapan nya menatap sandi dan pak Widodo bergantian. sementara itu pak Widodo dan sandi menatap aziz balik ingin tahu apa kelanjutan ucapan Aziz.


" apa ?!" Tanaya pak Widodo dan sandi bersamaan .


" Aziz takut, Zahra akan melembutkan hatinya setelah bertemu dan mengetahui kondisi Naira nantinya, Aziz tidak mau Naira bebas dari hukumannya Pi, yah, "sahut Aziz yang mengkhawatirkan kemungkinan yang akan terjadi jika Zahra menemui langsung Naira dan mengetahui kondisi Naira, Aziz tahu istrinya mempunyai hati yang lembut dan penyayang apa lagi pada keluarga, Zahra rela terluka asalkan saudara nya bahagia, itu lah yang selama ini dilakukan Zahra untuk Naira


Lagi - lagi sandi dan pak Widodo mengangguk - anggukkan kepalanya membenarkan ucapan aziz, pak Widodo tahu menantunya itu mempunyai hati yang sangat lembut dan tidak tega an, sebenarnya karena kelembutan hati Zahra lah pak Widodo menyayangi menantunya itu seperti anak kandungnya sendiri.


Begitu juga dengan sandi, sandi tahu putri nya mempunyai hati yang lembut, penyayang dan pemaaf, dan semua sifat itu di turun kan zahra dari ibunya intan di tambah lagi didikan Adam, cindi , dan kedua orang tuanya yang mengajari Zahra bagai mana cara bersikap baik selama ini.


" Kalau masalah itu, jujur ayah juga tidak bisa berkata apa - apa nak, tapi ayah yakin kamu tahu bagai mana menghadapi istri mu, dan ayah yakin keputusan mu nanti pasti adalah keputusan yang baik untuk istri dan anak - anak mu nantinya " sahut sandi yang menyerahkan penuh semuanya pada Aziz.


" Benar apa kata ayah mertua mu ziz, papi juga tidak bisa berkata apa - apa jika mengenai masalah itu, pikirkan lah baik - baik sebelum mengambil keputusan, agar tidak ada yang kecewa dan terluka nantinya." ujar pak Widodo menepuk bahu Aziz lembut.

__ADS_1


" Andai Alif ada di sini Pi, yah, Aziz mungkin tidak akan kebingungan seperti ini, karena selama ini hanya Alif yang dapat memahami Zahra " jawab Aziz yang tiba - tiba teringat akan sahabat sekaligus ipar nya itu.


Yah selain Adam dan cindi, serta kedua kakek Zahra, Aziz tahu Alif salah satu orang yang begitu sangat dekat dengan istrinya itu, dan Alif sangat tahu bagai mana sifat zahra yang sebenarnya, selama ini berkat Alif lah, Aziz bisa mengetahui dan memahami sikap istrinya.


Dan sandi membenarkan ucapan Aziz, Zahra memang sangat dekat dengan Alif, selama ini Alif tempat Zahra menyandarkan kepalanya dan berkeluh kesah tentang apa yang di alaminya, walau pun ada sang ayah yang juga sangat dekat dengan Zahra, tapi kehadiran Alif di samping Zahra adalah hal yang sangat berarti bagi Zahra selama ini.


Bagi Zahra Alif tidak hanya sebagai seorang kakak, tapi juga sebagai ayah dan sahabat. Terkadang melihat kedekatan Zahra dengan Alif, ada kecemburuan di hati Aziz. Dan tak jarang Aziz dengan kesal menyampaikan kecemburuannya itu pada Alif yah selalu di jawab Alif dengan tertawa ngakak. Dan berujung akan mengejek nya.


" Kamu masih bisa mendiskusikan masalah ini dengan Alif nak, jika memang kamu ragu untuk mengambil keputusan " sahut sandi mengingatkan aziz untuk bisa diskusi dengan Alif.


" Benar nak apa yang di katakan ayah mertua mu, coba lah mendiskusikan masalah ini dengan Alif, siapa tahu Alif bisa membantu kamu dalam menyelesaikan masalah ini." sahut pak Widodo.


" Baik lah Pi,.nanti malam Aziz akan coba hubungi Alif " jawab Alif akhirnya.


" Sebaik nya kita kembali sekarang, kasihan Zahra kita sudah meninggalkannya terlalu lama " pak Widodo berdiri mengajak sandi dan aziz kembali ke kamar Zahra,


Aziz dan sandi ikut berdiri dan berlalu dari cafe, karena mereka sudah terlalu lama meninggalkan Zahra, Aziz takut Zahra akan mencari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2